DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR

DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR
Bab 130. Tiket Bulan Madu


__ADS_3

"Wah parah Bang Dimas punya rahasia buruk nih pasti. Dari gayanya kayaknya dia playboy deh," tebak Andin lalu menutup mulut. Wajah suster Dinda langsung terlihat kecewa.


"Jangan percaya sayang, mereka hanya mengada-ada saja. Ayo Danisa kita pergi sekarang!" ajak Dimas agar Fazila tidak macam-macam. Dia tidak merasa punya rahasia, tapi takut Fazila mengarang cerita dan membuat suster Dinda malah marah padanya.


"Oke, ayo! Dav, Chila! kami berangkat ya," pamit Danisa.


"Oke," ucap dokter Davin lalu ikut bangkit dari duduknya melihat semua orang di sana berdiri. Dia dan Fazila lalu mengantar mereka sampai pintu pagar.


Setelah semua orang pergi mereka langsung kembali ke kamar. Melanjutkan buka-buka kado yang belum usai.


"Hah! Akhirnya kelar juga!" seru Fazila sambil merentangkan kedua tangannya ke samping.


"Untuk amplop-amplopnya buka lain kali saja ya," ucapnya dan setelah melihat anggukan dari dokter Davin wanita itu beranjak ke arah ranjang sedangkan dokter Davin sendiri berganti pakaian dari sarung dan baju koko ke celana pendek selutut dan kaos berlengan pendek.


"Kenapa masih pegel sih," keluh Fazila sambil memijit kakinya yang kini sudah berselonjor di atas ranjang.


"Sini aku pijitin," ucap dokter Davin lalu menyingkirkan tangan Fazila dari atas betisnya kemudian menggantikan pekerjaan sang istri.


"Pakai minyak gosok aja ya biar lebih nyaman," ujar dokter Davin dan Fazila mengangguk.


"Bentar ya aku ambil dulu," ucap Fazila lalu turun dari ranjang dan berjalan menuju kotak obat.


"Uh, nyaman sekali," seru Fazila kala merasakan pijatan lembut sang suami di betis dan pahanya. Wanita itu jadi merasa terbuai dan mengantuk.


Fazila terlihat menguap beberapa kali dan akhirnya tidak dapat menahan lagi rasa kantuknya, wanita itu pun memejamkan mata.


"Malah tidur lagi," ucap dokter Davin sambil menggelengkan kepala. Pria itu lalu menghentikan pijatan dan membenahi posisi tubuh Fazila agar tidur dengan nyaman.


Setelah itu dokter Davin terlihat sibuk mengutak-atik ponsel sebelum akhirnya ikut merebahkan tubuh di samping sang istri. Ternyata tidak hanya Fazila yang mengantuk, tetapi pria itu juga, terbukti setelah menyentuh kasur pria itu langsung tertidur dengan pulas.


Di luar, Zidane terburu-buru menaiki tangga menuju kamar putrinya dengan kado di tangan. Sampai di pintu kamar putrinya, Zidane melihat pintunya masih dalam keadaan terbuka dan kedua insan yang baru satu hari menikah itu sudah terbuai di alam mimpi.


"Astaga mereka kenapa lalai begini sih," gumam Zidane lalu menutup pintu sebelum akhirnya balik badan dan turun kembali ke lantai bawah. Niatnya untuk memberikan kado itu, ia tunda sampai keduanya terbangun.


Sore hari, tepat jam setengah tiga siang barulah Fazila terbangun. Buru-buru wanita itu membangunkan dokter Davin sebelum akhirnya beranjak ke kamar mandi terlebih dahulu. Di dalam ruangan itu Fazila mandi dengan terburu-buru lalu mengambil wudhu.


"Mas bangun ah, ini sudah hampir ashar loh, sebentar lagi kita ketinggalan shalat dhuhur!" seru Fazila karena sang suami belum bangun juga. Ingin rasanya Fazila mengutuk seluruh penghuni rumah tersebut karena tidak ada satupun yang membangunkan dirinya sedari tadi.

__ADS_1


Tidak bisa mengharapkan dokter Davin untuk menjadi imam shalatnya, Fazila langsung memutuskan untuk shalat sendirian karena kalau tidak, bisa saja dia akan kehilangan waktu shalat dhuhur.


Benar saja setelah mengucapkan salam sebagai penutup shalat, adzan ashar dari ponsel dokter Davin terdengar berkumandang.


"Mas, bangun!" seru Fazila.


"Dia tidur atau pingsan sih?" tanyanya dalam hati. Tidak habis pikir karena dokter Davin begitu lelap dalam tidurnya.


"Fazila bangkit dari duduk dengan mukena yang masih terpasang sempurna. Mengguncang tubuh dokter David agar segera terbangun.


"Mas!" serunya tepat di telinga sang suami. Namun, tetap saja sang suami tidak bereaksi sama sekali.


Fazila berjalan ke arah kamar mandi dan mengambil sedikit air dengan tangannya lalu dipercikkan ke wajah dokter Davin.


Berhasil, dokter Davin kaget dan langsung meraup wajahnya lalu sedetik kemudian duduk dengan sembarangan hingga dia hampir terjatuh dari ranjang karena posisinya yang memang berada tepat di pinggir.


Fazila yang menyaksikan suaminya hampir terjatuh malah tertawa renyah.


"Astagfirullah, Sayang! Kupikir apa yang jatuh dari atas. Nggak tahunya kamu yang iseng jatuhin air."


"Abisnya Mas Davin susah dibangunin sih? Dipanggil-panggil nggak bangun,


"Gara-gara nggak bangun-bangun telat sudah shalat dzuhur-nya," tambah Fazila.


Dokter Davin hanya menggeleng kecil, protes pun dia tidak bisa karena memang salahnya yang tidak bisa dibangunkan dengan cepat padahal tidak biasa dirinya seperti itu.


"Maaf," ucap Fazila sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Wajahnya menunduk. Menyesal ia telah lancang mengerjai sang suami.


"Tidak apa-apa, ini memang salahku, kau menungguku untuk shalat berjamaah, kan?"


"Iya," jawab Fazila masih dengan wajah menatap lantai.


"Ya sudah, aku bersihkan diri dulu ya! Tunggu aku sebentar!"


"Baik."


Dokter Davin pun bangkit dari duduknya dan menyambar handuk sebelum masuk ke dalam kamar mandi. Setelah selesai mandi dan mengambil wudhu ia kembali ke sisi Fazila dengan pakaian shalat.

__ADS_1


"Ayo kita shalat!" serunya pada Fazila dan wanita itu langsung mengangguk.


Di luar Zidane terlihat mengetuk pintu kamar karena merasa perlu membangunkan keduanya sebab sudah terlalu lama tidur.


Tok tok tok.


"Chila! Kamu belum bangun Nak?" tanya Zidane sambil terus mengetuk pintunya.


"Aih kenapa aku malah bertanya kepada orang yang belum bangun," gumam Zidane tatkala mengingat pertanyaannya salah.


"Chila, kau sudah bangun, Nak?"


Tak ada jawaban dari dalam membuat Zidane mencoba membuka pintu dalam keadaan sedikit terbuka.


"Rupanya masih belum dikunci seperti tadi. Berarti mereka belum bang–"


Zidane tidak melanjutkan kalimatnya karena melihat Fazila dan dokter Davin sedang melakukan shalat berjamaah di dalam kamar.


"Oh, sedang shalat toh, tak kirain masih tidur," lirihnya. Daripada masuk ke dalam ataupun pergi pria setengah baya itu menunggu keduanya dengan selesai shalat dengan posisi berdiri di ambang pintu.


"Eh papa, ada apa, Pa?" tanya Fazila saat melihat keberadaan papannya di sana.


"Sudah shalatnya?" tanya Zidane untuk memastikan apakah kehadirannya di tempat itu tidak mengganggu anak dan menantunya.


"Sudah Pa," sahut dokter Davin dan Fazila serentak. Keduanya langsung bangkit berdiri dan berjalan menuju pintu.


"Ada yang bisa kami bantu, Pa?" tanya dokter Davin setelah dirinya sampai di depan mertua.


"Maaf kalau kedatanganku ke sini mengganggu."


"Nggak kok Pa. Papa nggak ganggu," jawab keduanya kompak.


"Aku hanya ingin memberikan ini pada kalian berdua. Berhubung Nak Davin masih terbentur jadwal kerja, Papa ambil tempat yang dekat saja. Nanti kalau memang kalian ingin ke tempat yang lebih jauh lagi bisa katakan pada Papa. Kalian planning aja kapan bisanya, dan tak perlu khawatir karena Papa yang akan mengurus segalanya."


"Ini apa sih Pa?" Fazila bingung dengan apa yang dijelaskan oleh Zidane.


Zidane langsung memberikan kado di tangan dan dokter Davin langsung membukanya.

__ADS_1


"Tiket bulan madu?" Dokter Davin dan Fazila pun kaget mendapatkan kado pernikahan seperti itu dari papanya.


Bersambung.


__ADS_2