
"Serem kali cara melihat wanita itu ke arahmu," bisik Andin di telinga Qiana.
"Dia itu perempuan sakit. Aku nggak pernah nyangka kenapa bisa-bisanya dokter Davin dulu malah mengangkat dia jadi asistennya."
"Mas! Masih aja panggil dokter," protes Andin.
"Iya deh iya. Wanita itu namanya Tantri, seorang suster yang selalu mendampingi Mas Davin sebelumnya, sebelum digantikan oleh suster Dinda. Dia tidak suka melihat aku dekat dengan Mas Davin makanya selalu menggangguku. Kamu tahu tidak? Saking tidak sukanya dia sama aku, wanita itu sampai menjebakku hingga masuk ke sarang preman. Waktu itu aku bukan kehilangan cincin emas dan ponsel, tetapi juga hampir saja kehilangan kesucian."
"Gila tuh cewek nekat banget," ujar Anggita.
"Kan aku bilang dia itu sakit, sepertinya psikopat juga. Dia dua kali hampir membuatku mati. Yang pertama saat menjebak aku masuk ke gang preman, kedua saat aku terbaring di rumah sakit, dia hampir saja menyuntikku dengan cairan, apalah namanya aku tak paham, tapi kata Mas Davin, itu adalah cairan yang bisa merusak saraf, bahkan mematikan. Untung saja Bang Tris segera datang hingga ia langsung kabur.
Ketiga teman-teman Fazila nampak kaget mendengar cerita sahabatnya itu. Mereka tidak menyangka, ternyata hidup Fazila jauh dari kata tenang dan nyaman seperti yang mereka kira.
Mereka pikir Fazila sakit keras waktu itu adalah ujian terberat baginya, tetapi ternyata masih ada yang lebih berat lagi. Menghadapi penjahat seperti suster Tantri benar-benar menciptakan tekanan batin. Kalau mereka yang berada di pihak Fazila, mungkin saja mereka akan memilih memutuskan hubungan dengan dokter Davin daripada mendapatkan tekanan seperti itu.
"Tadi di jalan ada yang hampir nembak aku kata Monica, tapi tak tahu siapa. Kemungkinan besar juga suster Tantri karena kata Monica perempuan tadi memang dalam incaran polisi," lanjut Fazila membuat ketiga teman-temannya terbengong-bengong.
"Hei ayo!" teriak seorang Santri sambil melambaikan tangan. Keempat santri tersebut langsung menghentikan bahasan tentang suster Tantri dan menoleh ke arah santri yang memanggilnya.
"Qiana kau belum ikut penilaian, mungkin saja pak ustadz sedang memangil namamu," ujar Anggita.
"Aih jadi lupa ada penilaian gegara ghibahin tentang suster Tantrum itu," ujar Qiana lalu mendahului langkah ketiga teman-temannya.
"Aku duluan ya!" seru Qiana sambil berlari tatkala namanya dipanggil oleh para santri.
Kegiatan praktek sudah selesai untuk hari ini, semua Santri kembali ke kamar masing-masing. Aktivitas selanjutnya berjalan seperti biasa, tak ada yang istimewa bahkan cenderung monoton menurut mereka. Hal itu terkadang membuat mereka bosan dengan aktivitas yang tak kunjung selesai-selesai, seperti halnya emak-emak yang mengurusi cucian yang tiap hari selalu menunggu untuk disentuh, tak ada hari yang terjeda tanpa pakaian kotor.
"Tidurlah sudah malam, besok hari santri, kata Bu ustadzah kita sholat Dhuha berjamaah besok," ucap Fazila mengingatkan karena ketiga teman-temannya masih asyik mengobrol padahal sudah jam sebelas malam.
"Oke," sahut mereka lalu Anggita dan Qiana naik ke atas ranjang.
"Aku tidur di lantai aja, gerah," ucap Andin sambil mengibaskan tangan seolah dijadikan kipas.
"Terserah," sahut kedua orang temannya ach tak acuh sedangkan Fazila terlihat mengecek ponsel sebelum ikut tidur bersama mereka.
Andin bangkit lalu menghampar karpet di lantai sebelum akhirnya menaruh bantal dan merebahkan tubuhnya dengan nyaman.
__ADS_1
Tak sampai setengah jam semua teman-teman Fazila sudah terbuai dalam tidur mereka. Fazila sendiri masih terlihat menelpon dokter Davin.
"Tumben nelpon malam-malam," ujar dokter Davin dari balik telepon.
"Iya, takut Mas Davin sibuk kalau nelpon siang."
"Kau benar aku sedari pagi memang sibuk banget. Sekarang saja, Mas baru pulang dari pertemuan para dokter. Ngenes tahu, aku di sana jones sendirian, yang lain pada bawa pasangan semua."
Fazila terkekeh mendengar curhatan dokter Davin.
"Rasanya pengen nyulik kamu dari pesantren, bisa nggak sih?"
"Bisa aja kalau berani sama pak Kyai. Nanti kalau pas Mas ke sini bakalan disinggung sama Pak Kyai karena sudah berani bawa kabur santrinya." Fazila terkekeh kembali lalu melirik temannya yang ternyata sudah benar-benar tidur dengan pulas.
"Oh ya, terima kasih ya atas kiriman Monica untuk melindungi aku."
"Yap, sama-sama. Katanya ada peristiwa yang hampir saja bikin kamu celaka."
"Ya, tapi aku senang banget karena hari ini aku melihat sendiri suster Tantri sudah ditangkap polisi. Aku jadi tenang sekarang."
"Aku juga senang, akhirnya tuh cewek nggak bisa gangguin kamu lagi."
"Ya?"
"Kapan jenguk aku? Kamu nggak kangen sama aku ya?"
"Kangen, lah. Besok aku usahakan ke sana."
"Oke, aku tunggu."
"Nggak mau request apa gitu? Besok temui aku di kediaman Kyai Miftah sekalian aku ingin silaturrahmi ke sana. Nggak enak kalau nemuin kamu di pagar pesantren. Nanti masyarakat lihat dan kau dicap santri yang buruk."
"Boleh. Sebenarnya aku nggak butuh apa-apa sih hanya saja kalau teman-teman pada lihat kamu nggak enak kalau nggak dibawain apa-apa."
"Nanti aku bawa cemilan."
"Oke sip."
__ADS_1
"Kau belum tidur jam segini?"
"Belum Mas, kalau aku tidur siapa dong yang ngomong sama kamu ini? Masa mak kunti? Oh ya bulan depan kami akan berkemah."
"Dimana? Tanggal berapa?"
"Belum tentu tanggal dan tempatnya, tapi tak usah khawatir karena suster Tantri sudah dipenjara. Jadi, Mas tidak perlu menyuruh Monica lagi."
"Apapun itu kabari saat kamu mau berangkat nanti. Aku akan tetap mengkhawatirkan mu."
"Insyaallah, semoga nggak lupa ya."
"Baik sekarang kamu istirahat saja ya, ini sudah larut malam. Jangan lupa jaga kesehatan. Sampai jumpa besok siang. I Miss you. Assalamualaikum."
"Miss you too, wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."
Dokter Davin menghela nafas panjang sebelum akhirnya masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri sehabis dari luar.
Sementara di sebuah kamar pesantren, Fazila terlihat senyum-senyum sendiri membayangkan pertemuannya besok dengan sang pujaan hati.
Gadis itu merebahkan tubuh dan mencoba memejamkan mata. Namun, tidak bisa. Bayangan wajah dokter Davin memenuh otaknya.
"Kenapa aku begini sih? Kayak baru jatuh cinta aja," ujar Fazila sambil menggeleng-gelengkan kepala. Tak mengerti dengan dirinya sendiri. Perasaan cinta pada dokter Davin seolah berkali-kali, membalut rindu lebih kuat seakan ingin meledak.
"Aku harus tidur, jangan sampai pas teman-teman bangun besok aku malah masih dalam keadaan mengantuk," ocehannya sendiri sambil memaksa matanya untuk terpejam. Namun tetap tidak bisa terlelap.
"Ah sepertinya aku insomnia lagi ini, aku memang tidak bisa kalau tidak tidur sampai larut malam. Bawahannya langsung ingin melek terus kalau sudah terlambat tidur. Ah Chila, kau cari gara-gara." Gadis itu menggerutu sendiri.
Berhubung gadis itu tidak bisa tidur, akhirnya Fazila memilih mengotak-atik ponselnya dan tertarik untuk mendownload aplikasi audio toon dan mendengar cerita novel horor di dalamnya.
"Wah sepertinya ini seru ditonton malam-malam, mendukung suasana," ucapnya penuh antusias.
Awal memutarnya Fazila terlihat begitu antusias. Suara dubber-nya yang tegas, tapi merdu berpadu dengan suara musik pengiring yang menyentuh ke dalam hati membuat padu padan yang klop, benar-benar keluar aura mistisnya.
Namun, saat musik pengiring memutar suara hantu yang tertawa membuat bulu kuduk Fazila meremang seketika. Rasanya suara itu bukan berasal dari dalam ponsel melainkan dari sekitarnya. Apalagi bersamaan dengan itu listrik di pesantren padam.
Syok, Fazila langsung menjatuhkan ponselnya dan berteriak kencang.
__ADS_1
"Aaaah!" Andin tak kala histeris saat musik-musik seram dari ponsel yang terjatuh di samping telinganya terasa begitu nyata.
Bersambung.