DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR

DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR
Bab 59. Penjelasan


__ADS_3

"Maksudku kamu aneh," sahut dokter Davin membuat Fazila membelalakkan mata. Lalu menarik selimut hingga menutupi kepalanya kemudian. I


Fazila semakin kesal, bukan itu jawaban yang ia mau dengar. Dia merasa dokter Davin menarik ulur, mempermainkannya perasaannya.


"Pulang gih sana! Bukankah Danisa mencarimu?" Fazila bicara dengan nada ketus. Kesal harus menyebut nama wanita itu. Nama wanita yang telah berhasil menggeser posisinya di hati dokter Davin. Sampai saat ini rasanya Fazila masih tidak biasa terima. Dia tidak rela, apapun alasannya.


"Kenapa kalau dia mencariku? Dia hanya menanyakan sesuatu tentang klinik, nggak minta ketemu. Bertemu denganmu jauh lebih penting," balas dokter Davin.


Fazila mendengus kesal. Entah sampai kapan dokter Davin akan berusaha membohonginya. Dulu ketika dirinya pingsan pun dia lebih memilih berada di sisi wanita itu dibandingkan menolong Fazila dan membawanya ke rumah sakit. Kenapa sekarang sok lebih perduli padanya?


Fazila melempar selimut dan duduk.


"Apa laki-laki memang seperti itu? Setelah punya istri masih saja bermulut manis pada wanita lain. Aku tidak tahu bagaimana kalau Danisa tahu bahwa kamu datang kemari dan mengatakan bertemu diriku daripada dia yang merupakan istrimu?"


Dokter Davin tertawa renyah mendengar kalimat yang dilontarkannya oleh Fazila sedangkan Fazila pun ikut tertawa, tertawa garing. Lebih tepatnya menertawakan diri sendiri yang tak mujur.


"Hentikan ketawanya! Ketawamu membuatku sakit hati!" teriak Fazila sambil menutup telinganya sendiri.


Dokter Davin langsung menghentikan aktivitas tawanya.


"Maaf bukan maksudku mau menertawakan dirimu, tapi kamu memang lucu sih," ujar dokter Davin sambil menatap wajah Fazila yang merah dengan gemas. Entah merah karena marah ataukah merah karena malu telah ditertawakan olehnya.


"Nggak ada yang lucu!" kesal Fazila membuat dokter Davin semakin gemas. Tangannya hendak terulur mencubit pipi Fazila, namun sebelum sampai ia sadar Fazila tidak mau di sentuh oleh yang bukan mahramnya.


"Siapa bilang nggak ada? Pertama kamu sudah seenaknya mengatakan aku sudah menikah dan punya istri? Emang kita kapan nikahnya?" goda dokter Davin.


Fazila langsung melempar bantal ke arah dokter Davin dan pria itu langsung menangkap. Entah kenapa hari ini dokter Davin begitu menyebalkan di mata Fazila. Pria itu selalu mengalihkan pembicaraan saat dirinya menyebut nama Danisa.


Dokter Davin menangkap dan melihat bantal tersebut, seketika ia langsung menyadari bahwa bantalnya dalam keadaan basah. Ada bekas air mata yang sudah menganak sungai membentuk peta.


Memang beberapa hari ini gadis itu tidak membiarkan Bik Ina untuk mengganti sprei dan sarung bantal di kamarnya. Ia tak mau ada yang mengusik dirinya di kamar, dimana selama ini dia hanya menghabiskan hari-harinya di atas ranjang, tak mau jalan-jalan keluar walau hanya lima menit pun.


"Kau hebat kalau sedih bisa membuat lukisan sehebat ini. Apakah ini maha karya saat kamu sedih karena kangen sama aku?" Dokter Davin terkekeh.


Fazila diam saja, dia tidak membantah perkataan pria itu walaupun sebenarnya tidak semuanya benar. Kerinduan tak akan membuatnya menangis berhari-hari, tapi menyadari prianya sudah menjadi milik orang lain dan rindunya yang sudah tidak bertuan yang membuatnya sakit hati meski tak tahu untuk siapa sakit hati itu sebenarnya.


"Kedua ... aku baru sadar bahwa kamu mengganggap diriku menikah dengan Danisa, bagaimana mungkin?" tanya dokter Davin. Bingung kenapa Fazila bisa menyimpulkan seperti itu.


"Tanya pada dirimu sendiri! Bagaimana kau bisa memilih dia menjadi pasanganmu, Kenapa tanya aku?!" Fazila memalingkan muka.


Dokter Davin terlihat menggaruk kepala, semakin bingung jika harus bertanya pada diri sendiri yang tak punya jawabnya.


"Aku lihat sendiri kau berdiri di pelaminan dengan Danisa, kenapa harus menyanggah?"

__ADS_1


Dokter Davin mengerutkan kening. Bagaimana mungkin dia bisa berdiri di sana sedangkan saat Danisa menikah dokter Davin tidak bisa datang karena ada pasien yang gawat dan harus dioperasi waktu itu juga.


"Aku dengar sendiri saat kau memberikan undangan pernikahan dan mengundang langsung kyai Miftah," lanjut Fazila.


Dokter Davin menggeleng sambil tersenyum. Rupanya Fazila benar-benar menganggap dirinya yang menikah dengan Danisa. Padahal dia hanya mewakilkan Danisa, teman seprofesi dengannya karena saat itu Danisa dan calon suaminya sama-sama sibuk. Selain bekerja di rumah sakit di kota ini keduanya juga bekerja di rumah sakit yang berada di luar kota, ditambah lagi mereka ada urusan penting di sana hingga tak ada waktu luang sedikitpun untuk bertandang ke pesantren.


"Apakah ini ada kaitannya dengan sakitmu yang tak kunjung sembuh?" tanya dokter Davin sambil menatap lekat mata Fazila. Mencari jawaban di sana karena mulut kadang bisa berbohong. Kalau memang ia berarti ia harus bangga karena dirinya sangat berarti untuk Fazila. Siapa yang tidak senang jika dicintai dengan begitu besar oleh orang yang sangat dia cintai?


Fazila yang dipandangi malah menunduk, tak kuasa jika tatapannya harus bertemu dengan tatapan dokter Davin.


"Pernah dengar kata motivasi dari Habib Umar bin Hafidz, tidak?" tanya dokter Davin dengan suara yang begitu lembut di telinga Fazila.


"Ti–dak."


Dokter Davin menghela nafas panjang sebelum akhirnya bicara lagi.


"Berhentilah berpikir secara berlebihan. Sepotong besi rusak karena karatnya sendiri. Jangan biarkan dirimu rusak karena pikiranmu sendiri. Tidak usah terlalu cemas, cerita hidupmu sudah ditulis oleh penulis skenario terbaik."


Fazila mendongak, menatap mata dokter Davin dengan mata yang berembun. Kata-kata yang disampaikan oleh dokter Davin sangat menyentuh hatinya. Selama ini dia seakan lupa jika jodoh sudah ditentukan oleh Allah SWT. Fazila beristighfar dalam hati, hatinya tak kuasa menerima jalan takdir dari yang Mahakuasa.


"Aku akan belajar lebih keras lagi untuk ikhlas," ucap Fazila kemudian.


"Chila, dengarkan aku!" Dokter Davin berkata dengan serius.


"Sejak kita bersama, di hati ini tidak ada nama wanita lain," ujar dokter Davin sambil menyentuh dadanya.


"Ah kenapa jadi begini?" batin Fazila yang seakan semakin sulit mengendalikan perasaannya.


"Chila jangan terlalu senang, kalimat indah di awal ending-nya belum tentu happy ending." Fazila mencoba memperingatkan diri sendiri karena yakin kalimat akan berarti terbalik kalau sudah di tambahkan kata 'tapi'.


Dan Fazila takut dokter Davin akan melanjutkan kalimatnya dengan kalimat,


"Tapi Tuhan berkata lain, kita berdua ditakdirkan untuk tidak bersama. Kita bukan jodoh dan harus belajar melupakan satu sama lain, dan mengikhlaskan apa-apa yang sudah menjadi ketentuan Nya." Fazila malah mengucapkan kalimat yang tersurat di hatinya sehingga dokter Davin mendengar dan kembali tertawa.


"Benar, kan? Kenapa kamu suka tertawa? Aku tidak lucu!" teriak Fazila.


"Tidak Chila, insyaallah di lauful Mahfudz sana nama kita bersanding sebagai jodoh."


Perkataan dokter Davin membuat Fazila menampilkan senyum termanisnya yang selama ini sudah tidak pernah terlihat lagi.


"Aku bahagia kamu bisa tersenyum kembali seperti dulu lagi. Aku kangen masa-masa kita bisa berinteraksi setiap hari seperti dulu. Aku kangen Chilaku yang lincah dan manja," ceroros dokter Davin. Matanya seolah melihat masa lalu di depan mata. Masa dimana ia merasa Fazila sangat merepotkan dan menganggu hari-harinya. Sekarang malah menjadi kerinduan tersendiri.


Pipi Fazila merah merona mendengar ocehan dokter Davin. Dari perkataan panjang lebar itu hanya satu kata yang sangat berarti untuknya, 'Chilaku'. Fazila senang mendengarnya.

__ADS_1


"Kenapa wajahmu merah seperti itu? Apa kau sekarang sudah jadi gadis pemalu?" kelakar dokter Davin.


"Bekicot mana?" tanya Fazila sambil menutup wajah dengan kedua tangan.


Dokter Davin menautkan kedua alisnya, berpikir untuk apa Fazila meminta benda itu.


"Buat apa?"


"Aku malu, aku ingin bersembunyi di dalam cangkangnya," sahut Fazila.


"Kenapa tidak sekalian menyelusup ke dalam cangkang kura-kura?" goda dokter Davin lalu terkekeh.


"Danisa bagaimana?" Wajah Fazila kembali sendu tatkala mengingat wanita itu.


"Sudah kubilang jodohku itu kamu, bukan Danisa. Danisa itu istri orang!" tegas dokter Davin.


"Bagaimana mungkin? Aku melihatmu di pelaminan waktu itu. Kau bersanding di pelaminan dengannya," oceh Fazila tidak ingin dibohongi begitu saja.


Dokter Davin menggeleng, terkadang Fazila keras kepala, tak mau percaya dengan penjelasan orang lain jika tidak melihat buktinya.


"Sebentar!" Pria itu membuka hapenya lalu mengetikan sesuatu di keyboard-nya.


Beberapa saat kemudian terdengar bunyi notifikasi, pertanda ada balasan masuk.


"Nih lihat suami Danisa! Bukan aku, kan?" jelas dokter Davin lagi sambil mengulurkan foto pernikahan dengan suaminya.


Penasaran, Fazila langsung meraih ponsel di tangan dokter Davin dan mengamatinya dengan wajah tegang. Gadis itu membelalakkan mata, tenyata dia terkecoh hanya karena mata dan bentuk wajah pria itu mirip dengan dokter Davin.


"Jadi? Bagaimana aku bisa salah lihat?" Fazila merasa sangat malu pada dokter Davin.


"Dia namanya Damian, dia dokter spesialis THT di rumah tempat kami bekerja," jelas dokter Davin dan Fazila hanya terlihat mengangguk-angguk saja karena penjelasan dokter Davin memang sesuai dengan yang ia dengar saat dokter Davin bicara dengan Kyai Miftah. Suami Danisa namanya juga berawalan D dan juga merupakan seorang dokter.


"Dulu Danisa sempat gagal menikah hingga ia trauma dekat dengan laki-laki karena calonnya malah tidak datang di hari pernikahan mereka, tapi Damian bisa menaklukkan hatinya meskipun melalui perjuangan berat."


Fazila hanya diam mendengarkan penjelasan dokter Davin.


"Kenapa diam? Masih tak percaya? Mau tanya kenapa aku tahu tentang mereka? Aku, Damian dan Danisa dulu satu kampus dan kini kebetulan dipertemukan lagi di tempat kerja yang sama," jelas dokter Davin. Tak ingin sedikitpun ada yang ditutup-tutupi sebab Fazila pasti akan bertanya-tanya dalam hati. Walaupun penjelasan ini tidak terlalu penting, tetapi dengan ini ia berharap Fazila bisa bernafas dengan lega sekarang.


"Aku percaya padamu," ucap Fazila membuat sudut bibir dokter Davin terangkat ke atas, melengkungkan senyuman manis.


"Hei Chia! Kenapa kamu membawa masuk laki ke kamarmu?"


Suara teriakan dari luar membuat keduanya tersentak kaget lalu menoleh ke arah pintu.

__ADS_1


Wajah Fazila yang merah merona mendadak pucat.


Bersambung.


__ADS_2