DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR

DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR
Bab 100. Mengerjai Dimas


__ADS_3

"Kamu kenapa sih?"


"Kita balik ke rumah dokter Danisa," putusnya tanpa bisa dicegah. Gadis itu langsung bangkit dari duduknya dan gegas melangkah, mendahului langkah dokter Davin ke rumah Danisa tak perduli hujan masih mengucur deras dari langit.


"Chila apa kau benar-benar tidak ingin menjelaskan semua ini padaku?" tanya pria itu yang langsung menyambar payung dan berlari mengejar.


"Bajumu bisa basah!" seru dokter Davin yang sama sekali tidak diindahkan oleh Fazila. Kini mereka berhasil mendaratkan kaki ke teras rumah Danisa.


"Sudah?" tanya nenek Salma yang kebetulan dari dapur membantu ibu dari Danisa menyiapkan sarapan pagi untuk semua orang.


Fazila hanya mengangguk dan duduk di samping Laras.


"Sudah ada payung kok malah main basah-basahan?" protes Laras melihat pakaian Fazila basah kuyup.


"Nggak apa Oma, Chila sedang ingin mandi hujan aja," sahut gadis itu sekenanya dan dokter Davin hanya menggeleng bingung.


"Ingat tempat Chila," ujar Laras.


"Danisa bawa di ke kamar mandimu biar mandi dan ganti baju sekalian. Aku akan mengambil baju gantinya!" pinta dokter Davin dan Danisa langsung menggandeng tangan Fazila dan membawanya ke dalam kamar mandinya di kamar tidurnya.


"Nek, Davin boleh minta tolong?"


"Akan segera Nenek lakukan," sahut nenek Salma yang paham dokter Davin ingin meminta air panas. Rumah orang tua Danisa bukanlah rumah orang kaya yang ada shower nya sehingga tak perlu memasak air jika menginginkan air hangat untuk mandi.


"Nggak ada kamar mandi lain?" tanya Fazila yang risih jika harus mandi di kamar mandi pribadi Danisa, takut-takut Damian tiba-tiba masuk ke dalam kamar tersebut.


"Ada, tapi di dekat dapur, agak ke belakang tempatnya."


"Antar aku ke sana saja!" pintanya.


"Oke, ayo!" Danisa kembali mengandeng tangan Fazila dan kali ini menuju dapur.


"Sebentar airnya belum panas," ujar nenek Salma saat Danisa menunjukkan kamar mandinya.


"Tidak apa Nek, Chila mau mandi air biasa saja," ujar gadis itu.


"Jangan Nak kau bisa sakit lagi," cegah nenek Salma dan Fazila tidak kuasa menolak kebaikan wanita tua itu yang kini sudah memasak air untuknya.


"Dokter Danisa bisa kembali biar aku bareng nenek Salma aja," ucap gadis itu.


"Yakin?"


Fazila mengangguk dan Danisa melayangkan senyuman.

__ADS_1


"Kalau begitu aku tinggal dulu."


"Iya," jawabnya lalu beralih menatap ke arah nenek Salma yang kini sedang meuangkan panas ke dalam bak mandi dan membawanya ke dalam kamar mandi.


Fazila mengekor di belakang.


"Biar Chila saja Nek," ucapnya lalu mengambil alih bak yang ada di tangan nenek Salma dan mengisinya dengan air biasa agar tidak panas dan hangat-hangat kuku saja.


"Baiklah," ucap nenek Salma lalu keluar dari kamar mandi dan menutupnya dari luar.


"Nek!" panggil Fazila lagi seraya membuka pintu.


Nenek Salma menghentikan langkah dan menoleh ke arahnya.


"Ya, Nak?"


"Nenek jangan keluar dulu ya tungguin Chila di sini!" pintanya.


"Ah baiklah," ucap nenek Salma dan perempuan itu memilih menunggu Fazila dengan duduk di undakan yang menghubungkan antara ruang dapur dan ruang keluarga.


Fazila mengangguk dengan senyuman lalu menutup pintu kamar mandi kembali dan menguncinya dari dalam.


"Terdengar gemericik air dari dalam kamar mandi saat dokter Davin tiba di samping nenek Salma dengan pakaian ganti di tangan.


Nenek Salma mengangguk dengan tangan terulur mengambil pakaian di tangan dokter Davin.


"Terima kasih ya Nek, Davin sejak kecil selalu merepotkan Nenek," ujar pria itu dengan perasaan tidak nyaman dan mata berkaca-kaca. Dia bersyukur dibesarkan oleh nenek yang berjiwa besar sepinggal orang tuanya. Kalau bukan karena perjuangan wanita renta itu, dia tidak akan mungkin berhasil mendapatkan gelar dokter seperti saat ini.


"Nggak apa-apa Nenek melakukan semuanya dengan ikhlas. Kenapa kamu jadi melow sih? Sudah keluar sana nanti Chila nggak mau keluar dari kamar mandi jika masih mendengar suaramu," ujar nenek Salma sambil mengelus punggung dokter Davin dengan tangan kanannya.


"Baik Nek." Pria itu bergegas kembali dan duduk di samping Tristan.


"Dimas mana, kok dari tadi tidak kelihatan?" tanya Tristan saat dokter Davin duduk sempurna di sampingnya.


Nathan hanya melirik keduanya lalu melanjutkan bicara dengan para pria lainnya.


"Di mobil lagi pacaran dengan suster Dinda," sahut dokter Davin dengan suara setengah berbisik.


"Apa pacaran malam-malam?" tanya Tristan dengan suara keras.


"Bang!" protes dokter Davin sebab gara-gara suara Dimas semua orang menoleh ke arah mereka.


"Siapa yang pacaran?" tanya Tuan Alberto di tengah-tengah keterkejutannya, bukan terkejut karena mendengar berita tentang Dimas melainkan suara Tristan yang tiba-tiba yang mengangetkannya.

__ADS_1


Nathan berdecak sebal karena Tristan sembarangan bicara keras di depan opanya yang mempunyai penyakit jantung.


"Dimas dengan suster Dinda," jawab Tristan.


"Oh biarkan saja, kasihan juga si Dimas selalu jomblo dari dulu," timpal Zidane lalu terkekeh.


"Masalahnya ini malam-malam Nak, tidak baik berdua saja dengan lain jenis apalagi di luar sedang hujan. Jemput Tris! Jangan sampai teman kamu macem-macemin anak gadis orang!" perintah Laras.


Segera Tristan bangkit dari duduknya. Bukannya pergi sendiri dia malah menarik tangan Nathan dan dokter Davin untuk ikut dengannya.


"Tristan!" seru Laras yang geregetan dengan cucu yang satu itu.


Segera dokter Davin menyambar payung dan mengikuti langkah Tristan menuju mobil. Hujan di luar sudah mulai reda dan menyisakan rintik-rintik kecil.


"Sembunyi!" perintah Tristan dengan suara berisik dan menarik keduanya agar duduk di samping mobil.


"Kita sudah dewasa Tris, sudah bosan main petak umpet," keluh Nathan dan adik kembarnya itu langsung menempelkan jari telunjuknya di depan bibir pertanda tidak ingin diprotes dan semua harus diam.


Dokter Davin hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dalam hati menyesal tadi mengikuti langkah Tristan kalau ujung-ujungnya begini. Harus duduk seperti orang beol di atas kloset biasa.


Tristan mengangkat wajahnya dan mengintip ke dalam mobil.


Nathan hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah konyol Tristan. Dokter Davin terlihat menutup mulut untuk menahan tawa melihat Tristan mengeluarkan pistol mainan dari saku jaketnya.


Di dalam mobil, Dimas baru membuka mata setelah merasakan sekujur tubuhnya sakit karena tidur semalaman dengan posisi duduk ditambah ada beban tubuh suster Dinda di depan dadanya.


Pria itu terlihat meringis sesaat dan berganti senyuman tatkala menyadari suster Dinda masih tidur manis di depannya. Bibir suster Dinda yang merah seperti buah Cheri membuat pria itu tertarik untuk merasakannya. Suster Dinda masih terlelap, jadi wanita itu tidak akan marah karena tidak sadar. Perlahan dan pasti, pria itu mendekatkan bibirnya ke bibir suster Dinda.


"Anda ditangkap dengan tuduhan berbuat mesum di tempat umum!" seru Tristan dengan suara yang dibuat lain dari biasanya.


Sontak Dimas menghentikan aksinya dan gelagapan mencari sumber suara.


Keringat langsung menetes dari pelipisnya tatkala melihat sebuah pistol menyembul dari balik kaca mobil.


Tubuh pria itu gemetaran hingga membangunkan suster Dinda dari tidurnya.


"Ada apa?" tanya wanita itu kaget.


Dimas menunjuk ke arah pistol dengan tangan gemetar. Suster Dinda terpaku melihat pistol yang diarahkan kepada mereka.


"Kenapa ada polisi? Kita ada dimana?" tanyanya beberapa saat kemudian.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2