
Setelah mereka berdua siap dan keluar dari kamar masing-masing, ternyata Tristan sudah molor di atas sofa.
"Ya ampun Bang, bukannya bersiap-siap malah tidur lagi," kesal Fazila pada Tristan yang malah tidur setelah selesai shalat Maghrib.
"Biarkan saja, mungkin dia lelah," ucap dokter Davin tatkala melihat Fazila mengguncang bahu Tristan.
"Terus gimana perginya kalau tidak ada Bang Tris?"
"Ya kita pergi berdua saja, biar aku yang menyetir mobil sendiri," jawab dokter Davin.
"Mana boleh kita pergi tanpa Bang Tris?"
"Maksudnya?"
"Kita tidak bisa pergi berduaan saja Dok," ucap Fazila membuat dokter Davin sedikit kecewa.
Rencananya dokter Davin ingin menghabiskan malam ini dengan berjalan-jalan berdua dengan Fazila seperti dulu. Dokter Davin lupa jika Fazila bukanlah gadis yang bebas seperti saat pertama bertemu dengannya.
"Oh, gitu ya?"
"Iyap." Fazila mengangguk.
"Oke deh, bangunin terus tuh Bang Tris!" perintahnya kemudian pada Fazila.
"Nasib punya cewek santri, mau kemana harus pakai pengawal," batin dokter lalu terkekeh dalam hati.
"Bang bangun dong!" seru Fazila sambil terus mengguncang bahu Tristan.
Tristan mengerjap.
"Ada apa sih Chila? Abang ngantuk ini, lagian Abang sudah shalat Maghrib dan Isya' nya nanti saja pas mau masuk waktu subuh," ucap Tristan masih dengan mata terpejam.
"Ih Abang dasar! Lagipula siapa juga yang bangunin Abang buat shalat Isya? Chila mau Abang nemenin kami berdua belanja," rengek Fazila.
"Sudah pergi saja kalian biar Abang jaga rumah saja. Siapa tahu ada maling yang masuk," ujar Tristan masih tidak mau membuka mata.
"Mau jaga maling kok tidur. Yang ada semua barang hilang yang jaga nggak tahu," protes Fazila.
"Sudah ah pergi sana! Bawel amat!" kesal Tristan karena tidurnya terganggu.
"Gimana? Apa kita nggak usah ngajak dia saja?" Sepertinya dokter Davin senang jika Tristan tidak jadi ikut malam ini.
"Kalau Abang tidak ikut, Chila juga nggak ikut," ucap Fazila membuat dokter Davin mendesah kasar.
"Kenapa susah banget sih ngajak Chila jalan?" Dokter Davin bermonolog dalam hati.
__ADS_1
"Baiklah," ujar dokter Davin lalu ikut membangunkan Tristan.
"Bentar Dok!" Chila meninggalkan keduanya lalu kembali dengan botol air mineral di tangan dan mendekat kembali ke arah Tristan.
"Mau apa?" tanya dokter Davin melihat gelagap Fazila yang aneh.
"Sst!" Fazila meminta dokter Davin agar tidak berisik lalu meneteskan air di wajah abangnya. Hal itu membuat Tristan yang sebenarnya masih mengantuk langsung membuka mata dan duduk.
"Chila! Iseng banget sih?" protes Tristan.
"Biarin saja, kalau Abang tidak ikut nanti Fazila lapor mama. Kalau abang bawa mobil dengan mengebut sampai membuat Chila muntah-muntah," ancamnya.
"Ah kamu! Yasudah deh Abang ikut, tapi ingat, Abang tidak mau menyetir!"
"Oke, no problem," sahut Fazila sambil bersedekap dada.
"Tunggu Abang mau cuci muka dulu!" Tristan langsung beranjak ke kamar mandi.
"Ayo berangkat!" seru Tristan setelah selesai mencucinya wajahnya.
"Ayo!" Dokter Davin melangkah terlebih dahulu keluar rumah disusul Fazila dan Tristan di belakangnya.
"Pakai mobilku saja," ujar dokter Davin lalu masuk ke dalam mobilnya sendiri dan membawanya keluar dari garasi.
"Chila!" panggil dokter Davin. Fazila langsung menghentikan langkahnya.
"Iya Dok?"
"Duduk di depan!" tegasnya hingga Fazila tidak berani menolak.
"Sana ke depan!" perintah Tristan agar sang adik tidak merecoki dirinya yang masih sangat kuat mengantuk. Jika Fazila duduk di depan dia akan bebas tidur sepanjang perjalanan.
"Hmm, baiklah," ucap Fazila pasrah lalu turun lagi dan naik di mobil bagian depan berdampingan dengan dokter Davin.
"Kita kemana dulu sekarang?" tanya dokter Davin setelah kendaraan melaju di jalanan.
"Terserah dokter, aku ikut saja. Lagipula aku juga tidak begitu tahu daerah ini meskipun sudah bertahun-tahun tinggal di kota ini," jelas Fazila apa adanya. Dia memang tidak mengenal banyak daerah tersebut karena jarang keluar dari pondok.
"Bagaimana kalau kita ke pameran dulu?"
"Pameran?"
"Yups."
"Boleh, aku tidak pernah datang ke sana."
__ADS_1
Dokter Davin mengangguk. Lalu sepanjang perjalanan tidak ada yang bicara. Fazila tampak bersandar sambil menatap jalanan sedangkan dokter Davin tampak asyik bernyanyi kecil mengikuti lagu yang ia putar lewat bluetooth.
Setengah jam kemudian mereka sampai di tempat pameran dan dokter Davin langsung memarkirkan mobilnya.
"Wah ramai juga ya Dok," ucap Fazila sambil menatap sekeliling dengan kagum. Ada banyak permainan di sana yang mengingatkan dirinya pada masa-masa ia kecil. Namun saat itu, ia hanya bermain di tempat permainan anak ataupun tempat rekreasi.
"Aku boleh naik itu?" tanyanya dengan antusias sambil menunjuk bianglala yang banyak pengunjungnya.
"Boleh. Kau boleh naik apa saja yang kamu inginkan."
Fazila mengangguk dan tersenyum senang. Dengan setengah berlari dia langsung mendekati permainan bianglala dan mengantri bersama orang-orang. Dia seolah lupa pada Abangnya yang tertidur di dalam mobil.
Dokter Davin langsung berlari menyusul Fazila setelah menerima nomor karcis.
Setelah membayar karcis bianglala mereka pun naik dan duduk dalam satu ruangan. Dokter Davin tersenyum melihat Fazila tampak ceria dan antusias melihat pemandangan dari atas.
"Dokter itu mobilmu!" seru Fazila sambil menunjuk ke arah mobil dokter Davin yang terparkir dengan tangan kanannya.
Bukannya melihat ke arah yang ditunjuk oleh Fazila, dokter Davin malah menggenggam tangan kiri Fazila dengan tangan kanannya.
Merasakan ada yang aneh Fazila langsung menoleh. Ia mendapati tangannya yang digenggam oleh dokter Davin.
"Dokter?" Fazila berkata sambil menatap wajah dokter Davin. Barangkali ada hal penting yang ingin disampaikan oleh pria itu.
"I Love Chila," ucap dokter Davin seraya menatap lekat wajah Fazila.
"I Love you too, dokter Davin," ucap Fazila dengan wajah bersemu merah lalu melepaskan pegangan tangan dokter Davin. Tidak ingin terlalu lama membiarkan dalam posisi seperti itu karena pegangan tangan dokter Davin seolah mengalirkan sengatan listrik yang menimbulkan gelenyar aneh di dalam dada.
"Maaf kita bukan muhrim," ucap Fazila agar dokter Davin tidak tersinggung karena dia menarik tangannya begitu saja.
"Tak apa aku paham, maafkan aku yah!"
Fazila mengangguk.
"Chila, kamu tahu tidak apa yang aku rasakan saat ini?"
Fazila menggeleng.
"Aku bahagia bisa berduaan denganmu seperti dulu. Rasanya aku ingin bersamamu terus seperti ini. Sepertinya aku tidak ingin bertunangan, tapi ingin menikah langsung agar aku bisa menyentuhmu," ucap dokter Davin dengan ekspresi begitu serius.
Fazila hanya bisa menelan ludah mendengarkan keinginan dokter Davin.
"Bagaimana mungkin? Aku 'kan masih sekolah?"
Bersambung.
__ADS_1