
Kemudian Fazila duduk kembali dengan menghempaskan tubuhnya secara kasar di atas ranjang. Ia menatap geram pada dokter Davin yang tampak tenang-tenang saja saat melihat foto yang ia tunjukkan.
"Punya perasaan nggak sih nih orang," lirihnya lalu menghela nafas panjang. Dalam hati beristighfar banyak-banyak karena emosinya akhir-akhir ini sering meledak.
"Oh jadi ini yang membuatmu uring-uringan," ujar dokter Davin. Fazila membelalakkan mata mendengar ucapan dokter Davin. Tak percaya dengan sikapnya yang masih saja bersikap santai. Gadis itu menatap intens wajah dokter Davin seolah ingin melihat apakah sikap pria itu memang demikian adanya jika merasa tidak bersalah ataukah hanya berpura-pura tenang sambil mencari-cari alasan yang ingin ia lontarkan.
"Kau sudah biasa ya berlaku begitu pada wanita," ketusnya semakin bertambah kesal. Bibirnya tampak cemberut.
"Oh tentu saja tidak, dan ini tidak seperti yang kau pikirkan," ujar dokter Davin, otaknya masih mengingat-ingat tentang kejadian dalam gambar, kapan dan dimana terjadi.
"Dan Dokter tidak bisa menjelaskan, kan?"
Dokter Davin yang menghadap ke depan, memutar tubuh hingga posisinya menghadap Fazila.
"Chila dengarkan aku! Ini tidak seperti yang engkau lihat."
"Apanya tidak seperti yang kau lihat, itu sudah jelas kau peluk-peluk suster Dinda," sungutnya.
"Itu hanya kebetulan–"
"Hmm, kebetulan yang disengaja," cibir Fazila memotong pembicaraan dokter Davin.
"Bukan Chila, kebetulan waktu itu suster Dinda hampir terjatuh dan aku reflek menangkapnya," jelas dokter Davin dengan nada suara tegas.
"Dan aku harus percaya pada penjelasanmu begitu? Penjelasan tanpa bukti!" kekehnya.
"Sebenarnya harus percaya sih karena itu kenyataannya, tapi hak kamu mau percaya atau tidak. Yang penting aku sudah mengatakan yang sebenarnya," jelas dokter Davin sambil meraih ponsel dalam saku celana trainingnya lalu menyalin nomor pengirim ke ponselnya sendiri, barangkali nomor tersebut ada di kontaknya. Sayangnya tidak ada sehingga dokter Davin tidak mengetahui siapa pengirim gambar itu yang sebenarnya.
Karena penasaran ia langsung mencoba menelpon nomor telepon tersebut.
"Sial! Kenapa dinonaktifkan sih?" kesalnya. Ingin rasanya dia mencincang hidup-hidup pemilik nomor itu karena telah mengacaukan hubungannya dengan Fazila dan sekarang tidak bisa dihubungi seolah lepas dari tanggung jawab.
Fazila hanya diam, lebih tepatnya memperhatikan gerak-gerik dokter Davin saat ini.
Tidak bisa menelepon pengirim foto tersebut, kini dokter Davin beralih menelpon pada suster Dinda.
"Kenapa tidak diangkat sih?" keluh dokter Davin setelah menghubungi wanita itu dan tak kunjung mendapatkan jawaban.
Fazila terlihat berdecih, di dalam hati ia menggerutu sendiri karena dokter Davin malah menelpon orang-orang padahal mereka berdua sedang bicara serius. Apa hanya untuk pengalihan dari masalah mereka?
"Ya Halo!" Terdengar dokter Davin begitu antusias karena ada respon dari orang yang dihubunginya.
__ADS_1
"Iya Dokter Davin, ada apa?" Terdengar dari seberang telepon suara seorang wanita. Fazila yang penasaran suara siapa itu merapatkan duduknya demi untuk menguping apa yang akan mereka bicarakan.
"Suster Dinda, boleh minta tolong?"
Fazila kaget, ternyata orang yang ditelpon dokter Davin adalah wanita yang ia cemburui saat ini.
"Ada apa Dokter Davin, mengapa menelpon malam-malam begini? Bukankah kita sedang tidak bertugas?" tanya suster Dinda. Wanita itu terlihat menguap beberapa kali, susah payah menahan kantuk.
"Bukan tentang tugas ataupun pasien tapi tentang yang lainnya. Aku ingin kamu bicara dengan seseorang dan menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya," jelas dokter Davin dan orang yang ditelpon terlihat tidak bersemangat.
"Kalau diluar tugas, kita bicarakan besok saja Dok malam ini aku masih mengantuk," ujar suster Dinda dan langsung menutup panggilan telepon dari dokter Davin. Wanita itu melempar ponselnya sembarangan lalu berbaring dan kembali memejamkan mata.
"What! Malam-malam?" tanya Fazila tak percaya.
"Apa suster Dinda tidak sadar kalau hari sudah berganti pagi?"
"Dia mungkin kelelahan karena kemarin siang banyak membantuku mengurus apa-apa yang ingin kami bawa ke rumah ini padahal malam harinya kami masih bekerja," terang dokter Davin dan Fazila hanya diam.
"Jadi rasanya tidak etis jika kamu malah berprasangka buruk padanya," lanjutnya.
"Wow, kau sangat perhatian ya padanya," ujar Fazila membuat dokter Davin mengacak rambutnya sendiri. Bingung bagaimana lagi menghadapi calon istrinya itu. Fazila mengulurkan tangan hendak meraih kunci di tangan dokter Davin.
"Hadeh, maksa banget nih Dokter," keluh suster Dinda, tetapi tetap abai dengan panggilan itu malah mengecilkan volume ponselnya.
"Ngeselin banget sih tuh suster, apa dia ingin aku pecat," gerutu dokter Davin membuat Fazila menahan tawanya karena lelaki itu terlihat kesal dengan asistennya.
Merasa suster Dinda memang sengaja mengacuhkan panggilan telepon darinya, dokter Davin beralih mengirimkan chat pada wanita itu. Chat dengan tulisan bernada mengancam.
[Angkat teleponnya atau kau kupecat sekarang juga!]
Suster Dinda membelalakkan mata membaca chat dari dokter Davin.
"Apa! Dipecat? Nggak fair ini namanya," keluhnya.
"Hmm, baiklah aku turuti saja permintaannya, semoga tidak aneh-ane dan tidak begitu merepotkan," gumam wanita itu lalu berinisiatif menelpon terlebih dahulu sebelum dokter Davin menelponnya.
[Jelaskan tentang ini! Mengapa harus ada foto begini diantara kita? Apa kau sengaja ingin menjebak diriku dan mengirimkan foto ini pada Chila?]
Chat dokter Davin diiringi dengan foto tentang mereka berdua yang seperti orang berpelukan.
Sebelum panggilan telepon bersambung suster Dinda mengurungkan niatnya sementara waktu karena mendengar notifikasi masuk dan memilih mengeceknya terlebih dahulu.
__ADS_1
Ia syok menatap gambar yang dikirimkan oleh dokter Davin, matanya yang mengantuk langsung terbelalak dan duduk seketika. Telepon dari dokter Davin berdering kembali, dengan lemas ia mengangkat telepon tersebut.
"Halo Dokter, aku tidak tahu-menahu perkara foto yang diambil itu, mungkin ada seseorang yang membencimu atau membenci kita sehingga membuat fitnah murahan seperti ini, aku tidak mungkin melakukan hal ini apalagi aku juga tidak tahu berapa nomor telepon Chila," jelas suster Dinda dengan sejujur-jujurnya. Ia tidak ingin mencari masalah dengan orang lain apalagi saat tahu Fazila adalah anak orang kaya. Ia merasa ngeri jika harus berhadapan dengan orang-orang yang levelnya lebih tinggi darinya. Bisa-bisa dia dibuat tidak tenang hidupnya.
"Aku hanya ingin kamu mengkonfirmasi bahwa apa yang kita lakukan ini tidak sengaja!"
"Iya Dokter, waktu itu aku hampir terjatuh dan kau langsung menangkap diriku. Terima kasih atas bantuanmu."
"Bagaimana Chila, kau dengar sendiri, kan?" tanya dokter Davin yang memang sengaja memperbesar volume suara ponselnya agar Fazila bisa mendengar langsung perkataan suster Dinda.
Fazila memicingkan mata dan tak berkata apapun.
"Belum bisa percaya?"
"Baiklah suster Dinda kau harus menjelaskan sendiri pada Chila bagaimana hal itu bisa terjadi!"
Suster Dinda mendesah kasar.
"Harus bagaimana lagi aku menjelaskan, bukankah sedari tadi ngomong sudah masuk penjelasan?" gumamnya.
"Jelaskan sendiri pada Chila!" tegas dokter Davin.
"Iya-iya tapi berhubung ini di luar tugas, maka aku akan menjelaskan semua yang terjadi tanpa ada yang terlewatkan asal ada syaratnya," ucap suster Dinda. Dari balik telpon ia terkekeh tidak jelas.
Tentu saja dokter Davin terbelalak, bisa-bisanya suster Dinda mengajukan syarat.
"Kau ingin uang, kau ingin memerasku?" tanya dokter Davin tidak percaya. Bagaimana mungkin asistennya bersikap seperti itu. Dalam hati semakin curiga memang wanita itu yang menjebak dirinya dan ingin mengambil keuntungan daripadanya.
"Eh jangan berprasangka buruk dulu Dokter, aku bukan ingin uang, tapi–"
"Tapi apa?" geram dokter Davin memotong pembicaraan suster Dinda.
"Dekatkan aku dengan pria fotografer yang bertugas di malam pertunangan kalian!" Suster Dinda cengengesan.
"Astaga! Dia menyukai Bang Dimas," ucap Fazila.
"Kalau itu Chila yang akan mewujudkannya. Nih ngomong langsung dengan dia!" seru dokter Davin lalu menyerahkan ponselnya pada Fazila.
"Tanyakan semuanya pada suster Dinda sendiri!" perintah dokter Davin lalu menghela nafas panjang saat ponsel sudah berpindah tangan pada Fazila dan gadis itu berdiri dari duduknya.
Bersambung.
__ADS_1