
Tristan yang berdiri di bawah tangga langsung terbahak-bahak melihat Fazila yang mati kutu menghadapi perkataan mamanya.
"Makanya jangan banyak drama dalam hidup," ucap pria itu lalu menaiki tangga. Fazila hanya memandang Tristan dengan ekspresi datar dan tak ada keinginan untuk membantah.
"Kalau kamu mau akting ikut Abang aja, nanti Abang anterin untuk casting-casting," bisiknya setelah sampai di sisi gadis itu.
"Ogah!" seru Fazila sambil mendelik.
"Chila, apa kau sudah menyiapkan keperluanmu untuk dibawah ke pondok?" tanya Isyana kemudian, membuat hati Fazila dan dokter Davin menjadi lega karena Isyana yang tidak memperpanjang apa yang didengar dan dilihatnya tadi sebab semua itu hanyalah gurauan semata. Sementara Tristan setelah menggoda sang adik berlalu ke kamarnya sendiri.
"Sudah Ma, Chila langsung menyiapkan semua setelah Mama memberikan kabar lewat telepon tadi," jawab Fazila masih dengan posisi wajah yang menunduk.
"Bagus kalau begitu, rencananya kalian mau apa sekarang?"
"Ambil buku Ma, kata Mama besok ada ujian."
"Ya ambillah, kata ustadzah Ana ujian besok itu pelajaran fikih dan Matematika."
"Baik Ma."
"Saya tunggu di bawah aja ya, Chila," ujar dokter Davin. Fazila menatap wajah pria itu dengan rasa bersalah lalu mengangguk. Fazila tahu suasana hati dokter Davin saat ini pasti tidak nyaman dan canggung dengan mamanya.
"Tante saya ke bawah ya," pamit dokter Davin dengan wajah tertunduk pula.
"Iya," jawab Isyana.
Dokter Davin pun melangkah dengan arah yang berlawanan dengan Fazila.
"Nak Davin!" panggil Isyana saat kaki pria itu sudah menginjak lantai dasar rumahnya.
Dokter Davin langsung menoleh dengan jantung yang berdetak tidak karuan.
"Iya, Tante?"
"Terima kasih ya sudah bantuin Chila tadi, Bik Ina sudah menceritakan semuanya," ucap Isyana sambil tersenyum ramah ke arah pria itu. Dokter Davin mengangguk dengan senyuman tipis.
"Sama-sama Tante," ucapnya kemudian melangkah menuju pintu. Isyana balas mengangguk dan menyusul putrinya ke kamar dengan dua paper bag di tangan lalu memastikan persiapan Fazila sudah benar-benar selesai atau belum.
"Ma Chila turun dulu ya, mau belajar di taman," ucap Fazila sambil menenteng buku dengan bolpoin di tangan kanan dan ponsel di tangan kiri Tentu saja setelah melihat mamanya berhenti memeriksa persiapannya.
"Ya," jawab Isyana singkat.
Fazila tersenyum manis lalu melangkah ke arah pintu.
"Tunggu Chila!"
Deg.
Hati Fazila langsung tidak enak mendengar sang mama memanggil dirinya yang sudah hendak keluar. Senyum manis berubah seketika menjadi senyum getir. Firasatnya mengatakan ia akan mendapatkan ceramah panjang lebar tentang kejadian tadi. Ceramah yang panjang seperti ceramah Nyai Fatimah yang membuat gadis itu mengantuk, tetapi dalam versi yang berbeda.
"Itu tadi dalam paper bag ada baju-baju untuk teman-teman kamu dan yang di paper bag cokelat untuk Nyai Fatimah. Kamu kasih besok sama beliau setelah Mama pulang aja ya, soalnya mama nggak enak sama beliau. Nyai Fatimah kalau tahu Mama bawa apa-apa nanti jadi repot ngasih sesuatu juga sama Mama."
Fazila menghela nafas.
"Iya, Ma."
"Yasudah sana kalau mau belajar, sama dokter Davin?"
__ADS_1
Fazila mengangguk lemah.
"Kalau mau belajar yang serius belajarnya ya Chila, jangan berbuat yang lain."
"Iya, Ma."
"Ya udah sana nanti dianya kelamaan menunggu!"
"Oke, Ma." Jawaban Isyana membuat Fazila antusias dan wajahnya cerah kembali.
"Kelihatan sekali kau sangat mencintai dia Chila," gumam Isyana setelah punggung putrinya menghilang dari balik pintu.
"Semoga dokter Davin memang tulus dan tidak pernah berubah, mencintai dan menerimamu apa adanya. Mama tidak ingin kau bernasib sama dengan mama dulu meskipun akhirnya menikah juga dengan papamu," ujar Isyana lalu menghembuskan nafas panjang.
Wanita itu sebenarnya tidak ingin terlalu ketat pada putrinya, dia hanya takut Fazila akan bernasib sama dengan dirinya, hamil di luar nikah meskipun dia yakin dokter Davin tidak akan mungkin merusak putrinya.
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Zidane saat melihat istrinya berdiri sambil melamun.
"Mas, sudah pulang? Mulai kapan berdiri di sana?" tanya Isyana yang kaget melihat keberadaan suaminya di depan pintu.
"Iya, sengaja pulang awal karena nanti mau nganterin Chila. Kau melamunkan apa?" tanya pria itu penasaran.
"Ah nggak, hanya khawatir aja lihat kedekatan Chila dengan dokter Davin. Mereka kalau sudah bertemu kayak nempel terus nggak mau jauhan," jelas Isyana akan kegalauan hatinya.
"Biarin saja, namanya juga anak muda Ma. Lagipula dokter Davin itu adalah cinta pertama Chila dan mungkin cinta sejatinya juga. Buktinya udah bertahun-tahun pisah perasaan mereka tetap terikat juga. Sebagai orang tua kita harus mendukung mereka dan mengawasi saja."
"Justru itu yang Mama khawatirkan Pa. Kalau di sini kita bisa mengawasi mereka, tapi di pesantren kita tidak tahu kan kalau mereka sampai bertemu diam-diam? Papa tahu sendiri dokter Davin bertugas di daerah yang sama dengan pesantren tempat Fazila mondok."
"Kan ada pengasuh dan guru-gurunya di sana? Sudahlah kita serahkan pengawasan kita pada mereka saja. Memang apa yang Mama takutkan?"
"Papa dengar kata-kata ini 'Zina itu hutang maka akan ada dari keturunanmu yang akan membayarnya' aku jadi takut Pa, takut putri kita yang akan membayar perbuatan kita nanti."
"Papa benar, Mama hanya takut saja sebab putri kita begitu polos ditambah bucin juga sama Nak Davin. Kadang saya takut kalau membayangkan dokter Davin hanya memanfaatkan Chila saja dan meninggalkan saat sudah tidak membutuhkan putri kita lagi."
"Mama terlalu jauh pemikirannya, tapi kalau Papa sih percaya sama dia. Kalau dia memang ingin mempermainkan wanita, bukankah banyak wanita-wanita disekitarnya yang bahkan lebih menarik dari Fazila dan tentu saja mau padanya. Selain tampan pria itu sudah mapan. Lagipula dokter Davin itu sudah terlalu dewasa, tak mungkin lagi ingin bermain-main lagi dengan sebuah hubungan."
"Semoga saja Pa. Semoga papa benar dan ini hanya perasaan Mama saja," ujar Isyana penuh harap.
"Yasudah yuk turun! Sampai kapan kita akan berdiri terus di sini?" Zidane berkata sambil menggandeng tangan sang istri dan membawanya turun ke lantai bawah.
Sementara itu Fazila dan dokter Davin sudah sampai di taman. Gadis itu meletakkan buku di atas meja dan berjalan-jalan sebentar sebelum memulai belajar. Menatap pemandangan taman yang indah dan sejuk. Gadis itu terlihat beberapa kali menghirup udara di sana.
Sangat segar hingga membuat nyaman berada di sana dan hampir melupakan tujuan awal. Fazila menatap bunga-bunga yang bermekaran dan meraih satu tangkai bunga anggrek lalu memetiknya.
"Bunganya cantik tapi lebih cantik kamu," ujar dokter Davin membuat wajah gadis itu tersipu malu.
"Ih gombal." Rasanya hati Fazila mencelos mendengar pujian dari dokter Davin. Seolah-olah taman bunga yang mengelilingi halaman belakang rumahnya pindah ke hati Fazila.
Berbunga-bunga euy! Kalau saja ada kupu-kupu terbang di sana pasti akan lebih sempurna.
"Sudah katanya mau belajar, sana gih, dibaca materinya dan nanti aku bakal kasih pertanyaan untuk mengetes kamu!"
"Oke siap."
Fazila duduk di kursi, meraih buku dan membacanya dengan seksama. Dokter Davin sendiri tampak mengitari taman sambil sesekali melirik gadisnya yang benar-benar fokus belajar.
Beberapa saat kemudian Fazila terlihat mengangkat wajah setelah sekian lama menunduk. Gadis itu merentangkan kedua tangan sambil menghela nafas panjang.
__ADS_1
"Sudah siap aku tes?" tanya dokter Davin sambil duduk di kursi yang berhadapan dengan Fazila.
"Sudah," jawab gadis itu singkat.
Dokter Davin meraih buku paket yang ada di hadapan Fazila.
"Baiklah pertanyaan pertama; menurut ulama Syafi'iyah kerjasama antara pemilik sawah atau ladang dengan bagi hasil menurut perjanjian dengan benih atau bibitnya dari pihak penggarap, disebut?"
"Hmm, apa ya? Aku sudah rada-rada lupa soalnya," ucap Fazila sambil menekan kepalanya untuk mengingat-ingat.
"Gimana, ingat nggak? Atau selama ini kamu hanya tidur di kelas," goda dokter Davin.
"Ih nggaklah. Mana ada ceritanya Chila tidur di kelas," protes gadis itu.
"Ya udah kalau begitu kamu mestinya bisa menjawab," ujar dokter Davin.
"Muzaraah," jawab Fazila.
"Yup benar, terus pertanyaan selanjutnya adalah: Apa yang menyebabkan akad Musaqah menjadi batal?"
"Karena penggarap sakit atau meninggalnya salah satu yang beraqad," jawab Fazila dengan begitu lancar.
"Pinter," puji dokter Davin dan Fazila langsung tersenyum lebar.
"Makasih," ucap gadis itu dan dokter Davin hanya menjawab dengan anggukan.
Pria itu terus saja memberikan pertanyaan hingga yakin Fazila pasti dapat menjawab soal ujian besok.
"Sekarang Matematika. Pelajari dulu sebelum aku ngasih soal," ujar dokter Davin dan sekali lagi Fazila menurut. Kali ini dia agak kesusahan sehingga banyak bertanya pada dokter Davin dan pria itu dengan teladan mengajarinya.
"Bagaimana paham?" tanya dokter Davin setelah menjelaskan.
"Iya."
"Yasudah kalau begitu kerjakan soal yang ini!"
"Baik," sahut Fazila lalu mengerjakan soal yang diberikan oleh dokter Davin.
"Kau ingat nggak Chila waktu kamu masih SMP dan tanya-tanya tentang pelajaran Biologi padaku?" tanya dokter Davin sambil menatap kepala Fazila yang masih menunduk.
"Kenapa emang?" tanya Fazila masih dengan posisi yang sama. Tangannya masih cekatan memegang bolpoin dan menari-nari di atas kertas.
"Aku dejavu pada waktu itu. Ya, walaupun sekarang tempatnya berbeda."
"Bedalah Dokter, sekarang aku mah serius belajar sedangkan waktu itu aku hanya modus saja padahal dah ngerti sama pelajarannya. Hanya pengen dekat-dekat sama dokter aja," ucap Fazila sambil mengangkat wajah, menatap dokter Davin lalu cekikikan.
"Kau ini," ujar dokter Davin gemes lalu mengusap lembut kepala gadis itu.
"Dan dulu Dokter rese banget tahu, selalu menggerutu dan mengatakan aku gadis kecil pengganggu," kenangnya.
"Kau memang selalu jadi pengganggu. Dulu kamu selalu menganggu waktuku dan sekarang kamu selalu menganggu hatiku."
"Eh?"
"Tapi sekarang aku senang kalau kamu gangguin," ujar dokter Davin lalu terkekeh.
"Sudah selesai soalnya, tolong dikoreksi," ujar Fazila sambil menyerahkan buku catatan ke hadapan dokter Davin. Pria itu pun serius mengoreksi.
__ADS_1
"Tuh Mama lihat sendiri, bahkan aku pikir tak ada yang begitu telaten mengajari putri kita seperti anak itu. Apakah Mama masih ragu dengan dokter Davin?"