DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR

DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR
Bab 74. Insomnia


__ADS_3

Selepas makan malam semua keluarga tidak langsung kembali ke kamar masing-masing melainkan mengobrol seperti biasa. Bercerita tentang pengalaman masing-masing yang terjadi di siang hari, terkecuali Laras yang langsung pamit ke kamar karena takut Tuan Alberto terbangun dan membutuhkan dirinya. Maklum saja setelah melakukan operasi pemasangan ring, pria tua itu terlihat begitu lemah sehingga perlu selalu didampingi.


"Alhamdulillah ya sekarang keluarga kita lengkap, biasanya kalau tidak Chila, ya Tristan juga yang tidak bisa berkumpul bersama," ucap Isyana di tengah-tengah obrolan ringan mereka.


"Sekarang malah bertambah Nak Davin," sambung Zidane dan Isyana terlihat mengangguk. Dokter Davin dan Fazila hanya senyum-senyum saja.


"Tundukkan pandangan, jangan jelalatan," bisik Tristan di telinga Fazila karena melihat Fazila selalu curi pandang ke arah dokter Davin. Gadis itu langsung menyikut bahu Tristan dengan siku lengannya.


"Diam kenapa Bang!" seru Fazila di telinga Tristan.


"Sebaiknya kamu kembali ke kamar, kesehatanmu belum pulih benar Chila," saran Chexil karena tidak ingin kesehatan Fazila kembali drop.


"Nggak Kak, bosan Chila tiduran terus," tolak Fazila.


"Bilang saja masih belum puas menatap dokter Davin," tuduh Tristan. Pria itu makin gencar menggoda sang adik.


"Apaan sih Bang, yasudah deh Chila kembali ke kamar asal Kak Chexil juga balik," ujar Fazila mengajukan syarat.


"Oke, saya memang mau ke kamar. Mumpung Nazel tidur, Kakak mau ikutan tidur juga, takut-takut dia terbangun sementara Kakak belum sempat istirahat. Capek jika harus begadang terus," ujar Chexil sambil berdiri.


"Mas Nath, aku duluan ya!" pamitnya.


"Iya Sayang nanti saya nyusul," sahut Nathan


Chexil mengangguk.


"Pamit ya semuanya, Pa, Ma!" ucap Chexil kemudian melangkah pergi.


"Aku juga," ujar Chila lalu menyusul langkah Chexil dan menggandeng tangan kakak iparnya. Saat menapaki tangga Fazila menoleh.


"Dokter, kalau besok mau balik kasih tahu Chila, ya!"


Dokter Davin tidak menjawab hanya menunjukkan dua jari jempolnya dan Fazila hanya membalas dengan senyuman lalu melangkah kembali menuju kamarnya.


Sementara Chexil dan Fazila sudah beristirahat ke kamar yang lainnya masih terdengar bercanda gurau. Nathan dan Tristan terlihat asyik bermain catur sedangkan Isyana dan dokter Davin hanya menjadi penonton saja dan sesekali dokter Davin tampak mengobrol serius dengan Zidane.


"Sepertinya Mama juga sudah ngantuk berat, jadi mau ke kamar duluan," ucap Isyana lalu bangkit dari duduknya.


Dokter Davin terlihat menguap beberapa kali, tetapi enggan pergi dari ruang keluarga. Tidak enak jika meninggalkan para lelaki yang masih terlihat kuat begadang.

__ADS_1


"Nak Davin boleh istirahat duluan, bukankah besok harus keluar kota," ucap Zidane yang paham bahwa dokter Davin sedang berusaha mati-matian menahan kantuk. Sebenarnya begadang sudah menjadi hal yang biasa bagi dokter Davin karena sering melakukan operasi pada pasien di malam hari, tetapi malam ini terasa mengantuk berat.


"Iya Om, kalau begitu saya pamit tidur duluan," ucap dokter Davin lalu meninggalkan tempat setelah melihat anggukan dari Zidane.


"Sepertinya Tris juga ngantuk, Papa gantiin Tris ya, Pa."


"Oke." Zidane maju melawan Nathan sedangkan Tristan langsung naik ke kamarnya.


Jam 12 malam Fazila masih membuka mata, sekeras apapun dia berusaha belum bisa terlelap juga. Mungkin karena selama ini terlalu banyak tidur jadi dia tidak mengantuk sama sekali.


Di luar Nathan dan Zidane terdengar tertawa-tawa hingga suaranya terdengar sampai ke lantai atas.


"Ya ampun mereka belum berhenti juga, apa tidak capek ya siang bekerja sedangkan malam masih saja lembur main catur," keluh Fazila sedangkan jam di ruang tengah sudah terdengar berdentang 12 kali.


"Apakah dokter Davin juga ikut begadang? Bahaya kalau iya, sebab besok dia harus melakukan perjalanan jauh dengan menyetir sendiri." Fazila langsung keluar kamar untuk mengecek keadaan di lantai bawah. Dia mengawasi dari lantai atas dan tidak menemukan keberadaan dokter Davin.


"Syukurlah dia tidak ada, kupikir dia juga ikutan main." Fazila menghembuskan nafas lega lalu balik badan untuk kembali ke kamarnya.


"Chila!" panggil Zidane karena melihat Fazila belum tidur juga.


Fazila menoleh dan menengok ke bawah.


"Iya, Pa?"


Gadis itu menggeleng.


"Tapi kenapa kamu belum tidur juga?"


"Hanya kebetulan terbangun kok, Pa," bohongnya tidak ingin membuat Zidane khawatir kalau tahu dia semalaman ini tidak tidur.


"Oh, yasudah tidur lagi gih!"


"Papa dan Bang Nath belum mau tidur juga?" tanyanya heran, kalau dirinya mah mending siang bisa bebas tidur, nah mereka kapan kalau tidak tidur ketika malam hari?"


"Bentar lagi Chila, nanggung Ini, bentar lagi papa kalah," ucap Nathan lalu terkekeh.


"Terserah deh awas besok ngantuk pas kerja," ucap Fazila lalu kembali ke kamar.


Jam 1 malam barulah keduanya berhenti bermain catur dan kembali ke kamar masing-masing.

__ADS_1


Fazila sendiri belum mengantuk juga sedangkan keadaan rumah sudah sepi.


"Aneh ini kenapa belum bisa tidur juga? Biasanya aku kalau minum obat bisa menyebabkan kantuk, tapi sekarang kok kayak insomnia, ada yang salah dengan tubuhku?" Fazila turun ke bawah dan mondar-mandir di sana. Barangkali dengan begitu tubuhnya lelah dan akhirnya bisa dengan mudah mengantuk.


"Chila, kamu ngapain di sini malam-malam?" tanya dokter Davin melihat Fazila bukannya tidur malah keluyuran di lantai bawah.


Fazila menoleh. "Dokter sendiri mau apa? Sudah mau balik sekarang?"


"Nggak, mau minum aja. Dapurnya ada dimana?"


"Tuh dispenser nya!" tunjuk Fazila pada dispenser yang ada di sudut ruangan.


"Aku butuh air hangat, ada?"


"Oh kayaknya nggak dihidupi tuh tombol air panasnya, biar aku ambilkan di termos aja biar lebih cepat," ucap Fazila lalu berjalan menuju dapur. Dokter Davin mengangguk lalu mengekor di belakang. Setelah minum dia kembali ke ruang tamu dan duduk di sana.


"Chila sebaiknya kamu kembali ke kamar saja dan istirahat!" perintah dokter Davin, tetapi Fazila menggeleng.


"Kenapa? Besok aku kabari kalau mau balik."


"Bukan begitu, aku tidak bisa tidur malam ini. Sudah susah payah berusaha untuk terlelap tetapi tidak berhasil juga. Dokter punya obat tidur?"


"Aih nggak boleh pakai gituan kalau nggak terpaksa. Ada efek sampingnya," cegah dokter Davin dan Fazila hanya mengangguk lemah.


"Yasudah coba tidur di sini saja biar saya temani," ucap dokter Davin sambil menepuk sofa di samping ia duduk.


Fazila menatap lekat wajah dokter Davin lalu menggeleng. Tidak berani dia tinggal berduaan saja.


"Kenapa? Takut aku ngapa-ngapain kamu? Tenanglah aku nggak bakal ngelakuin apapun, apalagi ini rumahmu bisa habis aku kalau macam-macam," ucap dokter Davin lalu terkekeh.


"Baiklah." Akhirnya Fazila menurut dan berjalan mendekat.


Dokter Davin menyiapkan bantal sofa untuk ditiduri Fazila.


"Makasih," ucap Fazila lalu terbaring di samping dokter Davin.


"Coba baca shalawat atau amalan apa saja deh biar hatimu lebih tenang sehingga bisa tidur," saran dokter Davin dan Fazila menjawab dengan anggukan.


Jam dua akhirnya Fazila benar-benar terlelap. Dokter Davin menghembuskan nafas lega dan akhirnya memilih tidur di sofa panjang yang bersebrangan dengan sofa yang ditiduri Fazila daripada harus kembali ke kamar karena tidak mungkin meninggalkan Fazila seorang diri di ruang tamu.

__ADS_1


Bersambung.


    


__ADS_2