DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR

DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR
Bab 8. Dokter Davin dan Chila 8


__ADS_3

Ustadzah Ana langsung bergegas keluar dari kamar mendengar suara dari salah satu santriwatinya.


"Ada apa ini? Kenapa dini hari begini kamu teriak-teriak Hen?" tanyanya sambil mendekat ke arah Heni. Bukannya bersiap-siap untuk shalat tahajud, Heni malah membuat kerusuhan.


"Itu ustadzah Ana, Chila mengerjai saya," adu Heni pada pembinanya.


"Mengerjai bagaimana maksudmu?"


"Saya sedang tidur, tiba-tiba dia langsung membacakan kalimat Iqamah di telinga saya sehingga saya langsung kaget karena menyangka waktu subuh sudah masuk dan bakal terlambat ke masjid karena belum siap. Namun, setelah saya terperanjat dan duduk dia malah menertawakan saya," jelas Heni panjang lebar agar mendapat simpati dari ustadzah Ana dan Fazila kembali dihukum.


"Chila mengerjai kamu? Rasanya tidak mungkin deh Hen, dia kan santri baru atau jangan-jangan kamu salah lihat orang kali."


"Tidak ustadzah Ana. Saya melihat dengan mata kepala sendiri dengan jelas bahwa yang mengerjai saya itu adalah santri baru yang namanya Fazila."


Ustadzah Ana merenung sebentar, memikirkan apakah mungkin Fazila benar-benar melakukan hal itu.


"Rasanya tidak mungkin Hen. Mungkin saja kamu salah lihat karena kamu kan dalam posisi mengantuk tadi."


"Ustadzah ini bagaimana sih? Tidak mungkin-tidak mungkin bagaimana? Orang saya melihatnya sendiri. Kalau tidak percaya bisa cek ke kamarnya. Pasti Chila dan teman-temannya sedang tertawa sekarang karena berhasil mengerjaiku."


"Baiklah kalau begitu kita ke kamarnya sekarang!"


Heni mengangguk dan keduanya langsung bergegas menuju kamar Fazila dan teman-temannya.


"Stt, diam!" Anggita memberikan kode dengan menaruh jari telunjuk di depan mulut agar ketiga teman-temannya yang masih tertawa langsung menghentikan aksi tawa mereka.


"Ada apa?" bisik Fazila yang langsung berhenti tertawa begitupun dengan dua sahabatnya yang lain.


"Ada ustadzah Ana di luar. Sepertinya tukang mengadu itu sudah memberitahukan perlakuanmu terhadap Heni saat tidur tadi," terang Anggita.


"Tenang saja dia tidak mempunyai bukti," ujar Fazila dengan sikap yang begitu tenang.


"Assalamualaikum!" seru ustadzah Ana di luar pintu sedangkan Heni tampak cemberut.


"Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh," jawab keempat orang dalam kamar.


"Oh ustadzah Ana, silahkan masuk ustadzah," ucap Qiana dengan ramah.


Ustadzah Ana pun mengangguk lalu masuk.

__ADS_1


"Ada apa ya ustadzah datang ke kamar kami? Tumben," ucap Anggita sambil meraih mukena.


"Kalian belum shalat sunnat tahajjud?" tanya ustadzah Ana basa-basi sebelum akhirnya menanyakan perkara yang diadukan oleh Heni.


"Iya Ustadzah, sebenarnya jam seperti sekarang kami sudah selesai, tapi karena kami harus menjalankan hukuman terlebih dahulu dari Nyai Fatimah makanya dipending dulu," jelas Anggita.


"Hukuman apa?" tanya ustadzah Ana yang memang tidak mengerti dengan hukuman yang diberikan Nyai Fatimah kepada Anggita dan kawan-kawan.


"Membersihkan kamar mandi yang ada di ujung sana." Sekarang Fazila yang menjawab sambil menunjuk ke arah kamar mandi yang ada di dekat kamar Heni.


Ustadzah Ana terlihat mengangguk-angguk sedangkan Heni tersenyum senang karena sepertinya rencana untuk membuat Fazila dan teman-temannya agar dihukum lagi seakan berjalan mulus.


"Jadi benar kalian yang mengerjai Heni?" tanya ustadzah Ana tanpa mau berbasa-basi lagi.


"Maaf Ustadzah, mengerjai bagaimana maksud Ustadzah?"


"Membacakan kalimat iqomah dengan keras di telinga Heni sehingga dia kaget dari tidurnya. Ustadzah mohon jangan pernah melakukan hal itu kepada para santriwati yang ada di sini karena kalau saja ada di antara mereka yang mengidap penyakit jantung akan sangat anfal kalau membuatnya kaget."


"Dan Ustadzah percaya saja dengan bualan Kak Heni?" tanya Fazila membuat Heni langsung terbelalak.


"Maksudmu?" tanya Heni sambil melotot ke arah Fazila.


"Yang ada pekerjaan kami nggak selesai-selesai," tambah Anggita.


"Apalagi kami juga belum shalat tahajjud," imbuh Qiana.


"Itu tidak benar Ustadzah, mereka semua berbohong," kesal Heni.


"Kamu jangan menuduh sembarangan tanpa bukti Kak, itu namanya pencemaran nama baik. Kalau sampai Ustadzah Ana sampai melakukan hukuman tanpa membuktikan kalau aku bersalah saya akan langsung lapor papa."


"Cih mentang-mentang anak orang kaya. Dasar anak manja," cibir Heni.


"Kamu tuh yang anak manja, hanya mimpi doang lapor sama ustadzah. Nggak ada kerjaan saja!" geram Fazila.


"Aku tidak bermimpi," kekeuh Heni.


"Kau benar-benar menganggu tidurku," tambahnya.


"Kalau tidak bermimpi ya berarti berhalusinasi, atau kau masih saja tidur sekarang dan berjalan ke sini di luar kesadaran?"

__ADS_1


"Enak saja bermimpi!"


"Sudahlah ngaku saja kalau bermimpi atau kalau kamu yakin itu terjadi saat kamu sadar berarti yang mengganggumu itu jin baik yang ingin agar kau bangun dan shalat tahajjud," ujar Fazila membuat ketiga temannya susah payah menahan tawa.


"Kau–!" Heni hendak menyerang Fazila, tetapi buru-buru dicegat oleh ustadzah Ana.


"Sudah tidak perlu bertengkar. Heni kalau kamu tidak punya bukti tidak perlu ngotot. Ayo keluar dan kembali ke kamarmu untuk persiapan shalat tahajjud sekaligus menyambut waktu subuh."


"Tapi ustadzah–"


"Sudah ayo jangan membantah!" Ustadzah Ana menarik pergelangan tangan Heni keluar.


"Oh ya kalian bersiap-siap dan ustadzah tunggu di masjid. Jangan lama-lama kalau masih ingin kebagian waktu untuk shalat tahajjud!"


"Baik ustadzah," jawab ketiganya serempak sedangkan Andin menghembuskan nafas lega.


"Untung aku lagi menstruasi, jadi bebas tidur sampai jam 6 pagi," ucap Andin lalu merebahkan tubuhnya kembali di atas kasur.


"Eh bukan sampai jam 6 pagi tapi bebas sampai dhuhur, kan hari ini libur. Waktunya bersantai," ujar Andin sambil menutup mata.


"Ih dasar! Jangan tidur lagi nanti rejeki dipatok ayam," ucap Fazila menggoda Andin.


"Biar ayamnya gemuk dan nanti bakal kutangkap, jadilah rezekiku double," ucap Andin sambil menahan air liurnya karena membayangkan ayam geprek di hadapannya.


"Dih dasar sih Andin, pasti sekarang dia membayangkan ayam goreng di depannya," tebak Anggita.


"Sudah ayo katanya mau shalat, aku mau mengambil wudhu dulu," ujar Fazila lalu melenggang pergi.


Anggita menaruh mukena lalu menggantinya dengan handuk. Dia dan Qiana menyusul Fazila keluar untuk mandi terlebih dahulu.


"Dih nggak mandi!" goda Anggita saat mereka berjalan bertiga menuju masjid.


"Dingin Anggit, aku biasa mandi air hangat kalau di rumah. Di sini sudah cuaca dingin nggak ada air hangat lagi," keluh Fazila.


"Biasakan!" ujar Qiana.


"Betul tuh apa kata Qiana. Kalau tidak, kau tidak akan mandi sepanjang masa," imbuh Anggita dan Fazila hanya mengangguk.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2