
"Masa sih aku salah lihat?" gumam dokter Davin saat dirinya sudah duduk di dalam mobil.
"Kayaknya aku yakin deh tadi Chila." Pria itu menggeleng. Mencoba menepis prasangkanya sendiri, kemudian meraih setir dan mengendarai mobilnya kembali. Namun, beberapa meter dia mengerem karena menyadari tadi belum mengambil makanan yang dibagikan oleh para santriwati.
Dokter Davin memundurkan mobil lalu turun kembali. Dia melangkah ke arah Fazila lagi.
"Kok main rampas-rampas sih Chila?" protes Intan sambil meraih niqab dari wajah Fazila.
"Sorry terpaksa," ucap Fazila.
"Kamu bikin ulah ya sama pria itu sehingga dia mencarimu? Dokter itu sudah dua kali loh mencarimu. Saat mengobati teman-teman kita dulu di aula dan sekarang juga." Intan terlihat bingung.
"Dia tergila-gila padaku makanya ngejar-ngejar aku terus dan aku sendiri takut diculik," sahut Fazila seenaknya. Andin hanya menggeleng mendengar jawaban Fazila yang menurutnya sangat konyol.
"Ciee ... eh dia kembali tuh!" tunjuk seorang santriwati pada dokter Davin yang semakin mendekat.
Sontak Fazila langsung meraih kembali niqab yang sudah hampir terpasang sempurna di wajah Intan.
"Astaghfirullah, nih anak," keluh Intan. Gara-gara Fazila dia jadi buka tutup cadar.
__ADS_1
"Ada apa Dokter?" tanya Andin, menatap wajah dokter Davin sambil tersenyum manis.
"Auw!" Tiba-tiba Andin meringis karena mendapatkan cubitan di pinggang dari Fazila.
"Jangan macem-macem," bisik Fazila di telinga Andin.
"Takjilnya saya belum dapat tadi, sebentar lagi Maghrib, takut masih dalam perjalanan," jelas dokter Davin.
"Oh, iya. Lupa tadi Dok," ucap Andin sambil cengengesan.
"Memangnya dokter mau kemana sudah hampir malam seperti ini?" lanjut Andin dan langsung mendapatkan tatapan tidak nyaman dari Fazila karena Andin membuat dokter Davin semakin lama ada di tempat itu.
"Oh."
Fazila langsung memberikan sebotol kecil minuman segar dan satu kotak nasi.
"Terima kasih," ucap dokter Davin sambil melempar senyuman dan Fazila hanya menanggapi dengan anggukan.
"Sama-sama," sahut Andin dan Intan.
__ADS_1
"Anak ini aneh, bagaimana mungkin dia memakai niqab berwarna merah muda sedangkan baju yang dia pakai berwarna hijau? Kenapa nggak matching ya, apa memang sengaja menabrakkan warna untuk mencari sensasi?" gumam dokter Davin sambil melihat penampilan Fazila dari atas ke bawah.
"Ah, kenapa aku ingat Chila lagi? Lebih baik aku bergegas agar tidak terlambat."
Dokter Davin berbalik, kembali ke mobil dan menaruh makanan di samping kemudi. Baru saja hendak menyetir, jalanan menjadi ramai.
Buru-buru Intan merampas niqab dari wajah Fazila karena takut orang-orang akan semakin banyak yang melihat wajahnya. Mereka semua langsung kembali beraktivitas, memberikan takjil pada pengendara yang lewat tanpa sadar dokter Davin masih memperhatikan mereka lewat kaca spion.
"Tenyata benar itu kamu Chila. Tenyata kau berada di sekitar sini." Dokter Davin tersenyum licik.
"Dasar santri limited edition, sok-sokan pakai cadar segala, ternyata hanya ingin bersembunyi dariku. Sepertinya kau ingin bermain Heek and seek denganku. Oke aku ladeni." Dokter Davin terlihat antusias.
"Tunggu aku kembali," ucapnya lalu mulai berkendara kembali karena waktu yang tidak bersahabat. Dia tidak mau pekerjaannya terganggu. Yang penting bagi dokter Davin saat ini, dia sudah tahu Fazila mengenyam pendidikan dimana. Mematahkan perkataan Nathan yang mengatakan Fazila sudah dipindahkan keluar negeri oleh keluarganya.
"Entah apa maumu Nat, mengatakan hal itu padaku. Kenapa kalian semua seolah ingin memisahkanku dari gadis kecil itu?" Dokter Davin tersenyum kala mengingat momen kebersamaan dengan Fazila yang terlintas kembali di kepala. Saat itu dia hanya menganggap Fazila layaknya seorang adik, tapi sekarang perasaan itu berubah seiring berjalannya waktu. Sepertinya perasaan dokter Davin sudah lebih dari itu.
"Dasar bocah, kau sudah berhasil mencuri hatiku!" gerutu dokter Davin.
Bersambung.
__ADS_1