
"Belum pagi tapi sudah sampai," jawab dokter Davin dengan santai.
"Hah! Sampai?" tanya Fazila kaget lalu mengedarkan pandangan ke segala penjuru. Gelap masih mendominasi pemandangan.
"Kayaknya ini bukan lingkungan pesantren deh, kita sampai kemana?" tanyanya bingung. Gadis itu mencoba mengingat-ingat, sepertinya tempat itu tidak asing di matanya.
"Di rumah Danisa, kita istirahat di sini dulu sembari menunggu adzan subuh. Ayo turun, yang lain sudah beristirahat di dalam."
"Aku malas gerak, gendong," rengek Fazila.
Wanita di balik pagar masjid itu semakin meradang melihat Fazila yang begitu manja.
"Beneran nih minta digendong?"
"Ah nggak, canda," kekeh Fazila sambil menggeleng cepat.
"Yasudah yuk turun! Yang lain udah nungguin di dalam nanti mereka ngira aku apa-apain kamu lagi karena lama kembalinya."
"Oke siap Bos," ucapnya dan langsung bergegas turun dari mobil.
"Mereka berdua gimana?" tanya Fazila sambil melirik Dimas dan suster Dinda yang masih terlelap dalam tidur mereka.
"Biarkan saja, biar bingung pas bangun nanti. Kita bangunin dia juga nanti dibilang iri dan sirik lagi, tuh lihat sendiri posisi tidur mereka yang nggak pernah mau lepas dalam posisi seperti itu dari tadi. Kayak kena lem cicak aja," ujar dokter Davin lalu terdengar kekehan kecil dari mulutnya.
"Ya udah, yuk cepat!" ajak Fazila langsung berlari mendahului dokter Davin karena hujan tiba-tiba turun tanpa memberikan pertanda sebelumnya. Untung saja mereka sudah tidak berada di jalanan. Fazila yakin akan membuat dokter Davin harus ekstra hati-hati menyetir dalam keadaan gelap oleh malam plus hujan.
Namun, sampai di depan rumah Danisa langkah Fazila ragu untuk masuk ke dalam rumah.
"Kenapa diam?"
"Malu," sahut gadis itu sedikit gugup.
"Ngapain malu sih?"
"Malu aja." Fazila takut keluarga Fazila mengenali dirinya.
"Assalamualaikum!" seru dokter Davin sebelum masuk ke dalam rumah Danisa kembali.
"Masuk Dav, Chila!" perintah Danisa dari dalam.
Dengan langkah ragu-ragu Fazila mengekor dokter Davin yang telah masuk lebih dulu ke dalam. Fazil tampak menyalami orang tua Danisa.
Kilat di luar tampak menyambar, rintik hujan terdengar lebih deras dari sebelumnya.
"Loh anak ini aku ingat-ingat pernah ketemu deh," ujar wanita paruh baya yang tentu saja adalah ibunda dari Danisa.
"Iya dia pernah ikut Nyai Fatimah ke sini Bu, pas Danisa nikah sama Mas Damian," jelas Danisa dan Fazila hanya menimpali dengan anggukan.
"Oh ya, yang pingsan waktu itu, kan?" tanya wanita itu memastikan.
"Tuh, kan," lirih Fazila dengan wajah yang memerah menahan malu.
__ADS_1
"Biarkan saja," ujar dokter Davin.
"Kenapa sampai pingsan Nak, apa memang tidak sehat waktu itu?" tanya wanita paruh baya itu basa-basi.
Fazila tidak menjawab hanya terlihat menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Biasa Bu salah paham, dia pikir yang menikah denganku waktu itu adalah Davin.Ya, jadi syok dia karena kekasih pujaan hati dianggap telah ditikung gadis lain padahal mana ada mirip-miripnya Damian dengan Davin."
"Aih malah diperjelas," keluh Fazila.
"Endingnya dia sakit dan baru sembuh pas ketemu Davin. Tenyata saya bisa mengobati pasien hanya dengan memandang saja," ujar dokter Davin lalu cekikikan. Pria itu seolah lupa kalau di sana ada keluarga Fazila.
Fazila yang kesal langsung mencubit perut dokter Davin dengan kasar.
"Menyebalkan," ucapnya dengan mata yang mendelik tajam dan dokter Davin malah semakin tertawa renyah.
"Nak Davin bawa dia duduk, itu ibu sudah membuatkan teh biar hangat dan bisa sedikit mengurangi rasa mual akibat melakukan perjalanan jauh. Lagipula cuaca tambah dingin ini karena hujan di luar."
"Makasih Bu," ucap Fazila dan dokter Davin serentak.
"Ayo!" ajak dokter Davin kemudian.
Fazila mengangguk dan berkumpul dengan para lelaki yang sedang duduk santai sembari menyesap teh dan berbicara panjang lebar meskipun dia hanya menikmati sebagai pendengar saja.
Isyana dan Chexil sudah tampak tertidur lagi, hanya Laras yang tampak tidak mengantuk dan memilih bercanda gurau dengan ibu dari Danisa.
"Nak Chila kalau masih ngantuk boleh tiduran seperti mereka," ujar ibunda Danisa sebab melihat Fazila beberapa kali menguap. Rasanya tidur selama di mobil tidak cukup menyingkirkan rasa kantuk yang mendera. Apalagi cuaca di luar memang mendukung untuk tidur nyenyak.
"Tidak Bu, sudah tanggung sebentar lagi masuk waktu shalat subuh," sahut Fazila dan masih terlihat menguap.
"Biar besok fresh pas ujian, nggak ngantuk lagi," lanjut pria itu. Namun, Fazila masih setia dengan gelengan kepalanya.
"Yasudah terserah kamu." Akhirnya dokter Davin pasrah dan kembali mengobrol dengan ayah Danisa dan juga keluarga Fazila sendiri.
Kali ini Fazila mengangguk lalu menunduk. Menuang teh dari cangkir pada tatakannya kemudian meniup-niupnya beberapa kali sehingga tidak terlalu panas lalu menyeruputnya hingga tandas.
Rasa hangat menyentuh tenggorokan dan seakan menjalar ke seluruh tubuh. Rasa hangat itu seolah mampu melawan dinginnya suasana malam di luar yang seakan menusuk-nusuk kulit.
"Aku pamit ke masjid," ujar Fazia beberapa saat kemudian setelah merasa tubuhnya semakin hangat.
"Buat apa?" tanya semua orang hampir serentak.
"Waktu subuh masih lama," ujar dokter Davin.
"Mau shalat tahajud mumpung ada kesempatan," sahut Fazila dengan ekspresi datar.
"Oh, aku ikut. Danis, ada payung nggak? Pinjem satu! Tunggu Chila!"
"Ada Dav, sebentar ya," sahut Danisa lalu bergegas ke ruang televisi dan mengambil pesanan dokter Davin.
"Yuk, ajak pria itu setelah membuka payung di luar pintu.
__ADS_1
Fazila mengangguk dan mereka berdua berjalan beringin di bawah satu payung besar menuju masjid yang sebenarnya letaknya tidak jauh itu.
Mereka berpisah saat sampai di tempat wudhu karena memang tempatnya dipisahkan antara laki-laki dan perempuan.
Fazila menyingkapkan hijabnya dan membuka kaos kaki. Sebelum berwudhu gadis itu tampak mencuci muka terlebih dahulu agar bersih dan fresh. Kemudian gadis itu terlihat membaca doa sebelum akhirnya mengambil wudhu.
Perasaan Fazila tidak enak, tatkala sedang membasuh muka ada bayangan seseorang di belakang dirinya yang terlihat dari pantulan tembok dan air yang tergenang di belakangnya, di tempat cuci kaki.
Buru-buru gadis itu menyelesaikan wudhu'nya dan menoleh ke belakang.
"Aneh," batinnya.
"Atau mungkin memang ada orang yang juga ingin shalat sekarang?" gumamnya lalu dengan langkah cepat menuju masjid. Di sana dokter Davin sudah menunggu dengan senyuman yang mengembang.
"Kita jamaah ya?" tanyanya pada Fazila. Gadis itu menggeleng cepat dengan wajah pucat.
"Aneh, kau kenapa sih?" tanya dokter Davin karena Fazila menolak tawarannya. Bukankah shalat jamaah lebih baik dari shalat sendirian?
"Nggak apa-apa," jawab Fazila cepat.
"Apa shalat tahajud nggak boleh dilakukan berjamaah ya? Setahuku boleh, ah entahlah pengetahuanku tentang sunnah-sunnah itu terbatas," lirih pria itu.
"Aku shalat duluan ya? Kamu jagain aku, awas jangan ke mana-mana!"
Dokter Davin mengerutkan kening hingga kedua alisnya bertaut. Fazila semakin aneh setelah tadi menolak untuk shalat jamaah. Namun, dokter Davin hanya bisa pasrah dan mengiyakan permintaan gadis itu.
Pria itu memilih duduk sembari melihat Fazila yang mengambil mukena dalam sebuah rak dan mengenakannya secara terburu-buru.
"Pelan-pelan Chila!" seru dokter Davin.
"Aku tidak akan kemana-mana," lanjut pria itu sambil terus mengikuti pergerakan Fazila.
Fazila terlihat menghembuskan nafas panjang sebelum akhirnya larut dalam syahdunya bacaan shalat yang membuat hati tenang dan damai.
Tidak lama kemudian gadis itu mengucapkan salam dan menoleh ke belakang.
"Sekarang giliranmu!"
Dokter Davin mengangguk dan maju ke depan. Selama dokter Davin dalam keadaan khusyuk dalam shalatnya, Fazila menungguinya dengan harap-harap cemas.
Gadis itu mengedarkan pandangan ke segala penjuru arah untuk memastikan keadaan aman. Kembali ada bayangan yang ia tangkap di retina matanya membuat gadis itu berusaha menahan getaran tubuhnya karena takut.
"Kenapa hanya bayangan sedari tadi? Kenapa tidak ada orangnya?" Gadis itu terlihat gusar.
"Ayolah Chila, itu hanya halusinasimu semata," gumam Fazila untuk mensugesti dirinya agar tidak kalah dengan rasa takut yang tiba-tiba menyergap.
"Kenapa dia shalat lama sekali?" keluhnya padahal belum 5 menit dokter Davin memulai shalatnya.
"Alhamdulillah," gumam gadis itu tatkala melihat dokter Davin melakukan salam."
"Kita tunggu subuh di sini? Aku ingin mendengarmu mengaji seperti kemarin."
__ADS_1
Fazila menggeleng cepat membuat dokter Davin merasa janggal dengan sikap gadis itu.
Bersambung.