DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR

DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR
Bab 118. Aksi Penyelamatan 1


__ADS_3

Dokter Davin mengangguk, apapun ia akan lakukan demi dapat menemukan Fazila plus menyematkannya.


"Mereka ada di sekitar sini Dok," ucap mahasiswi tersebut langsung melangkah menuju teman-temannya saat ini.


Sirene polisi berbunyi membuat para demonstran lain yang masih tersisa kalang kabut dan segera membubarkan diri.


"Ada polisi, sebaiknya Dokter segera meminta tolong pada mereka, kami tidak berani mendekat karena takut ditangkap," ucap seorang mahasiswa.


"Dia benar Dok, biar kami yang akan membantu teman-teman menyelamatkan adik Dokter," ucap mahasiswi sambil mengembalikan ponsel dokter Davin.


"Baik terima kasih," ucap dokter Davin. Dalam hati ia merutuki diri sendiri karena sedari tadi tidak pernah kepikiran untuk meminta bantuan pada polisi dalam mencari keberadaan Fazila.


Dengan langkah cepat, dokter Davin langsung menuju ke tempat para polisi menghentikan mobil mereka. Dimana mereka telah berhasil meringkus beberapa mahasiswa yang kedapatan membawa senjata tajam.


"Ada apa Dokter, apa kau mengetahui keberadaan mahasiswa lain yang telah menyebabkan kericuhan di tempat ini?" Seorang polisi menyapa dokter Davin langsung dengan pertanyaan.


"Bukan Pak, ini tidak ada hubungannya dengan demonstrasi yang terjadi, tapi saya ingin meminta tolong karena tunangan saya diculik," jelas dokter Davin membuat para polisi saling pandang satu sama lain. Bahkan mereka seolah bicara dengan mengunakan kode-kode tubuh tertentu. Entah apa maksud dari semuanya.


"Beberapa mahasiswa telah mencoba membantu saya dan saat ini sedang melakukan pengintaian terhadap pelaku penculikan," lanjut dokter Davin.


Seorang polisi tampak berbicara kecil pada polisi lainnya. Setelah melihat anggukan yang yang diajak bicara langsung mengajak anggota polisi yang lainnya untuk membantu dokter Davin.


"Ayo!" serunya.


Dokter Davin memperlihatkan ponsel dimana menunjukkan keberadaan para mahasiswa dan mahasiswi yang mengikuti penculik Fazila.


"Ini berada di area kampus, kalau tidak salah ini ada di kampus sebelah bukan kampus ini," jelas pak polisi saat mencermati peta dalam aplikasi tersebut.


"Ayo kita ke sana!" ajak seorang polisi lalu naik ke atas mobil. Dokter Davin pun langsung naik ke atas juga.


Dokter Davin menghubungi para mahasiswa dan mahasiswi tadi yang katanya ingin menolong Fazila terlebih dahulu dan mengatakan bahwa dirinya naik mobil polisi. Menyadari polisi sudah pergi dari tempat demonstrasi, mereka semua langsung kembali ke area depan dan mengurungkan niatnya untuk lewat belakang kampus.


Beberapa dari mereka langsung mengambil motor dan membonceng yang lainnnya.


"Kalau melihat petanya mereka ada di sekitar laboratorium kimia," tebak seorang polisi.


"Dokter, adik Dokter sedang dibawa masuk ke dalam laboratorium kimia di kampus cendikia," jelas mahasiswi yang menelpon dari atas motor.


"Betul Pak polisi, kata seorang mahasiswi tunangan saya dibawa masuk ke laboratorium kimia di kampus Cendikia," jelas dokter Davin.


"Teman-teman saya sudah ada di sana tapi pintu lab keburu dikunci dari dalam," jelas mahasiswi itu lagi.


"Pak polisi cepat, saya takut penculiknya malah memberikan bahan kimia yang berbahaya untuk tunangan saya," ucap dokter Davin ketar-ketir.


"Baik Dokter sebentar lagi ini sampai," ujar polisi. Lima menit kemudian mereka sampai di depan kampus.


Tak ada yang menjaga di sana karena keadaan yang sepi. Para mahasiswa dipulangkan lebih awal karena mendengar kericuhan di kampus sebelah. Pak satpam yang biasanya standby pun tidak tampak batang hidungnya.

__ADS_1


Pak polisi segera memeriksa posko dan menemukan pak satpam sudah dalam keadaan pingsan sedang polisi yang lainnya bersama dokter Davin langsung masuk ke dalam kampus yang ternyata pintu pagarnya tidak dikunci.


"Pak polisi cepat Pak, penculik ada di sana," ujar seorang mahasiswa yang berlari dengan nafas tersengal-sengal.


Dokter Davin dan para polisi langsung berlari ke arah yang ditunjuk oleh mahasiswa tadi. Sampai di depan laboratorium, mereka melihat ada beberapa mahasiswa yang sudah menunggu kedatangan mereka. Mereka mengelilingi petugas laboratorium yang juga sudah ditemukan dalam keadaan tak sadarkan diri.


"Bagaimana ini, Pak? Kami tidak berani masuk ke dalam karena ruangan ini sangat berbahaya jika tidak menggunakan pelindung."


Pintu dikunci dari dalam yang otomatis mereka harus masuk dengan cara memanjat dinding. Namun, mereka takut saat menjatuhkan diri akan terkena bahan-bahan kimia yang berbahaya bagi kesehatan mereka sendiri.


"Kalian yakin penculik masuk ke dalam ruangan ini?" tanya polisi untuk memastikan. Takutnya susah payah membuka pintu malah tidak ada orangnya di dalam.


"Yakin Pak, kami melihat dengan mata kepala sendiri," sahut seorang mahasiswi yang didukung anggukan dari yang lainnya.


"Baik, kalau begitu kami minta dukungan kalian, tolong menyebar agar saat orang tersebut hendak melarikan diri, dia tidak akan lolos dari kepungan kita."


"Baik Pak."


Seorang polisi maju ke depan dan langsung mengotak-atik lubang kunci dengan sebuah peralatan. Tak sampai 10 menit, pintu laboratorium kimia pun berhasil dibuka.


"Jangan bergerak!" seru beberapa polisi sambil menodongkan pistol ke dalam ruangan. Lalu dengan hati-hati para polisi masuk ke dalam.


"Letakkan pistol kalian atau air raksa ini akan masuk ke dalam mulut gadis yang malang ini!" Terdengar suara seorang wanita yang bernada mengancam dengan tangan diangkat ke atas. Terlihat menggunakan kaos putih dan memegang wadah dari stainless steel itu.


Meskipun dokter Davin tidak melihat siapa wanita yang berbicara dengan nada mengancam karena dirinya ada di luar dan dilarang masuk oleh para polisi, tetapi dia tahu siapa wanita tersebut dengan mendengar suaranya saja.


"Dokter tunggu di luar! Ini sangat berbahaya!" cegah seorang polisi.


"Wah sang pangeran datang," ujar suster Tantri lalu tertawa menggelegar. Tawa aneh seperti orang gila, sedangkan Fazila sendiri didudukkan pada sebuah meja dalam keadaan pingsan.


"Lepaskan gadis itu atau kau kami tembak!" tegas polisi tetapi wanita tersebut malah mengambil sebuah botol berisi cairan lain dan hendak membukanya.


"Satu ... dua ... ti–"


"Jangan Pak!" cegah dokter Davin saat polisi hampir menembak.


"Itu air keras, jangan sampai tersembur kemana-mana dan mengenai salah satu dari kita!"


"Wow dokter Davin pintar juga," ujar suster Tantri lalu tersenyum mengejek.


"Suster Tantri lepaskan dia! Dia tidak tahu apa-apa. Jika suster Tantri saat ini ingin akan menyalahkan seseorang maka salahkanlah aku atas semuanya," ucap dokter Davin dan sedikit demi sedikit mendekat. Tak mengindahkan dirinya yang akan jatuh ke dalam bahaya jika terus saja mendekat. baginya keselamatan Fazila lebih penting daripada nyawanya sendiri.


Semua mahasiswa yang menyaksikan dari luar tampak tegang. Mereka hanya bisa berdoa agar tidak ada korban lagi di tempat itu seperti tawuran di depan kampusnya tadi.


"Diam di tempat Dokter!" teriak suster Tantri karena melihat dokter Davin semakin maju.


"Kau tahu, kan seperti apa bahayanya cairan ini?"

__ADS_1


Namun dokter Davin, tidak merasa gentar meskipun sudah tahu apa bahaya dari cairan tersebut.


"Sungguh pasangan yang romantis, dokter ingin celaka bersama kekasihnya ini, kan? Benar-benar pasangan yang sejati, pasangan sehidup semati."


"Kalau kau ingin membunuhku, bunuh saja! Mungkin dengan begini kamu akan puas! Kau tahu suster Tantri? Aku merindukan saat-saat suster Tantri menjadi orang baik."


Dokter Davin terus maju.


"Dokter!" sentak suster Tantri.


"Tolong lepaskan dia suster, rencanaku terhadapnya belum usai. Kenapa kau menganggu usahaku untuk mencapai tujuan?" Dokter Davin berbicara dengan suara lemah yang hanya bisa didengar oleh keduanya.


"Maksud Dokter?" lirih suster Tantri. Dahinya terlihat berkerut.


"Apa kau tidak tahu bahwa Chila anak orang kaya?"


Wanita itu menggeleng.


"Apa kau tidak tahu bahwa orang tua Chila adalah pemilik sebuah rumah sakit besar?"


Suster Tantri menggeleng lagi. Ia ingat dulu Fazila pernah mengatakan hal itu saat pertama kali bertemu dengannya, tetapi suster Tantri tidak pernah percaya dan menganggap hal itu hanya omong kosong belaka.


"Aku mendekati Chila karena tidak ingin hanya menjadi dokter saja, tapi ingin menjadi pemilik rumah sakit sekalian," lanjut dokter Davin.


Suster Tantri menganga, benar-benar kaget mendengar perkataan dokter Davin. Ternyata dokter Davin lebih gila darinya.


"Jadi kau tidak mencintai dia? Kau hanya ingin hartanya?"


"Tidak, aku tidak mencintai dia, aku hanya ingin harta orang tuanya. Chila adalah anak manja yang gampang dibohongi dan dipengaruhi. Setelah berhasil menguasai hartanya aku akan melepaskan dia kembali dan akan melamarmu."


"Dokter?" Tangan suster Tantri terlihat bergetar.


"Letakkan cairan itu! Jika kau tidak suka dengan rencanaku maka aku tidak berminat untuk meneruskan rencana tadi. Ayo kita pergi! Kita jalani hidup berdua tanpa bayang-bayang Fazila lagi."


Bukan hanya suster Tantri yang kaget, tapi para polisi juga bingung dengan keadaan. Mereka sampai terbengong-bengong. Ini adalah aksi untuk menangkap penjahat ataukah momen untuk mengungkapkan perasaan.


"Dokter serius?" tanya suster Tantri dan tersenyum saat melihat anggukan dari dokter Davin.


Dengan senyum yang mengembang wanita itu meletakkan kembali cairan kimia tadi pada tempatnya.


Dokter Davin menghela nafas panjang, melirik Fazila lalu merangkul bahu suster Tantri dan membawanya keluar ruangan dengan melayangkan beberapa pujian untuk suster Tantri, sehingga wanita tersebut semakin bahagia dan tidak perduli pada sekitar.


Di dalam ruangan sana Fazila langsung membuka mata saat keduanya sudah sampai di pintu.


"Apa benar yang kamu katakan tadi Mas?" gumam Fazila, gamang dengan apa yang dilihatnya tadi.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2