DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR

DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR
Bab 75. Kecewa


__ADS_3

Jam 4 pagi Isyana kaget ketika turun ke lantai bawah mendapati keduanya tidur di sofa. Wanita itu hanya menggeleng. Memarahi Fazila saat ini tidak mungkin karena keadaannya yang belum pulih benar.


Isyana berjalan mendekat dan menyentuh dahi Fazila. Ternyata demamnya sudah reda meskipun masih sedikit hangat. Ia menghela nafas dan mengucapkan kalimat syukur dalam hati.


"Mama," lenguh Fazila saat mendapati dahinya tersentuh tangan dingin mamanya. Matanya terlihat mengerjap.


"Bangun Sayang, ini sudah subuh, kenapa kamu tidur di sini?"


Fazila menggeleng. "Aku masih ngantuk Ma," rengeknya manja.


"Emang kamu ngapain semalam hingga sekarang masih mengantuk?" tanya Isyana sambil melirik ke arah dokter Davin. Takut-takut keduanya melakukan hal yang melampaui batas.


"Nggak ngapa-ngapain," lirih Fazila lalu memejamkan mata kembali. Isyana kembali menghela nafas, nafas yang terdengar begitu berat.


"Tante!" Menyadari keberadaan Isyana di depannya dokter Davin langsung duduk.


"Dia semalam mondar-mandir di sini, katanya tidak bisa tidur. Jadi saya temani tidur di sini Tante," jelas dokter Davin sebelum Isyana berpikir lebih jauh tentang mereka. Dia tidak ingin Isyana berpikiran buruk tentangnya.


"Jam berapa semalam dia tidur?"


"Jam 2," sahut dokter Davin.


"Hmm, pantas saja, bisa minta tolong?"


"Boleh, Tante."


"Baiklah, tolong pindahin dia ke kamar, kalau tetap tidur di sini Tante takut masuk angin dan kesehatannya drop lagi!"


"Baik, Tante."


Dokter Davin menghela nafas lega sebelum akhirnya menggendong tubuh Fazila dan membawanya ke kamar. Setelah menidurkan Fazila ia pamit pada Isyana untuk kembali ke kamarnya sendiri dan langsung membersihkan diri sebelum menunaikan shalat subuh.


Setelahnya ia langsung bersiap-siap untuk pulang. Namun, karena Fazila masih belum bangun ia menunggu di sofa ruang tamu sambil sesekali mengecek chat di ponselnya barangkali ada hal penting.


"Nak Davin sudah mau balik sekarang?" tanya Zidane yang juga turun ke bawah dengan pakaian rapi. Pagi ini dia ada pertemuan penting dengan seseorang.


"Ya Om," sahut dokter Davin singkat.


"Sarapan dulu yuk!" ajak Isyana yang mengekor di belakang sang suami.


"Tidak Tante, terima kasih. Saya hanya menunggu Chila untuk pamit," ucapnya kemudian.


Zidane memberi kode pada Isyana agar segera membangunkan Fazila.


"Nak Davin apa tidak terlalu pagi balik sekarang?" tanya Isyana sebelum menuruti perintah suaminya.


"Untuk berjaga-jaga Tante, takut-takut terjebak dalam kemacetan dan tadi juga ada yang menelpon katanya ada pasien yang harus segera dioperasi. Dokter Fahmi yang seharusnya menangani tidak bisa masuk kerja karena sakit." Dokter Davin memberikan alasan.


"Oke, Mas Zidane ke ruang makan duluan ya, setelah membangunkan Chila aku segera menyusul," ucap Isyana lalu balik badan tatkala mendapatkan persetujuan dari Zidane.


"Chila bangun Sayang!" Isyana mengetuk pintu kamar putrinya, tak ada jawaban dari dalam membuat dia langsung membuka pintu dan melangkah ke arah ranjang.

__ADS_1


Wanita setengah baya itu menggeleng melihat putrinya masih bergulung dalam selimut.


"Chila bangun, Nak!" Kali ini dia mengguncang-guncang tubuh Fazila agar terbangun. Nyatanya tidak ada reaksi dari Fazila. Gadis itu tidur seperti orang mati saja.


"Hei dokter Davin mau balik tuh!" Isyana menarik selimut yang menutupi tubuh putrinya. Fazila tidur meringkuk seperti beruang yang sedang hibernasi, tidak terganggu dengan apapun.


Karena tak ada reaksi dari Fazila Isyana akhirnya menyerah dan melangkah keluar kamar.


"Bagaimana Tante? Dimana Chila?"


Isyana menggeleng dan berkata, "Tidurnya kayak orang pingsan saja."


"Oh mungkin dia masih mengantuk Tante, mengingat semalam dia tidurnya terlalu larut malam. Yasudah kalau begitu sampaikan padanya nanti kalau dia sudah bangun, saya tidak bisa menunggunya takut terlambat," ucap dokter Davin.


"Dia tidak bangun juga?" tanya Tristan yang juga baru turun dari kamarnya.


Isyana dan dokter Davin sama-sama menggeleng.


"Coba kamu yang bangunin sana! Barangkali kalau mendengar suaramu dia akan terbangun. Aku tidak mau dia ngambek nanti sebab semalam kamu sudah berjanji untuk menunggu dia sebelum pergi."


Mau tidak mau dokter Davin mengangguk, takutnya Fazila salah paham dan kepikiran sehingga membuat kesehatannya menurun lagi.


"Baik," ucapnya.


"Ayo!" ajak Tristan lalu naik ke atas. Dokter Davin pun mengikuti langkah Tristan.


Sampai di pintu kamar Fazila, setelah membuka pintu, Tristan menyuruh dokter Davin yang mendekati adiknya.


Dokter Davin mengangguk dan melangkahkan kaki ke arah ranjang. Sampai di sana ia langsung memanggil-manggil nama Fazila dan membangunkannya, namun tetap saja Fazila tidak bergeming.


"Chila, hei aku mau pergi waktunya sudah mepet ini!" serunya sambil melirik arloji di tangan yang sudah menunjukkan jam setengah enam.


Namun, tetap saja tidak ada reaksi dari orang yang dipanggilnya. Dokter Davin menautkan kening. Dia membenarkan pernyataan Isyana yang mengatakan bahwa putrinya tidur seperti orang pingsan.


Sekilas pria itu terlihat khawatir lalu dengan sigap memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan Fazila. Dia terkekeh sendiri kala menyadari Fazila memang benar-benar hanya tidur. Dia merasa seperti orang panaroid saja tadi.


Dokter Davin menatap wajah Fazila lekat-lekat sebelum akhirnya meninggalkan gadis itu. Rasa rindu mulai menelusup, seolah kepergiannya akan sangat lama setelah ini. Tangannya terulur menyentuh kening Fazila yang menyisakan sedikit hangat dari panas yang tinggi sebelumnya.


"Cepat pulih ya Chila, sampai ketemu lusa ya. Maaf aku menyentuhmu tanpa pamit," ucapnya lalu melangkah ke arah Tristan.


"Bagaimana?"


"Dia belum bangun juga, biarkan saja Bang jangan diganggu! Toh lusa aku ke sini lagi."


"Bukannya besok ya?" tanya Tristan dan dokter Davin malah terlihat bingung.


Tristan menutup pintu kembali.


"Semalam kau bilang lusa, berarti besok, kan?"


"Hmm, maaf sepertinya aku salah ngomong, besok aku masih ada praktek. Atau besok malam saja ya?"

__ADS_1


"Terserah."


"Nanti aku kabari deh, sekarang aku pamit dulu Assalamualaikum!"


"Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh."


Dokter Davin berpamitan pada semua orang sebelum akhirnya menaiki motor menuju rumah sakit tempatnya bekerja. Tadinya dia ingin mampir dulu ke rumah nenek Salma, tetapi sepertinya sudah tidak ada waktu.


Jam menunjukkan pukul 7 pagi, tetapi Fazila belum bangun juga.


"Mama nggak tengok si Chila Ma? Tumben bangunnya telat begini. Kira-kira kalau di pondok dia bisa begini nggak sih?"


"Ya nggak bisa Tris, kalau bangun segini ya pasti dihukum, kecuali lagi menstruasi baru bisa ditoleransi."


"Oh gitu ya Ma," ucap Tristan sambil manggut-manggut.


"Sepertinya begitu kata Chila dulu. Entahlah Mama juga nggak begitu paham karena tidak pernah mengalami yang namanya mondok."


"Mama nggak ke butik sekarang?"


"Nggak, mau nemenin adik kamu aja hari ini lagian semua pekerjaan sudah ada yang menghandle."


Sekali lagi Tristan menganggukkan kepala.


Di dalam kamar, Fazila mengerjapkan mata tatkala sinar matahari menembus melalui celah gorden. Cahaya yang silau membuat dia sadar bahwa malam telah berganti pagi.


"Dokter Davin!" Dia langsung mengingat bahwa dokter Davin akan pergi hari ini.


Gadis itu segera bangkit dari tidurnya dengan bersemangat. Ia berjalan ke arah pintu kamar lalu tangannya meraih dan menarik knop pintu yang tidak terkunci dan membukanya.


Hal pertama yang dia lakukan adalah turun ke lantai bawah. Sampai di sana tatapannya tertuju pada pintu kamar dokter Davin yang masih tertutup.


"Sepertinya ia belum bangun," gumamnya dengan senyum yang tersungging di bibir. Dengan langkah cepat dan bersemangat dia menghampiri kamar dokter Davin dan mengetuk pintunya.


"Dok bangun sudah pagi!" serunya sambil terus mengetuk pintu, tetapi tidak ada jawaban dari luar.


Fazila tidak menyerah diam menganggap dokter Davin masih pulas dalam tidurnya.


"Dok bangun! Katanya ada tugas di luar kota, nanti terlambat loh!"


Tetap tak ada jawaban.


"Chila kau mau apa?" tanya Isyana sambil berjalan mendekat.


"Kenapa dokter Davin belum dibangunin sih Mah? Dia bisa terlambat loh!"


"Sudah dia sudah bangun dari tadi," sahut Isyana.


"Oh ya, sekarang dia ada di mana?" tanyanya lalu tersenyum lebar.


"Dia sudah pergi," jawab Isyana membuat senyum di bibir Fazila memudar dan berganti cemberut. Gadis itu terlihat kecewa. Dokter Davin mengabaikan dirinya dan melupakan janji yang katanya akan pamit padanya sebelum pergi.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2