DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR

DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR
Bab 81. Cewek Matre


__ADS_3

"Lupakan keinginanku! Nikmati saja malam ini," kata dokter Davin hingga membuat Fazila menghembuskan nafas lega.


Hening setelahnya, kedua orang dalam ruangan itu terlihat diam, larut dalam pikiran masing-masing. Hanya terdengar kebisingan dari bawah yang tidak begitu jelas terdengar di telinga seperti suara lebah.


Fazila mendongak ke atas, menatap langit cerah berhiaskan bulan purnama yang bulat sempurna dan bertaburkan bintang-gemintang yang seolah tak mau kalah dengan bulan dalam memberikan sinar terbaiknya.


Tak terasa putaran mereka sudah sampai ke bawah dan berhenti.


"Hei Chila, ayo turun!" perintah dokter Davin saat melihat Fazila masih termenung seolah tidak menyadari keadaan.


"Ah iya, sudah selesai rupanya," kata Fazila dengan senyum yang tertoreh di bibir manisnya.


"Kemana lagi sekarang?" tanya dokter saat mereka sudah berjalan di tanah lapang yang dikelilingi oleh berbagai macam stand makanan dan pakaian, juga berbagai macam permainan.


"Aku ingin naik itu!" seru Fazila sambil menunjuk ke arah roller coaster.


"Tidak boleh, nanti malah muntah-muntah lagi."


Fazila cemberut. "Dokter kayak emak-emak saja. Main ngelarang segala," protes dokter Davin.


"Itu demi kebaikan kamu Chila, yuk cari kulineran aja!"


Fazila mengangguk dan mengikuti langkah dokter Davin kemana saja membawanya.


Mereka menikmati malam itu dengan berjalan-jalan sambil mencicipi kulineran yang tersedia di stand-stand pasar malam tersebut.


Langkah Fazila terhenti tatkala melihat jajanan yang menarik di matanya. Makanan yang penampilannya serupa snack atau kerupuk warna-warni dalam wadah mirip seperti es krim, lalu keluar asap dari jajanan itu.


"Apa? Mau beli itu?" tanya dokter Davin yang mengerti tatapan Fazila tertuju pada stand penjual ciki ngebul.


Fazila tersenyum lalu mengangguk. Ia melihat seorang anak laki-laki berdiri di depan stand seolah asyik menyantap makanan tersebut dan Fazila tidak tahan ingin mencobanya.


"Ciki ngebul tidak baik bagi kesehatan."


"Jadi tidak boleh?"


"Ya, makanan itu berbahaya karena mengandung nitrogen cair."


Ekspresi Fazila berubah cemberut.


"Kalau nggak boleh dikonsumsi kenapa dijual?" protesnya lalu berjalan cepat mendahului dokter Davin.


"Chila tunggu!" Dokter Davin setengah berlari mengejar Fazila.


"Nggak enak juga ternyata punya pasangan dokter, ini nggak boleh, itu nggak boleh," gumamnya seperti bicara pada diri sendiri, tetapi tentu saja masih terdengar di telinga dokter Davin.


Pria itu menghembuskan nafas berat.


"Maaf," kata dokter Davin tidak ingin memperpanjang pembicaraan yang menurutnya tidak penting.


"Apakah dengan kata maaf, itu artinya boleh?" tanya Fazila. Kini wajahnya berbinar dan menatap wajah dokter Davin dengan penuh harap.


"Tetap nggak boleh," sahut dokter Davin dan Fazila langsung mencebik kesal.


Dokter Davin hanya terkekeh melihat perubahan wajah Fazila yang mudah berubah-ubah.

__ADS_1


"Aku akan mengizinkan kamu makan apapun jika sekiranya itu aman untuk kesehatanmu, tapi untuk yang ini nggak apalagi kamu juga baru sembuh dari sakit."


"Baiklah kalau begitu kita pulang saja sekarang, eh katanya mau belanja? Belanja apa? Apa tidak ada kesempatan untuk belanja siang hari sehingga harus menggunakan waktu malam hari? Dokter Davin sibuk terus ya?"


"Cerewet!" seru dokter Davin karena Fazila menggempur dirinya dengan pertanyaan padahal belum satupun yang ia sempat jawab.


"Biarin!" Fazila bodoh amat.


Dokter Davin menatap Fazila dengan gemas. Andai saja boleh dia ingin mencubit kedua pipi wanitanya itu.


"Yuk kembali ke mobil!" ajaknya dan mendapatkan jawaban berupa anggukan dari Fazila.


Sampai di depan mobil, Fazila kembali cemberut karena Tristan seolah memamerkan makanan yang hendak dibelinya, tetapi dilarang oleh dokter Davin tadi. Asap mengepul dari mulut Tristan seperti orang merokok, namun dengan sensasi dingin.


"Masuk Chila!" perintah dokter Davin sambil membayar uang parkir.


Fazila langsung masuk ke dalam disusul oleh Tristan. Setelah membayar dokter Davin pun ikutan masuk dan mengendarai mobilnya keluar dari area pasar malam.


"Enak ya? Aku mau tidur nggak boleh, harus ikut. Giliran sudah ikut mah diabaikan dalam mobil. Kau kira aku penjaga mobil apa?" Tristan menatap Fazila dengan geram.


"Nggak usah kesal sebab aku juga kesal sekarang!" tegas Fazila membuat Tristan terbelalak sedangkan dokter Davin hanya tertawa renyah.


"Kau apakah adikku Dokter?" tanya Tristan heran dengan sikap Fazila.


"Jangan bertanya padaku sebab yang membuat adikmu kesal itu sebenarnya adalah makanan yang ada di tanganmu," ujar dokter Davin membuat Tristan langsung menatap ciki ngebul di tangan bergantian dengan wajah Fazila.


"Apa hubungannya?" tanya Tristan bingung sampai menggaruk kepala.


Beberapa menit berkendara di jalanan akhirnya kini mobil mereka memasuki area parkir sebuah butik.


"Ya, ayo kita turun!" Dokter Davin membukakan pintu mobil untuk Fazila.


Fazila pun turun dan langsung masuk ke dalam butik tanpa menunggu dokter Davin terlebih dulu.


"Jadi ingat butik mama, sudah lama Chila tidak berkunjung ke sana," ucapnya sambil melihat-lihat pakaian di dalam ruangan itu. Seorang wanita mendekat dan menyambut kedatangannya.


"Silahkan dilihat-lihat dulu hasil karya butik kami. Kalau ingin memesan juga boleh." Pemilik butik berbicara ramah dengan senyum yang terukir di bibir.


"Ikut nggak Bang?" tanya dokter Davin sambil menutup pintu mobil.


"Nggak ah aku tunggu di mobil saja," sahut Tristan sambil memainkan ponselnya, berselancar di dunia maya.


"Oke."


Dokter Davin langsung menyusul Fazila.


"Ini bagus untuk dokter," ucap Fazila sambil menyentuh sebuah kemeja berwarna emerald green.


"Coba lihat," ujar dokter Davin langsung menyentuh baju yang dipegang oleh Fazila.


"Emang warna ini bagus untuk kulitku?"


"Bagus kok, sepertinya cocok dengan kulit Dokter yang putih. Jangan cuma pakai warna yang itu-itu saja. Coba yang lain juga biar bervariasi."


Dokter membenarkan perkataan Fazila selama ini dirinya hanya terfokus pada beberapa warna saja, hitam, putih, cokelat dan warna-warna kalem lainnya.

__ADS_1


"Oh ya-ya."


"Dicoba dulu Mas biar tahu pas tidaknya," saran wanita yang disinyalir adalah pemilik butik itu.


"Sana gih coba!"


"Oke-oke," kata dokter Davin lalu membawa kemeja tersebut ke dalam ruang ganti.


Selama dokter Davin mencoba pakaian, Fazila melihat gamis-gamis yang dipajang di sana.


"Wah sepertinya itu bagus," ujar Fazila lalu mendekat ke arah gamis yang dipakai oleh patung manekin lengkap dengan khimarnya.


"Kalau suka ambil saja," ujar dokter Davin yang terlihat keluar dari ruang ganti.


Fazila menggeleng.


"Kenapa? Sudah ambil!"


"Mbak coba lihat!" Kali ini dokter Davin bicara pada pemilik toko dan pemilik toko langsung melayani permintaan dokter Davin.


"Sana coba!" suruh dokter Davin sambil meletakkan gamis tersebut di tangan Fazila.


Fazila terdiam, dia tidak enak setelah dari tadi semua makanan dibayar oleh dokter Davin. Lebih tepatnya tidak ingin dianggap cewek matre.


"Tunggu apalagi Chila? Sana cepat karena setelah ini kita masih akan ke tempat lain juga."


"Hmm, baiklah," ucap Fazila pasrah lalu gantian masuk ke ruang ganti.


"Wah kau tambah cantik," puji dokter Davin setelah melihat Fazila berganti pakaian. Gamis itu terlihat pas di tubuh Fazila dan sepertinya cocok di tubuh gadis itu karena membuat auranya semakin keluar.


"Sudah nggak usah dilepas lagi!" perintah dokter Davin tatkala menyadari Fazila tidak mengganti pakaiannya sejak siang tadi.


"Baiklah." Fazila menurut saja.


"Sekarang cari pakaian yang lain sekalian carikan buat abangmu. Kasihan dia juga nggak ganti baju!"


Setelah mendapatkan baju untuk Tristan dan Fazila untuk yang kedua kalinya dokter Davin mengajak Fazila ke sebuah counter dan membelikan Fazila ponsel.


"Apakah ini nggak berlebihan Dok, bahkan kau sudah membelikan dua pasang baju juga," kata Fazila semakin tak enak.


"Ini sebagai ganti hapemu yang hilang gara-gara aku."


"Tapi–"


"Sudahlah ambil saja, kalau tidak cocok bisa ditukar," ucap dokter Davin tidak menerima penolakan.


"Ah baiklah," sahut Fazila pasrah padahal selama mondok ponsel tersebut tidak akan terpegang.


Dari luar counter terlihat seorang wanita mengawasi mereka berdua bahkan sejak dari butik. Wanita itu memandang ke arah Fazila dengan tatapan tidak suka.


"Dasar cewek matre, ternyata kau dekat dengan dokter Davin hanya ingin morotin dia saja. Tunggu saja tidak lama lagi dokter Davin pasti akan membuangmu." Senyum simpul tergambar di bibirnya sebelum akhirnya memutuskan untuk pergi dari tempat itu.


"Mau beli apa lagi, kosmetik mungkin?" tanya dokter Davin.


"Yang di pondok belum habis," tolak Fazila.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2