DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR

DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR
Bab 109. Permintaan Maaf


__ADS_3

Kado yang berada di tangan Fazila seakan melompat ke atas hingga terpental ke wajah pak satpam.


"Astaghfirullah Neng, ada apa sih?" Pak satpam sampai kaget dua kali karena ulah Fazila dan kedua teman-temannya. Pertama, suara mereka yang melengking membuat pria setengah baya itu hampir tuli karenanya dan kedua, malah ditambah benda yang menyentuh kasar wajah pria itu dan bau anyir yang terhidu oleh indra penciumannya.


"Maaf Pak, saya kaget," ucap Fazila mewakili semua teman-temannya.


Pak satpam pun diam sebentar sebelum akhirnya menatap ke arah benda yang kini sudah terletak di lantai.


"Isi kadonya, ini, Neng?" tanya pak satpam memastikan fokusnya tidak salah.


"Benar Pak, makanya kami syok dan berteriak tadi," jelas Qiana setelah berhasil menghentikan debaran jantungnya yang mendadak tidak sehat.


Pak satpam menunduk, meraih tengkorak di atas lantai dan memeriksanya.


"Tenanglah ini bukan tulang manusia, sepertinya tulang sapi," jelas pria itu sambil matanya masih terus mengamati.


"Tapi bau anyir ini sepertinya memang darah manusia, atau tangan kalian ada yang terluka?"


Ke empat gadis itu hanya menjawab dengan gelangan kepala.


"Aneh apa maksud seseorang ini mengirim benda beginian pada Neng Chila?" tanya pak satpam, lebih tepatnya bertanya pada diri sendiri mengingat pria itu bergumam kecil.


"Apakah ini ulah Heni?" bisik Andin di telinga Fazila. Pergantian pengurus dari Heni ke Fazila mungkin saja membuat gadis itu tidak rela sampai melakukan hal yang tidak wajar untuk mengusik ketenangan Fazila hingga gadis itu tidak akan betah tinggal di pesantren dan akhirnya minta pindah dari sekolah tersebut.


"Mana mungkin?" Qiana seakan tak percaya dengan tebakan Andin. Meskipun Andin berbisik pada Fazila, tetapi suaranya masih bisa ditangkap telinga Qiana.


"Apanya yang tidak mungkin? Setelah peristiwa malam itu Heni tidak terlihat lagi di pesantren, bisa saja, kan anak itu yang melakukan hal ini dari luar pesantren?" Andin masih bersikukuh dengan argumennya sendiri.


"Entahlah kita tidak bisa menuduh orang sembarangan, nanti jatuhnya fitnah," ujar Fazila.


"Sebentar Bapak periksa nama pengirim atau mungkin ada catatan dalam kotaknya," ucap pak sambil berjongkok kembali dan meraih kotak kado di dalamnya.


"Iya Pak, barangkali ada petunjuk mengarah ke siapa gitu pengirimannya." Setelah lama diam, akhirnya Anggita buka suara.


"Ya," kata pak satpam seraya meneliti kotak tersebut.


"Nggak ada Neng, nggak ketahuan siapa pengirimnya, nggak ada petunjuk yang bisa kita analisa."


"Tidak apa-apa Pak. Kalau boleh tahu pak satpam menerima dari siapa tadi kado tersebut?"


"Seorang pria Non, apa perlu saya beritahukan pada Nyai Fatimah?"


"Pria? Siapa ya kira-kira? Tidak usah dulu Pak mungkin dari seseorang yang iseng saja. Maaf telah membuat wajah Bapak kotor dengan darah gara-gara kami."

__ADS_1


"Tak apa Neng, bentar ya, Bapak mau cuci muka dulu. Neng- eneng jagain posko sebentar takut ada tamu!"


"Siap Pak."


Setelah pak satpam mencuci wajah, keempat remaja itu dipersilahkan untuk kembali ke sekolah agar tidak telat. Pria setengah baya itu berjanji akan menanyakan pada pria pembawa kado tadi apabila datang kembali.


"Siapa ya kira-kira Chila?" tanya Qiana saat mereka melangkah ke arah sekolah. Gadis itu tak henti-hentinya memikirkan, masih penasaran.


"Nanti kita pikirkan lagi, sekarang kita fokus pada ujian saja. Entar soalnya malah dijawab dengan kata tengkorak atau darah," kelakar Fazila.


"Kamu kok tenang-tenang aja sih Chila? Nggak takut ada yang jahat sama kamu?" protes Andin melihat Fazila seolah santai menanggapi teror tadi.


"Selama kita ada di dalam lingkungan pesantren, insyaallah aman, terkecuali pelakunya dari kalangan pesantren sendiri," ujar Fazila masih bersikap seolah tidak terjadi apa-apa agar ketiga teman-temannya tidak takut meskipun dalam hati sebenarnya khawatir dan dipenuhi tanda tanya. Saat ini dia masih berusaha berpikir positif, bisa saja yang mengirim benda tersebut adalah Dimas, atau Tristan -abangnya sendiri- untuk mengerjai Fazila walaupun sepertinya tidak mungkin.


"Sudah ah bel masuk berbunyi tuh," ujar Anggita memecah lamunan Fazila.


"Ayo!" Ketiganya langsung berlari menuju sekolah.


Di depan pintu kelas langkah mereka terhenti karena dihadang oleh Heni.


"Hmm, gadis sok pinter dan sok bijak datang, mau apalagi dia? Bijak hanya untuk menutupi sifat buruknya," Sindir Andin sambil melengos seolah jijik jika menatap wajah Heni.


"Ada apa?" tanya Fazila dengan santai. Sebagai ketua pengurus yang mengemban amanah dari ustadzah Ana dia harus bersikap bijak dalam menghadapi siapapun, tidak boleh menunjukkan sikap benci seperti Andin terhadap santri manapun. Termasuk pada Heni walaupun sebelumnya sering menganggu hari-harinya di pesantren.


"Kamu akting, kan? Jangan harap Chila akan percaya begitu saja dengan kata maafmu!" tegas Andin.


"Tapi saya beneran ingin minta maaf. Saya minta maaf karena selama ini selalu menganggu kalian," ucap Heni dengan wajah memelas.


"Sudah Chila tak usah dengerin! Tahu, kan bagaimana sikap dia selama ini? Apa yang dikatakan anak ini selalu berbanding terbalik dengan hatinya. Apakah kamu sudah lupa bagaimana dia selama ini berusaha agar kamu selalu mendapatkan hukuman." Andin tidak ingin Fazila terpengaruh dengan perkataan maaf Heni yang baginya tidak penting. Bagi Andin saat ini gadis itu seolah memakai topeng. Entah apa keinginan dibalik permintaan maaf.


"Lewat-lewat! Ustadz sudah datang!" seru santri yang lain membuat semua orang di pintu menyingkir.


"Kita bicarakan nanti lagi," ucap Heni dan Fazila hanya menjawab dengan anggukan.


Jam istirahat tiba dan Heni kembali menghentikan langkah Fazila.


"Apa lagi sih? Masih deman ya gangguin orang? Nggak kapok apa?" Seperti biasa Andin masih ngegas. Kesal perkara hasil ujian matematika yang diperolok oleh Heni.


"Maaf saya ingin melanjutkan pembicaraan tadi."


"Tak perlu itu tidak penting! Ayo Chila kita ke kantin saja. Gangguin waktu ngantin kita saja!" Andin mencekal tangan Fazila dan hendak menarik untuk pergi. Namun, Fazila mencegahnya.


"Sebentar! Aku harus memberikan waktu untuk dia menjelaskan, Anggita, Qiana! Kalian temani Andin ke kantin!"

__ADS_1


"Oke," jawab keduanya.


"Nggak jadi," putus Andin dengan wajah memberengut kesal. Tenyata Fazila lebih memilih gadis berwajah dua itu dibanding dirinya, begitu pemikiran Andin.


"Sebenarnya apa yang ingin kamu ucapkan selain minta maaf?" tanya Fazila.


"Aku hanya ingin menjelaskan pada kalian kenapa aku melakukan semua itu."


"Katakan saja jangan basa-basi karena kita harus ke kantin," ujar Anggita.


"Baik." Heni menghela napas panjang sebelum akhirnya melanjutkan pembicaraannya.


"Sebenarnya aku melakukan semua itu hanya ingin mencari perhatian semua santri."


"Apa!" Ketiganya terbelalak sedangkan Fazila bersikap biasa saja.


"Ya, selama aku tinggal di pesantren tak ada santriwati yang perduli padaku hingga aku memutuskan mengunakan posisiku untuk melampiaskan rasa kesal pada mereka."


"Dengan cara mencuri begitu?" Qiana tak habis pikir.


"Ya, lebih tepatnya membuat ulah agar mereka merasa membutuhkanku untuk mencari siapa pencuri yang telah berhasil mencuri barang mereka dan menjadi pahlawan untuknya. Namun, menjadi penjahat untuk orang yang telah aku fitnah mengambil barang tersebut.


"Astaghfirullahal adzim."


"Jadi selama ini siswa yang dituduh mengambil barang milik teman-teman itu sebenarnya tidak melakukan?" Anggita benar-benar tidak percaya dengan pengakuan Heni.


"Ya begitulah, barang yang aku curi selalu aku lempar ke kamar lain, tak pernah aku gunakan sendiri."


"Gila kamu ya, benar-benar gila," ucap Andin.


"Keakraban kalian bertiga membuatku iri, ditambah kedatangan Fazila yang langsung diterima baik oleh semua kalangan dalam pesantren juga kalian dan langsung akrab. Aku jadi benci dengan dia dan meluapkan kekesalan dengan cara apapun. Namun, untuk masalah uang yang waktu itu, aku memang benar-benar membutuhkan dan pada saat


yang bersamaan aku mendengar curhatan Qiana pada ustadzah Ana yang mengatakan dibantu dalam keuangan olehmu. Kenapa hanya Qiana saja? Aku juga butuh bantuan, kenapa Tuhan serasa tidak adil bagiku? Akhirnya aku memutuskan untuk mencuri." Heni menunduk malu saat di akhir kalimat.


"Sudah?" tanya Fazila.


"Sudah, aku minta maaf," ucapnya tanpa berani mengangkat muka lagi.


"Aku maafkan, tapi jangan sampai kau ulangi lagi perbuatan tercela itu. Minta maaflah pada semua santri yang pernah kamu fitnah. Setelah itu berbuat baiklah pada semua orang, maka kamu akan mendapatkan kebaikan dari sikapmu sendiri. Permisi, assalamu'alaikum."


Setelah mengucapkan perkataan panjang lebar Fazila berlalu pergi.


Sampai di kantin, saat ketiga temannya menikmati jajanan, Fazila mencari tempat aman di kantin untuk menghubungi Dimas, Tristan atupun dokter Davin yang mungkin saja iseng padanya dengan mengirimkan kado tak wajar tadi.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2