DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR

DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR
Bab 128. Terciduk


__ADS_3

"Unboxing bagaimana maksudmu Din?" tanya Qiana ingin memastikan kalau pikirannya salah.


"Sudahlah aku tak bisa menjelaskan, hanya yang sudah menikah yang paham," jawab Andin membuat Qiana lalu mengerutkan keningnya kemudian menyimpulkan kalau pemikirannya saat ini adalah benar adanya.


"Yasudah yuk bantu-bantu di luar aja," ajak Qiana lalu menarik tangan Andin keluar rumah. Di sana nampak ramai. Beberapa orang tampak membongkar pelaminan, ada juga yang membongkar panggung tempat penyanyi menghibur tamu undangan semalam dan beberapa tampak membongkar dekorasi lainnya. Anggita sudah ada di sana membantu Bik Ina dan pembantu yang lain untuk menyajikan makanan bagi para pekerja tersebut.


Di dalam kamar Fazila dan dokter Davin masih melanjutkan aktivitasnya tanpa terganggu oleh apapun.


"Oh ya, kado tadi itu dari siapa?" tanya Fazila pada dokter Davin sambil membuka kado lainnnya.


"Dari Bang Tris," sahut dokter Davin sambil terus mencari-cari kado yang menarik untuk dibuka selajutnya.


"Tumben Kak Tris benar, biasanya ngerjain Chila mulu," ujar Fazila dan dokter Davin hanya mengangkat kedua bahunya pertanda tak paham.


"Mungkin nggak enak sama Mas kalau ngerjain kamu sekarang," ucap dokter Davin beberapa saat kemudian, dan Fazila hanya mengangguk membenarkan.


Bad cover dari kak Chexil," ucap Fazila sambil menunjukkan kartu ucapan yang ada di atas sprei itu pada dokter Davin. Sang suami hanya menjawab dengan anggukan.


"Dari Dimas," ucap dokter Davin membaca tulisan di dalam sebuah kado. Sontak Fazila langsung penasaran dengan apa yang diberikan oleh pria sompak itu.


"Apaan itu?" tanya Fazila sambil melihat-lihat botol di tangan dokter Davin.


"Dasar Bang Dim, pasti kadonya nggak berguna, iya, kan?"


"Nggak kok, insyaallah berguna untuk kita suatu saat," sahut dokter Davin. Penasaran Fazila langsung merampas botol tersebut dari tangan sang suami dan memeriksanya.


"Obat ... astaghfirullah, ada-ada aja tuh orang. Benar-benar nggak waras," ujar Fazila sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dan dokter Davin hanya terkekeh sambil mengambil kembali botol tersebut dari tangan Fazila dan menaruhnya.


"Sudah buka yang lain aja!"


Fazila mengangguk lalu mengambil kado lainnya. Kali ini wanita itu membeku melihat isi kado tersebut. Entah dari siapa karena tak ditulis nama pemberinya.


"Apaan sih?" tanya dokter Davin penasaran dengan apa yang dilihat oleh Fazila karena wanita di depannya menjadi diam membisu.


"Entah benda apa ini yang jelas pesannya seperti ini," ucap Fazila sambil memberikan kartu ucapan yang tertulis dari anonim itu.


[ Kado khusus untuk dokter Davin, kalau sayang sama Chila pakai benda ini!]


"Idih apaan nih orang, ngatur-ngatur nggak sih?" ujar dokter Davin tak suka. Dari semua kado hanya yang satu ini yang membuatnya sedikit kesal.


"Emang ini benda apaan sih, Mas?" tanya Fazila penasaran sambil meraih satu benda berbentuk seperti balon itu. Fazila memeriksa bungkusannya tak menemukan apa nama benda tersebut karena tulisannya adalah tulisan cina yang tidak dia mengerti dengan gambar kartun di luarnya.


"Ini yang namanya kon*om Chila," jawab dokter Davin dan Fazila langsung terbelalak. Wanita itu sedari dulu hanya tahu namanya saja meskipun tidak pernah melihat wujud benda tersebut.


"Udah buang aja kalau Mas tak suka," ujar Fazila yang paham hanya dengan melihat wajah dokter Davin saja.


Pria itu menggeleng.


"Kalau dipikir-pikir ini juga bermanfaat untuk kita. Kau mash terlalu muda untuk memiliki momongan, dengan aku memakai benda ini kau tidak akan direpotkan oleh anak, apalagi jika masih harus kuliah," ujar dokter Davin kemudian. Entah kenapa dia merasa bersalah pada Fazila karena telah mengajak wanita itu menikah terlalu cepat. Seharusnya saat ini Fazila masih sibuk dengan pendaftaran kuliah dan bebas seperti anak-anak yang lainnya. Fazila adalah anak orang kaya sayang saja kalau hanya tamat sampai SMA.

__ADS_1


"Sudahlah tak perlu menyinggung lagi tentang kuliah, kalau aku mau aku bisa masuk kapan saja," ujar Fazila lalu menarik benda tersebut dari tangan dokter Davin dan memasukkan ke dalam keranjang sampah.


"Sudah tidak perlu dipikirkan," ujar wanita itu lalu menepuk-nepuk tangannya.


"Mas aku lapar," rengek Fazila. Mana ponselnya tak ada di tangan lagi untuk menelpon Bik Ina.


"Aku ambilkan makanan dan bawa ke kamar?" Dokter Davin menawarkan diri.


"Tak perlu, pinjam hapemu saja!'


Dokter Davin mengangguk. Kemudian tersadar bahwa ponselnya tidak ada bersama dirinya.


"Waduh sepertinya ketinggalan di bawah semalam," ujar dokter Davin lalu mengingat-ingat terakhir ia meletakkan dimana.


"Aku ambil dulu ya," ucap dokter Davin seraya bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu.


"Sekalian aku bawain makanan ke sini!" lanjut pria itu sambil membuka pintu kamar.


"Nggak perlu Mas kita makan di. bawah saja!" seru Fazila lalu bangkit dari duduknya dan menyusul dokter Davin ke lantai bawah.


"Nah ini mereka sudah turun. Chila bawa suamimu ke meja makan. Kami semua sudah menunggu kalian," ujar Laras lalu pergi meninggalkan cucunya.


"Baik ... Oma," jawabnya dengan ragu-ragu.


"Bagaimana, ketemu?" tanya Fazila saat dokter Davin menghampiri dirinya.


"Ada, ini," sahut dokter Davin sambil menunjukkan benda pipih di tangan pada sang istri.


"Oma minta kita sarapan bareng semua orang, sepertinya kita tidak jadi sarapan di kamar karena katanya semua orang sedang menunggu kita di ruang makan," lanjut Fazila dan dokter Davin mengangguk setuju.


"Maaf Non, bibi lupa tadi untuk mengantar makanan ke kamar kalian padahal mama kalian sudah mewanti-wanti untuk melayani kalian duluan sebelum mengurusi makan semua orang. Saya bawakan ke kamar ya Non," ujar Bik Ina dengan nampan berisi makanan di atasnya.


"Tidak usah deh Bik. Chila sama suami mau makan bersama keluarga besar saja Bik. Di meja makan juga banyak teman-teman kami, takutnya kita dikira sombong lagi karena dianggap mengabaikan mereka," ujar Fazila dan dokter Davin mengangguk setuju dengan tangan yang langsung menggenggam tangan sang istri.


"Baiklah kalau begitu Non, Bibik permisi dulu!"


"Iya silahkan Bik."


"Yuk!" Dokter Davin memperkuat genggamannya lalu membawa Fazila menuju ruang makan. Sampai di sana ternyata semua orang sudah berkumpul, bahkan karena saking banyaknya keluarga dan sahabat-sahabat mereka para pembantu sudah menambahkan meja dan kursi di ruang makan.


"Waduh sang pangeran sama permaisuri sudah turun nih," goda Dimas.


"Sepertinya makin lengket nih kayak perangko," goda yang lain.


Dokter Davin hanya menanggapi celotehan mereka dengan senyuman sedangkan Fazila menunduk malu-malu lalu menarik kursi di dekat sang mama. Dokter Davin sendiri duduk di sebelah Fazila berdekatan dengan nenek Salma. Tempat mereka berdua diapit oleh Isyana dan nenek Salma.


"Iyalah pengantin baru gitu loh, masa belum ada sehari harus longgar-longgar. Harus rapet kayak lem dong," tambah suster Dinda.


Fazila meremas kuat genggaman tangan dokter Davin seolah untuk menahan rasa malunya.

__ADS_1


"Suster Dinda!" Dokter Davin memberikan kode dengan matanya agar gadis itu berhenti meledek sang istri. Tak pernah dokter Davin melihat Fazila Secanggung ini sebelumnya. Apalagi di depan keluarga besarnya.


Suster Dinda mengangguk lalu menunduk.


"Sudah sekarang waktunya makan, tak usah bergurau dulu! Dan kamu Chila, tak perlu serius menanggapi candaan mereka. Sudah biasa mah kalau pengantin baru digodain oleh semua orang. Seiring berjalannya waktu nanti mereka juga bosan sendiri," ucap Tuan Alberto yang berhasil membuat Fazila mengangkat wajah dan menatap pria tua itu sambil mengangguk-angguk sedangkan yang lainnya langsung diam.


"Nathan, pimpin doa makan!" perintah pria itu yang dijawab anggukan oleh cucunya.


Setelah membaca doa mereka makan bersama.


"Ladeni suamimu!" perintah Isyana ketika melihat Fazila hanya mengambil makanannya sendiri.


"Iya Ma." Segera Fazila mengambilkan nasi dan lauk-pauk untuk sang suami.


"Sudah Sayang!" cegah dokter Davin saat Fazila ingin mengambil lauk lagi untuk dirinya.


Fazila mengangguk lalu fokus dengan makanannya sendiri.


Suasana di dalam ruang makan hening. Tak ada satupun yang bicara karena sungkan pada Tuan Alberto. Hanya terdengar suara denting sendok yang beradu dengan piring dan sesekali suara orang-orang yang sayup-sayup terdengar dari luar rumah.


Satu jam berlalu akhirnya semua orang berhenti makan dan memulai obrolan ringan kembali. Tuan Alberto meninggalkan meja makan terlebih dahulu setelah pamit pada semua orang.


"Dav, tumben kau betah pakai begituan," ujar Damian karena dokter Davin keluar kamar masih menggunakan sarung. Biasanya pria itu selalu memakai celana kemanapun termasuk saat pergi ke pesantren sekalipun.


"Ini aku habis shalat subuh belum sempat diganti," jelas dokter Davin disertai anggukan setuju dari Fazila.


"Dokter Damian kayak masih bujangan aja nggak paham. Nggak ngerti begituan. Kalau pakai sarung itu mudah untuk melakukan apapun selain shalat," ujar Dimas lalu terkekeh.


"Kumat!" protes Fazila karena paham arah pembicaraan Dimas akan kemana. Sudah bukan menjadi rahasia dalam keluarga Fazila jika Dimas otaknya begitu mesum efek menjomblo terlalu lama. Jadi, mereka sudah paham dan biasa mendengar celotehan Dimas yang tak penting.


"Lah, iya kan Chila. Semua orang dah tahu hanya dengan melihat rambut kalian yang masih basah," lanjut pria itu semakin gila.


Sontak semua mata tertuju pada rambut dan kerudung Fazila yang masih basah.


"Chila jadi nggak percaya kalau Bang Dimas masih perja*a," kesal Fazila karena Dimas seolah seperti orang yang sudah menikah saja.


Tristan langsung tertawa mendengar pendapat Fazila.


"Enak aja nuduh sembarangan," protes Dimas karena melihat raut wajah suster Dinda yang terlihat kecewa.


"Biasa Dim namanya pengantin baru, orang nikah tuh nikmat. Bisa berhubungan enak-enak berkali-kali. Makanya kalau iri sama mereka cepat nikah tuh sama suster Dinda biar nggak penasaran," ujar dokter Danisa sambil senyum-senyum.


"Wah pantesan tadi pagi pun Chila masih unboxing sama dokter Davin di kamar," ujar Andin lalu segera menutup mulut saat Fazila melotot ke arahnya.


"Maaf keceplosan," ucap gadis itu dengan senyuman getir dan semua orang beralih menatap Andin dengan bingung.


"Ya Allah, fitnah apalagi ini?" tanya Fazila sambil memijit pelipisnya yang tiba-tiba pening.


"Ayo ngaku, kamu ngintip Chila dan dokter Davin, ya!" ucap Anggita membuat Andin langsung salah tingkah dengan wajah yang memerah seketika.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2