
"Sabar Chila, ini sudah suratan takdir yang harus kau lalui," batin Fazila menyemangati diri sendiri dengan posisi masih berlari sambil mengelus dada yang terasa sesak seolah ada ribuan bebatuan yang menghimpit, meski air mata tak bisa diajak kompromi dan terus saja tumpah ruah tak terkendali.
Setelah sampai pada jarak yang begitu jauh dari tempat bertemu suster Tantri tadi ia baru memelankan langkah. Fazila menyeka air mata yang masih tak mau absen di sudut matanya, dan langsung menyetop sepeda motor yang melintas di depan ia berdiri, tak perduli pemilik kendaraan adalah tukang ojek atau bukan.
"Ojek, Mas!" seru Fazila sambil melambaikan tangan.
"Kemana Dek?" tanya seorang pria sambil menghentikan sepeda motornya.
"Pesantren," sahut Fazila tanpa melihat wajah pria itu. Dia menunduk karena tak ingin pria tersebut melihat matanya yang sembab akibat menangis.
"Pesantren? Mengapa kau bisa berkeliaran di luar?" tanya pria itu curiga sebab menilik dari wajah Fazila yang masih meninggalkan jejak tangis, pasti terjadi sesuatu dengan gadis itu.
Fazila meringis, dalam hati menyangka pria itu pasti sudah berburuk sangka padanya. Mungkin saja pria itu menganggapnya gadis nakal, jadi sebelum itu terjadi dia harus memikirkan jawaban apa yang harus dia katakan agar pria itu tak terlalu berpikiran jauh.
"Aku tidak betah di pesantren, tadinya ingin kabur, tapi malah tersesat dan tak tahu arah jalan pulang. Jadi aku memutuskan untuk kembali ke pesantren saja," jelas Fazila, tentu saja dengan cerita karangannya semata.
" Kamu asli mana?"
"Jakarta."
"Oh jauh juga ternyata."
Fazila hanya mengangguk lemah.
"Santri baru, ya? Biasa sih awal-awal tidak betah, tetapi semakin lama akan betah dengan sendirinya sebab sudah terbiasa menjalani aktivitas sebagai santri dan ditambah pula banyak teman. Saya saja yang sudah lulus kalau bisa ingin mondok lagi," ujar pria itu lalu terkekeh.
"Naiklah!" perintahnya kemudian.
Fazila pun naik ke atas sepeda motor tanpa canggung sebab pria itu sepertinya ramah.
"Helmnya?"
"Maaf saya tidak membawa, sebenarnya saya bukan tukang ojek, tapi karena lagi santai bolehlah saya antar kamu."
"Oh." Fazila hanya mengangguk-angguk.
"Terima kasih banyak," ucapnya beberapa saat kemudian setelah motor melaju dengan kecepatan sedang.
"Alumni mana, Mas?" tanya Fazila berbasa-basi. Dengan mengajak pria itu bicara sedikit bisa melupakan apa yang terjadi tadi.
"Pesantren milik Kyai Miftah, kamu sendiri mau diantar kemana ini? Saya sampai lupa bertanya."
__ADS_1
"Sama sih cuma aku di pondok putri."
"Oh, oke."
Sepanjang perjalanan selanjutnya tidak ada yang bicara lagi. Ternyata lelaki yang memboncengnya tidak banyak cakap sehingga membuat Fazila enggan untuk mengajaknya bicara lagi.
Keheningan yang tercipta membuat Fazila teringat kenangan-kenangan bersama dokter Davin dimana kenangan itu tidak akan bisa terulang kembali. Setelah hari esok maka ia tidak bisa mengharapkan dokter Davin untuk berada di sisinya lagi. Ada hati yang harus dokter Davin jaga, hati wanita yang menjadi istrinya.
Di atas sepeda motor Fazila kembali meratapi perjalanan hidupnya. Angin sejuk yang berhembus menyibak khimar yang ia kenakan seolah tak dirasakan.
Entah apa yang akan ia lakukan selanjutnya setelah kembali ke dalam pesantren. Patah hati membuatnya tak bersemangat untuk melakukan aktivitas apapun sedangkan di dalam lingkungan itu tak menerima orang malas.
Fazila meraup oksigen dalam-dalam lalu menghembuskan secara perlahan-lahan.
"Sudah sampai," ucap pria itu membuat Fazila tersadar bahwa dirinya begitu lama dalam keadaan melamun.
"Terima kasih," ucap Fazila lalu turun dari motor.
"Sama-sama."
"Berapa ongkosnya?" Meskipun pria itu tadi mengatakan bukan tukang ojek, tetapi tidak menyurutkan keinginan Fazila untuk membayar. Bagaimana pun orang itu butuh bensin untuk menjalankan kendaraannya.
"Tidak perlu, saya ikhlas membantu, lain kali jangan kabur-kaburan karena di luar pesantren belum tentu kamu bertemu orang baik. Bagaimana kalau sampai kau diculik dan diperkosa?"
"Mmph, baiklah terima kasih atas nasehatnya, tapi tetap saja aku harus memberikan ini sebagai ganti uang bensin karena kalau tidak aku akan berhutang budi," ujarnya sambil menyodorkan uang kertas 50 ribuan.
"Tidak perlu, aku cari pahala bukan cari uang, lagipula uang itu lebih berguna untuk kebutuhanmu di dalam pesantren."
"Tapi–"
Belum selesai Fazila bicara, dia melihat Nyai Fatimah yang berjalan ke arah pagar. Melihat Nyai Fatimah mengobrol sebentar dengan ustadzah Fitri, Buru-buru Fazila menelusup masuk ke dalam pagar sebelum dirinya ketahuan.
"Hei Chila! Darimana saja kamu!" teriak pak satpam yang lengah dengan keberadaan Fazila. Dia baru sadar setelah Fazila sudah masuk ke dalam pagar. Fazila hanya melambaikan tangan ke arah pak satpam dan sesekali mengatupkan kedua tangan di depan dada, kode agar pak satpam tidak memanggil dirinya lagi.
"Assalamualaikum Pri, tumben ke sini. Apa ada keperluan?" tanya Nyai Fatimah pada pria yang mengantarkan Fazila.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Oh tidak Nyai saya hanya mengantarkan–"
Pria itu tidak melanjutkan perkataannya setelah tidak melihat Fazila di sampingnya.
"Gesit amat tuh anak," batin pria itu.
__ADS_1
"Yasudah kalau tidak ada keperluan saya pamit pergi, kalau mau ketemu Kyai Miftah masuk saja beliau tidak sedang tidak kemana-mana."
"Baik Nyai, terima kasih."
Nyai Fatimah pun berlalu.
"Selamat aku," batin Fazila sambil mengelus dada. Ia membayangkan jika saja tadi ia ketahuan oleh Nyai Fatimah. Bisa-bisa sakitnya tadi pagi dianggap akting dan dia tidak akan dipercaya lagi.
"Darimana saja kamu?" Sebuah suara menyentakkan lamunan Fazila. Itu adalah suara seorang gadis yang menyebalkan yang beberapa hari ini tidak terdengar.
"Hmm, ternyata penyakit kepo-mu kambuh lagi," ujar Fazila membuat gadis itu menatapnya tajam.
"Itu bukan penyakit, tapi tugas yang mulia dari ustadzah untuk mengawasi santriwati yang nakal," jelas Heni dengan mata melotot.
"Halah, minggir!" Fazila langsung berlari menuju kamar dan merebahkan tubuhnya di atas kasur.
"Awas kau Chila, aku akan melapor langsung pada Nyai Fatimah!" ancam Heni.
"Darimana saja kamu?" tanya Qiana membuat Fazila merasa diinterogasi untuk kedua kalinya.
"Jalan-jalan di luar, sumpek. Aku butuh udara segar untuk merilekskan pikiran," jelas Fazila membuat Qiana manggut-manggut saja.
"Bukan apa-apa, kami hanya mengkhawatirkan mu karena menghilang dalam keadaan yang masih sakit," ujar Andin.
"Terima kasih atas perhatian kalian," ujar Fazila lalu menghembuskan nafas sebelum akhirnya menutup mata. Cukup untuk hari ini dia melihat apapun yang tidak ingin dilihat. Rasanya ia ingin pergi ke alam mimpi, mimpi yang bisa membuatmu tersenyum walau sejenak.
Baru beberapa menit terlelap membuat Fazila harus membuka mata kembali saat suara adzan Maghrib mengusik di gendang telinga. Dia dan ketiga teman-temannya pun bersiap-siap ke masjid.
"Nggak usah mandi, kamu cuci muka dan ambil wudhu langsung!" perintah Qiana melihat Fazila meraih handuk, takut-takut demamnya kambuh karena belum begitu sehat. Apalagi jika masih harus menunggu Fazila mandi mereka bisa terlambat shalat jamaah. Mandi Fazila begitu lama dibandingkan dengan yang lainnya.
"Baiklah," ucap Fazila pasrah. Dia hanya berganti pakaian lalu mengambil mukena.
Sampai di masjid shalat hampir saja dimulai. Buru-buru mereka mengambil wudhu dan memakai pakaian shalatnya masing-masing.
Selesai shalat, sebelum mengaji Nyai Fatimah memanggil Fazila agar mendekat. Jantung Fazila berpacu kencang. Hatinya merasa tidak enak karena tidak biasanya Nyai Fatimah memanggil dirinya selepas shalat Maghrib.
"Ada apa? Apakah Nyai Fatimah melihatku tadi sore?" Ia bertanya dalam hati lalu sambil menggaruk rambutnya yang tidak gatal dalam bungkusan mukena.
"Mampus loh," bisik Heni dengan kalian penuh penekanan.
"Jadi dia yang melapor pada Nyai? Awas kamu Heni!" batin Fazila dengan tatapan tak bersahabat.
__ADS_1
"Ugh, takut!" ejek Heni lalu terkekeh.
Bersambung.