DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR

DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR
Bab 133. Hamil?


__ADS_3

Beberapa saat kemudian ada yang mengetuk pintu, buru-buru dokter Davin masuk kamar mandi dan mencuci tangan sebelum akhirnya pria itu melangkah menuju pintu dan membukanya.


"Maaf agak lama karena saya tadi ada di kamar mandi," ucap dokter Davin pada pelayan yang mengantar makan malam. Sementara Fazila pura-pura tertidur.


"Tidak apa-apa Mas," ucap pelayan itu sambil menyerahkan pesanan dokter Davin. Setelah pelayan tadi pergi, dokter Davin membawa makanan ini ke sisi ranjang.


"Sayang makan dulu sebelum tidur!"


Fazila membuka mata dan mengangguk. Dengan pelan ia bangkit dan duduk.


"Masih sakit?"


"Udah mendingan, suapin dong!" pinta Fazila dengan suara manja.


"Dasar bocil!" seru dokter Davin kemudian langsung tertawa renyah.


"Ya udah deh, mana aku mau makan sendiri aja," ucapnya seraya meraih makanan dari tangan sang suami dengan bibir yang cemberut.


"Bercanda Sayang," ucap dokter Davin dan mengambil kembali makanan di tangan Fazila. Satu tangannya mengacak lembut suara sang istri.


"Biar aku suapi," ucap pria itu dan benar-benar telaten menyuapi sang istri.


"Sudah ah Mas Davin makan sendiri, lapar juga, kan?"

__ADS_1


"Kamu habiskan dulu, ini tanggung," ucap dokter Davin dan terus menyuapi Fazila sampai kenyang.


"Ngantuk." Fazila tampak menguap beberapa kali. Tubuhnya yang lelah benar-benar membutuhkan istirahat yang cukup.


"Tidur aja duluan, tapi lain kali usahakan jarak antara makan dan tidur jangan terlalu dekat."


"Kenapa?"


"Tak baik bagi kesehatan."


"Baiklah tapi sekarang, hoam." Gadis itu menguap kembali lalu memposisikan dirinya tidur dengan posisi miring. Tidak membutuhkan waktu lama akhirnya Fazila terlelap.


Dokter Davin menarik selimut dan menutupi tubuh istrinya, setelah itu bangkit berdiri dan membawa makanan pada sebuah meja yang ada di kamar tersebut. Ia duduk sambil makan di tempat itu dengan tenang. Sesekali melirik ke arah Fazila yang tidur tenang.


Malam telah larut saat dokter Davin memutuskan untuk berbaring di sisi sang istri dan ikut terbuai di alam mimpi.


Jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi saat mereka terbangun hingga Fazila langsung kelabakan.


"Mas kita belum shalat subuh," ucap Fazila sambil mengguncang tubuh dokter Davin.


Dokter Davin melenguh dan bertanya dengan mata terpejam. "Jam berapa sekarang?"


"Enam pagi," sahut Fazila dan beringsut dari ranjang.

__ADS_1


"Yasudah, dah telat juga, aku masih mau tidur," ujar dokter Davin dengan mata terpejam kuat.


Fazila tidak berkomentar dan langsung bergegas ke dalam kamar mandi meskipun seluruh tubuhnya terasa remuk. Setelah membersihkan diri dia langsung menunaikan shalat subuh meskipun waktunya sudah terlambat.


"Huak!" Sekuat tenaga Fazila menahan diri agar tidak muntah. Entah kenapa tiba-tiba perutnya merasa mual. Buru-buru ia kembali masuk ke dalam kamar mandi. Di sana Fazila sudah mampu menahan diri lagi. Dia benar-benar muntah.


Mendengar suara Fazila di dalam kamar mandi, dokter Davin langsung membuka mata dan mencari keberadaan sang istri.


"Kenapa Sayang? Aku bantu pijit ya?" Tanpa persetujuan Fazila, dokter Davin langsung memijit leher belakang Fazila.


"Apa jangan-jangan aku hamil Mas?" tanya Fazila sambil menatap wajah dokter Davin.


"Belikan Chila alat pengetesan kehamilan! Atau antar ke rumah sakit untuk USG!" titahnya.


"Mana mungkin Sayang, kau pikir bikin anak seperti bikin kue apa? Baru bikin semalam pagi sudah siap," ucap dokter Davin sambil menggelengkan kepala.


"Terus Chila kenapa dong? Kenapa tiba-tiba muntah?"


"Mungkin masuk angin karena tubuhmu kecapean. Kalau begitu sebaiknya kau gunakan layanan spa di sini agar tubuh kamu enakan," ujar dokter Davin dan Fazila mengangguk setuju.


Bersambung.


 ( Mohon maaf othor belum bisa update rutin sampai hari Senin. Sekali lagi mohon maaf ya! 🙏)

__ADS_1


__ADS_2