
"Ada apa Bik?" Dokter Davin mendekat ke arah kedua pembantu yang sedang berbisik sambil menatap bingung ke arah Fazila.
"Entahlah Den, kami tidak tahu. Masa Non Chila goreng telur terus tanpa berhenti. Saat kami mencoba menghentikan aksinya dia malah marah. Bibi kan Jadi bingung Den," tutur Bik Ina.
"Apa perlu kami lapor sama Nyonya ya?" timpal pembantu yang satunya.
"Hmm sepertinya tidak perlu Bik, baiklah urusan Chila biar saya yang tangani dan bibi berdua bisa mengurus pekerjaan lain."
"Baik Den, terima kasih."
"Sama-sama."
Bik Ina dan temannya langsung pergi dari dapur meninggalkan Fazila berdua dengan dokter Davin.
"Ekhem." Dokter Davin berdehem sebelum akhirnya melangkah menuju tempat Fazila berdiri.
"Sudah bikin telor ceploknya? Mau ngasih makan orang sekampung?" canda dokter Davin dan tetap saja Fazila tak bergeming.
"Chila hentikan aksimu!" seru dokter Davin karena Fazila tak mau berhenti juga.
Melihat tak ada respon dari Fazila dokter Davin langsung mematikan kompor.
"Kau–" Fazila menoleh dengan wajah yang kesal.
Tanpa banyak bicara dokter Davin menarik tubuh gadis itu dengan lembut agar menghadap dirinya seutuhnya.
"Aku lelah kalau kamu begini terus Chila. Kalau aku salah katakan padaku biar aku bisa membenahi diri ini. Jangan bersikap yang membuat orang lain kebingungan dengan dirimu."
Fazila tak menjawab, hanya bulir bening yang terlihat berjatuhan dari matanya.
"Kau menangis? Tolong jangan membuat hatiku kacau seperti ini! Jika mama kamu melihat kita seperti ini, beliau bisa kembali seperti dulu. Tidak merestui kita karena menganggap aku hanya bisa menyakitimu dan membuatmu selalu dalam kesedihan." Dokter Davin menatap lekat-lekat wajah Fazila dengan tatapan teduhnya.
Fazila mendesah kasar.
"Bukankah kamu memang sudah melakukannya?" Fazila berkata dengan senyuman masam tanpa melihat wajah dokter Davin. Perempuan itu berbalik dan hendak melangkah keluar dari dapur. Namun, buru-buru lengannya dicekal oleh dokter Davin.
"Maafkan aku jika tak sengaja menyakitimu, tapi tolong beritahu aku dimana letak kesalahanku, please Chila!"
Fazila menghempas pegangan tangan dokter Davin lalu berlari keluar dari dapur dan menaiki tangga menuju kamarnya. Tak ingin berlarut-larut dalam masalah yang tidak pernah ia ketahui apakah itu dokter Davin langsung mengejar Fazila.
__ADS_1
"Nak Davin?" Saat menapaki tangga pria itu berpapasan dengan Isyana yang kebingungan melihat tingkah keduanya.
"Izinkan saya menemui Chila di kamarnya Tante!" pamitnya karena tidak enak dengan mertua perempuannya.
"Apapun masalahnya tolong selesai segera!"
"Iya Tante."
"Pergilah dan temui Chila!" Isyana menepuknya bahu dokter Davin sambil tersenyum untuk memberikan pria itu semangat menghadapi putrinya yang kadang tidak bisa dimengerti oleh siapapun.
Dokter Davin mengangguk lalu berlari di atas tangga dengan lebih cepat. Dia harus menyusul Fazila sebelum gadis itu menutup pintu dan menguncinya dari dalam.
Benar saja saat ia sampai di atas Fazila sudah menutup pintu dan sudah memegang kunci, tetapi dokter Davin buru-buru membuka pintunya kembali.
Fazila menganga melihat dokter Davin merampas kunci di tangannya lalu mengunci pintu kamar Fazila dari dalam.
"Kau mau apa?" tanya Fazila lalu berjalan mundur ke belakang dengan perasaan was-was.
"Aku hanya ingin meminta penjelasan," ucap dokter Davin lalu berjalan santai menuju ranjang Fazila dan duduk di sana.
"Duduklah! Mari kita bicara berdua dari hati ke hati!" Dokter Davin menepuk ranjang di sampai ia duduk.
"Ayolah jangan takut, aku tidak akan macam-macam," tambah dokter Davin karena sepertinya Fazila kali ini takut padanya.
"Berikan kuncinya! Kalau tidak aku akan berteriak biar Mama ke sini," ancamnya.
"Chila-Chila, aku sudah mendapatkan izin dari Tante Isyana. Beliau mengatakan jangan pergi sebelum masalah kita kelar. Eh lebih tepat masalahmu karena aku merasa tidak pernah bikin masalah."
Fazila terbelalak mendengar ucapan dokter Davin.
"Duduklah di sini!" Dokter Davin mengulangi aksinya tadi dan memandang mata Fazila dengan tatapan memelasnya. Pria itu terlihat begitu lelah hingga Fazila merasa iba. Dengan ragu-ragu dan perlahan, ia mendekat dan duduk di samping dokter Davin.
"Ini rumahmu jadi jangan berpikir macam-macam, akan takkan mungkin melakukan hal tidak senonoh padamu. Walaupun bukan rumahmu sekalipun aku tidak akan pernah melakukanya," ujar dokter Davin agar Fazila tidak risau karena pintu kamarnya ia kunci.
"Tapi kita hanya berdua saja di dalam ini, bukankah–"
"Akan ada setan yang menganggu kita?" potong dokter Davin dan gadis itu hanya mengangguk lemah.
"Makanya kau katakan secepatnya apa masalahnya! Maaf jika aku mengunci kamar dan memegang kuncinya. Alasannya cuma satu, aku tidak ingin melihatmu menghindariku terus-menerus."
__ADS_1
Fazila mengangguk dan menunduk. Terdengar helaan nafas panggilan dari keduanya.
"Katakan Chila, apa kau menyesal bertunangan denganku?" tanya dokter Davin dengan wajah memandang ke depan dengan tatapan datar.
Fazila hanya diam, pun matanya memandang lurus ke depan.
"Kenapa hanya diam?"
"Kau darimana tadi?" tanya Fazila dengan suara lirih hampir tak terdengar. Ia seolah mengabaikan pertanyaan dari dokter Davin.
"Apakah kau pulang? Kenapa kembali lagi?"
Pertanyaan macam apa ini? Dokter Davin malas menjawabnya.
"Apakah kamu pulang dan menemui suster Dinda? Kau tidak bisa jauh-jauh kan dengannya? Bahkan saat acara pertunangan kita kau juga membawa dia ke sini," ujar Fazila dengan raut wajah tidak suka.
Dokter Davin terbelalak, bagaimana mungkin Fazila cemburu pad asistennya itu. Dia pikir gurauannya ketika di rumah pada Fazila salah. Nyatanya gadis itu memang benar-benar cemburu. Pria itu terlihat menggeleng beberapa kali.
"Baiklah, biar ku jelaskan," ucap dokter Davin setelah menarik nafas panjang untuk beberapa kali.
"Pertama, dari semalam aku tiba di sini bersamamu, aku tidak pulang. Aku tidak kemana-mana, hanya saja jogging di sekitaran jalan raya ini."
Fazila menunduk, sungguh ia benar-benar merasa telah menuduh sembarangan tentang ini, tapi soal hubungan dokter Davin dengan suster Dinda, Fazila yakin laki-laki itu tidak akan mampu menepis. Bukti sudah ada di tangannya.
"Kedua, kenapa aku membawa dia ke acara pertunangan kita? Kau tahu kan Chila, aku hanya tinggal berdua dengan nenek Salma, tak mungkin aku hanya datang berdua dengan beliau sementara yang menyambut kami di sini banyak orang. Damian dan Danisa aku ajak, kenapa suster Dinda malah tidak, secara dia adalah orang yang membantu pekerjaanku? Aku mengajaknya karena ingin agar dari pihak keluargaku juga banyak orang, dalam artian biar tambah ramai dan seru, dan yang terakhir aku tegaskan, hubunganku dengan siapapun selalu profesional termasuk dengan suster Dinda. Dia hanya asisten tidak lebih."
"Kau yakin Dokter?" tanya Fazila dengan senyuman kecut.
"Ya sangat yakin sekali," sahut dokter Davin mantap.
"Hah, Baiklah. Bagaimana dengan ini? Apa kau masih bisa mengelak?"
Dokter Davin menautkan kedua alisnya. Bingung dan penasaran dengan apa yang ingin ditunjukkan oleh Fazila.
Gadis itu berdiri dan berjalan menuju nakas. Mengambil ponselnya yang dibelikan oleh dokter Davin dan terlihat menekan-nekannya.
"Ini, kau lihat sendiri bagaimana mesranya kau dengan dia!" ujar Fazila sambil menyerahkan ponsel di tangan ke hadapan dokter Davin dengan mimik wajah yang begitu kesal.
Bersambung.
__ADS_1