
Belum sempat Fazila bangkit dengan sempurna, keluarga besarnya telah berada tepat di pintu. Mereka melihat posisi Fazila yang setengah di atas tubuh dokter Davin.
Semua memandang adegan itu dengan melotot, apalagi di sekitar mereka bertebaran lingerie, segitiga pengaman dan rumah bukit kembar. Sungguh malam pertama yang sangat kacau.
"Ya ampun Chila, Davin. Apa kalian setergesa itu sampai-sampai tidak menutup pintu kamar?" tanya Laras dengan tatapan terheran-heran melihat sekitar kamar pengantin.
"Iya, nih. Mentang-mentang pengantin baru, main serobot aja," ujar Dimas.
"Belum terlalu malam, loh," ledek suster Dinda lalu cekikikan.
"Sepertinya, tante mau main kuda-kudaan kayak mommy dan daddy," celetuk Nazel dengan polos.
Otomatis Nathan dan Chexil langsung menutup mulut si bocah. Sambil memberikan senyuman garing kepada mereka, yang melihat keduanya dengan pelototan.
Kesempatan itu, dipergunakan Fazila untuk berdiri dengan sempurna, Davin mengikuti. Namun, pria itu duduk di tepi ranjang.
"Ini bukan seperti yang kalian pikirkan," jelas Fazila dan dokter Davin serentak.
"Udah, tidak usah ngeles, kami paham, kok," goda Ara.
"Apalagi, mama dan papa, lebih paham banget secara anaknya udah berapa," timpal Tristan sok tahu.
"Tapi, ini benar bukan seperti itu." Kali ini dokter Davin yang berbicara, siapa tahu keluarga Fazila akan percaya dengan omongannya.
"Udah, nggak usah malu Nak Davin. Ini sudah biasa kok asal jangan barbar saja ya!" ujar Laras sambil tersenyum pada Fazila dan dokter Davin membuat kamar itu mendadak panas bagi keduanya meskipun AC dalam keadaan menyala.
"Tapi, ini beneran Oma, Chila hanya nggak sengaja jatuh dan menimpa Mas Davin." Fazila membela diri. Wanita itu tidak mau keluarganya berpikir kalau mereka sudah tidak sabaran. Meski sah-sah saja, sih. Toh, mereka 'kan sudah menjadi pasangan halal.
"Tak sengaja, kok tepat kali posisinya," ledek Lucas. Pria yang hemat bicara itu akhirnya ikutan buka suara. Tatapannya memancarkan aura ketidakpercayaan.
"Iya, udah janjian kali, ya, tubuhnya." Dimas menahan tawa karena melihat raut wajah Fazila dan dokter Davin yang semakin memerah. Fazila dan dokter Davin semakin kesal karena keluarganya tidak mau menerima penjelasan mereka.
"Mana pakaian dalam berserakan lagi," ujar Dimas, pandangannya tepat kepada kado laknat dari teman-teman Fazila.
"Ini, beneran tidak seperti yang kalian pikirkan!" Fazila semakin dibuat kesal, gadis itu menghentakkan kakinya, menunjukan dia tidak suka dengan tuduhan keluarganya. Mata Fazila lalu memicing tatkala melihat si pembuat onar ada di belakang mereka, seolah mengintip ke arahnya.
"Ini semua gara-gara kalian!" Fazila menuding ke arah Andin dan Anggita yang nampak syok melihat keadaan kamar pengantin mereka.
Kedua sahabatnya saling pandang, lalu menutup mulut karena menahan tawa. Sebelum tawa meledak, mereka langsung meninggalkan semua orang.
"Seperti yang kami pikirkan juga nggak pa-pa, kok. Kalian 'kan sudah halal." Si suster Dinda mengedipkan mata ke arah Fazila.
Fazila menelan ludah. Tenyata Dimas dan suster Dinda adalah pasangan yang serasi, benar-benar pasangan yang koplak.
"Sudahlah kita pergi saja! Tak baik mencampuri urusan mereka," ujar Zidane lalu menarik tangan sang istri yang dari tadi hanya melongo tanpa berkomentar sepatah katapun.
Semua orang mengangguk lalu mengikuti langkah Zidane turun ke lantai bawah.
__ADS_1
Sepeninggal semua keluarga, dokter Davin dan Fazila tampak canggung. Fazila duduk di samping pria itu sambil menutup wajah dengan kedua tangannya.
"Ya Allah, kenapa aku merasa kayak digrebek sih?" gumamnya lalu menghembuskan nafas berat.
Dokter Davin sendiri hanya terdiam dan sesekali melirik ke arah Fazila yang terlihat gelisah. Pria itu pun menghela nafas panjang karena sebenarnya masih syok dengan apa yang baru terjadi. Semuanya tidak sesuai rencana, kalau dia tahu ujung-ujungnya akan seperti ini dia tidak akan pernah jahil pada sang istri. Dia tahu saat ini Fazila pasti merasa sangat malu. Namun, apalah daya semua sudah terjadi.
"Sayang, sudahlah! Katanya mau mandi!" Setelah sekian lama hanya diam-diaman akhirnya dokter Davin membuka suara.
Fazila menoleh ke arah dokter Davin dengan ekspresi cemberut.
"Ini gara-gara Mas Davin. Bikin malu aja! Nazel malah ngomong pada semua orang 'kan tentang apa yang dilihatnya tadi. Sungguh sangat memalukan, mana posisiku berada di atas lagi," oceh Fazila lalu menarik kasar baju tidur yang terletak sembarangan di tepi ranjang akibat kado yang mengejutkan dari teman-temannya tadi.
"Lah kok malah menyalahkan aku?" protes dokter Davin sambil menggeleng-gelengkan kepala dengan senyuman tipis yang menghiasi bibir merahnya. Meskipun ini juga salahnya, tapi yang menjadi pemicu utama adalah Fazila sendiri. Andai wanita itu tidak menjatuhkan benda segitiga itu di wajahnya, dokter Davin tidak akan pernah mengerjai sang istri.
"Iyalah, kalau Mas Davin nggak ngerjain Chila, mana mungkin posisi kita akan seperti itu tadi," ucapnya sambil terus melanjutkan langkah ke arah kamar mandi.
"Sudahlah, semua orang juga sudah tahu kalau kita sudah menjadi suami istri. Ya, suka-suka kitalah mau ngapain aja." Dokter Davin lalu bangkit dari posisi duduknya dan mengikuti langkah Fazila ke kamar mandi dengan langkah cepat.
"Mas, mau ngapain ikut-ikut?" Fazila menghadang pria itu di depan kamar mandi.
"Mandi bareng yuk!" goda dokter Davin sambil mengerlingkan sebelah mata. Satu tangannya dengan cepat membuka jas yang masih membungkus tubuhnya.
"Stop!" teriak Fazila sambil menggerakkan satu tangan ke depan.
"Aku hanya gerah, masa nggak boleh lepas jas?" Pria itu langsung berbalik dan berjalan menjauh. Setelah meletakkan jas di atas kasur, ia langsung berjalan ke arah pintu.
"Kalau sudah ngantuk tidur duluan aja, nggak usah nungguin aku," tambahnya dan Fazila mengangguk sekali lagi.
"Yasudah, good night!" ucapnya lalu pergi. Fazila pun langsung membuka pintu kamar mandi dan membersihkan diri.
Rasa hangat dari perpaduan air dingin dan air panas yang keluar dari shower membuat tubuhnya lebih fresh dan rileks, dan pastinya tidak membuat Fazila kedinginan meskipun mandi di malam hari.
Setelah mandi, dengan pakaian tidur ia berjalan ke arah ranjang. Mengambil jas dokter Davin dan memasukan ke dalam keranjang pakaian kotor. Setelah itu Fazila menyibakkan bunga-bunga yang bentuknya sudah berantakan akibat ulah keduanya tadi. Ia merebahkan diri di atas kasur, mengistirahatkan tubuhnya yang memang sudah sangat kelelahan akibat aktivitas seharian ini.
Fazila memejamkan mata dan tak lama kemudian langsung tertidur pulas.
Fazila terbangun di tengah malam saat jam berdentang dua belas kali. Ia melirik tempat tidur di sisinya, masih kosong. Dokter Davin tak ada di sana.
Terdengar suara berisik di lantai bawah. Sesekali terdengar sorakan. Entah apa yang mereka bicarakan. Fazila menebak mungkin mereka sedang bermain. Bermain catur atau domino entahlah, ia tak bisa memastikan karena suara mereka yang sayup-sayup terdengar.
"Mas Davin belum kembali juga? Apa dia mau bergadang semalaman seperti yang lainnya?" tanyanya dalam hati. Hatinya tergerak untuk turun ke lantai bawah menuju sang suami.
Namun, karena takut digoda lagi oleh anggota keluarganya. Ia mengurungkan diri, meraih bantal guling dan memeluknya dengan erat, kemudian memejamkan matanya kembali.
Sayangnya Fazila tidak bisa terlelap seolah ada beban di dada tapi ia tidak tahu apa itu. Ia memungut G-string dan pembungkus gunung kembar yang masih berserakan lalu memasukkan ke dalam keranjang pakaian kotor.
Jam berdentang satu kali pertanda sudah satu jam Fazila membuka mata. Ia bangkit dari berbaring dan masuk kamar mandi. Mengambil wudhu untuk melakukan shalat tahajjud. Saat itu Fazila teringat bahwa dirinya belum melaksanakan shalat isya semalam. Mungkin itulah mengapa rasanya ada beban yang menghimpit di dada sedari tadi hingga tak bisa membuat tidurnya nyenyak kembali.
__ADS_1
Fazila langsung melakukan shalat isya dilanjutkan dengan shalat tahajjud. Selesai shalat ia melihat koper dokter Davin masih tergeletak di pinggir ranjang. Ia berinisiatif untuk menata pakaian suaminya. Saat sedang fokus-fokusnya menata pakaian, dokter Davin membuka pintu dan melangkah ke arah istrinya.
"Kok belum tidur?" tanyanya sambil memeluk sang istri dari belakang dan menaruh dagunya di ceruk leher sang istri.
"Mas geli ih," protes Fazila saat dokter Davin menciumi leher Fazila dan sesekali memberikan gigitan-gigitan kecil seperti seorang balita. Namun, dokter Davin tak mengindahkan ucapan Fazila.
"Kau mau beralih profesi dari dokter jadi vampir ya?" protes Fazila lagi dan langsung diam tatkala bibirnya dibungkam oleh dokter Davin dengan ciuman panas mereka.
"Mas!" Protes Fazila dengan nafas terengah-engah. Tubuhnya seolah tersetrum tegangan ribuan voltase.
"Kita lanjutkan yang tadi!" pinta dokter Davin.
"Yang tadi apa?" tanya Fazila malu-malu.
"Aku ingin memberikan nafkah batin padamu," sahut dokter Davin dengan pandangan mata yang sudah terlihat sayu.
"Tapi aku–" Fazila terlihat ragu. Bagaimanapun ini adalah yang pertama baginya. Walaupun penasaran tapi ia sebenarnya juga takut.
"Yasudah tidak usah kalau kamu belum siap," ujar dokter Davin paham akan kekhawatiran Fazila.
"Tapi aku akan berdosa," ucap Fazila kala mengingat pelajaran Fiqih yang pernah dia dapatkan di pesantren.
"Tidak akan kalau aku ridho, yuk tidur saja," ucap dokter Davin lalu menarik tangan Fazila dan membawanya menuju ranjang.
"Setelah ini kau masih mau kuliah?" tanya dokter Davin sambil tiduran memeluk sang istri dari belakang.
"Kuliah?" tanya Fazila.
"Iya."
"Masih belum kepikiran, lagian aku sudah nikah juga. Repot nanti kalau sudah punya anak. Takut nggak keurus kalau sibuk kuliah."
Dokter Davin tersenyum mendengar jawaban Fazila. Rupanya gadis manja itu sekarang pemikirannya sudah sangat dewasa hingga sejauh itu cara berpikirnya.
"Kau mau anak dariku?"
Fazila menatap lekat wajah dokter Davin, bingung kenapa sang suami bertanya seperti itu.
"Terus apa tujuan pernikahan kita? Kalau tidak ingin anak?"
"Ya ... ingin dapat yang enak-enak," sahut dokter Davin lalu terkekeh. Fazila memalingkan muka, sedikit malas dengan sang suami yang selalu menggodanya.
"Lagian bagaimana bisa punya anak kalau kau tak mau disentuh lebih jauh?" lanjutnya lagi sebenarnya hanya ingin menggoda Fazila, tetapi sepertinya Fazila ambil hati dengan perikatan dokter Davin. Buktinya sekarang gadis itu terlihat cemberut dan memalingkan muka.
"Katanya tadi ridho," sungut Fazila. Benar-benar tidak paham dengan pemikiran dokter Davin.
Bersambung.
__ADS_1