DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR

DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR
Bab 67. Restu


__ADS_3

Suster Tantri tersenyum, jabatan tangan Fazila melemah hingga tangan mereka terlepas begitu saja.


"Saya pamit semuanya, semoga hari kalian ceria," ucap suster Tantri lalu melangkah keluar ruangan. Sampai di luar senyuman wanita itu pudar berganti dengan wajah penuh amarah.


Semua orang hanya menatap kepergian suster Tantri tanpa kata.


"Aku tidak akan tinggal diam Chila, gara-gara dirimu aku kehilangan pekerjaanku. Kau tidak boleh bahagia di atas penderitaanku," geram suster Tantri, terus berjalan tanpa menoleh sedikitpun dengan tangan yang mengepal.


Dokter Davin bangkit dari duduknya dan melangkah ke arah Fazila yang kini sudah duduk di tepi ranjang rumah sakit berdampingan dengan mamanya di sebelah kanan dan papanya di sebelah kiri.


"Apa yang dia bisikkan tadi?" tanya dokter Davin pada Fazila. Fazila melihat kedua orang tuanya lalu menggeleng sebab tak ingin semakin membuat keduanya khawatir setelah sakitnya beberapa minggu ini.


Dia yakin suster Tantri hanya menggertak saja dan tidak akan bisa berbuat macam-macam lagi. Dia hanya butuh kehati-hatian agar hal yang tidak diinginkan tidak terjadi pada dirinya lagi.


"Tidak ada," jawabnya singkat.


"Kalau dia macam-macam katakan padaku!" pesannya dan Fazila hanya mengangguk.


"Tante maafkan saya yang sudah membuat keributan di sini," ucap dokter Davin tidak enak karena semua yang terjadi tidak lain adalah gara-gara dirinya.


Isyana hanya mengangguk tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Dia masih terlihat syok dengan apa yang dilihat dan didengarnya tadi.


"Chila, aku pulang dulu ya, keluargamu sudah berkumpul di sini dan aku tidak mau merusak momen kebersamaan kalian."


"Om saya pamit pergi," ujar dokter Davin dan mengulurkan tangan pada Zidane.


"Hati-hati Nak," ujar Zidane sambil menepuk punggung dokter Davin. Dokter Davin mengangguk lalu mengulurkan tangan pada Isyana.


"Terima kasih sudah membantu kami menjaga Chila," ujar Isyana.


"Iya Tante, sama-sama."


Sekali lagi Isyana mengangguk. Kini dokter Davin melangkah menuju Nathan.


"Bang! Nathan! Aku tidak tahu harus memanggilmu apa, tapi dari sudut hatiku yang paling dalam aku benar-benar minta maaf atas semua hal yang membuatmu tidak suka padaku. Maaf beribu maaf, tapi perlu kamu ingat perasaanku pada adikmu ini benar-benar tulus, tidak ada sangkut pautnya dengan Chexil.


Saat Chexil memilih kembali padamu aku sudah benar-benar melepaskan perasaanku padanya. Cintaku pada Chila tidak tumbuh begitu saja, tetapi juga bukan sekedar pelarian ataupun pelampiasan, atau bahkan karena perasaan dendam padamu. Maaf juga jika perasaan ini salah. Aku permisi!" pamitnya.


Dokter Davin melangkah keluar ruangan, tetapi tangannya langsung dicekal oleh Nathan.


Dokter Davin melirik tangannya yang dipegang oleh Nathan dengan alias yang bertaut, bingung apa yang diinginkan Nathan kali ini. Hatinya penuh dengan tanya.


Fazila yang melihat interaksi keduanya terlihat khawatir. Jantungnya berdetak tidak karuan karena selama ini mereka berdua tidak pernah akur jika bertemu.


"Maaf jika selama ini aku berprasangka buruk terhadapmu. Aku hanya takut kau mempermainkan Chila. Dia adik Perempuanku satu-satunya. Kami sangat menyayanginya dan tidak akan pernah membiarkan orang lain mencelakai dia," ucap Nathan.


Pria itu langsung merangkul bahu dokter Davin dan dokter Davin reflek, balik merangkul bahu Nathan.


"Tidak apa-apa, saya tahu perasaanmu sebagai Abang Chila. Tidak ada seorang kakak yang akan membiarkan adiknya menderita. Saya pun juga tahu diri sebenarnya saya tidak pantas untuk Chila, tapi apalah daya perasaan kami sudah begini, tidak bisa dikendalikan."


"Perasaan kalian tidak salah. Jika kamu benar-benar serius dengan Chila, kamu boleh melamarnya. Bukankah papa sudah menyetujui hubungan kalian berdua?"


Mendengar perkataan Nathan, Fazila meneteskan air mata. Terharu dan bersyukur karena Allah SWT begitu mudah membolak-balikkan perasaan seseorang jika Dia berkehendak. Fazila tidak menyangka Nathan akan berubah secepat ini.


Tidak jauh berbeda dengan Fazila bola mata dokter Davin pun tampak berkaca-kaca.


"Terima kasih banyak atas pengertian dan restunya, tapi saya tidak mungkin melamar Fazila jika semua keluarganya belum merestui kami. Kami butuh doa terbaik dari kalian. Tante Isyana belum memberikan restu dan itu artinya Chila masih belum bisa menerima lamaranku," ujar dokter Davin sambil melirik Isyana sedangkan Isyana sendiri melirik Fazila lalu memberikan tisu.

__ADS_1


"Terima kasih Ma," ucap Fazila sambil mengelap air matanya.


"Kau benar-benar menginginkan dokter Davin untuk menjadi pasanganmu kelak?" tanya Isyana sambil menatap lekat mata Fazila.


Fazila mengangguk lemah sebab merasa begitu malu.


"Hmm, baiklah kalau begitu saya juga merestui kalian," ujar Isyana dan langsung mendapatkan pelukan erat dari Fazila.


"Terima kasih Ma," ujar Fazila dengan air mata yang semakin mengalir deras hingga membasahi dress panjang yang dikenakan mamanya.


"Kamu ini senang apa sedih sih Chila?" protes Zidane yang melihat Fazila sampai nangis berlebihan.


Sontak Fazila semakin kencang menangis setelah digoda oleh Zidane.


"Sudah! Sudah! Nggak malu ya sama dokter Davin nangis begini? Bisa-bisa dia tidak jadi melamarmu karena menganggap kamu masih anak kecil," goda Zidane lagi membuat Fazila langsung menghentikan tangisannya dan cemberut.


"Nak Davin! Betul apa yang dikatakan Nathan tadi, kalau kamu serius dengan Chila, lebih Baik kamu langsung lamar putri saya. Tidak perlu lamaran besar yang penting ada tanda saja kalau Fazila sudah ada yang punya. Saya tidak enak dengan rekan-rekan saya yang selalu menanyakan status Chila dan mengajak saya untuk menjodohkan dengan putra mereka. Kalau kamu sudah melamarnya kan saya jadi punya jawaban," ujar Zidane panjang lebar.


"Baik Om nanti saya bicarakan dengan nenek saya dulu."


"Ya, silahkan, tidak usah terburu-buru juga sebab Chila masih belum sehat benar," timpal Isyana.


"Baik Tante. Kalau begitu kami permisi dulu."


"Baiklah, jangan lupa hati-hati di jalan."


"Iya, Chila saya pamit ya!"


Fazila mengangguk dengan ekspresi tidak rela karena dokter Davin akan meninggalkannya.


"Tidak, mungkin besok baru balik. Nanti malam aku kembali ke sini. Sekarang mau menemui nenek Salma dulu. Nanti aku usahakan sebelum kita balik, kita sudah tunangan terlebih dahulu."


Pipi Fazila bersemu merah mendengar perkataan dokter Davin.


"Aku pergi ya!" pamitnya lagi.


"Iya," jawab Fazila singkat.


"Assalamu'alaikum!" ucap dokter Davin langsung melangkah keluar kamar rawat.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab semua orang serentak.


Sampai di depan pintu dokter Davin berpapasan dengan Tristan.


"Sudah mau balik, perlu saya antar?" Tristan menawarkan diri untuk mengantar karena ingat dokter Davin tidak membawa kendaraan.


"Tidak usah Bang biar saya naik taksi aja. Saya juga akan pergi ke suatu tempat dulu sebelum pulang ke rumah," tolak dokter Davin tidak enak jika merepotkan keluarga Fazila.


"Oke kalau begitu," ujar Tristan sambil melangkah ke dalam kamar mendekati adik perempuannya.


"Cie.... ada yang bahagia ding. Jangan-jangan demamnya sudah hilang nih! Kalau begitu tidak sia-sia dong Abang jemput dokter Davin keluar kota sampai badan encok dan pegel linu karena kebut-kebutan di atas motor," goda Tristan sambil menyentuh dahi Fazila.


"Ah, Abang. Mana ada? Ini demamnya masih menempel di sini," rengek Fazila manja lalu menutup wajah dengan kedua tangannya karena sangat malu pada Tristan.


Isyana menyentuh dahi Fazila, masih panas walaupun tidak sepanas semalam.


"Jangan lupa traktir Abang ya? Kalau bukan karena Abang hari ini kamu belum tentu bisa tersenyum seperti hari ini."

__ADS_1


"Iya-iya nanti Chila traktir, tapi uangnya mau nabung dulu ya," ucap Fazila lalu terkekeh.


"Payah!" Tristan malah tertawa.


"Chila kan belum kerja? Jadi tidak punya uang kalau tidak minta mama ataupun papa. Yasudah deh nanti minta papa, boleh kan, Pa?"


"Kok minta papa sih? Minta sama cowok kamu. Biasanya kalau dokter itu banyak uangnya," ujar Tristan.


"Lebih banyakan punya Abang, tapi sayang masih demen gratisan," keluh Fazila.


"Kau tahu tidak Chila? Makanan gratis itu rasanya jauh lebih enak," ucap," Tristan lalu tertawa renyah.


"Dasar! Ngajarin adik yang benar! Sudahlah saya pamit semuanya," ucap Nathan lalu melangkah pergi.


"Eh Bang tunggu!" teriak Tristan. Nathan langsung menghentikan langkah dan menoleh ke belakang.


"Ada apa Tris?" tanyanya dengan wajah yang begitu serius.


"Sampaikan salamku untuk bapak mertua," ujar Tristan lalu cekikikan.


"Astaghfirullah kupikir ada yang penting. Sudah deh aku sudah telat ini," ujar Nathan sambil melirik arloji di tangannya.


"Iseng banget sih Tris," protes Isyana.


"Biar nggak tegang Ma," sahut Tristan.


"Kedatangan Abang bikin Chila ngantuk," ucap Fazila, terlihat menguap beberapa kali lalu merebahkan tubuhnya kembali di atas ranjang.


"Hmm, kejam banget. Kau kira Abang lagu tidur apa bikin ngantuk orang? Yasudah tidur sana gih, biar lekas sehat! Kalau tidak lamarannya bisa ditunda sampai tahun depan," kelakar Tristan.


"Abang!" seru Fazila.


"Sudah-sudah! Kau tidur saja Chila, pasti kamu mengantuk setelah semalam bergadang dengan dokter Davin," ujar Isyana membuat Fazila terbelalak tidak percaya.


"Jadi semalam Mama tidak tidur dan pura-pura tertidur?" tanya Fazila dengan nada bicara seakan mau protes.


"Ya begitulah, mau buka mata takut ganggu orang yang lagi suapan-suapan," ucap Isyana membuat wajah Fazila berubah drastis, merah seperti kepiting rebus.


"Tapi nggak apa-apa sih. Dengan begitu Mama kan jadi tahu kalau dia benar-benar sayang sama kamu. Buktinya dia sangat telaten mengompres dan nyuapin kamu sampai tidak tidur semalaman. Mama jadi tenang kalau suatu saat Mama harus ngelepasin anak gadis Mama untuk dokter Davin."


Fazila kembali memeluk erat tubuh Isyana.


"Makasih Ma. Mama memang the best," ucap Fazila dengan senyum yang mengembang.


"Ekhem! Kayaknya sudah ada yang lupa deh dengan papa, mentang-mentang sudah dapat restu dari Mama, papa jadi dilupakan," protes Zidane.


Fazila langsung melepaskan pelukannya dari sang mama dan beralih pada Zidane.


"Papa juga papa yang terbaik kok," ujar Fazila tak mau lepas dari senyuman manis yang menghiasi bibirnya yang merah tanpa perona.


"Bang Tris juga Abang terbaik dan Bang Nathan Abang terburuk," ucap Tristan narsis.


"Iya deh aku yang terburuk," ucap Nathan sambil memasuki ruangan dan mengambil ponselnya yang ketinggalan di dalam.


Tristan melongo melihat kedatangan Nathan secara tiba-tiba sedangkan Fazila menutup mulut menahan tawa.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2