DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR

DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR
Bab 82. Perhatian


__ADS_3

"Oke deh kalau begitu, sini kita kasih kartu dulu." Dokter Davin meraih kembali ponsel yang berada di genggaman tangan Fazila dan memberikan kepada petugas counter untuk dipasangkan kartu.


"Aku isi nomorku," ucap dokter Davin lalu menyimpan nomor ponselnya sendiri di dalam ponsel baru itu.


Setelah selesai membayar dokter Davin berterima kasih dan pamit pergi. Dia meraih bungkusan kartu tersebut di atas meja lalu meletakkan ke dalam tempat sampah. Melihat Fazila terburu-buru dia langsung mengejar sehingga kertas tadi lolos dari keranjang sampah dan tergeletak di lantai.


Seorang wanita yang mengawasi keduanya urung untuk pergi dan kembali ke counter tanpa Fazila ataupun dokter Davin curiga pada wanita tersebut karena menggunakan penutup kepala, tidak seperti biasanya.


"Ada yang bisa saya bantu, Mbak?" tanya petugas counter menyapa wanita tersebut.


"Isi pulsa 50 ribu Mas," ujar wanita itu sambil menyerahkan ponselnya dimana di layar ponsel tersebut memperlihatkan nomor kontaknya sendiri.


"Oke, sebentar!" Petugas itu meraih ponselnya sendiri dan mengetikkan sesuatu di sana sedangkan wanita tadi duduk, membungkuk ke lantai dan meraih kertas yang tertulis nomor telepon milik Fazila.


"Akhirnya aku dapat nomor Chila juga," batinnya. Senyum di bibirnya mengembang. Serangkaian rencana licik terangkum dalam otaknya.


"Sudah masuk Mbak pulsanya, ada yang lain lagi?"


"Tidak Mas, terima kasih," ujar wanita itu lalu bangkit dari duduknya kemudian benar-benar pergi.


Jam menunjukkan pukul 11 malam ketika mereka baru saja berkendara pulang ke rumah dokter Davin. Saat di perjalanan Isyana menelpon karena kedua anaknya belum kembali juga.


"Halo Tris! Kalian ada dimana?" Terdengar suara bernada khawatir dari dalam telepon.


"Masih baru balik dari jalan-jalan Ma."


"Jalan-jalan? Ya Allah! Kenapa tidak ngabarin sih dari tadi siang? Kau bikin Mama khawatir tahu, tiap menelpon kamu nggak pernah diangkat malah kayak dialihkan gitu."


"Kalau itu Tris tidak tahu Ma, mungkin operator lagi iseng Ma nggak ada kerjaan," ujar Tristan lalu terkekeh.


"Kamu nih pasti kena pencet tolak," kata Isyana.


"Mungkin sih Ma, tapi Tristan tidak sadar."


"Oh ya bagaimana keadaan Nak Davin? Katanya tadi pagi kecelakaan."


"Baik kok Ma, hanya jalannya saja agak pincang, selebihnya dia baik-baik saja."


"Alhamdulillah kalau begitu adikmu mana?"


"Ada Ma, bentar ya!" Tristan lalu menyodorkan ponselnya pada Fazila.


"Mama mau ngomong," ucap Tristan pelan seperti orang berbisik.


Fazila mengangguk dan meraih ponsel dari tangan Tristan


"Halo Ma, ada apa?" tanyanya basa-basi.


"Lagi dimana kamu, kok belum pulang juga sampai saat ini? Bukannya kata Abang kamu dokter Davin baik-baik saja ya?"


"Ya Ma, boleh enggak Chila nginap di sini?"


"Di sini, di mana maksudmu?"


"Iya di rumah dokter Davin dong Ma, lalu dimana lagi?"


"Nggak boleh! Cewek itu nggak boleh nginep di rumah cowok Chila! Apalagi hubunganmu belum jelas sama dia."


"Tapi Ma, Chila kan nggak sendiri, ada Bang Tris di sini."


”Jangan Chila Pokoknya kalian harus pulang!"


Terdengar helaan nafas panjang di telinga Isyana.

__ADS_1


"Pokoknya kamu harus balik!"


"Tapi Ma, dokter Davin masih kesulitan untuk berjalan jadi perlu seseorang untuk membantunya jika ia ingin mengambil sesuatu," ujar Fazila beralasan."


"Itu cuma alasan kamu saja, kan?" tuduh Isyana merasa curiga.


Wajah Fazila berubah masam, dia bukan kesal karena tidak diperbolehkan menginap di rumah dokter Davin melainkan malas untuk pulang karena waktunya sudah malam.


"Biar aku yang bicara sama mama. nanti kita cari penginapan atau menginap di hotel juga boleh," ujar Tristan mengulurkan tangan meminta ponsel yang ada di tangan Fazila.


"Biar saya yang bicara," ujar dokter Davin sambil mengambil ponsel di tangan Fazila sebelum akhirnya diambil oleh Tristan.


"Maaf sebelumnya Tante kalau saya lancang, tetapi saya mohon pada Tante untuk memberikan izin terhadap Fazila maupun Bang Tris untuk menginap di rumah saya, sebab ini sudah cukup larut malam jika harus kembali ke Jakarta. Jika harus mencari penginapan sekalipun ini akan sangat merepotkan mereka sementara di rumahku ada kamar kosong yang bisa mereka gunakan. Apakah Tante tidak percaya pada saya? Atau karena rumah saya tidak senyaman di rumah Tante?"


"Apaan sih Dok, mama orangnya nggak seperti itu," protes Fazila.


"Akting-akting," ucap dokter Davin melalui gerakan mulutnya tanpa mengeluarkan suara.


"Bukan begitu Nak Davin, Tante hanya tidak ingin merepotkan Nak Davin kalau Chila dan Tristan menginap di sana."


"Sama sekali tidak merepotkan kok Tante dan saya janji tidak akan melakukan hal buruk pada Chila," ujar dokter Davin dengan suara meyakinkan.


"Baiklah kalau begitu, saya titip putri saya ya Nak Davin. Tolong jaga dia baik-baik."


"Pasti Tante."


"Ya sudah kalau begitu, Tante tutup teleponnya dulu ya, sudah ngantuk ini. Katakan pada Chila jangan begadang langsung tidur kalau sampai rumah."


"Iya Ma, nanti habis shalat Isya Chila langsung tidur," timpal Fazila setelah mendekatkan mulutnya ke depan ponsel.


"Ya ampun! Jam segini kamu belum shalat isya juga? Yasudah Mama tutup teleponnya jangan lupa setelah sampai di rumah langsung shalat biar tidak kelupaan."


"Siap Ma."


"Bukan nurut lebih tepatnya sungkan," ujar dokter Davin dan Fazila hanya mengangguk lalu mengembalikan ponsel Tristan.


Lima belas menit kemudian akhirnya mereka sampai ke rumah.


"Kau masuk saja ke dalam biar aku yang bawa belanjaannya."


"Baik." Fazila langsung bergegas masuk ke dalam rumah kemudian masuk kamar mandi untuk mengambil wudhu untuk menunaikannya shalat yang tertunda.


Dokter Davin menyerahkan pakaian yang dipilihkan Fazila untuk Tristan tadi.


"Nih abang ganti baju biar tidak gatal pakai baju itu terus."


"Wah ternyata aku juga dibelikan ya," ujar Tristan sambil menerima paper bag di tangan dokter Davin.


"Terima kasih calon adik ipar," ucap Tristan sambil berlalu ke kamar kosong yang berada di samping kamar Fazila saat ini.


"Sama-sama," ujar dokter Davin sambil menaruh belanjaan yang lain di atas sofa. Kemudian pria itu berlalu menuju kamar dan mengambil air hangat untuk mengompres betisnya yang terasa kaku karena sempat tertindih badan motor saat terjatuh pagi tadi.


Dokter Davin kembali dengan Baskom berisi air panas dan kain kompres di tangan. Ia meletakkan benda tersebut sebelum akhirnya duduk dan menarik celana panjangnya hingga ke lutut.


"Ah!" Dia meringis tatkala kain celana itu menyentuh lukanya yang sengaja dia biarkan terbuka tanpa perban karena memang bukan luka yang serius. Namun, tetap saja rasa perih sangat terasa ketika bergesekan dengan pakaian.


Lalu pria itu langsung mengompres di bagian yang terasa kaku, yang seakan sulit untuk digerakkan.


"Auw." dokter David kembali meringis tatkala air itu tidak sengaja menyentuh lukanya dan semakin menambah rasa perih.


Dia bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kotak obat yang berada di rak bawah televisi. dia membuka kotaknya dan mengambil salep dari dalam kotak tersebut kemudian membawanya ke meja.


Di saat yang sama, Fazila baru saja menyelesaikan shalat isya dan keluar kamar untuk mengambil ponsel dan baju-baju yang telah dibelikan oleh dokter Davin.

__ADS_1


"Ternyata lukamu banyak juga Dokter, kenapa kamu masih menyempatkan diri untuk berjalan-jalan? Padahal kau tidak berbelanja apapun selain hanya sepotong kemeja."


Dokter Davin mendongak mendengar suara Fazila.


"Mumpung ada kamu Chila, setelah ini kita tidak akan punya waktu untuk berjalan-jalan lagi, kan? Aku mungkin akan kembali kepada kesibukan sementara kau juga akan kembali ke pesantren."


"Biar aku bantu!" Fazila langsung mengambil salep di tangan dokter Davin.


"Yakin kau akan membantuku?" tanya dokter Davin ragu sebab Fazila seringkali menolak jika ia menyentuh kulitnya.


"Iya kenapa?"


"Tidak jijik dengan darah yang masih menempel?" dokter Davin masih ingat saat Fazila muntah karena melihat dirinya melahap sisa makannya tadi pagi. Meskipun Fazila berkilah dengan alasan lain, tetapi sebenarnya dokter paham dengan apa yang membuat gadis itu muntah secara tiba-tiba.


"Nggak, sini aku oleskan!" Fazila menyentuh betis dokter Davin lalu mengoleskan salep dengan hati-hati.


Dokter Davin tak bergeming, dia hanya tersenyum melihat Fazila yang begitu telaten mengobati luka-lukanya. Pria itu sampai tak berkedip menatap wajah Fazila yang tampak serius.


"Sudah, kalau begitu aku kembali ke kamar," ujar Fazila lalu menutup mulutnya yang menguap lalu mengambil paper bag miliknya dan menenteng menuju kamar.


"Terima kasih Chila!" seru dokter Davin membuat Fazila langsung menghentikan langkah dan menoleh.


"Sama-sama Dokter, dan terima kasih juga."


"Atas?"


"Semuanya," ucap Fazila lalu tersenyum.


Dokter Davin mengangguk.


"Good night Chila, semoga mimpi yang indah!" seru dokter Davin.


"Thank you. Met mimpi indah juga Dok," ujar Fazila kemudian melanjutkan langkah menuju kamar untuk beristirahat.


Esok hari Fazila terbangun di jam subuh. Setelah menunaikan shalat subuh, gadis itu beranjak menuju dapur untuk melihat stok bahan makanan di sana. Barangkali ada yang bisa dia masak meskipun hanya menu sederhana yang bisa yang dia olah.


"Biasanya setiap pagi, siapa sih yang masakin untuk dokter Davin? Kenapa dia hanya tinggal seorang diri tanpa seorang pembantu? Apa iya dia mau masak sendiri sementara setiap hari dia sibuk bekerja? Lagipula tidak mungkin dokter Davin bisa memasak," gumam Fazila.


Namun, argumennya dipatahkan saat dia memasuki dapur dan melihat dokter David sudah berkutat di dalamnya.


"Hah dokter Davin masak?" tanyanya kaget.


"Eh Chila, ada perlu apa? Apa sudah lapar?"


"Dokter masak?" tanya Fazila tidak menghiraukan pertanyaan dari dokter David sebelumnya.


"Ya seperti yang kau lihat."


"Masa apa?" Fazila berjalan mendekat dan memeriksanya.


"Sup ayam, dokter biasa sarapan menu ini?"


"Tidak juga, aku biasanya sarapan salad buah salad sayur atau sandwich aja."


"Diet?"


"Nggaklah, hanya kebiasaan saja."


"Terus ini buat siapa?"


"Tentunya buat kamu. Makanan ini baik untuk orang yang sakit atau baru sembuh dari sakit," jelas dokter Davin membuat Fazila hanya manggut-manggut saja padahal dalam hati bersorak kegirangan karena dokter Davin memberikan perhatian lebih untuknya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2