DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR

DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR
Bab 65. Gertakan


__ADS_3

"Mana mungkin Dok? Itu hape dokter, bagaimana mungkin aku yang melakukannya?" elak suster Tantri. Tidak ingin dokter Davin menuduhnya macam-macam meskipun memang dialah pelaku yang sebenarnya.


"Terus kau ingin mengatakan aku yang balas pesan Chila, begitu?!" gertak dokter Davin.


"Mana aku tahu Dok," ucap suster Tantri sambil mengangkat kedua bahu, pura-pura tidak tahu apa-apa dan mencoba bersikap tenang agar dokter Davin dan semua orang tidak curiga.


"Mungkin keluarga dokter atau teman-teman yang lain," lanjut suster Tantri.


Fazila memicingkan mata, mengamati ekspresi suster Tantri dengan seksama. Barangkali dia bisa mendapatkan jawaban lewat gerak-gerik dan mimik wajah perempuan itu.


Dokter Davin tersenyum kecut.


"Maksudmu, nenek Salma begitu? Kau tahu? Nenek Salma bahkan tidak tahu main chating seperti ini. Dia hanya bisa menelepon dan menerima telepon!" Dokter Davin menatap suster Tantri dengan wajah merah padam, berusaha menahan amarah.


"Bu–bukan beliau maksudku, mungkin keluarga yang lain karena mereka tahu bocah ini sering mengganggumu dulu." Suster Tantri terlihat cemas, terbukti dengan nada bicaranya yang terdengar gugup.


Fazila mencebik mendengar suster Tantri mengatakan dirinya bocah. Wanita itu memang benar-benar menyebalkan di mata Fazila. Seandainya tidak dosa ingin rasanya Fazila mencakar muka suster Tantri dan merobek mulut wanita yang suka seenaknya bicara itu dan suka membolak-balikkan fakta.


"Aku tidak ada keluarga yang terlalu dekat selain nenek Salma, dan beberapa tahun ini jarang sekali berinteraksi dengan mereka langsung."


"Mu–mungkin teman-teman Dokter." Suster Tantri masih saja mencari-cari cara untuk mengelak tuduhan itu. Selama bisa, dia tidak akan pernah mau mengakuinya.


Dokter Davin menggelengkan kepala.


"Hah, sudahlah suster kau mengaku saja, dengan begitu aku bisa memaafkan mu dan mungkin juga masih akan


mempertimbangkan dirimu untuk tetap bekerja denganku. Aku hanya butuh pengakuan agar semua orang tidak menuduhku jahat. Kau tahu, apa yang kamu lakukan ini selain bisa mencelakai Fazila juga jatuhnya fitnah pada diriku." Dokter Davin mencoba bicara halus agar wanita itu luluh dan suster Tantri hanya menjawab dengan gelengan kepala. Mengaku, sama saja dengan membawa dirinya masuk ke dalam kandang serigala.


"Sudahlah dokter Davin, tidak perlu mencari kambing hitam dari masalah ini karena kambingnya ... kau sendiri. Kambing hitam akan tetap hitam meskipun diberikan pakaian putih begitupun sebaliknya, dia akan tetap kembali putih meskipun kau cat sekalipun." Nathan tersenyum sinis dan suster Tantri terlihat mengangguk senang karena Nathan seolah membela dirinya.

__ADS_1


"Kau mencoba mengelak ya? Rupanya kau ingin bermain-main denganku," ancam dokter Davin tak perduli dengan sindiran Nathan. Ia lalu keluar dari kamar rawat Fazila.


Sampai di luar pintu pria itu menoleh.


"Tunggu di sini, jangan kemana-mana! Kalau tidak, detik ini juga aku pecat kamu dari posisimu sekarang!" Dokter Davin menunjuk ke arah suster Tantri lalu melanjutkan langkahnya kembali.


Suster Tantri membeku, pekerjaannya terancam sekarang. Dokter Davin bisa saja mencari pengganti dirinya secepat mungkin dan dia akan kehilangan mata pencaharian. Apa yang ia akan makan nanti kalau sudah tidak bekerja sementara selama ini dia bisa diterima bekerja di rumah sakit atas rekomendasi dokter Davin?


Tidak jauh berbeda dengan Fazila dan Zidane, mereka juga terdiam sejenak dan saling pandang, tidak pernah menyangka kalau di pagi mereka akan terjadi pertengkaran seperti ini antara dokter Davin dan asistennya.


Sementara Nathan hanya terlihat senyum-senyum saja. Sesuai perjanjian, kalau dokter Davin tidak bisa membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah, maka sebagai pria gentleman dia harus menepati janjinya untuk menjauh dari kehidupan Fazila.


"Bagaimana Chila, apa kau masih menginginkan pria pengecut seperti dia?" Nathan duduk di samping tempat tidur sang adik.


"Aku yakin dia tidak bersalah. Sepertinya kita hanya salah paham Bang," jelas Fazila mencoba menyimpulkan dari ekspresi wajah dokter Davin dan suster Tantri sendiri. Sekarang ia yakin bahwa ternyata yang menjebak dirinya adalah suster yang berdiri di hadapannya.


"Kau terlalu bucin sama dia Chila hingga tidak pernah bisa berpikir secara logis, bahwa dia tidak tulus mencintaimu. Sudah berapa kali Abang katakan? Dia itu tidak mencintaimu. Dia ingin mencelakaimu dan ketika sadar tidak berhasil dia menggunakan cara halus untuk bisa masuk ke dalam keluarga kita dan kau hampir saja masuk dalam perangkap.


"Logis sedikit dong Bang! Hati dan logika harus seimbang biar tidak oleng dalam meniti kehidupan. Kalau Abang yakin Kak Chexil mencintai dan setia pada Abang, maka seberat apapun godaan yang menghadang, tidak sedikitpun akan membuatnya goyah. Dasar posesif sama istri, jadi su'udzon pada orang lain." Fazila tidak terima dengan perkataan Nathan, baginya bukan dia yang bucin tapi Nathan sendiri.


"Sudah-sudah! Apa sih yang kalian perdebatkan?" protes Zidane tidak ingin kedua anaknya lebih jauh dalam berdebat hingga akhirnya menjadi pertengkaran yang serius.


"Chila! Chila! Dibilangin malah ngeyel. Senang banget dijadikan pelampiasan?"


"Bang!"


"Sudah! Sudah! Nath mending kau ke kantor pagi ini! Papa sedang tidak enak badan. Jadi hari ini kau yang bekerja!"


"Baik Pa," sahut Nathan lalu bergegas pergi. Namun, langkahnya terhenti di depan pintu karena melihat dokter Davin kembali bersama seorang wanita dengan langkah terburu-buru.

__ADS_1


"Belum lima menit sudah membawa gadis lain, bagaimana kalau sampai hidup bersama Chila? Tahu-tahu tuh anak nangis karena sering diselingkuhi," batin Nathan.


"Suster Tantri!" panggil dokter Davin membuat semua orang langsung menatap ke wajah pria itu termasuk suster Tantri yang sedari tadi terdiam.


"Aku kasih kesempatan sekali lagi untuk kamu bicara jujur. Katakan pada semua orang bahwa yang mengirim chat ini pada Chila adalah dirimu bukan aku!"


"Tapi Dok–!"


"Aku ingat betul, di tanggal ini, di tahun ini, dan di jam ini aku bersamamu untuk pindah tugas. Namun, aku tidak sengaja meninggalkan ponselku di dalam mobil ketika berhenti di pinggir jalan dan aku sendiri langsung masuk ke dalam masjid."


"Aku tidak tahu apapun, jadi jangan memaksa aku untuk mengaku terhadap apa yang tidak kulakukan Dokter."


"Hmm, baiklah. Kalau kamu tidak bisa berkata jujur maka mungkin dengan kejutanku kamu akan berubah pikiran."


Dokter Davin menepuk tangan dan masuklah seorang wanita ke dalam kamar rawat Fazila dengan senyuman yang mengembang. Senyum yang membuat suster Tantri tidak karuan.


Melihat wanita tersebut, suster Tantri ketar-ketir. Mendadak tubuhnya panas dingin.


"Mau ... apa ... dia kemari?" tanya suster Tantri dengan raut wajah ketakutan.


"Membuka aib di masa lalu yang bisa menyeret seseorang ke dalam kantor polisi," sahut dokter Davin membuat wajah suster Tantri langsung pias dan berubah pucat.


"Aku tidak meminta hal yang susah atau mengarang cerita. Aku hanya ingin kau jujur, tapi sayangnya kau lebih memilih berdusta dan kehilangan pekerjaan juga kebebasan. Ya, mungkin hidup di buih lebih menantang bagimu dibandingkan di alam bebas! Benar, kan Suster Tantri?"


Suster Tanti menelan ludah mendengar ancaman dokter Davin.


"Aku beri kesempatan lima detik untuk memilih, kuhitung! Satu, dua ti–"


"Baik aku mengaku, memang aku yang melakukan itu," aku suster Tantri membuat semua orang terbelalak.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2