
"Ih jorok, ngapain kamu nyemplungin baju cucianmu ke dalam bak mandi itu!" protes Fazila sambil menunjuk bak mandi yang terbuat dari semen di dalam kamar mandi khusus santriwati yang kebetulan pintunya tidak ditutup itu.
"Emangnya kenapa?" Santri yang diajak bicara oleh Fazila mengernyit.
"Ini lebih dari dua kulla, jadi mau diapain akan tetap suci."
"Ih itu jadi kotor aku merasa jijik." Sepertinya Fazila harus mengurungkan niatnya untuk mandi jika semua santriwati seperti yang dihadapinya sekarang.
"lebay," ejek santri tadi. Mentang-mentang anak orang kaya. Ingat kata mak Nyai semua status kita di sini sama. Sama-sama hanya santri," ucap santri tadi membuat Fazila urung lagi untuk pergi.
Fazila kembali mendekat. "Seharusnya suci itu juga tidak kotor. Kalau kamu nyemplungin pakaian yang masih banyak detergennya itu maka akan berbahaya pada tubuh kita."
"Emang kamu dokter apa sok pintar seperti itu?!"
"Cih, tidak perlu jadi dokter hanya untuk tahu itu."
"Pantas saja aku lihat banyak santriwati di sini yang korengan, jangan-jangan karena kamu nyunci bajunya begitu. Kulit mereka terkontaminasi dengan deterjen dan air kotor."
"Enak aja nyalahin saya. Emang dasar tubuh mereka aja yang sensitif. Lagian bukan cuma saya saja kok yang lain juga."
"Makanya airnya jadi kotor." Fazila menampakkan raut wajah jijiknya membuat santri itu ilfil pada Fazila.
"Yang lain nggak masalah, kok kamu yang protes?!"
"Terserah pokoknya aku tidak mau mandi di situ." Fazila malah pergi ke sebuah kran mandi khusus berwudhu di sebelah kamar mandi karena kamar mandi yang lain masih tertutup yang artinya masih ada santriwati yang mandi di dalam.
Fazila mandi dengan tubuh yang masih terbungkus pakaian.
Santri tadi menggeleng lalu menghentikan aktivitasnya. Ia melapor tentang Fazila yang melanggar aturan. Yaitu telah mandi di tempat yang tidak dianjurkan.
Dua orang pengurus datang dan berjalan ke arah Fazila dan menegur. Dia menyampaikan bahwa Fazila harus dihukum.
Gadis itu tidak terima, tidak mau dihukum. Fazila melawan sehingga menimbulkan rasa tidak suka pada pada diri ketiga gadis itu. Dua santri pengurus dan santri yang tadi melapor.
"Jangan melawan ya kamu! Sudah tahu, kan apa jabatan saya di sini?"
Fazila terdiam dia mengingat sesuatu, saat ketika ia telat naik ke Masjid untuk shalat berjamaah. Salah satu perempuan ini yang melapor pada Nyai hingga dia harus dihukum untuk membersihkan toilet. Heni, ya perempuan itu adalah Heni.
"Cih jadi pengurus aja belagu. Jadi pengurus aja syok. Sok ngelarang santriwati lain melakukan kesalahan. Dikit-dikit lapor. Telepon sama keluarga aja dibatasi dirinya sendiri malah teleponan sama cowok nggak kenal waktu. Pantas nggak sih jadi pengurus?"
"Kamu ya, minta dipites kayaknya." Kedua pengurus itu geram dan langsung mendekati Fazila dengan posisi seperti orang mencekik.
__ADS_1
"Aaaaa!" Fazila langsung berteriak heboh membuat para santriwati lain berkerumunan ke arahnya. Bahkan banyak dari mereka yang hanya menggunakan handuk saja. Karena saking kagetnya, mereka langsung menghentikan mandinya dan keluar dari kamar mandi.
"Ada apa ini?" Ustadzah Ana lari terburu-buru menghampiri kerumunan para santri.
"Ini ustadzah, Fazila bertengkar dengan dua pengurus ini," jawab santriwati yang kedapatan oleh Fazila mencuci baju secara tidak wajar di kamar mandi tadi.
"Ustadzah mau kalian jelaskan apa masalahnya!" perintah ustadzah Ana agar mereka langsung berbicara pada intinya. Santriwati yang mencuci baju itu pun menceritakan ketika dirinya diprotes oleh Fazila dan gadis itu malah memilih mandi di tempat yang dilarang untuk mandi. Namun, ketika ditegur oleh pengurus Fazila melawan.
"Habisnya aku jijik ustadzah masa aku harus mandi bekas cucian dia. Iya kalau dia tidak punya penyakit kulit yang menular kalau punya bagaimana? Bisa rusak nih kulit Fazila," ucap Fazila sambil menunjuk kepada santriwati tadi.
"Jelaskan Ratih apa ini maksudnya?"
Santri yang bernama Ratih itu pun menjelaskan dengan sombongnya. Dia yakin dia yang benar maka Fazila pasti akan kena marah karena telah melanggar aturan.
"Bukankah kalau air yang dua kulla atau lebih jika kemasukan hal najis pun tetap suci ya Ustadzah. Itu kata ustadz."
"Tapi aku jijik melihatnya Ustadzah. Bukankah sesuatu yang halal saja kalau kita jijik hukumnya berubah haram, kan ustadzah?"
"Betul," jawab ustadzah Anna membenarkan perkataan Fazila.
"Tapi ini beda Chila ini masalah suci bukan masalah halal. Yang ustadz ajarkan ya itu tadi kalau memasukkan barang najis tetap suci." Ratih tetap ngotot.
"Oh ya sudah kalau begitu besok aku akan boker di sana. Jangan dibuang ya airnya. Tetap gunakan untuk mandi dan cuci baju, kan masih suci."
"Hah apa-apaan sih kamu." Ratih mendorong tubuh Fazila ke belakang karena kesal dengan ucapannya. Fazila tidak mau kalah dia membalas mendorong tubuh gadis itu. Dia tidak takut toh ustadzah melihat siapa yang memulai.
"Sudah-sudah malah senang membuat keributan. Mau kalian aku hukum semuanya?"
"Tidak ustadzah," jawab mereka serempak.
"Masalah air yang najis atau suci ustadzah akan jelaskan lebih detail lagi."
Mereka semua mengangguk.
"Baiklah ustadzah akan mulai menjelaskan. Apabila ada air yang jumlahnya 2 qullah lalu terkena najis, menurut Imam Syafi’i, Imam Maalik, Imam Hanafi, dan Imam Ahmad, sepakat bahwa air tersebut suci kecuali apabila air tersebut berubah rasa, bau, maupun warna, maka air tersebut hukumnya najis. Namun jika sifat-sifatnya tidak berubah maka perlu ditinjau apakah air tersebut mencapai dua qullah atau tidak. Jika air tersebut mencapai dua qullah maka hukumnya tetap suci, akan tetapi apabila air kurang dari dua qullah maka hukumnya mutanajis. Mengerti?"
"Mengerti ustadzah," jawab mereka serempak.
"Jadi apa kesimpulannya mengenai air dalam kamar mandi ini?"
"Tetap suci kalau warna, bau dan rasanya tidak berubah," jawab salah seorang santri.
__ADS_1
"Dan saya yakin pasti rasanya sudah berubah, bau detergen dan bau badan si Ratih," jawab Fazila membuat Ratih melotot ke arah Fazila.
"Kalau kata Fazila tadi mau boker di situ berubah nggak sifat airnya?" tanya ustadzah lagi.
"Bau eek ustadzah, ih." Seorang santri jijik membayangkannya.
"Terus kalau sebagian besar kalian cuci bajunya seperti Ratih tadi, kira-kira berubah nggak sifat airnya?" tanya Ustadzah Anna lagi.
"Berubah ustadzah."
"Tidak ustadzah," jawab yang lain.
"Tidak lah ustadzah orang warnanya masih tidak berubah," jawab salah satu pengurus siswa tadi.
"Kalau ingin bukti silahkan dicicipi," tantang Fazila, sontak dia mendapatkan pelototan lagi.
"Tidak berubah!"
"Berubah!"
Para santri masih saja berdebat.
"Hindarkan keragu-raguan. Lebih baik berhati-hatilah dalam mengambil semua tindakan. Kan di kamar mandi ada gayung. Kita manfaatkan saja daripada was-was."
"Baik Ustadzah terima kasih atas pencerahannya," ucap salah seorang santriwati.
"Cepat mandi sebentar lagi waktunya sekolah. Jangan sampai ada yang telat lagi." Ustadzah Anna memperingatkan.
"Baik ustadzah," jawab mereka serempak.
"Kamu Fat dan Heni kalau ada hal beginian beritahu ustadz atau ustadzah biar tidak menghakimi sendiri." Ustadzah Ana memperingatkan karena mendengar perkataan Fazila bahwa keduanya hampir mencekik dirinya hanya karena kesal.
"Kamu kalau jijik mari ikut ustadzah. Mandi di kamar mandi para ustadzah," ucap ustadzah Ana pada Fazila.
Wanita itu mengangguk sambil tersenyum.
"Ayo!"
"Baik ustadzah, terima kasih."
"Skornya dua banding satu," ucap Fazila pada pengurus itu sambil berjalan mengikuti ustadzah Ana.
__ADS_1
Mereka berdua membelalakkan matanya karena melihat Fazila semakin berani saja. Terutama Heni yang semakin benci pada Fazila.
Bersambung....