DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR

DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR
Bab 110. Penuturan dokter Davin


__ADS_3

"Halo Bang, aku ingin bertanya sesuatu."


"Ya halo, siapa ini?"


"Saya Bang, Chila."


"Oh Chila toh, ini nomor siapa?"


"Nomor pesantren."


"Aih ada di pesantren, tak kirain di rumah. Ada yang pentingkah hingga nelpon Bang Dim?"


"Iya, Bang. Apa Bang Dimas nggak mengirimkan sesuatu pada Chila di pesantren?"


"Nggak ah, memang aku ngirimin apa?" Dimas yang ditelpon pun kebingungan mendengar pertanyaan dari Fazila.


"Ngirimin tulang tengkorak sama darah dalam kotak kado."


Dimas yang sedang menyeruput jus buah naga menyemburkan minumannya hingga mengenai wajah Tristan.


"Astaga Dimas! Bisa nggak sih kalau makan atau minum gitu ya elegan dikit? Malah sembar-sembur kayak Mbah dukun," keluh Tristan sambil mengelap pipinya dengan tisu. Wajah pria itu terlihat begitu kesal.


"Kayak suara Bang Tris," gumam Fazila.


"Ya, Bang Dim memang lagi bersama Bang Tris. Gara-gara kamu yang omongannya ngelantur Bang Dim jadi kena semprot Abangmu nih gegara wajahnya sudah kayak vampir yang menghisap darah," celoteh Dimas


"Aku yang kena semprot bukan kamu," geram Tristan.


"Tapi benar loh Chila, Abang Dimas nggak ngirim sesuatu apalagi yang begituan. Nggak ada kerjaan apa."


"Bang Dimas, kan memang nggak ada kerjaan, paling senengnya ngerjain suster Dinda eh tapi sekarang lagi LDR."


"Aku tak segalau itu Chila hingga harus mengirimkan barang aneh padamu cuma gara-gara berjauhan dengan suster Dinda."


"Apa sih yang dia tanyakan?" tanya Tristan lalu menyeruput jus jeruk dalam gelas.


Ada yang ngirimin Chila kado isi tengkorak yang dibubuhi darah segar," jelas Dimas.


"Prrruut."


"Ampun deh Tris! Tadi bilang kalau makan dan minum harus elegan, dirimu sendiri malah menyemburkan minuman ke wajahku," protes Dimas.


"Satu-satu!" seru Tristan.


"Kau ingin balas dendam rupanya."


"Sttt! Mana ponselnya aku ingin ngomong sama Chila!" Tristan langsung menyambar ponsel di tangan Dimas.


"Ada apa Chila? Tumben nelpon Dimas?"


Melalui sambal telpon Fazila menceritakan perihal kado aneh tersebut.


"Mana mungkin kami melakukan hal yang bisa membuatmu kepikiran? Bisa-bisa kamu nggak betah di pesantren."


"Aku pikir karena sebentar lagi ultah Chila, jadi kupikir Abang atau yang lainnya iseng gitu biar Chila nangis."

__ADS_1


"Nggaklah, kami jauh juga buat apa ngirim-ngirim begituan? Eh, tapi kamu baik-baik saja, kan di pesantren?"


"Iya, Bang."


"Alhamdulillah. Ya sudah yang penting kamu baik-baik saja dan tetap tenang serta selalu waspada. Mungkin cuma teman kamu itu yang iseng."


"Iya Bang, semoga saja ya, Bang. Udah dulu ya Bang kalau kelamaan enggak enak sama teman-teman."


"Oke."


"Assalamualaikum!"


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi."


Setelah mengakhiri panggilan telepon dengan Dimas dan Tristan, Fazila kini beralih menelpon dokter Davin.


"Nggaklah Chila, buat apa aku nakut-nakutin kamu? Yang ada bikin kamu tidak tenang di sana dan kalau sudah begitu aku jadi jauh lebih tidak tenang."


"Tapi siapa ya pelakunya? Nggak mungkin anak pesantren, satu-satunya musuh di sini sudah bertekuk lutut."


Dokter Davin menggeleng mendengar penuturan Fazila. Dalam hatinya merasa heran, Fazila sedang mencari ilmu di pesantren atau malah mencari musuh.


"Apa mungkin ...." Dokter Davin ragu untuk melanjutkan perkataannya.


"Mungkin apa?"


"Ah nggak, nggak ada apa-apa." Dokter Davin menghembuskan nafas berat. Merasa dilema antara mau memberitahukan ataukah tidak.


"Kamu berbohong, kan? Aku tahu kau ingin mengatakan sesuatu. Kalau begini aku jadi tambah tidak tenang." Suara Fazila terdengar merajuk.


"Aku akan cerita, tetapi berjanjilah untuk tetap tenang dan jangan terlalu dipikirkan. Yang penting kamu di sana harus selalu waspada dan Jangan pernah keluar pesantren sendirian. Nanti kalau misal ada acara di luar pesantren kabari aku ya, biar aku nyuruh orang buat ngawasin kamu."


"Ada apa sih Dokter? Kok kayak gawat gitu? Pakai di awas-awasin segala?"


"Berjanjilah dulu, kau akan tetap tenang dan tidak akan kepikiran."


"Oke, aku janji."


"Aku pegang janji kamu."


'"Iya ah, buruan kasih tahu ada apa yang sebenarnya!" Fazila tak sabaran. Penasaran apa yang akan diceritakan oleh dokter Davin.


"I miss you," ucap dokter Davin lalu terkekeh.


"Jangan basa-basi! Buruan katakan, sebentar lagi masuk kelas nih!"


"Iya-iya." Padahal dokter Davin ingin mengalihkan pembicaraan. Siapa tahu pembicaraan yang tegang akan beralih ke yang manis-manis.


"Please!"


"Oke, Chila."


"Hmm."


"Kau harus berhati-hati karena suster Tantri bisa saja mengincar dirimu."

__ADS_1


Belum apa-apa Fazila sudah syok duluan. Gadis itu terdiam sebentar.


"Chili, area you okay?" Deru nafas dokter Davin kentara bahwa pria itu sangat khawatir.


"I am okay. Don't worry!"


"Oke, aku tahu kamu kuat, tangguh dalam menghadapi apapun. Jadi kali ini pun aku yakin kau akan baik-baik saja."


"Kenapa suster Tantri menginginkan aku?"


"Dia benci karena aku memilihmu."


"Cinta banget ya dia sama kamu?"


"Itu bukan cinta Chila, tapi terobsesi saja. Orang yang seperti itu sangat berbahaya. Kalau cinta tidak akan sampai nekat bertindak di luar nalar. Orang yang mencintai seseorang akan lebih mudah mengalah demi kebahagiaan orang yang dicintainya, tetapi orang yang terobsesi akan mengklaim sesuatu itu miliknya dan akan terus memperjuangkan meskipun caranya salah." Dokter Davin menarik nafas panjang.


"Termasuk melenyapkan orang yang dicintainya agar tidak dimiliki orang lain ataupun melenyapkan orang yang dipilih oleh orang yang menjadi obsesinya."


"Serem sekali."


"Apa-apa yang serem?" Ketiga teman-teman Fazila sudah duduk di samping gadis itu. Fazila memberikan isyarat agar mereka diam sebentar.


"Makanya kau jangan sampai keluyuran di luar pesantren seorang diri, aku takut peristiwa lalu terulang kembali."


"Apa itu?"


Dokter Davin mendesah kasar, menyesali dirinya yang keceplosan. Kalau sudah begini Fazila akan terus mencecarnya hingga dapat jawaban.


"Nggak ada."


"Dokter! Kau itu tunanganku, haruskah ada yang disembunyikan dariku? Kau mengkhawatirkan aku tidak? Tolong ceritakan semuanya agar aku tahu apa yang harus aku lakukan!" tegas Fazila dengan suara yang keras hingga para santri yang berada di sekitar menoleh ke arahnya.


"Afwan," ucap Fazila karena telah menganggu ketenangan di sana. Seseorang mengangguk kemudian melanjutkan aktivitasnya kembali.


"Chila, kau tahu–?"


"Tidak," potong Fazila sebelum dokter Davin melanjutkan ceritanya.


"Makanya dengerin dulu! Jangan main potong-potong ucapan segala."


"Iya, sorry."


"Dulu ketika kamu sakit dan terbaring di rumah sakit, ada seorang dengan berpakaian suster datang ke kamarmu, dan hendak menyuntikan sesuatu ke dalam cairan infus. Untung saja saat itu Abang Tris segera datang sehingga orang tersebut langsung melarikan diri sebelum sempat melakukan kejahatannya. Kau tahu? Setelah aku periksa cairan apa itu, itu adalah cairan yang bisa membunuhmu, cairan mematikan."


Fazila terlonjak kaget mendengar cerita dokter David yang tidak pernah ia tahu sebelumnya, karena baik dokter Davin sendiri maupun keluarga Fazila tidak pernah menceritakan hal itu kepadanya. Mungkin takut akan membuat mentalnya semakin down sebab saat itu Fazila memang berada dalam tahap yang tidak baik-baik saja.


"Siapa pelakunya? Apakah suster Tantri dan teror ini ada kaitannya dengan orang itu? Kenapa tidak dilaporkan ke polisi saja?" Fazila mulai merasa cemas sebab mulai mengerti kado yang dikirimkan padanya bukanlah hal sepele seperti yang dipikirkannya. Kalau sebelumnya dia berpikir hanya kiriman seseorang yang iseng saja, sekarang dia berpikir lain. Kado itu adalah sebuah pertanda ancaman untuknya.


"Waktu itu saya dan Bang Tris sudah mencoba mencari tahu, tapi tak berhasil menemukan siapa pelaku tersebut. Lalu beberapa hari yang lalu saya sudah menemukan bukti dan langsung melaporkan kepada polisi. Sekarang suster Tantri sedang menjadi buronan polisi."


Fazila menghembuskan nafas panjang.


"Yang terpenting kamu hati-hati ya. Nanti saya akan menyampaikan tentang teror yang terjadi padamu biar para polisi menyelidiki dan kalau benar itu dari suster Tantri paling tidak polisi bisa memprediksi keberadaan wanita itu sekarang."


"Iya," jawab Fazila dengan suara lirih membuat teman-temannya paham bahwa kabar yang didengar Fazila adalah kabar buruk.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2