DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR

DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR
Bab 69. Mencurigakan


__ADS_3

"Tris kamu hari ini nggak ada job?" tanya Isyana saat Tristan kembali dari membeli makanan.


"Nggak ada Ma, seminggu ini


Tristan memang sengaja kosongin jadwal, nggak nerima job dulu. Tristan nggak mau malah sakit kalau kerjanya divorsir."


"Nah betul itu kalau bisa jangan terlalu ngoyo, uang nggak dibawa mati Tris dan keuangan kita juga nggak kekurangan meskipun kamu nggak kerja tiap hari. Jadi, kalau misal bisa ambil cela untuk libur, manfaatkan saja. Kesehatanmu jauh lebih penting dari sekedar pekerjaanmu itu."


"Iya Ma, Tris paham kok, makanya nggak mau ambil kontrak banyak biar nggak terikat terus. Kalau misalnya nanti Tristan nggak laku dibidang tarik suara dan akting, Tristan mau berbisnis saja."


"Bagus, kalau bisa mulai sekarang membuka bisnisnya biar nanti bisa langsung jalan," saran Zidane.


"Iya Pa, nanti Tris pikirin dulu apa sekiranya yang cocok dan menghasilkan untuk zaman sekarang."


"Kuliner bisa," usul Zidane.


"Yang lain aja deh Pa, Tris nggak mau saingan sama Mas Lexi," ujar Tristan.


"Yasudah kau pikirkan matang-matang dulu usaha apa yang sekiranya bisa memberikan keuntungan banyak untukmu."


Tristan mengangguk.


"Ayo makan dulu Pa!"


"Oke."


Fazila yang sudah selesai makan kini tampak terbaring dan memejamkan mata. Kali ini dia sudah benar-benar mengantuk.


Isyana masih tampak sibuk mengompres kening Fazila sedangkan kedua pria di sampingnya fokus makan tanpa ada yang bersuara.


Seorang perawat datang bersama seorang dokter dan menyapa semua orang.


"Silahkan Dok!" ucap Isyana lalu bangkit dari tepi ranjang untuk memberikan ruang bagi dokter tersebut agar bisa leluasa memeriksa putrinya.


"Makan Dok!" Zidane berbasa-basi menawarkan makanan padahal tidak ada makanan lagi yang bisa dimakan kecuali dalam wadah yang sudah ia sendok.


"Wah terima kasih Pak Zidane, saya sudah kenyang karena baru saja makan siang tadi. Silahkan Bapak lanjutkan makannya saja," ujar dokter tersebut sambil tersenyum ramah.


Zidane mengangguk dan melanjutkan mengunyah makanannya. Begitu pula dengan Tristan.


"Bagaimana Dokter?" tanya Isyana setelah melihat dokter selesai memeriksa keadaan putrinya.

__ADS_1


"Keadaan pasien sudah mulai membaik. Kalau


perkembangannya begini terus mungkin besok sore sudah bisa dibawa pulang," sahut dokter sambil menyuntikkan obat pada cairan infus yang tergantung.


"Oh, syukurlah kalau begitu Dok, terima kasih atas segala penanganan yang baik selama putri saya dirawat di sini."


"Sama-sama Bu Isyana, itu memang kewajiban kita memberikan pelayanan yang terbaik untuk pasien dan keluarganya."


"Iya Dok."


"Jangan lupa makannya dijaga ya, jangan sampai telat makan. Perut pasien jangan sampai dibiarkan kosong."


"Baik Dok."


"Baiklah kalau begitu kami permisi dulu untuk menangani pasien yang lain. Kalau ada apa-apa langsung hubungi saya saja."


"Baik Dok."


"Tris, Mama bisa minta tolong?"


"Boleh Ma minta tolong apa? Kalau Tris bisa pasti Tris akan lakukan."


"Cuma mau minta kamu yang jagain adik kamu. Mama baru ingat harus ketemu klien hari ini untuk membicarakan pesanan mereka yang dalam partai besar. Rencananya saya mau minta antar sama papa. Boleh 'kan Pa?"


"Baiklah kalau begitu kita berangkat sekarang!" ajak Isyana sambil bangkit dari duduknya dan menentang tas miliknya.


"Yuk!" Zidane pun ikut bangkit dan menggandeng tangan istrinya.


"Jaga yang benar ya Tris, jangan sampai ditinggalkan itu Chila!" pesan Zidane.


"Iya Pa," sahut Tristan dalam hati merasa aneh saja seolah Chila akan ada yang menganggu sehingga papanya mengatakan jangan sampai meninggalkan Fazila.


"Emang siapa juga yang akan menculik Chila? Emang dia bayi yang bisa saja diperjualbelikan? Hah papa ada-ada saja," gumamnya.


Bersamaan dengan itu ponsel Tristan berbunyi. Setelah di cek ternyata mertua perempuannya. Tania meminta Tristan untuk menjemputnya di luar karena kebingungan mencari kamar rawat Fazila.


"Sebentar Tante, Tris keluar dulu!" seru Tristan lalu dengan langkah cepat menjemput Tania yang berada di lobby rumah sakit.


"Sorry Tris kalau Tante merepotkan," ujar Tania pada Tristan.


"Tidak apa-apa Tante, kalau untuk mertua sendiri tidak ada yang merepotkan," ujar Tristan lalu terkekeh.

__ADS_1


"Kau ini," keluh Tania.


"Tante nggak biasa ke rumah sakit ini makanya agak bingung. Kenapa tidak dirawat di rumah sakit kalian sendiri?"


"Nggak ngerti Tante, kemarin ingin Chila cepat ditangani saja dan rumah sakit ini lebih dekat jaraknya dari rumah kami dibandingkan rumah sakit punya opa."


"Oh gitu ya, bagaimana dengan keadaan adikmu sekarang?"


"Kata dokter sih sudah mendingan Tante, doakan saja segera pulih dan bisa cepat dibawa pulang. Mari Tante!"


Tania mengangguk dan mengikuti langkah Tristan di belakangnya sambil bertanya kabar tentang Isyana dan keluarga yang lainnya.


"Tante sekarang jarang main ke rumah sih," protes Tristan.


"Tante sok sibuk sih Tris, kalau mama kamu juga kayaknya sibuk di butik terus ya. Saat Tante chat selalu sedang bertemu klien."


"Ya begitulah mama, jarang di rumah. Kayaknya warga di rumah Tristan menteri persibukan semua Tante. Oma aja sering keluar untuk mengantar opa check up kesehatan, dan kadang juga keluar untuk mencari pengobatan alternatif. Mungkin Chexil yang paling betah di rumah meskipun juga sibuk mengurus baby Nazel yang semakin lincah saja," jelas Tristan panjang lebar.


"Nazelio pasti imut ya. Dilvara sering cerita itu anak yang katanya semakin ganteng aja dari waktu ke waktu. Kapan-kapan Tante mau ke sana ah buat jenguk dia."


"Boleh Tante sekalian bawa Om Dion sama adik Dilvara biar kita ngumpul semua kayak dulu," ucap Tristan.


"Oke."


Sementara Tristan dan Tania berjalan menuju kamar rawat sambil mengobrol ringan, di depan kamar rawat Fazila ada seorang wanita berpakaian suster dengan masker putih terlihat mengawasi ruangan tersebut. Gerak-geriknya sangat mencurigakan. Matanya jelalatan untuk memastikan apakah di dalam ruangan ada orang selain pasien ataukah tidak.


Menyadari tidak ada orang lain, segera wanita itu menyelinap masuk dan menutup pintu.


Ia segera mengeluarkan jarum suntik yang sudah diisi cairan terlebih dahulu dan berjalan pelan ke arah ranjang dimana Fazila sudah terlelap di atasnya.


Wanita itu mengangkat jarum yang sudah diisi cairan dengan tawa kecil kemudian meraih labu infus yang tergantung.


"Setelah ini aku pastikan kau tidak akan bisa berjalan lagi." Wanita itu terkekeh dalam hati.


Sampai di depan kamar rawat Fazila, Tristan tertegun di depan pintu.


Kok pintunya tertutup ya? Padahal tadi–


"Kenapa? Apa tidak boleh masuk kalau ada dokter atau perawat yang bertugas di kamar pasien?" tanya Tania melihat Tristan kebingungan.


"Bukan begitu Tante, tapi saat saya meninggalkan kamar ini tadi pintunya saya buka," sahut Tristan khawatir. Perasaannya mendadak tidak enak. Segera ia membuka pintu.

__ADS_1


"Hei Suster! Dia sudah disuntik tadi kenapa mau disuntik lagi?!" sentak Tristan membuat wanita itu kaget.


Bersambung.


__ADS_2