DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR

DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR
Bab 115. Tragedi di Perkemahan.


__ADS_3

Setelah selesai tausiyah barulah para santri dibubarkan dan hari ini dibebaskan tanpa ada ujian atau pun pelajaran. Jadi, hari ini semua santri bisa bersantai ria.


Jam sebelas pagi, dokter Davin mengirim chat kepada Fazila dan mengatakan sudah ada di kediaman Nyai Fatimah.


"Aku pergi sebentar," ucap Fazila dengan senyum yang terbit di bibir manisnya. Teman-teman yang sedang rujakan mangga langsung mengangguk dan terus fokus melakukan aktivitas tanpa bertanya Fazila akan kemana.


Fazila bangkit dari duduknya dan mengucapkan salam sebelum akhirnya melangkahkan kaki keluar kamar.


"Mak, boleh bantuin?" Fazila menawarkan diri pada Mak Pur yang biasa bertugas di dapur.


"Boleh Chila, buatkan teh untuk tamu pak Kyai ya! Mak mau siapkan camilannya dulu."


"Baik Mak, siap. Untuk berapa tamu?"


"Satu orang doang Chila, dua gelas sama pak kyai sendiri."


"Nggak sekalian Nyai?"


"Tidak perlu, akhir-akhir ini Nyai sedang mengurangi konsumsi gula. Gula darahnya naik katanya."


"Oh, baik." Dengan cekatan Fazila langsung membuat teh. Mak Pur melirik Fazila yang gerakannya begitu lincah. Sedikit kagum karena banyak perkembangan mengingat pas pertama kali masuk dapur pesantren gadis itu nampak begitu kaku.


"Punya pak kyai biasa pakai sedikit gula, kan, Mak?"


Mak Pur mengangguk.


"Sudah lama kamu nggak bantuin emak di sini Chila? Kenapa? Eh kamu belum sehat total ya, sakit yang waktu itu?"


"Nggak apa-apa sih Mak sudah sembuh kok. Iya yah, Chila baru sadar, sejak sakit waktu itu nggak pernah datang ke dapur pesantren langsung lagi kayaknya, tapi di dapur, kan sudah banyak santri yang bantuin. Jadi, nggak enak juga kalau ngerecokin kerjaan mereka."


Sekali lagi mak Pur mengangguk.


"Ini kuenya sekalian dipotong-potong ya, lalu taruh di atas piring! Emak sekalian mau nyiapin makan siang."


"Baik Mak." Segera Fazila melakukan apa yang diperintahkan oleh Mak Pur. Setelah menaruh piring berisi kue dan teh di atas nampan gadis itu langsung mencuci tangan dan mengelap sampai kering.


"Ini sudah bisa dibawa, kan, Mak?"


"Iya, tolong suguhkan pada pak kyai dan tamunya!"


"Siap, Mak." Dengan semangat empat lima Fazila langsung menuju kediaman Kyai Miftah dengan nampan di tangan sebab ia tahu siapa tamu pak kyai itu.


"Wah kebetulan Fazila yang menyuguhkan minumannya," ujar pak kyai saat Fazila meletakkan teh dan kue di hadapan dirinya dan dokter Davin.


Fazila hanya tersenyum kaku, canggung jika ada tunangannya sekaligus ada kyai secara bersamaan.


"Dokter Davin ingin mengobrol berdua dengan Fazila?"


"Kalau boleh, iya, Pak kyai, sekalian mau memberikan sesuatu."


"Hmm, baiklah. Sekarang silahkan diminum tehnya dulu," ujar Pak Kyai seraya menyeruput teh bagiannya sendiri.


"Terima kasih Pak Kyai, tapi nanti saja."

__ADS_1


"Kalau begitu saya permisi ke belakang dulu."


"Iya Pak Kyai terima kasih atas waktunya."


"Sama-sama."


Pak Kyai Miftah bangkit dari duduk lalu melangkah pergi meninggalkan keduanya. Pria setengah baya itu tidak begitu khawatir sebab meskipun ditinggalkan berduaan, Fazila dan dokter Davin tidak benar-benar berdua. Ada beberapa santri yang berlalu lalang di sekitar kediamannya karena memang letaknya ada di tengah-tengah antara pondok putri maupun pondok putra, lurus dengan sekolahan mereka.


"Apa kabar?" tanya dokter Davin basa-basi setelah kepergian Kyai Miftah.


"Baik," sahut Fazila dengan wajah menunduk. Entah kenapa suasana canggung masih terasa padahal Kyai Miftah telah pergi. Apa mungkin karena ada banyak pasang mata yang melihat ke arahnya? Atau juga takut suara mereka didengar oleh Nyai Fatimah dari dalam? Entahlah hanya keduanya dan Tuhan yang tahu.


Setelah pertanyaan basa-basi tersebut, susana menjadi hening. Mereka hanya menatap beberapa santri yang lewat tanpa sepatah kata.


"Ini buat kamu dan ini buat teman-teman kamu," ujar dokter Davin memecahkan keheningan sambil menyodorkan dua bungkus plastik ke hadapan Fazila.


"Buat pak kyai ada tidak? Nggak enak kalau kamu ngasih kami tapi tidak pada beliau. Lebih baik Chila ngalah, ini untuk beliau saja."


Dokter Davin terkekeh mendengar saran dari Fazila.


"Kau lihat saja isinya, apakah pak kyai akan diberikan oleh-oleh seperti seperti itu? Lagipula saya sudah pasti tidak akan melupakan oleh-oleh untuk yang punya wilayah."


Fazila mengangguk dan langsung memeriksa bungkusan tersebut. Ada berbagai macam perlengkapan wanita di sana selain beberapa kue basah dan kering.


"Makasih ya."


"Sama-sama, kemahnya kapan?"


"Baik, nanti kabari ya biar aku bisa bawain sesuatu yang kamu butuhkan di sana."


"Insyaallah. Bagaimana kelanjutan kasus suster Tantri, apakah Mas Davin mengikuti perkembangannya?"


"Tidak begitu sih, kau tahu aku sangat sibuk. Menurut kabar dari pak polisi dia sudah dipenjara, katanya masa hukumannya di atas 5 tahun karena kasusnya bukan hanya satu saja. Entahlah, kalau soal dia mah kita serahkan pada keputusan polisi saja. Bagaimana baiknya dan masa hukumannya polisi lebih tahu dari kita."


"Tak perduli berapa lama dia mendekam di penjara, semoga dia kapok saja."


"Ya, itu yang paling penting."


Setelah membicarakan suster Tantri mereka beralih pada pembahasan tentang keluarga mereka masing-masing. Tentang kabar semua anggota keluarga. Puas bicara mengenai keluarga mereka membicarakan aktivitas masing-masing selama berjauhan. Fazila dengan segala kegiatannya di pesantren dan dokter Davin tentang beberapa pengalaman lucu bersama para pasien.


Hampir 2 jam mereka bicara panjang lebar berdua dengan sesekali tertawa kecil. Entah siapa yang memulai, membuat suasana canggung berubah akrab.


"Kayaknya aku sudah lama di sini, nggak enak sama kyai. Aku balik aja ya, Chila?"


"Kalau begitu aku yang balik ke kamar saja ya, biar Mas ada waktu untuk bicara dengan pak kyai sebelum pamit. Nggak enak Mas kalau langsung pamit gitu aja."


"Iya-iya, aku diem di sini sebentar."


"Aku pergi ya!" ujar Fazila sambil menatap lekat wajah dokter Davin. Wajah yang selalu ia rindukan bahkan melebihi pada papanya sendiri.


Dokter Davin balas menatap wajah Fazila lalu tersenyum manis.


Untuk beberapa saat mereka berpandangan. Hanya saling tatap tanpa ada yang bicara, seolah fokus menikmati pahatan indah sang Khaliq di wajah pasangan masing-masing. Hingga akhirnya.

__ADS_1


"Kamu, baik-baik ya di sini," ucap dokter Davin mengikis keheningan yang tercipta.


"Insyaallah, aku pamit, assalamualaikum!" ucap Fazila lalu berbalik saat mendengar jawaban salam dari mulut dokter Davin.


Saat melihat Fazila pergi Kyai Miftah yang ternyata mengawasi dari jarak jauh kembali melangkah ke arah dokter Davin dan berbincang-bincang santai.


Satu bulan kemudian sampailah pada acara kemah. Fazila tidak memberikan kabar pada siapapun karena memang benar-benar lupa. Jangankan pada dokter Davin, pada kedua orang tua atau keluarga lainnya pun tidak.


"Pagi-pagi sekali mereka sampai di lapangan yang menjadi tujuan mereka. Setelah melakukan upacara pembukaan dan mendapatkan arahan dari ustadz dan ustadzah mereka, para santri langsung mendirikan tenda bersama-sama sesuai kelompok masing-masing. Untuk tetap menjaga kekompakan, satu tenda isinya masing-masing penghuni kamar. Artinya satu tenda ditempati oleh seluruh penghuni satu kamar tanpa diacak, kecuali mereka yang sehari-harinya sekamar dengan adik kelas. Maka jika untuk itu satu tenda diisi oleh penghuni dua kamar.


Setelahnya baru menata barang bawaan mereka seperti pakaian dan bahan makanan, termasuk alat-alat masak.


"Sudah beres, sepertinya tinggal kayu bakar yang belum ada," ujar Qiana lalu menepuk-nepuk tangan setelah menyelesaikan pembuatan tungku sebagai tempat memasak.


"Kalau begitu kita cari sekarang," usul Fazila dengan begitu bersemangat. Siapa yang tidak suka menghirup udara segar apalagi setelah hari-hari sebelumnya gerakan mereka seakan di batasi.


"Oke ayuk!" seru ketiga sahabatnya kompak.


"Let's go!" seru Fazila setelah ketiga teman-temannya berdiri semua. Mereka langsung berlari seakan berkejar-kejaran.


"Tunggu aku!" seru Qiana yang tertinggal jauh di belakang.


"Ayo kejar!" teriak Fazila sambil melambaikan tangan. Sesekali gadis itu merentangkan tangan sambil menghirup oksigen di udara. Sungguh rasanya nyaman di dada. Setelahnya kembali berlari kembali.


"Jangan cepat-cepat Chila! Tumben kau larinya kayak cheetah, biasanya kayak kura-kura!" teriak Andin.


Fazila menghentikan larinya, menunduk dan memungut ranting-ranting kering di bawah pepohonan besar.


"Di sini juga banyak!" seru Anggita lalu ikut mengumpulkan kayu-kayu. Kedua temannya pun melakukan hal yang sama. Fokus sama kayu. Tak berapa lama, kayu yang dibutuhkan sudah cukup kalau hanya sekedar untuk bahan bakar memasak.


"Chila balik yuk! Ini sepertinya sudah cukup," ujar Anggita dengan suara setengah berteriak karena jarak mereka yang sudah jauh.


"Masih kurang, sekalian cari untuk api unggun!" teriak Fazila dan ketiganya pun menurut, mengumpulkan kembali kayu-kayu kering di sana.


"Chila! Setumpuk ini apakah masih kurang?" tanya Andin seraya menatap ke arah Fazila. Namun, gadis itu sudah tidak tampak batang hidungnya.


"Teman-teman Chila kok nggak ada ya?" tanya Andin curiga karena gadis itu tak menjawab.


"Nggak mungkin pasti ada di sekitaran sana," ucap Anggita yang yakin Fazila pasti ada dibalik semak-semak sehingga tidak bisa ditangkap oleh mata mereka.


"Tapi kok nggak jawab? Chila!" teriak Andin untuk memastikan Fazila memang tidak kemana-mana. Kekhawatiran semakin menyergap tatkala tak kunjung mendengar suara Fazila sebagai jawaban.


Sontak Andin langsung berlari ke tempat dimana Fazila tadi berada. Sayangnya Fazila memang tidak ada di sana.


"Qia! Fazila tak ada!" teriak Andin membuat kedua temannya langsung berlari ke arah Andin dan memanggil Fazila secara bersamaan.


"Chila!" teriak mereka.


"Bagaimana ini dia tak ada? Apa yang harus kita katakan pada ustadz dan ustadzah? Apa yang akan kita katakan pada keluarganya? Kenapa kita tadi tidak terus bersama dengan dia?" Andin berkata dengan suara bergetar.


"Kita berpencar! Dan nanti bertemu lagi di tempat ini!" perintah Andin dan mereka langsung mencari dengan arah yang berlawanan.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2