
"Gimana, enak?" Dokter Davin menghentikan menyuapi Fazila sebentar dan gadis itu memandang dokter Davin sambil mengangguk mantap.
Dokter Davin pun balas tersenyum dan berkata, "Kalau begitu habiskan, agar kamu punya tenaga."
"Oke," ujar Fazila, tangannya langsung menarik sendok dari tangan dokter Davin.
"Kelamaan, aku lapar sekali," keluhnya langsung berusaha menyendok makanan dengan terburu-buru sehingga bukannya berhasil malah membuat nasinya berceceran.
"Chila, pelan-pelan! Biar aku saja yang suapi." Dokter Davin meraih kembali sendok di tangan Fazila dan dokter Davin melanjutkan pekerjaannya menyuapi Fazila. Fazila yang merasa sangat lapar terlihat masih lahap padahal sudah lumayan banyak nasi yang masuk dan sisanya tinggal sedikit.
"Kurang Dokter," rengek Fazila saat makanannya tinggal satu sendok sambil menatap kotak makan di samping dokter Davin. Dokter Davin menggeleng dan Fazila langsung cemberut.
"Katanya harus makan banyak, tapi nggak boleh nambah," protesnya.
"Nggak boleh Chila."
"Nanti Chila ganti deh uangnya dan Dokter bisa beli lagi."
"Bukan masalah uang atau makanannya Chila, tapi yang lebih penting itu kesehatanmu. Kau punya riwayat asam lambung, kan? Jadi nggak boleh makan banyak sekaligus. Nanti boleh makan lagi setelah lapar kembali."
"Ckk, hanya gejala, kan?"
"Tetap tidak boleh, aku tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak diinginkan padamu. Berjaga-jaga lebih baik Chila, perutmu yang biasa menahan lapar jangan langsung dipaksa menerima asupan yang banyak agar tidak kaget, Nanti kalau sudah sembuh total baru deh kamu bisa makan banyak lagi."
Akhirnya Fazila mengangguk pasrah melihat wajah dokter Davin yang begitu serius.
"Minum dulu lalu tidur lagi ya, kau harus banyak istirahat," ujar dokter Davin setelah Fazila menyelesaikan makannya.
"Baik," ujar Fazila lalu berusaha untuk duduk Dokter Davin langsung membantu Fazila bangkit dan menidurkan kembali setelah gadis itu selesai minum.
"Aku kompres lagi," ucap dokter Davin dan Fazila hanya mengangguk lalu memejamkan mata. Merasai kesejukan air yang menyentuh keningnya yang masih panas. Tak lama kemudian gadis itu tertidur pulas.
Isyana membuka mata lalu mengawasi dokter Davin tanpa disadari oleh pria itu. Dokter Davin terlihat begitu telaten mengurusi Fazila. Sampai terdengar dengkuran halus dari Fazila pun pria itu tidak pergi dari sisi anak gadisnya.
"Aku keluar sebentar," pamit dokter Davin pada Fazila yang sudah tertidur.
Dokter Davin melangkah keluar dan menuju kantin rumah sakit. Ia langsung memesan kopi di sana untuk menyingkirkan rasa kantuk.
Isyana membuka mata dan menggantikan dokter Davin mengompres putrinya.
"Apa mama berlebihan Chila jika menentang hubungan kalian?" Isyana bicara sendiri sambil menatap wajah Fazila lekat-lekat. Wajah putri satu-satunya itu terlihat begitu lemah, tetapi kali ini aura bahagia dapat Isyana tangkap, terpancar dari wajah gadis itu meskipun dengan mata terpejam sekalipun.
"Maafkan Mama. Mama pikir dia bisa saja menyakitimu lagi seperti dulu. Kau pasti paham, kan Chila, bahwa seorang ibu tidak akan pernah membiarkan putrinya mendekati celaka? Chila, Mama hanya takut saja dia menipumu walaupun sampai saat ini Mama tak tahu alasannya apa."
Isyana membalik kain kompres di kening Fazila dan menaruh kain kompres lain di lehernya. Sekali-kali menyentuh tubuh Fazila yang tak kunjung turun demamnya.
"Tapi entah kenapa Mama tadi melihat dia begitu tulus merawatmu? Namun apakah itu serius, atau hanya berpura-pura saja? Maaf jika Mama tidak bisa mengambil kesimpulan untuk itu karena Mama memang susah untuk membedakan mana sifat asli seseorang dan mana yang palsu."
Terdengar derap langkah di luar membuat Isyana kembali ke posisi semula dan pura-pura tertidur lagi hingga akhirnya benar-benar tidur dengan pulas.
__ADS_1
Dokter Davin memasuki ruangan dengan wajah yang lebih fresh setelah menghabiskan satu gelas kopi dan mencuci muka. Pria itu tersenyum melihat Fazila yang begitu tentram dalam tidurnya. Tak ada mengigau sedikitpun meskipun suhu tubuhnya masih sama.
Dokter Davin duduk di tempatnya kembali dan melakukan aktivitas yang sempat tertunda lagi. Sekali-kali pria itu berdiri dan mengecek kecepatan tetesan infus untuk Fazila.
Jam berdentang 4 kali menunjukkan malam sudah hampir berganti pagi. Dokter Davin membasahi kain kompres lalu meletakkan di atas leher dan kening Fazila sebelum akhirnya beranjak keluar untuk menunaikan shalat subuh di Mushalla.
"Hah betah banget dia di sini," keluh Isyana lalu pindah ke sofa dan membaringkannya tubuhnya di sana. Rasanya begitu nikmat saat punggungnya menyentuh sofa yang empuk itu. Ia kembali memejamkan mata karena masih sangat mengantuk dan susah membuka mata dalam jangka waktu lama.
"Tante bangun sudah subuh!" Isyana membuka mata kala mendengar suara seorang yang membangunkannya. Wanita itu mengucek kedua matanya.
"Kau masih ada di sini?" tanya Isyana keheranan. Tenyata dokter Davin tidak ingin meninggalkan Fazila.
"Saya baru datang Tante," sahut dokter Davin sambil tersenyum ramah.
"Oh," ujar Isyana tak ingin memperpanjang pembicaraan. Ingin menganggap dokter David pembohong pun tak mungkin karena memang dokter Davin baru datang setelah pergi ke musholla tadi.
"Biar saya yang menjaga Chila dan Tante bisa shalat subuh dulu," ujar dokter Davin.
"Baik, aku titip Chila," ujar Isyana.
Setelah mendapatkan jawaban berupa anggukan dan senyum ramah dari dokter Davin, wanita itu pun pergi dari ruang rawat Fazila.
Isyana pun pergi ke mushalla dan shalat di sana. Ketika ingin kembali ke ruangan Fazila wanita itu mendengar perutnya berbunyi keroncongan. Dia berpikir alangkah baiknya sebelum kembali ke kamar putrinya dia mencari sarapan dulu.
"Mama kok ada di sini?" tanya Nathan saat melihat Isyana duduk di sebuah depot di sebelah rumah sakit. Ia yang baru sampai ke area rumah sakit, terlebih dahulu mampir ke sana untuk membeli makanan untuk Isyana dan Fazila sedangkan Zidane lebih memilih menunggu Nathan dengan duduk di dalam mobil, di parkiran rumah sakit.
"Nggak, tadinya Nathan mau beliin
untuk Mama dan Chila karena lupa bawa dari rumah padahal Bim Ina tadi sudah menyiapkan, tapi kalau Mama sudah makan di sini, ya berarti Nathan akan pesan untuk Chila saja."
"Eh nggak usah Nat, tadi adikmu sudah makan," cegah Isyana. Nathan pun mengurungkan niatnya untuk memesan makanan.
"Bentar Mama mau bayar dulu." Isyana pergi meninggalkan Nathan untuk menanyakan tagihan makanannya. Setelah selesai mereka berdua langsung berjalan kaki menuju rumah sakit kembali.
"Pa ayo!" seru Nathan di samping mobil. Zidane mengangguk lalu keluar dari mobil. Mereka bertiga berjalan memasuki lobby rumah sakit.
"Kalau Mama ada di sini, lalu Chila sama siapa?" tanya Nathan sambil terus melangkah.
Isyana tidak menjawab, dia langsung teringat pada putrinya yang ia titipkan pada dokter Davin. Wanita itu mempercepat langkah membuat Nathan dan Zidane harus menyeimbangi dengan langkah besar.
"Apa Tris sudah ada di rumah sakit?" tanya Nathan lagi karena sang mama tak kunjung memberikan jawaban.
"Memang Tristan katanya mau ke sini?" tanya Zidane.
"Entahlah Pa, dia tidak ada ngomong apapun pada Nathan. Mungkin ia, kalau tidak, memang mau kemana lagi? Dia mengatakan beberapa hari ini masih bisa bebas dari pekerjaannya."
Zidane hanya mengangguk-angguk sedangkan Isyana tak ada sedikitpun keinginan untuk menimpali. Ia malah berjalan lebih cepat dari biasanya. Takut-takut dokter Davin tidak amanah lalu meninggalkan Fazila sendirian, atau lebih parah lagi kalau sampai dokter Davin berbuat jahat pada putrinya. Kepercayaan Isyana pada dokter Davin masih setengah-setengah meskipun tadi sempat dibuat terenyuh oleh sikap lelaki itu pada putrinya.
Isyana membuka pintu lebih lebar, tampak dokter Davin berbicara dengan Fazila sambil terus mengompres gadis itu.
__ADS_1
"Ma, kenapa Mama membiarkan dia yang menjaga Chila? Apa Mama ingin Chila celaka seperti dulu lagi?!" kesal Nathan dengan suara keras hingga membuat dokter Davin menoleh dan wajah Fazila yang tadinya ceria redup seketika.
"Tidak mungkin Nathan, papa yakin dokter Davin tidak akan mengulangi hal yang sama lagi," ujar Zidane.
Dokter Davin mengerutkan kening.
"Kesalahan apa?" gumamnya.
"Tuh kan Pa, dia munafik. Dia bahkan tidak pernah mengakui kalau dirinya pernah membuat Fazila hampir hancur bahkan hampir kehilangan masa depan," ujar Nathan dengan suara kesal sebab semua orang seolah lupa dengan ulah dokter Davin.
Dokter Davin menatap Fazila seolah meminta penjelasan dan gadis itu langsung memalingkan wajah. Tak ingin mengingat kembali kejadian menyakitkan itu.
"Biarkan dia menebus kesalahannya pada Fazila," ujar Zidane lagi membuat Nathan terbelalak tidak percaya.
"Tapi Pa–"
"Sudahlah Nath, semua orang punya masa lalu dan kesalahan di masa itu. Yang terpenting sekarang adalah dia punya komitmen untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Kalau kamu tahu bagaimana bejatnya papa dulu sama mama kamu, kau akan paham bahwa kesalahan dokter Davin masih tidak sebanding dengan kesalahan papa," jelas Zidane membuat Istana langsung membeku.
Benar apa yang dikatakan Zidane, Fazila tidak apa-apa dalam kejadian tersebut sedangkan dirinya benar-benar dibuat hancur oleh Zidane hingga butuh waktu yang lama untuk menyembuhkan lukanya yang menganga.
"Tunggu! Ini maksudnya apa?" Dokter Davin bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah Nathan.
"Apa kesalahan di masa lalu yang pernah aku perbuat?" tanya dokter Davin, bingung karena merasa tidak melakukan apapun.
"Aku tidak pernah mengusik Chila apalagi sampai ingin membuat dia hancur, aku tidak setega itu," bantah dokter Davin. Kesal karena difitnah sebegitunya.
"Cih pura-pura lupa! Kau kan yang menjebak Fazila agar datang ke suara tempat dimana di tempat tersebut sudah banyak preman yang menunggu dan siap memangsa Chila," ketus Nathan.
Dokter Davin menggeleng-gelengkan kepala.
"Aku tidak pernah merasa melakukan hal itu!" tegas dokter Davin membuat Nathan terkekeh, mengejek.
"Aku sudah menyangka, kau akan menyangkalnya!"
"Aku akan menyangkal kalau aku tidak pernah melakukan apa-apa yang dituduhkan," geram dokter Davin.
"Terserah kamu menyanggah bagaimanapun, tapi tolong jauhi Chila!"
"Tidak akan pernah," kekeh dokter Davin. Dia sudah berjanji untuk menghadapi apapun agar tetap bisa bersama dengan Fazila.
"Kecuali kamu bisa kasih bukti jika aku benar-benar melakukan apa yang kamu tuduhkan," tantang dokter Davin.
"Oh, kau butuh bukti?!" tanya Nathan dengan seringainya dan dokter Davin mengangguk mantap.
"Baiklah aku ladeni," ujar Nathan kemudian.
"Bisa pinjam ponselmu?" lanjutnya .
Bersambung.
__ADS_1