
"Oke deh, sekarang ada yang bisa saya bantu?"
"Beneran mau bantu?"
"Heeh, masa bercanda."
"Kalau begitu, tolong buah yang di atas meja itu dipotong-potong."
"Oke," ucap Fazila lalu berjalan ke arah meja dan melakukan apa yang diperintahkan oleh dokter Davin sementara pria itu sibuk sendiri mengolah makanan.
"Mau aku buatkan salad sekalian?" tanya Fazila setelah menyelesaikan pekerjaan memotong buah-buahan.
"Boleh, memang bisa?"
"Bisalah cuma buat ini doang."
"Oke, kerjakan!"
Fazila mengangguk lalu membuat salad buah untuk dokter Davin.
"Abang Tris, biasa sarapan apa?" tanya dokter Davin beberapa saat setelah mematikan kompor dan mencuci tangan serta mengelapnya sampai kering.
"Hmm, apa ya? Abang biasa makan nasi atau roti sih. Biarkan saja deh biar dia makan sup ayam sebagai lauknya seperti Chila aja biar nggak repot."
"Oke, oh ya sebentar lagi sepertinya nasinya sudah matang. Minta tolong nanti setelah matang diaduk ya biar masaknya mereka, saya tinggal dulu karena belum shalat subuh."
"Siap," ucap Fazila seraya mengangkat tangan di dahi seperti orang hormat sambil tersenyum manis.
"Oke thanks." Dokter Davin berlalu pergi dan tinggallah Fazila seorang diri yang duduk merenung di dapur.
"Rajin amat ya dokter Davin, sudah sibuk bekerja, pekerjaan rumah malah di handle sendiri?" Rasa kagum sekaligus heran menyeruak ke dalam hati.
"Hmm, selama aku masih menunggu nasinya, kira-kira apa ya, yang kurang dari menu pagi ini?" Gadis itu duduk di kursi sambil bertopang dagu.
"Oh sambel." Ia langsung mencari cabai dan tomat di dalam kulkas dan mengeksekusinya.
Tombol rice cooker sudah berubah dari cook menjadi warm.
"Wah sudah mateng kayaknya, tunggu beberapa menit lagi," ujar Fazila sambil mengulek cabai dan tomat yang telah digoreng.
"Tara sambal bajak sudah kelar," ucapnya lalu beralih mengaduk nasi. Gadis itu pun menyiapkan menu sederhana di atas meja makan sebelum akhirnya balik ke kamar dan membersihkan diri serta bersiap-siap untuk pulang.
"Ya ampun Bang Tris belum bangun juga rupanya," gumam Fazila kala melihat kamar Tristan masih tertutup rapat. Segera ia menghampiri pintu dan mengetuknya beberapa kali.
"Bang bangun! Ini sudah jam 5 pagi. Apakah Abang belum shalat? Bangun Bang, nanti matahari keburu tinggi!"
Ceklek.
Terdengar suara pintu dibuka dan Tristan langsung nongol di pintu dengan wajah yang sudah segar.
"Abang sudah shalat hanya saja malas keluar," ucapnya.
"Abang aneh akhir-akhir ini jadi pemalas," keluh Fazila yang merasa sejak semalam Abangnya malas gerak. Bahkan saat jalan-jalan semalam pria itu lebih banyak menghabiskan waktu di dalam mobil ketimbang ikut mereka belanja.
"Ckk, mumpung Abang enggak kerja Chila, kalau Abang sudah kerja mana mungkin bisa malas-malasan lagi."
"Itu kenyataannya atau cuma alasan saja. Apakah sebenarnya ada yang ditutupi oleh Abang? Abang punya masalah ya?"
Walaupun Tristan teihat baik-baik saja, namun Fazila merasa Tristan kali ini berbeda. Seperti Tristan menyimpan sesuatu sendiri.
"Nggak ada Chila, curigaan amat."
"Ada masalah dengan Kak Dilavara ya?" tebak Fazila sambil melirik pada ponsel yang dipegang oleh Tristan. Sejak semalam Abangnya itu tidak pernah lepas dengan ponsel.
"Sok tahu Lo, sudah siap? Hari ini kita pulang."
"Siap Bang, tapi kita sarapan dulu, dokter Davin sudah menyiapkan makanan untuk kita tadi."
"Oh ya?"
Fazila mengangguk.
"Tapi jangan protes kalau menunya sederhana aja!"
"Nggaklah yang penting perut kenyang dan rasanya enak," ujar Tristan lalu cekikikan.
Dokter Davin pun keluar dari dalam kamar dengan pakaian dokter.
"Dokter ada jam kerja hari ini?"
"Ada kepentingan lain di rumah sakit sebelum bertugas di poliklinik. Kalian sudah mau balik?"
"Ya, nggak enak sama dokter kalau lama-lama di sini, merepotkan."
"Nggak enak sama aku atau takut sama tante Isyana?"
Fazila tertawa mendengar pertanyaan dari dokter Davin.
"Kau kira mama hantu apa pakai ditakuti segala," cicitnya.
Dokter Davin hanya menatap wajah Fazila sekilas lalu mengajak keduanya menikmati sarapan pagi.
"Wah ternyata kau sudah menyiapkannya," ujar dokter Davin kalau menyadari makanan sudah terhidang di atas meja makan.
"Iya," jawab Fazila singkat.
__ADS_1
"Ya sudah, ayo kita makan bersama sebelum kalian pulang. Mohon maaf ya jika menunya tidak sesuai dengan selera kalian berdua sebab pagi ini pembantu yang biasanya datang menelpon tidak bisa kemari, katanya ada salah keluarga yang nikahan jadi dia bantu-bantu di sana."
"Oke tak apa," kata Tristan dibarengi anggukan oleh Fazila. Ketiganya pun duduk sambil menikmati hidangan sederhana yang sudah tersaji di meja.
Selesai sarapan Fazila dan Tristan pamit kembali ke kota tempat mereka tinggal sedangkan dokter Davin langsung bergegas ke rumah sakit setelah mengunci pintu.
Sepanjang perjalanan Fazila menatap ponsel di tangan sambil senyum-senyum sendiri.
"Ekhem, kayaknya ada yang Kesambet nih," goda Tristan sambil melirik Fazila dari kaca spion karena adiknya itu kali ini memilih duduk di jok belakang. Tentu saja dia ingin chat-tan dengan dokter Davin tanpa bisa dibaca oleh Tristan.
Fazila tidak menggubris perkataan Tristan dan lebih fokus membalas chat-chat dari dokter Davin. Entah kalimat apa yang ditulis oleh pria itu sehingga membuat Fazila tersenyum sepanjang perjalanan pulang.
"Dia nggak kerja ya?" tanya Tristan yang paham siapa yang mengirim chat pada Fazila.
"Kerja kok, tapi belum ada pasien katanya."
Tristan mengerutkan kening lalu memilih fokus menatap jalanan yang semakin ramai.
"Chila, kamu kan sudah punya ponsel, jangan lupa simpan nomor Abang!"
"Nanti aja sih Bang, untuk saat ini biarkan ponsel Chila berisi satu kontak saja. Bersih dari yang lainnya."
"Pret! Awas nanti kalau sampai butuh Abang, bingung mau nelpon kemana."
"Tenang aja, 'kan nomor Abang ada di mana-mana. Tinggal minta ama papa, mama atau kak Chexil, beres," ucap Fazila lalu tertawa renyah.
"Terserah deh," ucap Tristan.
Sepanjang perjalanan berikutnya hanya hening terasa. Baik Fazila maupun Tristan, keduanya tidak ada yang bicara. Fazila pun meletakkan ponselnya ke dalam tas dan matanya memandang keluar kaca mobil dan melihat pemandangan yang terpampang di sekitarnya.
Beberapa jam kemudian akhirnya mereka sampai juga di rumah mereka.
Fazila turun dari mobil disambut keberadaan Chexil dan putranya yang baru kembali dari jalan-jalan di sekitar rumah mereka.
"Ah keponakan tertampan, Tante merindukanmu," ucapnya sambil mendekati stroller bayi Nazel dan mencubit kedua pipi keponakannya itu dengan gemas.
"Chila hentikan! Lihat tuh dia sampai meringis karena ulahmu!" ujar Chexil dan Fazila pun langsung menghentikan aksinya.
Fazila mendongak dan menatap wajah Chexil.
"Apa kabar Kak?"
"Baik," sahut Chexil lalu tertawa. Merasa aneh dengan Fazila.
"Kau teramat senang sih, ada kabar baik?" tanyanya melihat sang adik ipar yang begitu ceria hari ini berbeda dengan hari-hari sebelumnya.
"Kabar Chila selalu baik kak," ucapnya masih terus mengembangkan senyuman.
"Iya deh."
"Chila ke dalam dulu," pamitnya dan langsung pergi tanpa menunggu jawaban dari Chexil.
"Kenapa dia Tris?" tanya Chexil pada Tristan yang berjalan ke arahnya.
"Mana kutahu? Senang kali chat-an dengan dokter Davin. Wah baby Nazel sudah mandi ya?" Tristan menyentuh pipi Nazel lalu mencium balita itu. Harum bedak bayi menguar di penciuman.
"Iya Om, biar kelihatan selalu segar dan harum," sahut Chexil mewakili putra kecilnya
Setelah puas mencium Nazel barulah Tristan mengangkat wajah.
"Mama ada di dalam?"
"Sudah pergi tadi pagi, katanya ada pelanggan baru yang ingin bertemu."
"Oh."
Tidak banyak bertanya lagi Tristan langsung masuk ke dalam menyusul Fazila.
***
Seharian ini terasa sangat panjang bagi Fazila. Rasanya jam dalam sehari tidak lagi 24 jam, melainkan 48 jam. Lebih lama 2 kali lipat dari sebelumnya sehingga hari esok yang ditunggu pun rasanya lama sekali. Dia tidak sabar, besok malam dokter Davin mengatakan akan datang bersama nenek Salma dan beberapa rekannya untuk mengikat hubungan mereka berdua.
"Chila kau coba pakaian ini, barangkali belum melekat sempurna di tubuhmu nanti Mama sesuaikan dengan tubuhmu. Sengaja seharian ini Mama bikinin gaun untukmu untuk acara tunangan kalian," ujar Isyana sambil menyerahkan gaun panjang di tangan pada putrinya.
"Dokter Davin sudah mengatakan pada Mama kapan waktunya?"
"Sudah tadi dia menelpon katanya besok malam mau datang untuk meresmikan hubungan kalian, tapi gaun ini memang sudah mama rancang sebelumnya."
Fazila mengangguk lalu mengambil gaun di tangan Isyana dan mencobanya.
"Pas Ma," ucap Fazila setelah gaun tersebut melekat di tubuhnya dengan sempurna tanpa ada rasa sesak atau pun kebesaran. Gadis itu tampak menatap pantulan dirinya di cermin.
"Cantik," puji sang mama menatap putrinya dengan bangga.
"Terima kasih Ma," kata Fazila dengan wajah bersemu merah karena malu sebab tak biasa mamanya memuji dirinya seperti itu.
"Pasti dokter Davin akan pangling nih padahal kamu belum pakai makeup," lanjutnya membuat hati Fazila merasa hangat karena pujian dari mamanya sendiri.
"Ini karena Mama yang pintar membuat gaun," ujar Fazila balik memuji sang mama."
"Kalau dipakai gadis lain belum tentu sebagus ini. Sudah ah buka lagi dan pakai besok malam saja. Oh ya, rencananya Mama pengen buatin untuk dia juga biar couple-an sama kamu, tapi sayang Mama tidak tahu ukuran tubuhnya."
"Sepertinya sama kayak Bang Tris Ma. Semalam kami membelikan baju untuk Bang Tris dengan mengukur tubuh dokter Davin dan ternyata setelah dipakai Bang Tris pas," jelas Fazila dengan mata berbinar-binar. Isyana bahagia melihat putrinya kembali ceria lagi seperti dulu.
"Oke nanti Mama bikinin."
__ADS_1
Fazila mengangguk kembali.
"Mama tunggu di ruang makan, semua keluarga sepertinya susah siap untuk makan malam," ujar Isyana kemudian keluar dari kamar Fazila setelah melihat anggukan dari putrinya untuk yang kesekian kali.
***
Malam berikutnya, acara yang ditunggu-tunggu tiba. Fazila sudah siap dengan gaun dan make yang dipoles tipis. Tak perlu memakai jasa tukang rias, Chexil lah yang telaten mendandani sang adik meskipun sempat terganggu dengan baby Nazel yang sempat rewel.
"Kau cantik banget Chila kakak jadi iri padamu," ucap Chexil menatap kagum sang adik ipar.
"Ngapain iri sama dia? Bagiku Chexil yang tercantik," ucap Nathan sambil duduk di sampai sang istri.
"Gombal!" Fazila mencebik pada Nathan.
"Tuh lihat itu Sayang! Itu yang kamu bilang cantik? Lebih cantik kamu kemana-manalah." Nathan menunjuk Fazila bermaksud menggoda sang adik.
"Biarin!" kesal Fazila.
"Apa sih Mas, orang cantik gitu dibilang nggak," protes Chexil.
"Dokter Davin pandai memilih calon pasangan. Dia pasti akan bangga dan semakin senang melihat Chila malam ini," lanjut Chexil.
"Puji terus sih dokter itu!" Nathan sedikit tidak suka.
"Wah ada yang cemburu nih!" kelakar Fazila.
"Jangan ngomong gitu takutnya nanti kamu juga ikutan cemburu dengan kakak ipar sendiri," ujar Nathan.
Fazila langsung menatap wajah Chexil dengan tatapan hampa.
"Mana mungkin? Chila nggak seperti kamu Mas. Bisa nggak lupakan masa lalu dan jangan diungkit lagi. Kalau begini nih aku yang merasa tidak enak meskipun aku tidak pernah merasa melakukan apapun dengan dokter Davin di masa lalu. Kau merusak suasana saja Mas," keluh Chexil akan sikap Nathan.
"Sorry," ucap Nathan lalu bangkit dari duduknya dan keluar dari kamar Fazila.
"Jangan terpengaruh dengan omongan Abangmu itu Chila. Kami dulu tidak punya hubungan khusus kok."
"Saya tahu Kak dia pernah mencintai Kakak, tapi tak apa. Kakak kan cuma masa lalunya."
"Bagus, itu baru namanya adik Kakak. Perlu kamu ingat Chila. Perjuangan dokter Davin untuk mendapatkan dirimu tidaklah mudah, tetapi meski sulit dia tidak pernah menyerah karena perasaannya yang begitu dalam dan tulus padamu."
"Iya Kak."
"Chila dokter Davin dan keluarga datang!" seru Isyana dari arah pintu.
Mendadak dada Fazila berdebar-debar. Jujur dia bahagia tetapi juga merasa tegang saat ini.
"Kak!"
Chexil langsung menggenggam tangan Fazila erat-erat. Ini bukan acara pernikahan, tetapi Fazila terlihat benar-benar nervous.
"Ayo kita keluar!"
Fazila mengangguk dan menurut saja tatkala Chexil membawa dirinya keluar dari kamar untuk menemui pihak keluarga dokter Davin.
"Nggak perlu tegang, tarik nafas panjang lalu hembuskan perlahan!"
"Oke Kak."
Di luar pihak keluarga Zidane menerima para tamu yang merupakan pihak dari keluarga Davin. Mengingat dokter Davin tidak memiliki keluarga banyak dan hanya tinggal berdua bersama nenek Salma, maka pria itu juga mengajak rekan dokter seperti Danisa dan Damian yang juga merupakan teman semasa kuliah. Tak lupa pembantu yang menjaga nenek Salma selama ini dan asisten barunya yaitu suster Dinda.
"Wow!" Suster Dinda terkagum-kagum dengan rumah Fazila yang begitu besar.
"Rupanya dia juga orang kaya, beruntung banget nih dokter Davin bisa mendapatkan Chila," batinnya sambil mengedarkan pandangan ke segala penjuru.
"Suster Dinda!" bisik dokter Davin karena bukannya memberikan parsel yang dipegangnya Dinda malah melamun. Padahal di depannya Laras sudah mengulurkan tangan untuk menerima benda itu.
"Ah iya, maaf," ucapnya sambil tersenyum malu pada Laras.
"Tidak apa-apa, silahkan masuk!" Laras mempersilakan Dinda dengan suara yang begitu ramah terdengar di telinga wanita itu.
"Iya Nyonya, terima kasih," ucapnya canggung.
Semua pihak dari keluarga dokter Davin sudah dipersilahkan masuk dan semua parcel berisi pakaian, makeup dan kue-kue sudah ditata dengan rapi di atas meja.
Dokter Davin duduk sambil mengedarkan pandangan mencari keberadaan Fazila.
"Chila masih ada di kamar dan sebentar lagi akan turun, sudah saya panggil tadi," kata Isyana karena paham apa yang diinginkan dokter Davin saat ini.
"Iya Tante," ucapnya, tersenyum lalu menunduk agar raut wajahnya yang begitu tegang dan tak sabaran tidak dilihat oleh semua orang.
"Itu Chila," gumam nenek Salma tatkala melihat Fazila menuruni tangga dengan dituntun oleh Chexil. Wanita tua itu memandang keduanya dengan kagum, sama-sama cantik dan sama-sama pernah ada di hati cucunya. Namun, nenek Salma lebih bahagia kalau Fazila yang menjadi pendamping hidup cucunya kelak karena selain Fazila tidak tersentuh laki-laki lain, dokter Davin juga tidak harus berurusan dengan mantan suami istrinya.
"Ternyata kisahmu dengan Nak Chexil adalah jalan untuk menemukan jodohmu yang sesungguhnya," bisik nenek Salma di telinga dokter Davin.
"Alhamdulillah Nek, insyaallah semua berakhir dengan indah dan semoga selamanya begitu. Semoga dia wanita yang terakhir untuk Davin," ucap dokter Davin lalu mendongak, menatap kearah seraut wajah manis yang menuruni tangga sambil tersenyum lebar padanya.
Dokter Davin terpesona, sosok cantik di bawah cahaya lampu yang temaram seakan mengalihkan dunianya.
"Dokter Davin, ayo sematkan cincinnya!" seru Damian membuat dokter Davin tersadar dari lamunannya dan tiba-tiba Fazila sudah berada di hadapannya.
"Chila!" ucapnya heran.
"Sampai kapan kau berdiri di sini?" tanyanya kemudian.
Sontak pertanyaan dokter Davin mendapatkan sorakan dari semua orang.
__ADS_1
"Dokter Davin, apa kau bermimpi mendapatkan bidadari hingga sampai tidak sadar seperti itu?" goda Damian. Wajah dokter Davin langsung merah karena menahan rasa malu pada semua orang.
Bersambung.