
"Kau kurus sekali Chila," ujar Chexil lalu duduk di pinggir ranjang king size dalam kamar Fazila. Gadis yang diajak bicara oleh kakak iparnya itu hanya tersenyum tipis tanpa ada keinginan untuk menanggapi ucapan Chexil dengan kalimat ataupun sekedar kata.
"Apa di pesantren makannya tidak enak dan membuatmu tidak berselera?" tanya Nathan yang berdiri di samping Chexil sambil mengendong putranya.
Fazila hanya menggeleng. Masih enggan untuk bersuara.
"Mau Abang belikan apa? Bentar lagi Abang keluar buat beli popok untuk keponakanmu ini. Apa yang bisa membuatmu berselera dan makan banyak?"
Fazila masih menggeleng, setia dalam bungkam.
Nathan membuang nafas.
"Hah! Ya sudah deh kalau begitu," ucap Nathan. Menyerah untuk mengajak Fazila bicara.
"Sayang, pegang putra kita ya!" ucap Nathan sambil memberikan putranya pada Chexil dan Chexil langsung mengulurkan tangan dan meraih putra kesayangannya dari pangkuan Nathan.
"Dadah! Daddy pergi dulu ya Sayang," ucap Nathan sambil mencubit gemas putranya lalu melambaikan tangan. Nathan junior itu langsung menangis tatkala ditinggalkan oleh Nathan.
"Cup-cup-cup!" Chexil berdiri untuk menenangkan putranya.
"Aku keluar dulu ya Chila," ujar Chexil dan langsung meninggalkan kamar Fazila setelah melihat anggukan dari gadis itu.
Chexil keluar dan bergantian Isyana yang masuk.
"Makan dulu, Sayang!" seru Isyana dengan membawa semangkuk bubur ayam di tangan. Kata dokter, Fazila ada gejala asam lambung jadi dianjurkan untuk makan yang lunak-lunak seperti bubur.
Fazila hanya menatap Isyana tanpa menjawab. Isyana pun tidak membutuhkan jawaban Fazila. Mau tidak mau Fazila harus menurut jika dia ingin sembuh.
Tanpa meminta persetujuan Fazila, Isyana langsung menyendok bubur tersebut dan menyuapi. Seperti biasa Fazila akan menurut pada mamanya. Dia terpaksa membuka mulut walaupun tidak berselera karena tidak ingin mendapatkan ceramah panjang lebar dari sang mama. Di mata Fazila, Isyana lebih menakutkan daripada Nyai Fatimah.
"Kamu kalau ada apa-apa bilang Mama! Kalau ada yang ngejahatin kamu di pesantren, cerita biar nanti kami sampaikan pada pengasuh langsung. Jangan diam saja kalau ditindas!" tegas Isyana yang curiga Fazila sakit karena ada teman yang jahat di pesantren yang membuat Fazila sampai kepikiran dan dia tidak berani mengadu karena diancam. Kejahatan ada dimana-mana bahkan di dalam lingkungan pesantren pun kadang tidak luput dari hal itu.
"Tidak ada Ma, mereka semua baik," lirih Fazila. Isyana menghela nafas panjang.
"Jadi apa yang membuatmu sakit seperti ini? Apa pelajarannya terlalu berat?" Isyana menatap lekat mata Fazila mencoba mencari jawaban di sana. Sorot mata Fazila tampak sayu, seperti ada kesedihan yang tersimpan.
Isyana tahu Fazila tidak sepandai abang-abangnya dan dia beserta keluarga yang lainnya malah menaruh Fazila di pesantren yang jelas-jelas pelajarannya lebih berat daripada di sekolah umum. Ada tambahan pelajaran agama yang lebih detail dan mendalam, bahkan seringkali harus menghafal.
"Tidak juga Ma, mungkin sudah saatnya Chila sakit, sudah takdirnya begini. Dulu Chila kan jarang sekali sakit," jelas Fazila tak ingin membuat Isyana berpikiran macam. Fazila sendiri tidak paham mengapa dirinya bisa sakit begitu lama seperti itu. Demam di tubuhnya seakan tak mau beranjak pergi meskipun sudah ada banyak dokter yang menangani.
__ADS_1
"Tapi kenapa belum sembuh juga Chila? Kata Nyai kau sudah hampir sebulan sakit seperti ini. Suhu tubuhmu panas dan bila malam hari kau keluar keNanti setelah papa pulang kita ke dokter lagi untuk dilakukan uji lab," ucap Isyana dan seperti biasa Fazila hanya mengangguk. Gadis itu pasrah saja mau dibawa kemanapun walaupun sudah bosan meminum obat.
"Yasudah kita lanjutkan makan dulu," ujar Isyana kembali menyuapi Fazila.
"Aku makan sendiri aja Ma," ucap Fazila dengan tangan meraih mangkuk dalam pegangan Isyana.
"Biar Mama saja yang suapin, kalau kamu makan sendiri pasti tidak akan dihabiskan. Kalau begitu terus nanti terpaksa kamu harus diopname," ancam Isyana karena selama ini Fazila tidak pernah mau dirawat di rumah sakit.
Dia malas melihat pria yang memakai seragam dokter terlihat mondar-mandir di depan matanya. Baju itu mengingatkan pada orang yang telah membuatnya patah hati.
Sebelumnya, di pesantren Fazila sempat dipasang infus karena kekurangan cairan dan juga mengurangi panas suhu di tubuhnya walaupun tidak berhasil juga. Saat itu Fazila mewanti-wanti ustadzah Ana bahwa dirinya mau dirawat jalan asalkan dokter atau perawat yang mengontrol keadaannya berjenis kelamin perempuan. Ustadzah Ana dan para pengurus pesantren lainnya pun mengabulkan permintaan Fazila.
Tidak memakan waktu lama Fazila pun menghabiskan semangkuk bubur yang disuapkan oleh Isyana. Wanita paruh baya itu tersenyum senang melihat putrinya mau menghabiskan makan.
"Sekarang minum obatnya, tapi minum dulu!" Isyana mengulurkan segelas air putih dan Fazila langsung meneguk sedikit. Setelah itu barulah minum obat.
"Hei kapan datang!" sapa seseorang di pintu yang meskipun Fazila tidak menoleh sedikitpun sudah tahu siapa yang berbicara. Namun, ia enggan membalas sapaannya.
Tristan berjalan santai ke arah Fazila dan mamanya.
"Sudah kelar syutingnya Tris?" tanya Isyana menyambut kedatangan putranya dengan senyum yang merekah.
"Iya Ma, sungguh melelahkan. Satu minggu Tris hampir tak ada waktu untuk tidur," keluhnya.
"Semoga film yang kamu bintangi sukses ya Nak, biar kerja kerasmu terbayarkan. Kapan tayang di bioskop?"
"Aamiin ya Allah. Terima kasih Ma. Mungkin sekitar dua minggu lagi akan tayang serentak di bioskop seluruh Indonesia."
Isyana menepuk-nepuk pundak Tristan bangga dengan pencapaian putranya.
"Mama berharap anak-anak Mama sukses semua ke depannya," ucap Isyana ditanggapi anggukan oleh Tristan.
FaziIa langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Dia sama sekali tidak mau ikut berbaur dalam obrolan ringan itu.
Ia bukannya tidak senang melihat pencapaian Tristan yang semakin terkenal dan sukses dalam dunia keartisan, tapi malas melihat wajah Tristan mengingat waktu itu Tristan tidak mau menolongnya.
Melihat Fazila membaringkan tubuhnya di atas ranjang Tristan beralih menatap ke arah adik perempuannya.
"Katanya kau sakit, sakit apa?" tanya Tristan sambil meraba dahi Fazila. Namun, Fazila menepis tangan Tristan. Dia tidak sudi disentuh oleh abang yang tidak perduli padanya, begitu pikir Fazila.
__ADS_1
"Panas sekali, sudah dibawa ke dokter, Ma?" tanya Tristan yang belakangan ini memang tidak pernah pulang ke rumah. Ia tinggal di apartemen yang biasa ditempati Nathan waktu awal-awal menikah dengan Chexil karena dekat dengan tempat kerjanya.
"Sudah Tris, 3 hari yang lalu dia baru diperiksa dan sampai sekarang ya masih begini saja. Bahkan, ketika di pesantren sudah beberapa kali dibawa berobat oleh pengurus di sana."
"Cck, aneh."
"Rencananya nanti pas papa pulang mau di cek darah takut-takut demam berdarah."
"Memang gejalanya seperti itu Ma?"
"Tidak sih tapi siapa tahu, soalnya aku tidak mengerti dengan kondisi adikmu ini. Bingung Mama, awalnya Mama pikir tipus, tetapi kata dokter tidak. Entahlah."
Tristan langsung menatap intens wajah Fazila dan Fazila sendiri langsung memalingkan muka.
"Kenapa? Kesel sama Abang?" tanya Tristan dan mengejar wajah Fazila hingga pria itu kembali bisa menatap wajah adiknya. Fazila memberengut kesal lalu menarik selimut hingga menutupi wajahnya.
"Mama keluar dulu ya, ada klien yang menelepon," pamit Isyana lalu berjalan keluar kamar.
Tristan menarik selimut hingga membuat Fazila memberengut kesal.
"Sepertinya kau butuh dokter spesialis bukan dokter biasa," bisik Tristan di telinga Fazila dengan tersenyum cengil.
Mata Fazila membelalak.
"Kau butuh dokter cinta," lanjut Tristan sambil memainkan mata. Fazila langsung mendorong kasar tubuh Tristan.
"Abang!" teriak Fazila dengan ekspresi geram.
Tristan hanya tertawa-tawa.
"Ih, menyebalkan!" ketus Fazila dengan sorot mata yang tajam.
"Tunggu! Aku akan menjemput obatnya," ujar Tristan kemudian berlalu keluar kamar.
"Dasar Bang Tris! Kau tidak akan menemukan obat, sudah nggak ada obatnya. Obatnya sudah ambil orang lain," gumam Fazila setelah punggung Tristan menghilang dibalik pintu.
"Lebih baik mati saja daripada hidup seperti ini," ratap Fazila saat melihat ke arah tubuhnya yang tampak kurus kering, seperti rumput yang kekurangan air.
Bersambung.
__ADS_1