
Hari demi hari Fazila mulai berubah. Gadis yang biasanya ceria itu selalu terlihat murung. Bahkan, ia selalu menyimak pelajaran dengan tidak bersemangat.
Ustadzah Ana mendekati Fazila dan mencoba bertanya dari hati ke hati agar gadis itu mau bicara. Kenyataannya Fazila tidak mau memberitahukan perihal kegalauan hatinya pada orang lain. Dia bertekad menyimpannya sendiri meskipun belum tahu hatinya akan kuat atau tidak.
"Aku kangen Bang Tris," ucapnya pelan dengan suara yang tertahan. Matanya sayu dengan lingkaran mata panda yang terlihat dengan jelas.
Tiap malam Fazila tidak bisa tidur memikirkan dokter Davin hingga baru terlelap saat teman-temannya bangun untuk melaksanakan shalat tahajud sekitar jam 3 dini hari. Beruntung gadis itu lagi menstruasi sehingga teman-temannya tidak membangunkan Fazila dan gadis itu bisa tidur sampai jam 6 pagi tanpa ada gangguan.
"Entah apa pesona dia hingga membuatku uring-uringan seperti ini."
Terkadang Fazila tidak paham kenapa hatinya terikat pada pria itu. Padahal berulang kali dia mencoba mengalihkan hati pada Izzam ataupun Gus Firdaus yang tak kalah tampan dari dokter Davin, tetapi usahanya sia-sia belaka, tidak berhasil juga.
Ustadzah Ana langsung menelpon keluarga Zidane dan memberitahukan keadaan Fazila yang terlihat lemas, bahkan selera makan gadis itu berkurang.
Laras yang mendapat telepon dari pesantren langsung menghubungi cucunya. Tristan yang sedang mengisi acara di sebuah stasiun televisi hingga pagi baru saja menyelesaikan tugasnya.
Matanya yang mengantuk membuat dia tidak langsung pulang, tetapi terlebih dahulu menyamperi sebuah sofa yang berada di belakang studio 4 dan merebahkan tubuhnya. Ia ingin tidur dulu barang sejam dua jam sebelum memutuskan pulang ke rumah.
Drt drrt.
Bunyi getaran ponsel membuat Tristan yang hampir memejamkan mata urung. Dengan malas tangannya merogoh ponsel di saku celana.
"Siapa yang menelpon pagi-pagi begini? Ah menganggu saja," kesalnya lalu menarik ponsel dengan cepat dan memeriksa panggilan telepon.
"Dimas, palingan nggak penting tuh anak," ujar Tristan lalu mematikan ponselnya. Matanya yang sudah sangat berat tak bisa dipaksakan lagi untuk melek. Tidak menunggu lama akhirnya ia tertidur pulas.
Jam sembilan pagi barulah Tristan terbangun dari tidur nyenyaknya. Rasanya begitu nikmat setelah semalaman tak sempat memejamkan mata barang lima menit pun.
Kali pertama membuka mata dia langsung teringat dengan ponselnya yang ia matikan beberapa jam yang lalu. Segera ia menyalakan kembali karena takut ada keluarga atau Dilvara yang menelpon. Gadis itu acapkali cemburuan akhir-akhir ini sehingga Tristan tidak ingin membuat dirinya mengabaikan Dilvara.
"Aman, tak ada satupun chat atau telepon dari Dilvara hari ini," ujar Tristan lalu menghela nafas panjang. Dia Malah mengabaikan panggilan telepon tak terjawab hampir 20 kali dari Dimas.
[ Sombong mentang-mentang dah lulus kuliah nggak perduli lagi sama teman. Jangan menginjakkan kaki di muka bumi dengan angkuh, itu dilarang Tuhan. Sana tinggal aja di planet Mars!]
Tristan terkekeh membaca chat dari Dimas, rupanya pria itu kesal karena panggilannya tidak dijawab oleh Tristan.
__ADS_1
"Ais ada panggilan dari Oma," ujar Tristan kemudian mengangkat telepon dari Laras.
"Ada apa Oma?"
"Kamu masih sibuk?" Terdengar suara Laras bernada khawatir dari baik telepon membuat Tristan berpikiran buruk.
"Sudah selesai acaranya Oma, apakah opa baik-baik saja?"
"Opa baik-baik saja–"
Tristan menghembuskan nafas lega. Dugaannya tak terbukti.
"Tetapi adikmu sedang tidak baik-baik saja. Boleh temani Oma sekarang ke pesantren? Katanya dia kangen kamu."
"Baik Oma. Oma bersiap-siaplah dulu dan tunggu Tris di rumah."
"Oke Tris hati-hati di jalan dan jangan terburu-buru."
"Siap Oma."
"Ayo Oma, tapi pakai sopir saja ya, Tris capek." Tristan benar-benar kelelahan jika harus menyetir lagi.
"Sudah Oma siapkan semua, kau tinggal ikut saja," ujar Laras membuat Tristan tersenyum senang dan bersenandung kecil menuju mobil.
"Oma, apakah aku sudah terlihat seperti ustadz?" tanya Tristan sebelum masuk ke dalam mobil.
Laras berhenti melangkah dan sekilas menatap penampilan Tristan dari ujung kaki sampai ujung kepala.
"Ya, ya, ya. Kau sudah seperti seorang ustadz, tapi sayangnya akhir-akhir ini sudah jarang mengaji," ucap Laras menyayangkan padahal sedari kecil Tristan dan Nathan suka membaca ayat suci Alquran, sekarang hanya bertahan Nathan saja. Laras jarang mendengar suara murotal dari Tristan, kalau nyanyi malah telinganya sudah pekak mendengarkan Tristan menyanyi.
"Sibuk Oma, yang penting shalat tidak lalai kan tak apa. Nanti kalau tidak sibuk Tris rajin-rajin deh baca kitab suci kita."
"Padahal kau bisa baca sambil menunggu dipanggil untuk syuting," saran Laras.
"Baik Oma, nanti Tristan terapkan," ucapnya sambil naik ke mobil.
__ADS_1
"Ada apa dengan Chila Oma?" tanya Tristan saat mereka berdua tengah duduk di atas mobil dan pak sopir melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Entahlah kata ustadzah dan teman-temannya sejak kepergian almarhumah ibu dari Nyai Fatimah adikmu sering melamun. Dia juga kerapkali menarik diri dari ketiga sahabatnya dan memilih sendirian. Oma jadi khawatir dengan adik kamu itu. Ditanya kenapa, nggak jawab malah katanya kangen kamu."
Tristan mengerutkan kening, dalam hati bertanya-tanya apakah yang membuat adiknya itu sampai segitunya memikirkan dirinya. Padahal kakaknya bukan hanya Tristan, tapi ada Nathan juga.
"Apakah aku memiliki kharismatik tersendiri Oma sehingga bukan hanya cewek-cewek di luaran sana yang ngefans sama Tris, tetapi adik sendiri juga?" kelakar Tristan lalu cekikikan.
"Bahkan Dimas sepertinya juga kangen Tris sampai tadi pagi menelpon Tristan berulang kali. Biar kebas tuh tangan megang hapenya, kuanggurin juga tuh panggilan. Kadang panggilan dia memberikan aura negatif bagi Tristan. Dia sering berlaku seenaknya sendiri. Kalo ada yang enak-enak nggak ngabarin Tris, eh pas kesusahan malah cari Tris. Pakai nyuruh Tris pindah ke planet Mars lagi, emang bumi milik dia?"
Laras hanya menggelengkan kepala mendengar ocehan Tristan. Cucunya yang satu itu memang senang bergurau. Mungkin ini yang dirindukan Fazila dari seorang Tristan.
"Entahlah, mungkin di pesantren nggak ada yang kocak seperti kamu, jadi mungkin saja dia berada dalam tahap bosan," ujar Laras.
"Ya mungkin saja. Tinggal di pesantren memang harus serius Oma. Serius menuntut ilmu, serius mencari pahala untuk akhirat."
Laras hanya mengangguk dan Tristan terus saja mengoceh panjang lebar membuat Laras berpikir terbuat dari apa baterai suara anak yang satu itu karena meskipun katanya lelah tetap kuat untuk bicara panjang lebar.
Hingga tak lama kemudian mereka sampai di depan pagar pesantren yang disambut baik oleh warga pesantren.
"Tumben Abang ke sini," ujar Fazila saat melihat keberadaan Tristan di sana.
"Katanya kamu kangen, jadi Abang langsung datang kemari padahal Abang capek-capek habis syuting."
"Siapa yang bilang?" tanya Fazila membuat Tristan terbelalak.
"Dasar adik yang menjengkelkan bukannya disambut baik tapi malah diprotes."
"Abang ke sini mau tebar pesona, kan? Kalau nggak mana mungkin pakai baju kayak gitu. Nggak biasanya! Hmm, Abang mau sok takwa di depan teman-teman, kan?"
"Chila!" kesal Tristan membuat Laras terkekeh.
"Yasudah deh Abang balik, tapi kalau ada apa-apa jangan panggil Abang Tris lagi, minta bantuan sama Bang Nath aja," ujar Tristan lalu membalikkan tubuh hendak melangkah pergi.
"Eh Bang jangan pergi! Chila mau ngomongin sesuatu," cegah Fazila membuat Tristan balik badan kembali.
__ADS_1
Bersambung.