
Jam menunjukkan pukul dua belas lewat bahkan hampir jam satu siang, tetapi tidak ada tanda-tanda dari dokter Davin akan keluar dari ruangannya. Tristan melirik ke arah dokter Davin yang terlihat begitu sibuk menangani satu persatu pasien yang silih berganti.
Kemudian Tristan melirik ke arah pasien yang mengantri di depan ruangan poliklinik penyakit dalam. Sudah mulai sedikit dan keadaan sedikit lengang dibandingkan dengan poliklinik spesialis penyakit lainnya.
Jika tadi yang paling ramai adalah poliklinik bagian spesialis penyakit dalam dan jantung sekarang kalah dengan spesialis kandungan.
Tristan menggeleng melihat beberapa ibu hamil memegang perutnya yang buncit ditemani oleh masing-masing suami mereka. Ekspresi mereka tidak jauh berbeda. Menunggu dengan wajah yang begitu khawatir.
"Ternyata pria suka bikin ulah, wanita sehat-sehat malah dibikin bunting, menambah tugas dokter saja," keluhnya lalu cekikikan sendiri seolah ada yang lucu. Tristan benar-benar dibuat gabut gara-gara harus menunggu lama dokter Davin. Jika saja dia tahu akan sangat lama seperti ini Tristan akan memilih berkendara santai daripada harus mengebut seperti orang kesetanan tadi.
Seorang pasien keluar dari ruangan dokter Davin setelah diperiksa. Di belakangnya menyusul dokter Davin yang melangkah ke arah Tristan.
"Sudah kelar?" tanya Tristan antusias. Akhirnya penantiannya berakhir juga. Dia benar-benar bosan menunggu.
"Bang bisa menunggu sebentar lagi, kan? Ini pasien tanggung nih, tinggal sedikit lagi, ya walaupun jam pemeriksaan sebenarnya sudah berakhir, tapi kasihan mereka sudah mengorbankan apa saja untuk bisa mengantri di sini," ujar dokter Davin dan Tristan terpaksa menyetujui.
"Jiah Abang," batin Tristan. Seketika Tristan merasa tua karena dipanggil Abang oleh dokter Davin.
"Lanjutkan, santai aja!" seru Tristan karena suaranya hampir tak terdengar, berpadu dengan suara panggilan dari setiap klinik yang memanggil pasien selanjutnya melalui mikrofon agar antrian selanjut itu segera masuk.
"Terima kasih atas pengertiannya," ujar dokter Davin lalu melangkah kembali ke dalam ruangan. Ia melanjutkan tugasnya hingga pasien di bagian poliklinik habis tak bersisa untuk hari itu.
Tristan meraih ponsel lalu membuka media sosial dan berselancar di alam maya. Bosan karena tidak ada yang menarik, dia langsung merebahkan tubuhnya di atas kursi tunggu stainles gandeng empat yang sudah kosong.
Tristan telah terlelap dalam tidurnya saat dokter Davin menyudahi tugas hari itu. Dokter Davin melepaskan kaos tangan medis dan membuka masker. Setelah itu mencuci tangan sampai bersih. Selesai dokter Davin langsung membangunkan Tristan.
"Saya pulang duluan ya, Dok," pamit suster Tantri kemudian berlalu pergi tatkala melihat anggukan dokter Davin.
"Masih mengantuk?" tanya dokter Davin melihat Tristan beberapa kali menguap setelah mengerjapkan mata.
"Ya, dari semalam aku tidak tidur karena ada pekerjaan. Pagi pulang ke rumah, lihat Chila masih saja demam padahal kata mama sudah lebih dari satu bulan begitu. Aku langsung mencari alamatmu. Dapat alamat nenek Salma ternyata kau tak ada sana, jadi langsung ke sini aja saat dapat alamatmu dari nenek Salma. Padahal jujur saja aku sangat lelah," jelas Tristan terus terang.
"Sudah dibawa ke rumah sakit?" Raut wajah dokter Davin kembali terlihat khawatir. Bagaimana bisa demam sampai lebih dari sebulan? Itu sangat tidak wajar. Apakah Fazila menderita penyakit kronis? Dalam hati sangat berharap semoga Fazila baik-baik saja.
"Sudah, masa belum sih! Cuma itu saja, bingung dia sakit apa. Kata dokter ada gejala asam lambung, tapi masa demam terus-menerus? Hari ini dia akan mama dan papa tes darah, biar jelas sakit apa. Selama ini hanya diperiksa tanpa diambil darahnya, Chila tak mau."
"Bagaimana kalau kamu pulang ke rumahku dulu? Istirahat sebentar baru nanti sore ke sana. Aku juga semalam suntuk tidak tidur. Menangani tindakan operasi pada beberapa pasien. Tadi pagi hanya sempat mandi lalu makan dan berangkat lagi ke sini."
"Ide yang bagus, rasanya aku tidak akan kuat lagi menyetir motorku," ujar Tristan.
"Baiklah kalau begitu kita pulang saja. Kendaraanmu biar aku yang bawa dan mobilku biar pak sopir yang nyetir. Sebaiknya kamu ikut dalam mobil biar bisa rebahan," saran dokter Davin dan Tristan setuju saja.
"Andai saja Nathan seperti dia, tapi mungkin masih marah karena menganggap aku mau merebut Chexil, dulu," batin dokter Davin.
"Ayo!" ajak Tristan dan berjalan lebih dulu.
"Danisa aku duluan ya! Sudah habis waktu bertugas Bos," ucap dokter Davin lalu terkekeh. Sengaja menggoda Danisa karena wanita itu masih sibuk dengan pasien-pasiennya. Danisa adalah dokter kandungan yang bertugas di bagian poliklinik obgyn.
"Ya duluan saja, bentar lagi aku juga kelar," ujar Danisa sambil tersenyum.
Dokter Davin mengangguk lalu melangkah cepat menyusul Tristan.
"Tapi bagaimana tugasmu di klinik nanti sore?" tanya Tristan, ingat dengan pekerjaan dokter Davin yang pecah dua antara rumah sakit dan klinik.
__ADS_1
Dokter Davin menghentikan langkahnya sebentar. Terlihat tampak berpikir.
"Tenang nanti sore jadwalku kosong," jawabnya.
"Baguslah kalau begitu. Jadi kau tidak harus memilih antara tanggung jawab dan permintaanku untuk menemui Chila."
"Nggak mungkin aku tolak, kalau misal nanti sore tidak bisa kan ada nanti malam atau nanti dipikirkan lagi jadwal praktekku yang kosong kapan, tapi kalau memang ada yang gawat sama Chila sih, aku akan minta tolong pada teman yang seprofesi agar menggantikan saya sebentar."
"Oke."
Mereka berdua pulang ke rumah kontrakan dokter Davin dengan kendaraan yang berbeda. Sampai di rumah mereka sama-sama tepar karena sudah lama menahan kantuk.
Sore hari mereka berangkat ke Jakarta setelah terlebih dahulu makan siang yang terlambat. Matanya yang tidak mampu lagi terbuka membuat mereka mengabaikan perutnya yang meronta ingin di isi.
Di tempat yang berbeda, Fazila turun dari mobil. Dia baru saja dari rumah sakit bersama Isyana dan Zidane.
Setelah Isyana dan Fazila turun dari mobil Zidane langsung memutar kemudi dan kembali ke kantor setelah ditinggalkan hampir seharian.
"Bagaimana Ma?" tanya Chexil yang menghampiri mereka dengan menggendong putranya.
"Tidak ada yang gawat bahkan untuk demam berdarah pun negatif.
"Syukurlah kalau begitu Ma." Chexil bernafas lega.
"Nak Chexil! Mama titip Chila ya! Tadi anak-anak di butik menelpon dan minta Mama segera ke sana. Mama harus memastikan kualitas pesanan pelanggan sebelum akhirnya dikirim," ujar Isyana dan Chexil mengangguk sambil tersenyum.
"Oh ya Tristan mana? Dari pagi nggak kelihatan lagi."
"Keluar Ma, biarkan saja, dia butuh refreshing setelah berkutat dengan pekerjaan yang begitu serius."
"Siap."
Isyana mengangguk dengan bibir tersenyum lalu mengucapkan salam.
***
Adzan Maghrib berkumandang, dengan malas Fazila masuk ke kamar mandi, mengambil wudhu lalu shalat wajib sendirian.
Di rumah hanya ada Chexil dan putranya selain para pembantu di rumah mereka. Zidane belum kembali dari kantor begitupun Isyana yang nampak sibuk di butiknya. Opa dan opanya ada di rumah saudaranya, membantu menyiapkan sebuah acara.
Nathan sedang ada pekerjaan di luar dan Tristan masih dalam perjalanan pulang bersama dokter Davin. Mereka berhenti sebentar di masjid pinggir jalan untuk menunaikan kewajiban shalat.
Setelah berdoa sebentar sesudah shalat mereka langsung melanjutkannya perjalanan.
"Chila jangan lupa makan dan minum obat," ujar Chexil mengingatkan, bersama itu Bik Ina datang dengan membawa makan malam Fazila ke kamar sebab kalau tidak begitu sudah dipastikan Fazila tidak akan menyentuh makanan malam ini.
"Taruh saja dulu Bik! Chila masih ingin tiduran sebentar sambil menunggu adzan isya'," ucapnya.
"Baiklah, tapi jangan lupa dimakan ya! Jangan sampai bibi dimarahi oleh Mamamu," ujar Bik Ina dan Fazila hanya mengangguk.
Bik Ina pun keluar setelah pamit menyusul Chexil di belakangnya karena putranya sedikit rewel.
"Chila nanti kakak kembali!" seru Chexil sambil bergegas keluar.
__ADS_1
"Iya Kak."
Setelah Bik Ina dan Chexil keluar Fazila berbaring di atas sajadah sambil menatap langit-langit kamar.
"Lebih baik aku ngaji saja," gumam Fazila sambil berdiri dan Mengambil mushaf lalu duduk kembali, melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an dengan suara merdu dan menyentuh ke dalam kalbu. Kalamullah itu bisa Fazila resapi lebih dalam tatkala paham betul artinya.
"Assalamualaikum!" Terdengar suara pria dari luar kamar. Meskipun tidak jelas terdengar karena berpadu dengan bacaan yang ia lafalkan, Fazila dapat menebak kalau itu suara Tristan.
Nanggung dengan bacaannya, Fazila hanya menjawab salam Tristan di dalam hati dan melanjutkan bacaannya. Entah kenapa ia begitu damai sekali dan seolah tidak ingin berhenti membaca setelah akhir-akhir ini jarang mengaji. Lebih damai dan tenang dibandingkan mengajinya waktu dulu. Seolah setiap ayat yang dieksekusi lidahnya, menggetarkan hati.
Surat Ar Rahman yang dibacanya seolah menyindir Fazila yang tidak pandai bersyukur dengan keadaan. Gadis itu membaca ayat yang diulang-ulang dalam surat itu dengan mata yang basah.
"Assalamualaikum!" seru Tristan lagi karena Fazila tak menjawab, pria itu mengintip ke dalam kamar dan melihat Fazila masih dengan mukenanya.
Tristan hendak masuk ke dalam saat tangan dokter Davin mencekal tangannya.
"Biarkan dia menyelesaikan bacaan Al-Qur'an-nya dan kita hanya perlu menunggu.
Tristan mengangguk dan mengajak dokter Davin turun ke lantai bawah untuk duduk di ruang tamu. Namun, dokter Davin menolak. Ia ingin mendengar bacaan Fazila sampai selesai. Suaranya yang merdu membuatmu seakan terbius di tempat, enggan kemana-mana.
Beberapa saat Fazila selesai membaca Alquran dan melakukan shalat isya'.
"Chila pasang kerudungmu!" perintah Tristan saat melihat Fazila membuka mukena yang menempel ditubuhnya.
"Iya Bang bentar. Abang darimana saja sih? Dari tadi dicariin Mama. Ditelepon nggak diangkat lagi," protes Fazila sambil menggulung sajadah kemudian meraih kerudungnya yang tergeletak di atas ranjang dan memakai.
"Chila, Abang bawa sesuatu untukmu," ucap Tristan sambil senyum-senyum sendiri.
"Makanan, kan? Yang itu aja belum tersentuh," ujar Fazila sambil menunjuk makanan yang ada di atas meja.
"Bukan," sahut Tristan membuat Fazila berpikir keras.
"Jamu penambah nafsu makan?"
"Bukan Chila, tapi obat."
"Cck sama aja," keluh Fazila. Dia sudah bosan dengan benda kecil itu, pahit seperti pahitnya kehidupan.
"Ini beda lah masa sama," ujar Tristan.
"Apaan sih Bang? Ah sudahlah, Chila kan lagi ngambek sama Abang. Jadi masih demam ngomong sama Abang," ketus Fazila.
"Setelah itu nggak lagi," ujar Tristan dan Fazila terbelalak mendengarnya karena Tristan begitu percaya diri.
"Pria di balik pintu tunjukkan pesonamu!" seru Tristan membuat tangan Fazila langsung menyentuh dahi Tristan. Khawatir pria itu demam dan mengigau, atau lebih parahnya lagi, stres.
"Assalamualaikum!"
Deg.
Detak jantung Fazila berdegup kencang. Tubuhnya langsung membeku. Mendengar suaranya saja Fazila sudah syok apalagi melihat wajah pria itu.
"Dokter," lirihnya sambil menunduk. Tangannya ia remas karena mendadak grogi.
__ADS_1
Bersambung.