DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR

DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR
Bab 31. Terlambat


__ADS_3

"Dan kau sendiri sekarang ingin menghindar dariku Chila? Oh tidak, kau harus dihukum."


Tiga hari kemudian dokter Davin langsung mendatangi pondok pesantren tempat Fazila menimba ilmu. Dia membawa beberapa kotak makanan dan satu plastik besar berisi camilan.


"Kok sepi ya?" Dokter Davin termangu di depan pintu pagar. Menatap ke dalam pesantren yang tampak lengang. Hanya ada beberapa anak yang melintas dari kejauhan.


"Izam seperti ada orang tuh!" Tunjuk Rofik ke arah dokter Davin. Izzam pun langsung menoleh dan menatap dokter Davin.


"Bukannya itu dokter yang memeriksa teman-teman kita dulu ya?" tebak Izzam.


Rofik memicingkan mata dan berkata, "Sepertinya iya, mungkin beliau mau bertamu pada Nyai ataupun Pak Kyai."


"Baiklah, kalau begitu aku samperin dulu." Tanpa menunggu tanggapan Rofik, Izzam melangkah pergi.


"Assalamualaikum Dok, perlu sama siapa ya?" tanya Izzam tanpa basa-basi.


"Wa'alaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh. Kok sepi ya?" Bukannya menjawab tanya Izzam, dokter Davin malah balik bertanya.


"Iya, para santri sudah pada pulang. Paling 4 hari lagi balik ke sini."


"Santri yang cewek juga pulang?"


"Ya, sepertinya pulang semua tadi pagi. Lebih jelasnya cek sendiri di sebelah sana. Tanya sama Nyai juga boleh." Izzam menunjuk ke arah pondok putri.


"Oke, thanks." Dokter Davin segera berlalu. Saat sampai di depan pagar pondok putri, dia berpapasan dengan Tina yang sedang melangkahkan kakinya keluar pagar.


"Assalamu'alaikum!" sapa dokter Davin.


Tina yang berjalan menunduk terlihat kaget saat tiba-tiba mendengar suara orang di sekitarnya.


"Maaf mengagetkan," ujar dokter Davin merasa bersalah.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, tidak apa-apa," ujar Tina.


"Boleh aku bertanya sesuatu?"


"Boleh saja," ujar Tina yang sama sekali tidak mengenal ataupun hanya sekedar tahu pada dokter Davin, karena saat pria ini dulu mengobati teman-temannya, Tina masih berkutat di dapur. Membantu emak menyiapkan makan untuk para santriwan dan santriwati yang sedang sakit.


"Apa Chila ada di dalam?" tanya dokter Davin to the poin.


"Chila?" Tina terlihat mengernyitkan dahi.


"Jangan bilang dia nggak mondok di sini," batin dokter Davin.


"Iya Chila, Fazila Alberto," jelas dokter Davin.


"Chila sudah dijemput pulang oleh orang tuanya satu jam yang lalu. Maaf Anda siapanya Chila ya?"


"Oh, aku teman Abangnya, ke sini dimintai bantuan untuk menjemput adiknya." Dokter Davin berbohong.


"Berarti benar yang dia maksud adalah Chila-ku." Dokter Davin masih bicara dalam hati.


"Maaf kalau tidak ada yang mau ditanyakan lagi, saya permisi. Mbak saya sudah menunggu," ujar Tina sambil menunjuk ke depan. Ke arah wanita yang kini sudah menunggunya di atas motor.


"Oh iya, tidak ada. Terima kasih atas informasinya."


"Iya sama-sama. Kami duluan, assalamualaikum!" seru Tina sambil membonceng di belakang kakak perempuannya.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi," ucap dokter Davin dan Tina pun berlalu pergi.


"Ternyata aku sudah telat, nyusul dia ke rumahnya nggak mungkin karena harus tetap bekerja di sini. Ya udah deh lain kali aja," gumam dokter Davin. Lelaki itu berbalik dan melangkah menuju mobilnya terparkir.


"Oh iya, masa ini dibawa pulang lagi? Aku kan nggak terlalu suka ngemil." Dokter Davin melihat 2 bungkusan di tangannya. Satu plastik besar berisi camilan itu dia sengaja beli karena melihat tubuh Fazila lebih kurus dari sebelumnya. Berharap dengan nyemil kembali lagi seperti sebelumnya. Dimana makan, makanan berat pasti di atur di dalam ponpes. Menyesal dia tidak memberikan pada Tina karena memang tidak fokus pada makanan tersebut tadi

__ADS_1


"Oh, ya. Kan ada beberapa santri yang cowok tadi. Aku berikan saja padanya." Dokter Davin melangkah ke arah pondok putra dan langsung melambaikan tangannya ke arah Izzam.


"Izzam, dipanggil lagi tuh!" seru Rofik dan Izzan langsung sigap berjalan kembali ke pintu pagar.


"Ada apa, Dok?"


"Ini untuk kamu sama teman-temanmu, daripada mubazir," ucap dokter Davin sambil mengulurkan plastik di tangan pada Izzam.


"Terima kasih banyak," ucap Izzam lalu menerima bungkusan tersebut dari tangan dokter Davin.


"Bagaimana sudah ketemu dengan santriwati yang ingin dokter temui?"


"Tidak, sudah terlambat. Dia sudah pergi satu jam yang lalu."


"Boleh tahu siapa namanya? Nanti kalau dia kembali saya sampaikan bahwa dokter mencarinya."


"Memang bisa? Kan, kalian beda ruangan."


"Bisa, meski pondok santri pria dan wanita dipisah tapi sekolah kami satu."


Dokter tampak mengangguk-angguk.


"Bisa bahaya nih kalau sampai Chila naksir sama santri yang cowok," gumam dokter Davin.


"Maaf Dok saya tidak mendengar, siapa namanya?" Izzam pikir dokter Davin menyebutkan nama orang.


"Oh tidak perlu, lain kali saya akan kembali. Terima kasih atas semuanya, kalau begitu saya pamit, assalamualaikum." Dokter Davin berbalik.


"Sama-sama Dok, terima kasih juga makanannya. Wa'alaikumsalam warahmatullahi," ucap Izzam dan dokter Davin hanya mengangguk lalu melanjutkan langkah.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2