DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR

DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR
Bab 79. Belanja Bersama


__ADS_3

"Chila, Bang Tris, ada apa ya?" tanya dokter Davin kemudian.


Gara-gara Fazila yang membahas tentang suster baru yang akan menemaninya bekerja ke depannya, dia jadi melupakan pertanyaan tentang tujuan kedatangan Fazila dan Tristan ke rumah sakit.


"Tadi saya mendengar bunyi tabrakan dan suaramu berteriak dari dalam telepon. Saat aku mencoba bicara ternyata panggilan telepon terputus dan kau tidak dapat dihubungi. Chila yang khawatir langsung mengajak Bang Tris untuk melihat keadaanmu," terang Fazila.


"Maaf bukannya Chila bermaksud untuk mengganggu jam kerja Dokter. Chila hanya khawatir terjadi hal buruk pada diri Dokter, tidak lebih dari itu," lanjut Fazila karena ia takut dokter Davin tidak menyukai sikapnya kali ini, seperti nasehat yang disampaikan oleh Isyana.


"Oh nggak apa-apa sih Chila, aku malah suka kamu perhatiin aku begini. Berasa kayak dicintai banget begitu," ucap dokter Davin, terus menatap wajah Fazila yang seakan tidak pernah bisa membuatnya bosan. Wajah mungil dengan hidung mancung seperti boneka India tidak bisa membuatnya berpaling dari siapapun termasuk suster yang ada di hadapanmu sekarang.


Fazila hanya mengangguk tanpa kata.


"Tadi ponsel saya memang mati karena kehabisan baterai setelah terlempar ke pinggir jalan. Terus pas aku hidupkan lagi aku tinggal ke meja operasi tanpa sempat menghubungi kamu lagi. Sekarang lagi dicas di dalam." Dokter Davin menunjuk ke dalam.


"Tapi Dokter tidak apa-apa, kan?"


"Alhamdulillah hanya luka kecil dan sudah saya obati."


"Tapi Chila lihat tadi Dokter kesusahan dalam berjalan."


"Tak apa Chila, nanti juga sembuh sendiri. Sudah ya aku harus bertugas, sepertinya sudah ada pasien," ucap dokter Davin bersiap-siap untuk melangkah ke dalam ruangan sedangkan suster Dinda sudah lebih dulu masuk dan duduk di sana. Ia terlihat menerima berkas dari seorang pasien yang mereka dapatkan di bagian pendaftaran.


"Iya Dokter, kalau begitu Chila dan Bang Tristan pamit pergi ya!"


"Oke hati-hati ya, Chila! Bang Tris juga!"


Keduanya pun mengangguk lalu melangkah pergi. Baru beberapa langkah dokter Davin berhenti.


"Tunggu!"


Fazila dan Tristan kompak menoleh.


"Iya, ada apa?" tanya Tristan dan Fazila hanya menatap tanpa kata.


"Lebih baik kalian jangan pulang dulu, Chila pasti kecapean pulang pergi dalam waktu singkat seperti sekarang. Saya sarankan kalian beristirahat saja dulu di rumah," ujar dokter Davin lalu berjalan cepat ke dalam ruangan dan mengeluarkan kunci rumah dari dalam tas kerjanya.


Ia berjalan keluar dan memberikan kunci tersebut pada Tristan.


"Tapi–"


Fazila ingin menolak, tetapi ucapannya langsung dipotong oleh dokter Davin.


"Tinggallah di rumah, nanti malam aku ingin mengajakmu jalan-jalan. Bisa, kan?"


Fazila menatap wajah Tristan sebelum akhirnya mengambil keputusan.


Tristan mengangguk sehingga Fazila langsung mengucapkan kata 'Iya'.


"Yasudah tunggu aku di rumah!" serunya lalu kembali masuk ke dalam ruangan dan kembali bertugas.


"Dokter Davin benar, kau harus beristirahat dulu sebelum pulang sebab kamu belum sehat benar. Bagaimana kalau sekarang kita mencari makan dulu?"


"Boleh Bang." Keduanya pun mencari tempat makan yang tidak terlalu ramai karena malas menunggu lama ataupun mengantri.


"Bagaimana kalau makan di sana Bang!" tunjuk Fazila pada warung makan di pinggir jalan.


"Jangan, nanti kalau kamu sakit perut bagaimana?" tolak Tristan karena tidak ingin sang adik makan di tempat sembarangan sebab tadi mengeluhkan rasa sakit pada perutnya.


"Cck, nggak bakal. Tadi Chila sakit perut karena mual kebanyakan makan angin," kesal Fazila mengingat bagaimana Tristan berkendara dengan kecepatan tinggi tadi. Khawatir sih khawatir dengan keadaan dokter Davin, tetapi bagaimana kalau dirinya sendiri yang malah celaka?


"Ya, maaf deh, gitu aja ngambek."


"Ayo Bang tuh lihat sepertinya pecel lelenya enak deh," ujar Fazila sambil menunjuk seseorang yang terlihat makan dengan lahap di dalam warung.


"Oke deh sebagai permintaan maaf Abang, kamu boleh makan di sini, tapi ingat jangan pernah laporin Abang sama mama ataupun papa bahwa Abang membawamu mengebut."


"Oke deal," ucap Fazila setuju sambil tersenyum senang.


Mereka pun masuk ke dalam dan memesan menu yang sama, tetapi punya Fazila tidak menggunakan sambal.


"Nikmat nggak Bang makan di sini? Warung-warung kecil seperti ini tidak kalah loh soal rasa dari rumah makan yang lain. Bedanya hanya pada soal pengelolaan tempat dan variasi menu yang disediakan.


Di sana tempatnya lebih luas dan indah serta menunya lebih beragam, tapi kalau di sini tempatnya ya lebih sempit dan sederhana serta menunya terbatas. Namun soal harga, beh nggak diragukan lagi, jauh lebih murah meskipun rasanya sama bahkan kadang ada yang lebih enak."


"Sok tahu lo," ujar Tristan sambil menyeka keringat di dahi karena kepedasan.


"Ya tahulah Bang. Pas di pondok aku 'kan sering minta tolong sama anak-anak yang sekolah di tempat yang sama dengan Chila, tapi tidak mondok dan rasanya ... memang benar-benar mantap-mantap semua. Yang terpenting ramah di kantong anak-anak santri," ujar Fazila.


"Bukankah perkara makanan sudah disiapkan oleh pihak pesantren ya, Chila?"


"Yang itu jelas Bang, tapi sayangnya kadang kami itu cepat merasa bosan karena menunya kurang beragam. Jadi, pakai alternatif lain yaitu menitipkan pada mereka yang bisa keluar masuk sekolah."


"Oke boleh juga, tapi minta teman-temanmu yang kau titipkan makanan itu agar memastikan tempat makan yang ia beli bersih. Nanti bukannya kenyang malah bikin sakit perut."


"Cck, Abang selalu begitu. Mentang-mentang selebritis menyepelekan pedagang kecil," protes Fazila tak suka.


"Ya kok malah menyimpulkan begitu sih? Maksud Abang tentang kebersihannya saja bukan tentang pedagang kecil atau pedagang besar atau pedagang terkenal sekalipun. Kalau tentang itu mah terserah yang penting makanannya sehat saja."


"Bang, boleh aku bungkus juga?"


"Buat apa? Buat dokter Davin?"


"Tidak."


"Terus buat siapa?"


"Teman-teman di pondok."


"Jadi kamu ke sana? Gimana kalau Nyai melihatmu sudah sembuh tapi belum kembali juga ke pondok?"

__ADS_1


"Ya sembunyi-sembunyi dong Bang, jangan sampai kelihatan Bu Nyai ataupun Pak Kyai."


"Hah! terserahlah," ucap Tristan pasrah.


Fazila langsung memesan makanan untuk teman-temannya setelah menghabiskan makanan di piring. Setelah membayar langsung mengajak Tristan pergi ke pesantren.


"Pak! Pak satpam!" seru Fazila dalam mobil.


"Sungguh tidak sopan, bicara dengan orang lain nggak turun," protes Tristan.


"Kalau aku turun kelihatan Nyai dong Bang atau kalau nggak kelihatan santriwati yang lain lalu pakai laporan segala. Bisa dihukum nanti aku karena dianggap membohongi mereka, dengan sakitku," keluh Fazila.


"Siapa nama teman kamu?"


"Qiana, Anggita dan Andin."


"Oke, aku saja yang turun," ucap Tristan seraya membuka pintu mobil lalu berjalan mendekat ke arah pak satpam yang berdiri di dalam pagar.


"Assalamu'alaikum Pak."


"Wa'alaikum salam warahmatullahi, ada perlu apa ya, Mas?"


"Boleh bertemu dengan Qiana, Anggita dan Andin?"


"Maaf, Mas siapa mereka? Kalau tidak bisa menunjukan data kekeluargaan di larang masuk kecuali melalui izin Nyai Fatimah. Apalagi Mas nya laki-laki masa mau ketemu dengan santri perempuan? Nanti saya bisa kena marah Kyai Miftah dan Nyai Fatimah."


Tristan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Chila!" seru Tristan dengan setengah berbisik.


"Chila?" tanya pak satpam kaget.


"Iya Pak, Chila yang mau bertemu, bisa ya Pak? Kami cuma mau ngasih makanan dan adik saya ingin bertemu sebentar. Kangen katanya Pak sama teman-temannya tapi mau masuk belum pulih benar," ujar Tristan dan pak satpam terlihat menengok ke dalam mobil. Fazila di dalam mobil terlihat melambaikan tangan.


"Sebentar, aku akan menyuruh anak-anak untuk memanggil mereka."


Pak satpam pun melambaikan tangannya kepada seorang santri dan memerintahkan gadis itu memanggil ketiga teman Fazila yang disebutkan oleh Tristan tadi.


"Jangan lama-lama!" Pak satpam memperingatkan ketiganya agar tidak berlama-lama di luar pesantren.


"Ah Chila kami kangen!" seru ketiganya setelah masuk ke dalam mobil dan menutup pintu. Tristan berdiri di samping mobil sambil berbicara dengan pak satpam.


"Aku juga," ucap Fazila sambil memindai satu persatu wajah temannya.


Mereka berempat berpelukan dengan erat.


"Bagaimana kabarmu sudah baikan?" tanya Andin sambil menyentuh dahi Fazila.


"Alhamdulillah sudah, tapi aku belum bisa kembali ke pesantren dulu."


"Kenapa?" tanya Qiana.


"Masih ada acara keluarga. Nanti kalau sudah selesai baru aku kembali ke sini."


"Ada pak satpam?" tanya Kyai Miftah sambil berjalan ke arah pak satpam.


"Sst! Ada Pak Kyai jangan berisi!" ujar Fazila memperingatkan teman-temannya.


Mereka pun diam dan bersembunyi di balik kursi mobil.


"Tidak ada Pak Kyai kami hanya mengobrol santai," sahut pak satpam.


"Ini bukannya Abang Fazila ya?" tunjuknya pada Tristan.


"Assalamualaikum Pak Kyai! Apa kabar? Benar Pak Kyai saya Tristan Abang Chila, kebetulan lewat dan berhenti sebentar di sini."


"Waalaikum salam warahmatullahi ta'ala eabarakatuh. Kabar saya baik Nak Tristan. Kalau begitu mari masuk ke dalam! Tidak enak kalau hanya mengobrol di luar saja. Oh iya, bagaimana keadaan Chila? apakah sudah ada perkembangan?"


"Alhamdulillah Pak Kyai. Kalau Chila sudah mendingan dan terima kasih atas ajakan masuk ke dalam, tapi mohon maaf karena saya sebenarnya tidak bisa berlama-lama karena ada urusan lain."


"Oh baiklah, kalau begitu saya tinggal dulu ya. Assalamualaikum!"


"Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh."


Setelah Kyai Miftah pergi, mereka berempat mengobrol santai kembali hingga akhirnya pak satpam memberikan kode agar mereka turun dari mobil dan kembali masuk ke dalam pekarangan sebelum ada yang melihat.


"Eh ini untuk kalian dan jangan lupa pak satpam dibagi," ucap Fazila sambil menyodorkan makanan dan camilan yang sempat dibelinya tadi.


"Dada Chila! Terima kasih Pak satpam," ujar ketiganya lalu berlari ke dalam. Tidak ingin terlihat Heni si tukang ngadu dan sering melebih-lebihkan juga tentang apa yang dilihatnya.


"Terima kasih pak satpam, kami permisi, assalamualaikum," ucap Tristan sebelum akhirnya melajukan mobilnya menuju rumah dokter Davin.


"Sama-sama. Terima kasih juga makanan dan camilannya dan wa'alaikum salam warahmatullahi Wabarakatuh!" seru pak satpam sambil melambaikan tangan.


"Apakah rumah dokter Davin jauh dari pesantren?" tanya Fazila saat mobil sudah melaju di jalanan kembali.


"Kalau dibilang jauh sih nggak juga, tapi kalau dibilang dekat sih jauh, jadi anggap saja sedang-sedang saja."


Fazila hanya mencebik mendengar jawaban dari Tristan. Selang beberapa saat mereka sampai juga di rumah minimalis tempat dokter Davin tinggal.


"Nggak ada pembantunya ya?" tanya Fazila ketika melihat Tristan membuka pagar sendiri lalu membuka pintu kamar dan masuk ke dalam tanpa ada yang menyambut.


"Nggak ada, dokter Davin lelaki mandiri," ujar Tristan lalu merebahkan tubuhnya di kasur lantai yang berada di depan televisi.


"Kamu kalau mau tidur di kamar yang sebelah sana!" tunjuk Tristan pada kamar yang pernah dipakainya saat pertama ke rumah dokter Davin.


"Baiklah," ujar Fazila lalu beranjak ke dalam kamar yang ditunjuk oleh Tristan dan langsung berbaring di atas ranjang. Perjalanan hari ini membuatnya lelah dan mengantuk padahal pagi ini dia sudah cukup lama tidur.


Jam setengah 3 siang dokter Davin datang dengan membawa makanan. Dia langsung membangunkan Fazila dan menyuruhnya shalat sebelum makan bersama.

__ADS_1


"Aku sudah makan tadi dan belum lapar lagi," tolak Fazila ketika dokter Davin menyiapkan makan untuk mereka.


Ini belum malam tapi Fazila sudah harus makan untuk yang ketiga kalinya.


"Chila!" Tristan memberikan kode dengan matanya agar Fazila tetap makan walaupun sedikit untuk menghormati dokter Davin yang sudah repot-repot membelikan makanan untuk mereka.


"Baiklah," ucap Fazila pasrah dan langsung menyendok makanannya. Namun baru memakan separuh Fazila langsung berhenti karena perutnya seakan sudah penuh dan tak ada tempat lagi untuk makan.


Dokter Davin menautkan alisnya ketika melihat Fazila berhenti makan.


"Kenapa? Tidak enak?" tanyanya sambil menaruh sendok di atas piring setelah menghabiskan jatah makanan untuknya.


"Kenyang," jawab Fazila dengan suara manja.


"Oh." Dokter Davin langsung mengambil piring Fazila dan menghabiskan makan yang tersisa di sana.


Fazila meringis.


"Dokter nggak jijik ya?"


"Ngapain jijik emangnya kamu nggak sikat gigi?"


"Bukan begitu, tapi itu kan makanan sisa dan Chila kan lagi sakit. Nanti nular loh!"


"Mubasir," ucap dokter Davin sambil terus mengunyah tak perduli dengan perkataan Fazila yang mengatakan sakitnya bisa menular.


Melihat dokter Davin yang memakan sisa makanannya membuat isi di dalam perut Fazila bergejolak ingin keluar. Gadis itu terlihat jijik meski itu bekasnya sendiri.


"Hoek! Hoek!" Fazila langsung menutup mulut dan berlari menuju kamar mandi.


"Astaga! Chila! Chila!" Tristan hanya menggelengkan kepala melihat tingkah sang adik karena dia paham mengapa Fazila seperti itu. Berbeda dengan dokter Davin yang langsung merasa Khaira dengan keadaan Fazila.


Pria itu menghentikan aktivitas makannya dan menyusul ke kamar mandi tanpa minum terlebih dahulu.


"Chila kau kenapa?" tanya dokter Davin lalu menyusul masuk ke dalam kamar mandi yang terbuka. Melihat ada muntahan di bawah sana membuat dokter Davin semakin khawatir. Segera ia membantu memijit leher Fazila agar muntahnya keluar semua.


"Huft!" Fazila menghembuskan nafas panjang setelah menuntaskan muntahannya lalu berkumur-kumur.


"Kau tidak apa-apa Chila?" tanyanya sambil menyentuh kening gadis itu.


Fazila hanya menggeleng dan keluar dari kamar mandi menghampiri Tristan dan duduk di sampingnya.


"Kau seperti orang hamil saja sering muntah," keluh Tristan.


"Bang!" Fazila protes tidak suka dengan perkataan Tristan. Bagaimana kalau dokter Davin malah menganggap ucapan Tristan itu benar?


"Bolehkah aku memeriksamu?" tanya dokter Davin masih dengan raut wajah yang terlihat khawatir.


Fazila menggeleng.


"Kenapa?"


"Malu, lagipula aku tidak apa-apa kok, tadi muntah hanya kekenyangan saja," kilah Fazila tak mungkin mengatakan muntah karena jijik karena takut dokter Davin salah mengartikan.


"Oh, yasudah istirahat di kamar sana gih!" Dokter Davin duduk di samping Tristan. Fazila pun ikut duduk bukannya langsung masuk kamar.


"Kenapa masih di sini? Bukankah kau tidak enak badan?"


"Apakah Dokter percaya dengan ucapan Bang Tris?"


"Yang mana?"


"Yang mengatakan Chila seperti orang hamil saja muntah terus? Makanya Dokter ingin memeriksa Chila?" Suara Fazila terdengar hati-hati.


"Masuklah dan beristirahat! Mana mungkin aku berburuk sangka seperti itu. Lain kali kalau sudah kenyang tidak perlu dipaksakan untuk makan karena tidak baik kalau sampai muntah?"


"Iya."


"Sudah ah istirahat sana karena nanti malam aku ingin mengajakmu jalan-jalan! Aku harap nanti malam kamu sudah sehat, oke?"


Fazila mengangguk lalu berlalu masuk ke dalam kamar dan beristirahat sambil menunggu adzan ashar berkumandang.


"Sepertinya Chila saat ini sangat sensitif Bang," ucap dokter Davin setelah Fazila sudah tidak terlihat di mata mereka.


"Ya begitulah, kadang setiap aku bercanda dianggap sungguh-sungguh seperti tadi itu."


Dokter Davin hanya mengangguk lalu menyandarkan tubuhnya pada bahu sofa.


"Aku hanya berharap dia selalu baik-baik saja," ucapnya lalu memejamkan mata.


***


Sehabis shalat Maghrib Fazila tidak keluar kamar, tetapi gadis itu tampak malas-malasan di atas kasur masih dengan memakai mukena.


"Assalamualaikum Chila!" Dokter Davin berkata sambil mengetuk pintu.


"Wa'alaikum salam warahmatullahi," ucap Fazila lalu berjalan ke arah pintu dan membukanya.


"Dokter, ada apa?"


"Hmm, gimana udah siap belum?"


"Siap apa?" tanya Fazila bingung. Gadis itu tampak menggaruk kepalanya yang tertutup mukena.


"Kita jalan-jalan malam ini sekaligus berbelanja bareng. Keadaanmu sudah mulai membaik, kan?"


"Iya, tubuh Chila sudah enakan kok. Oh iya ya, maaf Chila sempat lupa. Kalau begitu Chila bersiap-siap dulu ya!"


"Baik."

__ADS_1


Fazila mengangguk dan langsung menutup pintu kamar dan menguncinya dari dalam sedangkan dokter Davin kembali ke kamarnya sendiri dan bersiap-siap.


Bersambung.


__ADS_2