DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR

DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR
Bab 107. Tertangkap Basah


__ADS_3

Fazila kembali ke kamar dan mendapati Qiana beserta kedua temannya sedang membagikan kue pada yang lain.


"Aku mandi duluan," ujar Fazila lalu meraih handuk di kamar dan berjalan menuju kamar mandi.


"Ya nanti kita nyusul," ujar Andin mewakilkan kedua temannya.


"Oke." Fazila melangkah santai ke arah kamar mandi dimana para santriwati lainnya belum ada yang ke sana. Sepertinya masih sibuk dengan kegiatan masing-masing dalam kamar mereka.


Tepat di saat adzan dhuhur berkumandang, Fazila sudah selesai mengambil wudhu dan kembali ke kamar sedangkan santri yang lainnya terlihat berhamburan ke kamar mandi dan terlihat berebutan.


"Gini nih kalau kebiasaan menunda-nunda waktu, kalau satu mau mandi baru yang lain ikutan mandi. Memang dari tadi ngerjain apa saja sih?" gumam Fazila seakan protes pada tingkah mereka.


"Sudah selesai?" tanya Qiana yang baru selesai membagi-bagikan kue sementara Andin dan Anggita sudah tampak memasang mukena.


"Sudah Qia," sahut Fazila dan Qiana mengangguk.


"Tunggu kapan kamu mandi?" tanya Fazila merasa aneh karena keduanya sudah selesai lebih dulu dibandingkan dirinya padahal Fazila merasa dirinya mandi cepat tadi.


"Pakai cara cepat, shalat tanpa mandi," ujar Anggita lalu cekikikan membuat Fazila menganga kaget.


"Kenapa Chila? Nanti diakhirat nggak bakal ditanya gini 'kamu shalat nggak mandi dulu ya?' iya, kan?" timpal Andin.


"Yup benar paling ditanya shalat aja nggak pakai tanya mandi," tambah Anggita.


Qiana hanya menggeleng mendengar ocehan para sahabatnya.


"Kecuali kalau mandi wajib," imbuh Andin.


"Ya nggak apa-apa sih cuma takutnya pas shalat kalian nggak konsentrasi karena tubuh kalian bau makanan," ujar Fazila sambil mengenakan pakaian ganti lalu mengenakan mukena juga.


"Aku ke kamar mandi dulu ya, nanti aku nyusul ke masjid, bye!" seru Qiana lalu menyambar handuk dan berlari keluar kamar. Untung saja beberapa santriwati sudah terlihat keluar dari kamar mandi membuat gadis itu tidak perlu antri untuk sekedar mandi.


Ketiga temannya sudah duduk santai di masjid sambil shalawatan menunggu Nyai Fatimah tiba saat Qiana sampai di sana.


Beberapa saat kemudian shalat dhuhur berjamaah pun dilaksanakan dan setelah selesai mereka kembali ke kamar masing-masing. Beberapa dari santriwati datang langsung ke dapur pesantren untuk mengambil jatah makan siang mereka.


"Apa aku ambil aja untuk kita juga ya?" Andin menawarkan diri.


"Buru-buru amat Din, sudah lapar lagi?" protes Anggita.


"Biar nggak merepotkan anak-anak yang bertugas di bagian dapur, lumayan cari pahala dikit," kilah Andin. Diantara ketiga sahabatnya Andin yang paling cepat lapar meskipun pada kenyataannya, banyak makan sekalipun tidak membuat tubuhnya lebih gemuk.


"Iya deh terserah kamu," ujar Qiana lalu meraih buku paket untuk belajar pelajaran yang akan diujikan besok.


"Oke Bos," ujar Andin lalu bangkit dari duduknya dan berjalan santai ke arah dapur pesantren.


Tidak sampai 10 menit Andin kembali ke kamar dengan jatah makan siang.


"Kuy kita garap!" seru Andin sambil membagikan piring satu-satu.


"Oke deh kita makan aja dulu sebelum melanjutkan belajar. Mumpung masih hangat masih enak," ujar Fazila dan ketiganya mengangguk serempak.


Fazila, Andin, dan Anggita tampak makan dengan lahap kecuali Qiana yang nampak tidak berselera.


"Kenapa, kau sakit?" tanya Fazila saat melihat Qiana hanya mengaduk makanannya saja.


Gadis itu menggeleng lemah.


"Apa tidak berselera? Apa perlu aku minta tolong pada santri cowok untuk beli makanan di luar? Nanti aku telepon Izzam sebagai pengurus biar nyuruh salah satu santri cowok untuk keluar dari pesantren mengigat mereka bebas keluar masuk nggak kayak kita, kali aja si Heni itu nggak ribet saat aku mau pinjen ponsel milik pesantren."


"Nggak perlu," tolak Qiana.


"Lah terus maumu apa?" tanya Andin yang mulai bingung dengan tingkah sahabat yang satu ini karena tidak seperti biasanya.


"Aku bukan nggak berselera makan cuma lagi banyak pikiran," jelas Qiana tidak mau menutup-nutupi.


"Kau dijodohkan?" tebak Andin dan Anggita serempak.


"Nggak," sahut Qiana.


"Terus?" tanya keduanya masih bingung.

__ADS_1


"Malu-maluin, sudah kompak, kenyataannya tebakan kalian salah," ujar Fazila lalu terkekeh.


"Kan gitu kalau kamu dulu, kalau sudah sedih pasti mikirin dokter Davin," ucap Andin membuat Fazila langsung diam.


"Aku beda sama Chila Din, mana sempat memikirkan tentang cowok. Masalahku sebenarnya banyak," terang Qiana lalu menunduk.


"Masalah apa?" tanya Fazila cemberut.


"Sebenarnya ... ah aku nggak enak ngomong sama kalian," ucap Qiana sungkan. Tidak ingin teman-temannya salah tanggap jika dirinya curhat.


"Katakan saja Qi, kalau kamu memang menganggap kita-kita ini sahabat. Iya nggak teman-teman?"


"Yup benar banget," ucap keduanya masih dengan suara kompak seperti paduan suara.


"Baiklah kalau kalian ingin tahu. Sebenarnya ... Sebenarnya uang listrik dan uang makanku sudah tiga bulan menunggak. Kemarin aku sudah ditegur oleh pengurus suruh-suruh cepat lunasi," jelas Qiana lalu menghembuskan nafas berat.


"Sebenarnya kata mereka aku tidak boleh ikut ujian kalau sampai lusa belum bayar juga. Hari ini dan esok aku diberikan kelonggaran. Sayangnya, aku tidak bisa menelepon ayah sama ibu di rumah." Qiana bicara dengan bola mata yang berkaca. Gadis itu nampak rapuh walaupun hari-hari biasa terlihat lebih tangguh dari sahabatnya yang lain.


"Kenapa? Tidak dikasih pinjem hape oleh Heni? Belagu banget tuh asisten para ustadzah pengurus. Mentang-mentang dikasih wewenang mengawasi para santriwati, seenaknya bersikap padahal kita pinjem tuh hape nggak melulu pinjem tapi bayar juga sebagai pengganti pulsa yang habis," keluh Fazila panjang lebar.


"Dia seperti pengelola jasa sewa yang payah, padahal kalau banyak yang nyewa, pesantren bisa untung," tukas Andin.


"Bukan begitu Din, kalau bebas nyewa tuh hape pesantren juga takut para santri menyalahgunakan. Bisa saja para santri malah pacaran lewat hape. Hape itu bukan untuk mencari untung tapi sebagai fasilitas untuk santri yang benar-benar butuh untuk menghubungi keluarga," ujar Anggita.


"Nah ini Qiana, kan butuh? Penting lagi!"


"Iya sih Din."


"Bukan, bukan Heni masalahnya, tapi dari keluargaku sendiri," jelas Qiana agar ketiga sahabatnya tidak salah paham.


"Kata tetangga yang mengirim anaknya kemarin ke sini, ayah dan ibu bertengkar hebat dan terancam bercerai." Qiana nampak menekan kepalanya.


Fazila salut dengan sahabatnya yang satu ini sebab walaupun pikirannya bercabang tetap saja bisa berkonsentrasi menjawab soal ujian, tak seperti dirinya dan Izzam yang ketika pikiran mumet sedikit konsentrasi langsung ambyar.


"Bisa saja ibu itu salah informasi, kan?"


Qiana menggeleng cepat.


"Tenanglah, kita semua pasti akan bantu kamu," ucap Fazila sambil mengelus punggung Qiana untuk menyalurkan ketenangan.


"Aku tidak ingin merepotkan kalian," ujar Qiana, tak enak.


"Itukah alasan mengapa kau selalu berusaha menampakkan diri seolah tidak punya beban hidup pada kami?"


Qiana tak menyahut, walaupun apa yang dikatakan Fazila itu benar adanya.


"Aku ada beberapa uang mungkin cukup untuk bantu kamu," ucap Fazila lalu bergegas mengambil dompetnya.


"Jangan Chila, kau juga butuh itu sebagai pegangan selama tinggal di sini," tolak Qiana. Sungguh ia tidak mau memberatkan teman-temannya.


"Nggak apa-apa, ini ambil!" Fazila menyodorkan beberapa lembar uang merah ke tangan Qiana.


"Tapi–"


"Sudah ambil saja, kalau uang ini berguna untuk orang lain kenapa nggak digunakan? Lagian aku juga masih ada uang yang lain. Kemarin dikasih tunanganku," ujar Fazila. Ruas bibirnya tertarik membentuk senyum lebar.


"Yaudah aku pinjem ya Chila, kalau nanti aku sudah ada uangnya, aku balikin."


"Nggak usah dipikirin, anggap saja aku ngasih bukan ngasih hutangan. Kalau masih belum cukup mungkin Anggita atau Andin mau kasih pinjaman," lanjut Fazila.


"Tidak usah kata Ustadzah kalau nggak langsung lunas nggak apa-apa yang penting bayar separuhnya dulu dan ini sudah lebih dari separuhnya."


"Kurang berapa?" tanya Andin.


"100 ribu," jawab Qiana dengan wajah yang sudah mulai ceria kembali.


Andin dan Anggita saling lirik lalu mengeluarkan masing-masing uang lembar 50 ribuan.


"Nih biar sekalian lunas."


"Masyaallah. Terima kasih ya Chila, Din dan Anggit. Kebaikan kalian tidak akan pernah aku lupa. Nanti kalau ada pasti akan segera aku ganti.

__ADS_1


"Jangan dipikirkan kita-kita memberikan dengan ikhlas, bukankah sesama teman harus saling membantu?"


Ada bulir bening yang menetes di sudut mata Qiana, tangis haru pun akhirnya pecah. Gadis itu langsung memeluk ketiga sahabatnya dengan. Sahabat yang sebenarnya, yang tidak saling menikam di belakang meskipun mereka semua menyadari bahwa mereka bukanlah santri yang sholehah seperti yang lainnnya.


"Sudah kita istirahat saja sekarang. Nanti malam baru kau kasih uang itu ke ustadzah. Kalau sekarang takutnya beliau sedang istirahat siang.


Malam hari, sebelum adzan Maghrib berkumandang Qiana langsung menemui ustadzah pengurus dan membayar semuanya.


Dari balik pintu seorang gadis menatap ke dalam dengan perasaan iri.


"Darimana dia dapat uangnya terlalu cepat? Bukankah keluarganya sedang sedang tidak baik-baik saja?"


"Oh iya, cepat juga orang tuamu memberikanmu uang. Coba dari dulu seperti ini, jadi ustadzah tidak perlu menegur."


"Sebenarnya ini saya diberi Chila dan dua teman sekamar saya ustadzah. Orang tua saya belum ada uang."


"Oh, tidak apa-apa. Ini juga bagus, jadi sesama teman saling membantu."


"Kalau begitu saya permisi ustadzah sepertinya sebentar lagi sudah Iqamah."


"Ya."


Setelah mengucapkan salam Qiana pun keluar dari ruangan.


"Oh iya, kok aku lupa sih? Fazila kan anak orang kaya. Pasti uang saku yang diberikan orang tuanya banyak. Kenapa aku nggak kepikiran ke sana?" Gadis tadi tersenyum smirk.


"Saatnya beraksi kembali," batinnya.


"Setelah shalat berjamaah para santriwati mengaji satu persatu ke hadapan Nyai Fatimah. Ada beberapa yang menyetor hafalan.


"Kok tiba-tiba kepalaku sakit sih?" Fazila memijit pelipisnya yang berdenyut sakit.


"Kalau tidak enak badan kamu boleh kembali duluan Chila. Diantara kalian bertiga silahkan kalau mau menemani Fazila asalkan nanti kembali lagi saat shalat isya nanti!"


"Baik Nyai bagaimana kalau kamu bertiga sama-sama menemani Fazila?"


"Sudah ngaji sama saya tadi?"


"Sudah."


"Boleh kalau begitu, silahkan!"


"Terima kasih Nyai."


Keempat sahabatan itu kemudian ke kamar.


Di depan kamar Fazila dan teman-temannya, berdiri seorang wanita remaja.


"Sudah sepi, sepertinya saat yang tepat untuk beraksi. Semoga saja pintunya tidak dikunci."


Gadis itu memegang handle pintu dan memutarnya, wajahnya berbinar saat melihat pintunya berhasil terbuka. Cepat-cepat gadis itu mencari dompet milik Fazila.


"Mana sih? Pinter banget tuh anak menyimpan uangnya." Gadis itu kesal karena tak kunjung menemukan yang dicari.


"Ini." Dia menemukan dompet Andin yang isinya hanya tinggal 20 ribu.


"Lumayan meskipun tak sebanding dengan dosanya," ujar gadis itu lalu menarik uang kertas tersebut kemudian meletakkan dompetnya dengan rapi ke tempat Fazila.


"Mana dompet milik gadis manja itu?"


"Ini dia!" pekiknya dalam hati saat menyingkap bantal melihat dompet Fazila tergeletak di sana.


Buru-buru gadis itu membukanya dan menarik beberapa lembar uang di dalamnya. Namun, ternyata nasib sial kali ini berpihak padanya.


"Siapa itu?!" seru Fazila di ambang pintu.


"Ada pencuri!" teriak Andin dengan suara yang sangat keras.


Gadis itu gelagapan, mengambil ancang-ancang untuk kabur. Sayangnya Fazila, Andin dan Qiana menghadang di pintu.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2