
"Ini ambil satu-satu! Kasihan Chila sudah susah payah masak untuk kita," ujar Tuan Alberto menyodorkan telur mata sapi itu ke hadapan semua orang.
Tristan terbelalak mendengar permintaan opanya kemudian meringis membayangkan rasa telur mata sapi itu yang rasanya pasti hancur. Selama ini Tristan jarang sekali melihat Fazila memasak atau bahkan tidak pernah sama sekali. Ingin rasanya menolak tapi tidak enak dengan opanya. Akhirnya terpaksa mengangguk.
"Baiklah," ujar semua orang yang merasa tidak nyaman jika harus menolak perintah Tuan Alberto yang tidak biasa banyak bicara itu. Pria tua itu terlalu baik pada semua orang hingga tidak ada seorang pun yang akan membantah jika pria itu sudah berbicara.
"Hmm, baiklah. Demi Opa saya akan ambil satu," ucap Tristan lalu mengambil satu dan menaruhnya atas piring. Fazila mengerucutkan bibir, perkataan Tristan seperti meremehkan dirinya.
"Dokter Davin, sepertinya kau yang harus banyak mengambil telur goreng itu, secara itu kan hasil tangan calon istrimu," ujar Tristan membuat dokter Davin hanya bisa menggaruk tengkuknya dengan tangan kiri.
Tristan dengan ragu-ragu mencicipi telur dan akhirnya mengunyah seperti biasa karena ternyata rasanya tidak aneh seperti yang ia bayangkan.
"Bik Ina, sisanya ini dibawa ke dapur dan bungkus dengan nasi. Kalian bisa memberikannya pada pengemis, anak jalanan atau siapapun yang membutuhkan makanan daripada mubasir," lanjutnya.
"Baik Tuan." Bik Ina pun kembali mendekat ke arah meja makan dan membawa lauk itu kembali ke dapur.
"Jangan lupa kasih sayur dan tambahan ikan lainnya Bik. Kalau tidak ada, kalian bisa memasak terlebih dulu!" perintah Laras.
"Sip Nya," sahut Bik Ina lalu bergegas ke dapur.
Selesai makan semua keluarga berkumpul di ruang keluarga kecuali Zidane dan Isyana yang harus pergi karena pekerjaan mereka. Nathan mengambil hari libur karena hari ini Zidane masuk kantor.
Fazila menghidupkan televisi dan memutar acara komedi di sana. Tuan Alberto, dokter Davin, Tristan dan Nathan nampak mengobrol santai. Sesekali Tuan Alberto menanyakan tentang sesuatu yang berhubungan dengan kesehatannya.
"Sebentar Oma mau ambil camilan dulu sama minuman. Nak Davin mau Oma bikinkan kopi?"
"Tidak Oma terima kasih," tolak dokter Davin dan kembali fokus bicara dengan Tuan Alberto.
"Baiklah," ujar Laras lalu bangkit dari duduknya dan melangkah ke arah dapur.
Fazila menoleh pada dokter Davin yang begitu serius menjabarkan informasi pada Tuan Alberto.
Gadis itu memiringkan wajah dan menatap wajah dokter Davin tanpa berkedip sambil senyum-senyum sendiri.
"Alangkah indah ciptaanMu, ya Allah. Bagaimana hamba tidak jatuh cinta?" batinnya.
"Apa?" tanya dokter Davin melihat Fazila menatap intens dirinya. Barangkali gadis itu ingin membicarakan sesuatu yang penting.
"Tidak ada, mau Chila bikinkan jus buah?" tanyanya gelagapan karena kedapatan mencuri pandang pada pria itu.
"Nggak usah deh."
"Entar yang lain pada minum jadi ngiler," ucap Fazila.
Dokter Davin diam, ia seperti berpikir.
"Kalau kopi dengan brown sugar bisa buatin?"
"Oke bisa," ucap Fazila lalu bangkit dari duduknya kemudian menyusul Laras ke dapur.
"Lebih sehat, kah Nak Davin?" tanya Tuan Alberto.
"Iya Opa, saya akhir-akhir ini sedikit mengurangi gula pasir."
"Oh."
"Nak Davin tidak ada rencana pindah rumah sakit begitu? Atau tambah-tambah praktek?" tanya Tuan Alberto lagi.
"Emang kenapa Opa?" tanya balik Tristan.
"Biar nggak jauh-jauh kerja di luar kota, rumah sakit milik Opa, kan ada, Tris?"
__ADS_1
"Iya juga ya, Opa. Daripada kerja di rumah sakit milik orang lain kenapa tidak bekerja di rumah sakit sendiri?" timpal Nathan.
"Kapan-kapan saja ya Opa. Nanti saya pikirkan, tapi kalau untuk nambah jadwal tugas sepertinya tidak memungkinkan karena harus bolak-balik dalam jarak yang jauh," ujar dokter Davin.
"Iya, Opa paham, untuk saat ini fokuslah dulu di tempat kerjamu. Mungkin suatu saat usul Opa bisa menjadi pertimbangan."
"Iya Opa terima kasih atas penawarannya, sayangnya saya tidak bisa seenaknya pindah rumah sakit, tidak nyaman dengan pemiliknya yang sudah sangat baik pada saya."
"Iya, tidak ada-ada Nak."
Mereka pun beralih mengobrol santai kembali. Sesekali terdengar tawa dari para lelaki yang berkumpul di ruang keluarga.
"Kak Chexil mau bikin kopi juga?" tanya Fazila saat melihat Chexil sedang merebus air di dapur.
"Nggak, mau cuci botol dot milik Nazel mumpung dia tidur lagi," sahut Chexil.
"Kau sendiri mau apa?" lanjutnya.
"Mau bikin kopi," jawab Fazila sambil menaruh bubuk kopi ke dalam gelas.
"Ini Oma sudah bikin Chila, tinggal jus untuk opanya saja," ujar Laras sambil mengaduk-aduk kopi dalam ceret.
"Yang ini kopinya beda Oma, kopi spesial," ujar Fazila lalu terkekeh.
"Kau ada-ada saja Chila," ucap Chexil sambil menggelengkan kepala.
"Yasudah kalau begitu buat sendiri saja, Oma takut salah," ujar Laras sambil meraih buah apel yang sudah dipotong-potong oleh Chexil sebelumnya dan dimasukkan ke dalam blender.
"Itu untuk siapa?"
"Untuk Opa Chila, kan beliau tidak minum kopi," jawab Chexil mewakili Laras dan Laras sendiri mengangguk membenarkan perkataan Chexil.
"Oh."
"Wah terima kasih Kak," ucap Fazila sambil tersenyum manis.
"Kau masih saja saja seperti dulu, imut dan menggemaskan," ucap Chexil sambil mencubit kedua pipi adik iparnya dengan gemas.
"Kak jangan gini dong, Chila bukan anak kecil lagi," protesnya dengan memberengut kesal dan Chexil langsung tertawa renyah.
"Iya yah adik kakak sudah punya tunangan," ucap Chexil kemudian.
"Sorry," ucap Chexil lagi.
"Nggak apa-apa Kak, Chila duluan ya, bye!" serunya sambil menenteng segelas kopi pesanan dokter Davin. Berjalan dengan langkah besar, menyusul Laras yang sudah sampai di ruang keluarga terlebih dulu dan memindahkan minuman serta kue dari atas nampan ke atas meja.
"Minum dulu!" pinta Laras pada semua orang. Semua laki-laki di sana pun menghentikan obrolan mereka sebentar untuk mencicipi hidangan yang disajikan oleh Laras dan Fazila.
"Ya acaranya sudah kelar," gumam Fazila lalu duduk kembali di tempat semula. Ia meraih remote dan mengubah channel televisi.
"Ya nggak ada yang seru," keluhnya lalu bersandar pada sandaran sofa, sedangkan tangannya masih cekatan memencet tombol remote.
"Nah ini dia, lumayan daripada acara gosip, bikin darting aja," gumamnya lalu tersenyum dengan wajah yang begitu antusias.
Gadis itu fokus menonton film kartun Upin dan Ipin dan sesekali bernyanyi lagu Aiya Susanti sambil meniru logat Mei-Mei dalam film tersebut dengan bersemangat seolah lupa bahwa dirinya dikelilingi para orang dewasa.
"Dasar bocil!" seru Tristan lalu cekikikan.
"Hei ada dokter Davin di sini," ucap Nathan sambil mengacak rambut adiknya.
Fazila menoleh dan cengengesan menatap dokter Davin yang tampak menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Sudah ah, aku masuk kamar aja soalnya aku paling cantik di sini," ujarnya saat menyadari hanya dirinya yang wanita dan omanya sudah tidak ada di tempat itu.
"Sudah sana istirahat biar nanti tidak mabuk saat melakukan perjalanan menuju pesantren," ujar dokter Davin dan Fazila langsung mengangguk.
Dokter Davin melanjutkan percakapan mereka kembali sampai Tuan Alberto merasa lelah duduk dan minta diantar Nathan ke dalam kamar. Dokter Davin pun pamit kepada kedua kakar iparnya dan bergegas ke kamar tamu untuk merebahkan tubuhnya sebelum akhirnya melakukan perjalanan kembali yang entah kapan. Mungkin malam nanti atau esok pagi.
Fazila membaringkan tubuh, matanya menatap langit-langit kamar dengan senyuman di bibir. Bayangan teman-temannya di pesantren membuat ia ingin segera kembali ke sana walaupun jujur masih tidak bisa ikhlas kalau tidak bisa bertemu dokter Davin setiap hari lagi.
"Ah jadi serba salah aku," lirihnya lalu memejamkan mata.
Dari luar, terdengar pintu kamarnya ada yang mengetuk.
"Siapa? Masuk! Pintunya tidak dikunci!" seru Fazila lalu matanya fokus pada pintu kamar yang didorong seseorang.
"Bik Ina, ada apa Bik?"
"Ini Non, Mama Non menelpon, katanya ingin bicara," sahut Bik Ina sambil menyerahkan ponselnya di tangan.
"Oke Bik." Fazila langsung meraih ponsel dari tangan Bik Ina dan bicara pada Isyana.
"Ada apa Ma?"
"Tadi Nyai bertanya kenapa kamu belum kembali ke pesantren. Entah darimana beliau tahu bahwa kamu sudah pulih dari sakit, tetapi belum kembali juga."
"Oh gitu ya Ma."
"Terus Mama jawab apa?"
"Iya Mama jawab aja ya sebenarnya kalau sekalian menunggu acara tunangan kalian. Lebih baik kamu kembali nanti malam saja karena katanya besok sudah masuk ujian semester," jelas Isyana panjang lebar.
"Oke Ma," sahut Fazila lalu mendesah kasar.
"Oke kalau begitu mulai sekarang kami persiapkan apa-apa yang akan kamu bawa biar nanti malam tidak perlu berlama-lama mengemasnya."
"Iya Ma."
"Yasudah Mama hanya ingin memberitahukan itu saja. Minta bantuan Bik Ina atau Kak Chexil kalau ada apa-apa dan sekiranya kakakmu tidak repot. Jangan lupa juga beritahu Oma. Mama tidak bisa pulang sekarang karena masih belum kelar merancang busana pesanan seseorang."
"Iya Ma nggak apa-apa. Chila bisa kok menyiapkan semuanya tanpa bantuan Mama. Mama fokus aja pada pekerjaan Mama agar tidak mengecewakan pelanggan."
"Oke siap, kalau begitu Mama tutup telepon dulu ya. Sampai berjumpa nanti malam."
"Bye Ma."
Setelah menutup panggilan telepon dari mamanya Fazila menyerahkan ponsel tersebut pada pembantunya lagi.
"Ada yang bisa bibi bantu Non?" tanya Bik Ina saat ponsel sudah masuk ke dalam kantong.
"Tolong bantu Chila berkemas Bik. Nanti malam Chila harus kembali ke pesantren," sahutnya.
Bik Ina mengangguk dan langsung tanggap. Ia membantu memasukkan baju-baju yang diambil Fazila dari lemarinya ke dalam koper.
"Sebanyak ini Non, apa di pesantren memang tidak meninggalkan baju ganti sama sekali Non?"
"Ada sih Bik, tapi malas pakai yang itu lagi. Biar yang di sana dipakai teman-teman saja."
"Oke Non."
"Terima kasih ya Bik," ucap Fazila setelah pekerjaan mereka sudah usai.
Bersambung.
__ADS_1