
"Apa tidak sebaiknya kita hubungi keluarga Chila langsung Pak Ustadz? Barangkali mereka bisa lebih banyak berkontribusi dalam pencarian, mengingat orang tua Chila punya kuasa lebih untuk mengutus suruhan dalam ikut mencari putrinya," saran dokter Davin, berharap semakin banyak yang mencari maka akan semakin cepat ditemukan."
"Sebaiknya jangan Dokter, biar kita cari sendiri saja dulu. Kita cari semaksimal mungkin," ujar ustadzah Ana.
"Sebenarnya saya juga ingin memberitahukan hal ini pada orang tuanya sebab kalau sampai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, mereka pasti akan marah besar karena kita tidak menghubungi mereka lebih awal.
Namun, mereka bisa saja syok mendengar kabar ini sementara tempat tinggal mereka sangat jauh dari pesantren. Butuh berjam-jam untuk mereka sampai ke tempat ini. Jadi, saya sarankan ... lebih baik kita cari saja dulu, siapa tahu ketemu Chila dalam keadaan baik-baik saja. Mungkin Chila hanya tersesat dan tidak tahu arah jalan pulang ke perkemahan," ujar seorang ustadz.
"Iya Ustadz saya sependapat dengan Ustadz, nanti kalau sampai sore hari belum ketemu juga baru, kita hubungi orang tua Chila," ujar ustadzah Ana.
"Terserah sajalah aku mau mencari ke sana," ujar dokter Davin menunjuk para mahasiswa dan mahasiswi yang sedang mengadakan demonstrasi. Feeling dokter Davin mengatakan Fazila pasti terjebak di keramaian tersebut.
"Tapi Dok, kami tadi sudah mengecek ke sana dan tidak menemukan–"
Seorang ustadz menghentikan penjelasannya saat melihat dokter Davin sudah ada jauh di depan mereka dan berlari dengan cepat.
"Hah, sudahlah kita susul dia!" perintah ustadz dan beberapa ustadz langsung mengangguk dan berlari mengejar dokter Davin. Sementara, para ustadzah dan ustaz yang lainnya berpencar mencari ke arah yang lain, menjadi pemimpin dari masing santri yang bergabung dalam pencarian.
"Itu ada dokter!
"Ada dokter!"
Saat berada di tengah kerumunan para demonstran, dokter Davin dihentikan oleh beberapa dari mereka.
"Ada apa? Jangan halangi jalan saya! Saya ada kepentingan yang mendesak," ucap dokter Davin agar mereka menyingkir dari hadapannya.
"Dokter, tolong teman kami Dok, teman kami sedang terluka," seorang mahasiswi berkata dengan wajah memelas sambil menangkupkan kedua tangan di depan dada.
__ADS_1
"Ya Tuhan, apalagi ini? Maafkan saya ya, semuanya. Saya tidak bisa menolong kalian, malah sekarang saya yang justru butuh pertolongan," ujar dokter Davin.
"Kami pikir, Dokter datang ke sini karena diutus untuk menjadi sebagai salah satu anggota tim medis seperti mereka," ucap seorang mahasiswi.
"Aku sedang mencari adikku yang diculik jadi tidak punya waktu banyak untuk membantu kalian, lagipula sudah ada tim medis yang menangani teman-teman kalian yang terluka. Lain kali kalau demonstrasi jangan anarkis seperti sekarang, kalian juga yang rugi."
"Ini tidak seperti yang kami rencanakan Dokter. Kamu tidak bermaksud membuat kericuhan hari ini. Sebelumnya kami melakukan demonstrasi hanya untuk menyampaikan unek-unek kami semata. Namun, siapa sangka akan berakhir seperti ini karena ulah satu dua orang mahasiswa yang nakal." Seorang mahasiswa mencoba menjabarkan tentang apa yang telah terjadi di tempat tersebut.
"Dokter bilang tidak punya banyak waktu, kan? Tolonglah, kami hanya membutuhkan sedikit waktu agar dokter segera menangani teman kami yang keadaannya kritis dan dokter lain sedang menangani teman-teman yang terluka lainnya. Tolong Dok, please! Saya yakin dokter punya rasa kemanusiaan yang tinggi."
"Sial!" Dokter Davin tidak bisa berbuat apa-apa melihat teman yang mereka tunjuk memang benar-benar parah. Sisi hatinya tidak bisa menolak untuk membantu mereka. Namun, di sisi hati yang lainnya dia khawatir kalau sampai terlambat menemukan Fazila, dampaknya akan buruk terhadap keselamatan gadis itu.
"Baik cepat bawa teman kalian ke sisi dokter itu!" perintah dokter Davin sambil menunjuk seorang dokter yang dengan cekatan menangani seorang mahasiswa yang terluka."
"Cepat!" teriak dokter Davin karena tidak ingin kehilangan banyak waktu yang berharga. Beberapa dari mereka langsung menggendong tubuh temannya ke tempat yang dokter Davin tunjuk.
"Dok saya membutuhkan perlengkapan ini," ujar dokter Davin pada dokter di sisinya yang langsung mengangguk sambil tersenyum dengan tangan yang masih cekatan membebat kaki seorang mahasiswa yang terkena tusukan senjata tajam. Tentu saja dokter tersebut senang ada yang membantu pekerjaannya.
"Bagaimana Dok?" tanya seorang mahasiswa dengan raut wajah yang khawatir.
"Teman kalian mengalami pendarahan karena luka robek yang begitu dalam. Dia pingsan karena syok ditambah kehilangan banyak darah. Saya sudah menghentikan aliran darah yang keluar dan sebaiknya kalian membeli obat-obatan dan salep untuk dia ya, karena stok milik dokter ini kurang," ujar dokter Davin kemudian langsung memberikan resep obat pada mahasiswa dan kembali menjahit lengan korban yang terkena sayatan senjata itu.
"Baik Dokter," ujar seorang mahasiswa lalu menerobos kerumunan para demonstran dengan resep obat di tangan. Pria itu segera menuju apotek terdekat.
"Jadi teman kami tidak apa-apa Dok, teman kami tidak parah?"
"Insyaallah tidak, tolong beri jalan aku harus segera pergi. Nyawa adik saya menjadi taruhannya jika saya tidak cepat menemukan dia," ujar dokter Davin.
__ADS_1
"Dokter punya fotonya? Mungkin kami bisa membantu," ujar seorang mahasiswi sedangkan beberapa mahasiswa terlihat memindahkan temannya ke dalam kampus lewat jalan pintu belakang.
"Oh tentu saja boleh," ujar dokter Davin dan langsung menunjukkan foto Fazila yang menghiasi wallpaper ponsel miliknya.
Mereka semua langsung melongo dan menatap tak berkedip wajah Fazila.
"Boleh minta fotonya biar saya sebar pada teman-teman, siapa tahu ada dari mereka ada yang melihat."
Dokter Davin mengangguk, membuka galeri ponsel dan memberikan ponselnya pada mahasiswi tersebut agar foto Fazila dikirim ke nomor ponsel wanita itu sendiri karena ribet jika masih harus menanyakan nomor telepon mahasiswi tersebut.
"Terima kasih nanti saya kasih kabar Dok," ujar mahasiswi tersebut yang sudah berhasil menyalin, bukan hanya foto Fazila melainkan juga kontak dokter Davin.
Dokter Davin ingin protes sebab mahasiswi tersebut telah lancang melakukan tanpa izin. Namun, pria itu urung tatkala menyadari jika sampai wanita di hadapannya kini yang tahu keberadaan Fazila dan tidak tahu nomor teleponnya, maka tidak bisa menghubungi.
Wanita tersebut langsung mengirimkan foto Fazila ke grup WhatsApp kampus mereka.
"Kalau kalian ada yang melihat tolong segera hubungi saya atau langsung pada siapapun warga pondok An-Nur. Saya permisi," ujar dokter Davin lalu melangkah pergi.
Belum sampai 10 langkah, mahasiswi tersebut langsung memanggil dokter Davin kembali.
"Hei Dok, saya dapat info tentang adik dokter!" seru wanita itu membuat dokter Davin langsung menoleh dan menatap wanita itu dengan dahi yang berkerut. Bingung bagaimana wanita tersebut langsung mendapatkan informasi dengan cepat sedangkan dirinya saja belum jauh dari sisi wanita tersebut.
"Teman saya ada yang melihat adik dokter digendong oleh seseorang. Awalnya teman-teman membiarkan karena menganggap itu adalah salah satu mahasiswi yang butuh pertolongan sehingga digendong oleh salah satu tim medis. Namun, teman-teman mulai curiga saat melihat orang tersebut menjatuhkan sapu tangan yang ternyata sudah dibubuhi dengan obat bius. Saat ini teman-teman kami sedang memburu orang tersebut," jelas mahasiswi tersebut dengan suara yang jelas meskipun berada dalam kericuhan suasana.
"Jadi benar Chila bukan tersesat melainkan diculik?" Dokter Davin begitu kaget.
"Tolong katakan dimana teman-temanmu sekarang!" pinta dokter Davin.
__ADS_1
"Sini ponsel Dokter, biar Mereka menghidupkan GPS dan dokter langsung bisa melacak keberadaan mereka," saran wanita tersebut.
Bersambung.