DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR

DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR
Bab 41. Permintaan Chila


__ADS_3

"Ayo kita ke sana dulu," ajak Fazila ke ruangan dimana merupakan tempat para santri biasanya menerima tamu. Tristan mengangguk dan mengikuti langkah Fazila sedangkan Laras menghampiri Nyai Fatimah untuk memberikan oleh-oleh sekaligus mengucapkan belasungkawa atas kepergian sesepuh di pesantren tersebut.


"Mau ngomong apa?" tanya Tristan ketika mereka sudah duduk berhadapan. Tristan meletakkan makanan untuk Fazila dan teman-temannya di samping mereka.


Fazila menunduk sambil memainkan jemarinya karena gugup. Sebelumnya dia tidak pernah nervous seperti ini saat ingin bicara dengan Tristan.


"Ada apa sih Chila kayaknya kamu ingin bicara hal yang serius ya," tebak Tristan.


Fazila tidak langsung menjawab, tetapi malah meremas tangannya lebih kuat.


Tristan yang bingung dengan tingkah adiknya mengerutkan kening lalu melepas peci di kepala.


"Ada yang merundung kamu di sini?" tanyanya penuh selidik.


Fazila menggeleng, meskipun Heni sering berbuat yang tidak-tidak padanya Fazila bisa menangani sendiri. Jadi, tidak begitu butuh Tristan untuk hal itu.


"Terus kenapa?" tanya Tristan lagi. Sesuatu yang membuat dirinya malas adalah memaksa orang lain untuk bicara. Seperti yang terjadi pada Fazila kini.


Sekali lagi Fazila menggeleng.


"Kalau begini nih aku seperti bicara dengan orang-orangan sawah yang hanya bergerak saat tertiup angin dan tidak mau bicara sedikitpun," kesal Tristan.


"Abang dengar tidak?"


Tristan menggaruk belakang kepalanya, frustasi menghadapi sikap adik perempuan di hadapannya ini. Sekalinya bicara, membingungkan. Bagaimana Tristan tahu apa yang ditanyakan jika pertanyaannya


separuh-separuh seperti ini. Apa Fazila pikir dirinya cenayang yang bisa menebak isi hati seseorang.


"Dengar apa?!" Nada suara Tristan terdengar meninggi membuat Fazila mencebik dengan bola mata yang berkaca-kaca. Sebentar lagi air matanya siap meluncur.


"Udah deh aku nggak mau ngomong sama Bang Tris lagi. Bang Tris ternyata sama saja dengan mama dan Bang Nath, sana pulang!" Fazila cemberut, berbalik, berdiri dan hendak pergi, tetapi Tristan menahan tangan Fazila.


"Tunggu Chila, maafkan Abang. Akhir-akhir Abang stress kebanyakan kerja dan nggak sempat nyegerin pikiran. Jadi, mohon kerjasamanya, tolong bicara dengan jelas biar otak Abang tidak harus bekerja ekstra lagi, mana akhir-akhir ini Kak Dilvara sering cemburuan gitu sama Abang. Abang lelah, Chila."


"Aih, napa aku malah curhat sama Fazila, bukankah aku ke sini ingin dengerin curhatan dia," gumam Tristan lalu menepuk jidatnya sendiri.


"Ngapain tepuk jidat, di sini nggak ada nyamuk kok, nyamuk takut sama Chila," ujar Fazila lalu cengengesan. Entah kenapa moodnya sedikit membaik setelah mendengar keluhan Tristan. Apalagi saat teringat dirinya sering menggoda dan merusak suasana saat Tristan bersama kekasihnya.


"Iya, kau sendiri kan nyamuknya," semprot Tristan.

__ADS_1


Adik yang satu ini suka jadi nyamuk saat Tristan berduaan dengan Dilvara. Nyamuk pengganggu, nyamuk yang berisik sehingga menghancurkan momen romantis antara Tristan dan tunangannya, Dilvara.


"Chila dah tobat, nggak mau jadi setan, kan katanya kalau cowok-cowek berduaan di tengah-tengahnya ada setan."


"Eh sadar dia. Jangan mengalihkan pembicaraan! Kau mau ngomong apa tadi! Abang dengar apa?"


Mendengar kalimat yang dilontarkan Tristan, wajah Fazila murung kembali. Dia menjawab dengan wajah yang ditekuk.


"Nggak jadi, lupakan saja!"


"Chila! Bagaimana bisa? Kau mau mempermainkan Abang ternyata. Yasudah deh nanti Abang nggak bakal jenguk kamu ke sini lagi."


"Hmm, baiklah. Abang dengar tidak?" tanya Fazila hati-hati.


"Hufft." Kali ini Tristan hanya bisa menghembuskan nafas panjang.


"Kalau dokter Davin mau menikah," lanjut Dilvara dengan suara lirih hampir tak terdengar. Namun, jangan ragukan pendengaran Tristan yang begitu kuat.


"Apa dokter Davin mau menikah?" tanya Tristan dengan mata terbelalak, bahkan suara Tristan sampai terdengar kemana-mana. Segera Fazila membekap mulut Abangnya.


"Bang kau jadi perhatian semua orang," ujar Fazila sambil melirik ke arah beberapa santri yang menatap mereka berdua dengan tatapan aneh.


"Hai Assalamualaikum Ukhti, kaifa haalukunna?" tanya Tristan sok akrab.


"Nahnu bikhoir, alhamdulillah," jawab seorang santriwati mewakili yang lainnya.


"Hadeh." Fazila langsung menekan kepalanya sendiri melihat tingkah si Abang yang mulai centil. Bagaimana Dilvara tidak cemburu jika Tristan terus seperti ini. Selalu tebar pesona dengan perempuan lain.


"Abang paham apa yang ditanyakan?" tanya Dilvara aneh dengan kalimat yang dilontarkan oleh Tristan.


Pasalnya Tristan mengucapkan salam pada seorang perempuan, tetapi di kalimat selanjutnya malah menanyakan kabar semua dari mereka. Seharusnya Tristan mengucap assalamualaikum akhwat, tetapi dia malah mengucapkan assalamualaikum ukhti.


"Pahamlah. Aku tanya apa kalian suka menghalu? Mereka jawab tentu, itu suatu yang nyegerin, alhamdulillah."


"Abang!!!"


Kalau saja tidak ingat mereka ada dimana ingin rasanya berteriak kencang sambil menjambak rambut Tristan.


"Lihatlah mereka tertawa kencang karena Abang," protes Fazila mulai cemberut lagi. Tristan membuatnya malu setengah mati.

__ADS_1


"Baguslah berarti saya dapat pahala karena membuat orang lain senang alhamdulillah," ucap Tristan santai sambil memasang pecinya miring sehingga membuat santriwati tertawa-tawa kembali.


"Hus sana, nanti dimarahi Nyai!" Fazila menggerakkan tangannya mengusir mereka demi kebaikan mereka juga. Kalau ketahuan Nyai Fatimah mereka mengintip dan menganggu tamu bisa saja mereka kena hukuman. Ya walaupun pengganggu yang sebenarnya bukan mereka melainkan Tristan, karena pria itu yang memancingnya mereka untuk mempertahankan dirinya.


Mendengar perintah dari Fazila mereka langsung pergi, takut-takut dilaporkan pada Nyai.


"Sampai dimana pembicaraan kita tadi?" tanya Fazila setelah membuat kehebohan di kalangan para santri wanita.


"Dokter Davin mau menikah," ulang Fazila.


"Menikah dengan siapa?"


"Ya dengan wanita lah Bang masa dengan laki-laki, kau pikir dia pencinta sesama jenis apa," sungut Fazila.


"Maksudku siapa wanitanya, bukan kamu?"


Fazila menggeleng lemah. Tristan menghembuskan nafas kasar.


"Terus maumu apa?" tanya Tristan mulai merasa tidak enak dengan apa yang diinginkan adiknya. Dia yakin adiknya akan minta yang aneh-aneh.


"Cegah dia menikah!"


"Apa? Kau gila Chila! Abang harus membuat dokter Davin gagal menikah?!"


"Ssst jangan keras-keras Bang," ucap Fazila dengan wajah yang terlihat meringis, takut ada yang mendengar pembicaraan mereka.


Fazila mengedarkan pandangan ke sekitar. Setelah memastikan tidak ada yang menguping atau mendengar pembicaraan mereka, ia kembali memohon pada Tristan.


"Ayolah Bang please, kali ini bantu Chila ya!" rajuknya.


Tristan terdiam sebentar, mengamati apakah adiknya sedang serius kali ini.


"Bang!" sentak Chila.


"Aku bingung Chila, kemarin-kemarin kau menolak lamaran dokter Davin dan sekarang kau ingin menggagalkan pernikahannya?" Tristan sampai menggaruk kepalanya dengan kasar mengingat permintaan Fazila yang susah untuk dikabulkan.


"Bang tolong Chila!" rengeknya kembali membuat Tristan luluh.


"Baiklah kita lihat saja nanti Chila."

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2