
Bulan puasa tiba, satu hari sebelum tanggal 1 Ramadhan para santri diliburkan untuk satu minggu ke depan. Namun, ada beberapa siswa yang tidak diperkenankan pulang karena harus membantu tukang masak di dapur pesantren untuk menyiapkan takjil yang akan dibagikan di jalan-jalan. Salah satu diantara santri itu adalah Fazila.
"Selamat berkutat dengan bawang-bawangan," ucap Anggita sambil melambaikan tangan setelah pamitan pada Fazila.
"Bawang-bawangan bukan bawang beneran dong," protes Andin.
"Huwaa, kalian tega sekali ninggalin aku!" Fazila terlihat cemberut.
"Lah terus kami harus apa?" tanya Qiana bingung.
"Ya nggak usah pulang, temani aku di sini!" rengek Fazila.
"Chila, yang dikasih tugas itu kamu sama para pengurus, juga beberapa santriwati yang bertugas di bagian dapur. Lah kalau kami mau apa di sini?" protes Anggita.
"Ya, nggak apa-apa ikut bantu-bantu, nanti saya bilang sama Nyai. Pasti beliau ngebolehin."
"Nggak usah deh, aku juga sudah kangen rumah, kangen keluarga, dan tetangga," ujar Qiana.
" Cieee ... kangen tetangga! Jangan-jangan ada yang diincar nih," kelakar Andin.
"Tahu aja kamu Din. Gini Chila, aku sumpek di sini terus, sekali-kali butuh refreshing."
"Iya deh," ucap Fazila pasrah, tidak mungkin juga dia memaksa teman-temannya untuk tetap tinggal di pesantren sedangkan waktu libur memang merupakan momen yang ditunggu-tunggu oleh para santri.
Andin yang melihat raut wajah Chila yang tidak bersemangat merasa kasihan.
"Ya udah deh aku tinggal di sini untuk nemenin Chila," ucap Andin mengambil keputusan.
"Beneran?" tanya Fazila antusias.
"Yo'i masa bohong sih!"
"Terima kasih kawan," ucap Fazila dengan senyuman yang mengembang.
"Bagus deh kalau kamu nggak pulang biar Chila ada temannya di kamar. Sekarang kami sudah bisa pergi, kan?"
"Ya sudah sana pergi!" usir Andin lalu tertawa renyah.
"Assalamualaikum!"
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."
🌹🌹🌹
Sore hari, Fazila dan Andin masuk dapur, tetapi mereka tidak membantu memasak melainkan membantu memindahkan makanan dari piring-piring di atas nampan ke wadah lainnya.
__ADS_1
"Ini makanan dari mana si Mak?" tanya Fazila melihat nampan yang banyak berjejer di lantai.
"Dari tetangga Chila, biasa mereka sering antar-antar makanan saat menjelang malam 1 Ramadhan, jadi ya lumayan kita tidak perlu memasak untuk makan malam."
"Chila boleh minta buahnya Mak?" tanya Chila lagi saat membuka kain penutup salah satu nampan dan nampak sepiring buah di sana."
"Boleh ambil saja, Bu Nyai sudah menyerahkan ini semua pada kita-kita. Jadi, ya bebas kita mau makan apapun asalkan pikirkan juga santri yang lainnya."
"Wah asyik," ucap Fazila lalu meraih satu buah apel hijau di atas piring.
"Kamu mau juga Din?"
"Malas aku makan buah hari ini, kecuali dibuat jus."
"Ah, kau malah mau nambahin kerjaan," keluh Fazila lalu beranjak ke arah wastafel dan mencuci buah apel di tangan kemudian langsung menggigit apel itu.
"Oh ya bantuin Emak ya nanti untuk memberikan makanan pada santriwan yang belum pulang sore ini."
"Oke siap Mak, kau ikut kan, Din?"
"Pasti kemanapun kamu pergi aku ikut, sekarang kan aku itu buntut kamu," sahut Andin lalu terkekeh.
"Cih buntut, yuk ikut ke kamar mandi mau buang air besar!"
"Idih."
"Yuk bantuin emak," ucap petugas dapur itu sambil mengangkat bak berisi makanan.
"Kalian tolong,
bawakan lauk, sambal dan satu piring buah!"
"Baik Mak."
Andin, Fazila dan satu santri yang bertugas di dapur membawa makanan diperintahkan oleh wanita setengah baya itu.
"Oh ya Tin, kenapa kamu mau sih bertugas di dapur tiap hari, apa nggak capek?" tanya Fazila pada gadis berjalan beriringan dengannya.
"Nggak," jawab gadis itu sambung tersenyum.
"Sebenarnya mereka-mereka ini yang bertugas di dapur dapat makan gratis tiap harinya. Jadi, orang tua mereka tidak perlu bayar uang makan pada pesantren. Kebanyakan yang ada di dapur ini adalah santri yang merupakan anak yatim ataupun yang berasal dari keluarga yang tidak punya."
"Oh begitu ya Mak?"
Wanita yang ditanyainya hanya mengangguk.
__ADS_1
"Iya Chila, saya tidak punya ayah. Jadi dengan membantu di dapur, bisa sedikit meringankan beban ibu karena bisa bebas uang makan dan uang pondok. Jadi bisa dibilang sekolah gratis disini," ujar Tina.
"Bagus sekali program Nyai ini, selain membantu orang tua santri, juga melatih keuletan santrinya dalam berkutat dengan bahan-bahan di dapur."
"Benar sekali Chila, selama tinggal di sini saya bisa memasak dan membuat beberapa kue."
"Masyaallah, hebat sekali dirimu Tina."
"Biasa saja Chila."
"Bagiku luar biasa, aku juga pengen bisa masak seperti kamu."
"Kalau begitu besok sudah bisa dimulai."
"Oh iya ya Mak."
"Izzam panggil teman-temanmu untuk makan!"
"Baik Mak." Izzam pun memanggil beberapa temannya yang masih berada di pesantren dan mempersilakan mereka makan.
"Chila aku ingin bicara," ucap Izzam sambil menjauh dari teman-teman yang sedang makan.
"Ada apa Izzam?"
"Ini tentang acara besok."
"Oke." Fazila duduk di lantai dan langsung mengobrol dengan Izzam. Sesudah selesai, Izzam kembali ke samping teman-temannya dan ikut makan.
Andin, Fazila, Tina dan wanita setengah baya yang bertugas di dapur itu menunggu sampai mereka semua makan. Setelah selesai mereka langsung membawa wadah-wadah dan piring-piring kotor kembali ke dapur.
Sampai di sana beberapa makanan yang masih tersisa di dapur langsung dihangatkan untuk makan sahur nanti malam.
Malam pertama ramadhan si pesantren itu tidak begitu meriah karena hanya ada beberapa santri yang shalat Maghrib berjamaah dilanjutkan dengan shalat isya' dan tarawih.
"Din kayaknya aku nanti nggak mau sahur deh, malas," ucap Fazila sambil merebahkan tubuhnya di atas kasur.
"Loh, kok nggak sahur sih Chila? ingat kita besok sibuk jadi kalau tidak sahur mana ada tenaga, lagi pula sahur itu hukumnya sunnah. Kita dapat pahala hanya dengan makan saja."
"Malas ah, aku nggak suka makan malam. Nanti malam nggak usah dibangunin aku ya!"
"Terus kalau Nyai tanya aku harus jawab apa?"
"Bilang aja aku sudah makan duluan, makan roti beres, beres," ucap Fazila sekenanya lalu memejamkan mata.
Bersambung.
__ADS_1