
"Cck." Fazila berdecak sebal lalu membaringkan tubuhnya kembali. Bola matanya yang jernih memandang langit-langit kamar dengan tatapan hampa.
"Kenapa juga harus melanjutkan pertunangan ini kalau nyatanya dia selingkuh juga di belakangku," lirihnya, lalu memiringkan tubuh.
Fazila mengambil ponsel dan mengecek kembali gambar yang dikirimkan seseorang tadi. Dalam hati berharap dirinya salah lihat akibat matanya yang mengantuk berat. Nyatanya rasa sakit malah menjejali rongga dadanya kala melihat apa yang dilihatnya tadi tidaklah salah.
"Aku harus tidur, harus!" tegasnya pada diri sendiri karena hanya dengan tidur dia bisa melupakan segalanya. Termasuk beban pikiran yang satu ini. Tak ada air mata, tetapi hal ini sungguh membuatnya sangat marah kali ini.
Fazila menghela nafas berat lalu memejamkan mata. Berharap dirinya cepat terlelap meskipun gemuruh amarah di dada belum juga reda.
Setengah jam memejamkan mata tak berhasil membuat dirinya terlelap. Entah kemana perginya rasa kantuk yang sempat mendera.
Bosan di kamar dalam keadaan yang tak bisa tidur akhirnya Fazila memutuskan untuk keluar kamar. Gadis itu mondar-mandir di ruang tengah. Mengedarkan pandangan ke segala arah kemudian menatap kamar dokter Davin yang sudah tertutup sempurna.
Gambar tadi berputar di kepala membuat Fazila berpaling dari pintu kamar tersebut karena malas lalu saat melihat lantai di sebelah sofa ruang tamu, ia langsung teringat pada masa lalu. Masa-masa dirinya yang masih pendekatan pada pria itu.
__ADS_1
"Apa yang terjadi padaku Tuhan? Kenapa perasaanku tidak bisa lepas darinya?" Fazila menatap lantai tempat ia bertanya tentang pelajaran sebelum masa-masa masuk pesantren dengan termenung.
"Ekhem! Ada apa ini?" Dokter Davin keluar dari kamar dan pura-pura terbatuk. Ia yang tadinya ingin ke arah dapur berbelok menuju tempat Fazila berdiri.
Fazila hanya diam saja. Jangankan menjawab, menoleh pun tidak.
Dokter Davin mempercepat langkahnya hingga sampai di sisi Fazila.
"Ingat masa lalu? Aku sering termenung juga kalau memandang tempat itu. Tempat yang banyak kita habiskan untuk bersama dulu. Tempat yang menjadi pelepas rinduku saat kita berjauhan."
Fazila tidak beraksi, dia berdiri layaknya patung tanpa ekspresi.
Tetap saja gadis itu tak bergeming, perkataan demi perkataan yang terlontar dari mulut dokter Davin seperti angin lalu di telinga gadis itu.
"Chila!" Dokter Davin menyentuh bahu Fazila dengan kedua tangan lalu memutar tubuh gadis itu agar menghadap padanya.
__ADS_1
"Aku mau pulang!" rengek Fazila dengan mata yang berkaca-kaca.
Dokter Davin mengerutkan kening dan menatap mata gadis itu lekat-lekat.
"Hei apa ada yang salah? Atau kau tak betah tinggal di sini? Please, bertahanlah! Aku bisa saja mengantarkan dirimu pulang sekarang juga, tetapi tidak enak dengan keluargamu. Butuh minum?"
Gadis itu menggeleng.
"Aku ingin pulang!"
"Chila, aku mohon, mulai lusa kita tidak akan bisa bertemu bebas lagi. Jadi, tolong tinggal bersamaku untuk satu hari saja."
"Buat apa aku di sini? Bukankah ada wanita lain yang sudah menemani hari-harimu? Bukankah sudah kukatakan kalau sekiranya ada orang lain di hatimu tidak usah lanjutkan pertunangan ini. Aku cukup tahu diri!" kesal Fazila.
"Kau bicara apa? Kau cemburu pada seseorang," ucap dokter Davin malah terkekeh.
__ADS_1
"Terus tertawakan aku sepuasmu! Aku memang gadis bodoh yang memang patut ditertawakan!" Fazila semakin kesal.
Bersambung.