DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR

DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR
Bab 49. Sakit


__ADS_3

Nyai Fazila terperangah, syok melihat Fazila yang tiba-tiba pingsan. Dia tidak pernah mengira akan kejadian seperti itu. Awalnya berharap Fazila akan senang jika dibawa ke sebuah acara malah kesehatannya drop kembali.


"Tidak usah, biar yang lain saja!" cegah Danisa saat pria yang baru saja menikahnya ingin turut serta menolong.


"Tapi–"


Danisa menggeleng membuat sang suami langsung diam di tempat.


"Kita lanjutkan sesi foto-fotonya. Ada banyak orang yang bisa menolong gadis itu, kenapa harus mempelai?"


Pria itu mengangguk kemudian duduk di pelaminan sambil terus melihat bagaimana orang-orang membawa tubuh Fazila. Untuk melanjutkan sesi foto harus menunggu keadaan di sana stabil. Dia tidak enak pada orang-orang karena bisa menganggap dia tidak punya empati pada tamu undangan yang sedang terkena musibah. Apalagi tamu itu adanya santri yang mendampingi seorang Nyai.


Setelah Fazila sudah tidak terlihat lagi barulah mereka meminta fotografer untuk melanjutkan tugasnya.


"Ke rumah sakit Pak!" perintah Nyai Fatimah saat setelah Fazila di baringkan di dalam mobil oleh orang-orang di sana.


"Baik Nyai," sahut sopir dengan nafas ngos-ngosan sehabis berlari saat mendengar kabar bahwa santri yang mendampingi Nyai Fatimah pingsan. Padahal saat orang-orang berteriak dia sedang makan. Dia berlari ke arah mobil tanpa minum terlebih dahulu.


Pak sopir langsung masuk kemudian menghidupkan mesin mobil.


"Cepat Pak!" Nyai Fatimah takut terjadi sesuatu pada Fazila, bisa-bisa dia dianggap lalai oleh orang tua gadis itu.


"Baik Nyai, tapi bersabarlah! Ini gang agak sempit dan tidak memungkinkan untuk mengebut. Jika ada orang yang lewat di depan kita bisa tertabrak jika tidak hati-hati," jelas pak sopir tentang kemungkinan yang terjadi.


Nyai Fatimah hanya mengangguk sambil membaca doa dalam hati. Dia merogoh dalam tasnya dan mencari apakah dirinya sedang membawa minyak angin kini seperti sebelum-sebelumnya.


"Ada," gumamnya lalu mengoleskan di kening Fazila dan sedikit di hidungnya.


Tak ada reaksi, Fazila masih belum bernafas juga. Nyai Fatimah menatap wajah dan bibir Fazila yang terlihat pucat, wajahnya ikut memucat karena sangat khawatir.


"Ini bagaimana?" Nyai Fatimah bergumam sendiri. Dalam hati sangat berharap Fazila tidak apa-apa. Tidak terjadi hal buruk padanya dan segera sadar.


"Apa dia salah makan tadi?" tanyanya pada diri sendiri sambil mengingat apa saja makanan yang masuk ke dalam perut Fazila.


"Sepertinya aman," batinnya saat menyadari yang dimakan Fazila adalah makanan yang aman saat dimakan dalam keadaan sakit sekalipun. Sambal saja Fazila tidak menyentuhnya tadi.


"Sabar Nyai, di depan sana ada puskesmas," ujar sopir menenangkan. Matanya awas ke depan karena posisi dalam keadaan mengebut.

__ADS_1


"Bagaimana saya bisa tenang Pak, bagaimana kalau sampai terjadi sesuatu sama santri saya ini? Saya bisa dituntut oleh keluarganya. Apa dia kecapekan ya, saya ajak belanja ke mall? Padahal niat saya baik tapi kok hasilnya jadi begini."


Pak sopir hanya diam saja mendengar keluhan Nyai Fatimah. Sebelumnya pak sopir tidak pernah mendengar Nyai Fatimah begitu khawatir dan mengeluh seperti sekarang.


"Itu ya Pak puskesmasnya?" tanya Nyai Fatimah lalu melihat kembali keadaan Fazila yang tidak berubah sedikitpun.


"Hah! Ya Allah semoga dia baik-baik saja," ujar Nyai Fatimah lalu menghembuskan nafas berat.


Tidak lama kemudian mobil mereka memasuki parkiran puskemas. Pak sopir langsung menggendong tubuh Fazila ke ruang UGD.


Ketika Fazila diperiksa Nyai Fatimah tampak mondar-mandir tidak karuan. Bunyi telepon mengusik pendengaran dan Nyai Fatimah langsung keluar dan mengangkatnya.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi, bagaimana Chila, mengapa Nyai membawa dia yang belum begitu sehat?" Terdengar suara Kyai Miftah dari balik telepon. Nyai Fatimah mendesah kasar. Bukannya membuat Nyai Fatimah tenang, Kyai Miftah malah protes.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Saya tidak tahu akan terjadi seperti ini Kyai. Kalau saya tahu mungkin akan mengajak santri yang lain saja. Kapok saya mengajak Chila," cicitnya.


"Yasudah sabar saja, sudah takdirnya seperti ini. Apa kata dokter?"


"Belum tahu Kyai, dia masih diperiksa dan belum sadarkan diri. Kami membawa dia ke puskesmas terdekat."


"Jangan dulu Kyai!"


"Iya, nanti saja setelah mendengar kabar selanjutnya. Sebentar lagi saya akan menyusul ke sana. Sudah dulu ya, assalamu'alaikum warahmatullahi!"


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh."


Nyai Fatimah kembali ke dalam ruang UGD dan berjalan ke arah perawat yang sedang memeriksa Fazila.


"Dia kenapa Dok? Apa sebenarnya yang terjadi? Mengapa belum sadar juga?" Nyai Fatimah langsung memborbardir dokter tersebut dengan pertanyaan.


"Hanya syok saja, sebaiknya jaga suasana hatinya. Pasien belum sadar tapi sebentar lagi kemungkinannya akan segera siuman."


"Oh begitu ya Dok? Syukurlah kalau begitu dan terima kasih atas pelayanannya."


"Sama-sama," ucap perawat tersebut. Sebenarnya canggung ketika Nyai Fatimah memanggil dirinya dokter, tapi itu tidak terlalu penting.


"Sebaiknya duduk Nyai," ujar pak sopir sambil menggeser kursi, kasihan melihat Nyai Fatimah mondar-mandir tak tentu arah.

__ADS_1


"Terima kasih Pak, tapi tidak perlu," tolaknya. Dia memilih berdiri karena masih tidak tenang.


Fazila mengerjapkan mata lalu menatap bagian atas ruangan. Matanya langsung menyisir ruangan tersebut untuk mencari tahu dirinya ada dimana.


"Kau sudah sadar?" Nyai Fatimah tersenyum senang di samping wajahnya membuat Fazila langsung menautkan kedua alisnya. Bingung dengan apa yang sudah terjadi.


"Memang saya kenapa? Dan sekarang ada dimana?" lirihnya.


"Kamu tadi pingsan dan sekarang ada di puskesmas," jelas Nyai Fatimah membuat Fazila harus mengingat kejadian tadi. Wajahnya langsung meringis tatkala mengingat semuanya.


"Nyai saya mau kembali ke pesantren," ucap Fazila lalu turun dari brankar.


"Tapi Chila–"


"Saya tidak apa-apa!" tegas Fazila membuat Nyai Fatimah terbelalak. Namun, tidak bisa dipungkiri hatinya tenang melihat Fazila sudah sadar.


"Kalau begitu tunggu dulu, dokter sedang mengambil obat untukmu."


"Saya tidak sakit Nyai, Jadi tidak butuh obat," ucap Fazila.


"Paling tidak vitamin Chila agar kamu tidak lemah lagi," ujar Nyai Fatimah membuat Fazila terpaksa mengangguk.


Tidak menunggu beberapa lama perawat memberikan resep pada Nyai dan disuruh menebusnya di loket penebusan obat.


Fazila hanya menghela nafas saat seorang petugas memberikan obat dan memberikan dia nasehat.


"Rasanya aku butuh obat hati deh daripada fisik," gumam Fazila.


Mereka pun kembali ke pesantren dan Nyai Fatimah menyarankan Fazila untuk istirahat beberapa hari sebelum kembali aktif mengikuti semua kegiatan di pesantren.


Namun, bukannya tambah sehat setelah terus meminum obat, daya tahan tubuh Fazila malah turun. Pada suatu malam dia kembali demam, tubuhnya panas dan menggigil membuat teman-temannya bingung karena Fazila tak kunjung sembuh.


Hari demi hari keadaan Fazila bukannya semakin sehat, tetapi terus drop. Beberapa kali Nyai dan para ustadzah di sana membawa Fazila ke rumah sakit, tapi tak kunjung membuat gadis itu sembuh. Akhirnya mereka semua memutuskan untuk memberi tahu keluarganya.


Mendengar kabar putrinya yang sakit Zidane dan keluarga langsung menjemput Fazila dan meminta izin untuk merawat putrinya sampai benar-benar sembuh sebelum kembali ke pesantren lagi.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2