DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR

DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR
Bab 119. Aksi Penyelamatan 2


__ADS_3

Ketika keduanya hampir sampai di pintu, dokter Davin merutuki para polisi dalam hati karena bukannya sigap menangkap, mereka malah seperti orang melamun. Seolah bingung dengan situasi dan akan melakukan apa. Seharusnya sebagai anggota polisi mereka peka.


Saat dokter Davin memberikan kode dengan mata, barulah mereka paham dan bergerak cepat.


"Anda ditangkap!" seru polisi dari depan dan belakang suster Tantri.


"Dokter?" Suster Tantri menatap dokter Davin dengan tatapan memelas, seolah ingin meminta dokter Davin agar membantu membebaskan dirinya dari jeratan hukum.


"Borgol dia Pak! Dia memang pantas dihukum," ucap dokter Davin dengan tangan yang mencekal tangan suster Tantri sehingga memudahkan polisi untuk memasang borgol di pergelangan tangan wanita tersebut.


"Dokter! Ternyata kau menipuku?" geram suster Tantri dan dokter Davin tidak mengindahkan wanita yang diseret keluar oleh para polisi itu.


"Dokter pastikan agar dia tidak kabur lagi dari penjara!" tegas dokter Davin.


"Kenapa aku sekali gampang dibodohi? Dokter Davin! Ahhh! Sial!" teriak suster Tantri dengan mata mendelik penuh aura kebencian.


"Chila!" Dokter Davin menepuk-nepuk pipi Fazila dan gadis itu tetap pura-pura memejamkan mata. Kesal dengan ucapan dokter Davin tadi.


"Chila, buka matamu, hey!" Dokter Davin mengulang menepuk-nepuk pipi Fazila. Tak ada reaksi dari gadis itu sehingga dokter Davin langsung memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan Fazila. Pria itu menghembuskan nafas lega karena ternyata Fazila masih bernafas.


Pria itu berjalan cepat keluar, mendatangi mahasiswi yang banyak membantunya tadi.


"Apa aku bisa meminta bantuanmu lagi?"


"Boleh Dokter, kalau saya mampu pasti akan saya bantu."


Dokter Davin mengangguk lalu merogoh kunci mobil dari saku jasnya.


"Mobil saya ada di depan lapangan sana, tolong bawa ke sini!"


Mahasiswi tersebut mengangguk walau nyatanya dia tidak bisa menyetir.


"Lan bantu aku!" pintanya pada teman laki-lakinya.


"Oke, yuk."


Dokter Davin kembali ke dalam lalu menggendong tubuh Fazila dengan posisi wajah yang dibuat mendongak dan membawanya keluar ruang laboratorium dengan langkah pelan dan hati-hati.


"Dokter, dikasih minum dulu biar dia sadar," ucap seorang mahasiswa dengan sebotol air mineral di tangan dan menyodorkan pada dokter Davin.


"Tidak perlu, orang pingsan tidak boleh dikasih minum, akan sangat berbahaya," tolak dokter Davin dan dia terus melangkah menuju pintu pagar kampus.


Sambil menunggu mahasiswi yang menjemput mobil tadi, dokter Davin duduk di pos satpam dengan tetap memapah tubuh Fazila.


Satpam yang baru sadar, gelagapan melihat ada banyak polisi di tempat itu, bahkan membawa paksa seorang wanita untuk naik ke mobilnya.

__ADS_1


"Ada apa ini?"


Seorang polisi menjelaskan apa yang terjadi termasuk meminta maaf karena terpaksa harus merusak kunci laboratorium kimia yang ada di kampus tersebut.


Beberapa mahasiswa terlihat melangkah ke arah mereka sambil menggotong tubuh penjaga laboratorium yang belum sadar juga hingga sekarang dan menyerahkan pada pak satpam.


"Terima kasih ya semuanya, mohon maaf telah membuat kekacauan di sini dan merepotkan kalian semua," ujar dokter Davin pada pak satpam dan para mahasiswa maupun mahasiswi yang sudah banyak membantu dalam pencarian dan penyelamatan Fazila dari tangan suster Tantri.


Kini mobil dokter Davin sudah ada di depan mereka dan mahasiswi bersama temannya tadi langsung keluar dari mobil.


"Terima kasih banyak," ucap dokter Davin lalu meletakkan tubuh Fazila di samping kemudi. Ia segera meraih kunci mobil dari tangan mahasiswa yang dipanggil Lan tadi. Setelahnya mengambil dompet dan mengeluarkan beberapa lembar uang dari dalamnya.


"Tidak usah Dok, kami ikhlas membantu, tak mengharap upah," tolak seorang mahasiswa.


"Iya Dok, apalagi Dokter tadi sudah membantu teman saya," tambah yang lain.


"Tak apa, ambillah! Ini bukan upah melainkan untuk makan-makan kalian. Saya tahu kalian pasti sudah lapor, ayo ambil!" Dokter Davin sedikit mendesak hingga mereka tak kuasa menolak. Benar kata dokter Davin, cacing-cacing di perut mereka sudah meronta-ronta ingin segera diisi.


"Baik Dok, terima kasih."


Dokter Davin mengangguk kemudian dengan langkah cepat memutar tubuh dan masuk ke kursi kemudi. Setelah pamit pada semua orang, ia langsung mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang di jalanan menuju rumah sakit.


Tangan kanan dokter Davin sigap menyetir sedang tangan kiri merogoh ponsel lalu menelpon pada ponsel pesantren yang biasanya dipegang oleh Fazila.


Saya sudah berhasil menemukan Chila. Katakan pada semua ustadz dan ustadzah ya, agar tidak khawatir dan mencarinya lagi."


"Chila ketemu!" pekik Anggita dengan wajah kembali berbinar.


"Ya, ketemu tapi dalam keadaan pingsan. Jadi, saya tidak akan langsung mengantarnya ke pesantren tapi akan dibawa ke rumah sakit terlebih dahulu untuk dilakukan pemeriksaan," jelas dokter Davin.


"Ya Dok, yang penting Chila selamat," ucap Anggita dan dokter Davin langsung menutup telepon tanpa mengucapkan salam terlebih dahulu karena lupa.


"Anggita ada apa?" tanya Qiana dan Andin yang berjalan mendekat ke arahnya. Wajah keduanya tampak lesu seperti seseorang yang kehilangan harapan.


"Chila ketemu," ujar Anggita.


"Yang benar saja Nggit, kau jangan membohongi kami karena hanya ingin membuat kami bahagia," ujar Qiana.


"Tidak Qia, aku baru saja ditelpon oleh dokter Davin. Di memintaku untuk mengabarkan pada para ustadz agar tidak lagi melakukan pencarian," terang Anggita.


"Chila sudah bersamanya," lanjut Anggita.


"Benar?" Andin masih saja ragu.


"Benar Din dalam masalah seperti ini apakah kamu kira aku akan main-main?"

__ADS_1


"Alhamdulillahi rabbil 'alamin," ucap Qiana dan Andin serentak lalu merendahkan diri mereka ke tanah dan melakukan sujud syukur. Anggita pun akhirnya mengikuti jejak kedua temannya.


"Ada apa ini kalian berdua?" tanya ustadzah Ana Heran melihat ketiganya bersujud.


"Chila sudah ketemu Ustadzah," jawab Andin.


"Kalian tidak sedang bercanda, kan? Kalau memang ketemu, dimana Chila sekarang?" tanya ustadzah Ana setengah tak percaya.


"Iya Ustadzah, kalau Ustazah tidak percaya, hubungi sendiri dokter Davin. Beliau sudah berhasil menemukan Chila dan sekarang sedang membawanya ke rumah sakit untuk diadakan pemeriksaan."


"Tapi dia tidak apa-apa, kan Nggit?"


"Dia hanya pingsan Ustadzah. Namun dari suara dokter Davin sepertinya keadaan Chila tidak terlalu mengkhawatirkan.


"Alhamdulillah kalau begitu. Yasudah kalian kembali tenda dan saya akan memberitahukan kepada ustad dan ustadzah perihal Chila yang sudah ditemukan.


"Chila sadarlah!" lirih dokter Davin seraya melirik ke wajah gadis itu sambil terus menyetir. Ia takut suster Tantri tadi telah membuat Fazila menghirup gas yang berbahaya hingga tidak sadar-sadar dari pingsannya.


Fazila tak menjawab, hatinya masih mangkel mengigat perkataan dokter Davin tadi. Meskipun ia tahu perkataan dokter Davin hanya untuk mengelabuhi suster Tantri, tetap saja ia tidak suka.


Dokter Davin mengerutkan kening saat melirik mendapati mata Fazila yang tampak bergerak meskipun terpejam.


"Ternyata kau ingin main-main denganku," batinnya, dengan bibir tersenyum licik.


"Chila!"


Dokter Davin langsung mendekatkan wajahnya hingga mengikis jarak dan hampir saja bibir mereka bersentuhan.


Fazila langsung membuka mata tatkala merasakan nafas hangat menerpa wajahnya. Ia terbelalak kala melihat bibir dokter Davin hampir menempel pada bibirnya.


"Mas Davin!" teriak Fazila. Dokter Davin menarik wajahnya kembali lalu tertawa terbahak-bahak.


"Kalau berani mengerjaiku lagi, jangan harap bibirmu selamat," ancam dokter Davin membuat Fazila menggeleng dan membuang muka lalu menatap pepohonan di pinggir jalan.


"Dasar dokter mesum! Antar aku ke pesantren!" pintanya.


"Kau harus diperiksa dulu takut ada apa-apa."


"Aku baik-baik saja," ujar Fazila.


"Belum tentu di dalam tubuhmu juga demikian. Kau berada di dalam laboratorium kimia dalam jangka waktu yang agak lama dan kita tidak tahu apa saja yang telah dilakukan oleh suster Tantri terhadap dirimu."


"Hmm, terserahlah," ucap Fazila pasrah.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2