DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR

DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR
Bab 22. Dokter Davin dan Chila 22


__ADS_3

"Selamat-selamat," ucap Fazila sambil mengelus dada lalu menghembuskan nafas panjang.


Baru saja Fazila ingin bangkit berdiri terdengar suara derap langkah kaki berlari memasuki ruangan.


"Siapa lagi itu?" Fazila kembali bersembunyi dibalik rak buku.


"Dasar teman-teman kampret semua! Disuruh mengambil kitab kuning, sudah lama baliknya, eh nggak dibawa kitabnya malah teriak-teriak kayak orang gila," gerutu seorang wanita dengan tangan terulur ke arah rak.


"Tangan siapa itu? Tapi kalau dari suaranya sepertinya Heni. Gawat bisa kacau hidupku di pesantren ini jika Heni bisa memergoki keberadaanku di kamarnya." Hati Fazila mulai ketar-ketir lagi.


"Ah, ini dia." Setelah meraih kitab kuning Heni langsung keluar dari kamar. Namun, sebelumnya mematikan lampu kemudian menutup pintu.


Fazila mengintip dari balik rak dan melihat Heni yang keluar.


"Benar 'kan dugaanku tadi itu si Heni. Untung saja aku nggak ketahuan," gumam Fazila lalu keluar dari persembunyiannya.


Fazila mengucek kedua mata dengan tangan karena penglihatannya agak kabur setelah diterangi oleh cahaya lampu tiba-tiba kamar dibuat redup begitu saja.


"Ah akhirnya!" Fazila merentangkan tangan sebelum akhirnya mencari ponsel Heni dalam keadaan yang sedikit gelap. Sengaja Fazila tidak


menghidupkan lampunya kembali agar jika ada yang melihat dari luar tidak ada yang curiga karena tiba-tiba lampunya hidup sendiri.


"Dimana sih si Heni menyembunyikan benda itu? Terlalu pintar tuh anak menyembunyikan sesuatu."


Akhirnya setelah menjelajahi kamar terlihat cahaya yang memantul dari balik bantal.

__ADS_1


"Nah itu dia!" Segera Fazila meraih benda tersebut. Setelah Fazila cek ternyata ada panggilan masuk ke dalam ponsel tersebut dan kebutuhan ponsel itu hanya disetel getar saja sehingga tidak menimbulkan bunyi yang nyaring.


Fazila mengawasi ponsel tersebut. Panggilan dari nama My Boy yang tertera di ponsel belum berakhir juga.


"Ini pasti kekasih Heni," tebak Fazila lalu memutus panggilan tersebut. Setelahnya tangan Fazila lincah menggeser-geser layar di ponsel tersebut untuk mencari foto yang sudah Heni ambil. Untung saja ponsel tersebut tidak dikunci sehingga Fazila leluasa mengecek ponsel tersebut.


"Mana sih fotoku? Atau jangan-jangan sebenarnya dia tidak berhasil mengambil foto kami dan hanya berpura-pura saja untuk menakut-nakuti diriku?"


Disaat Fazila kebingungan nomor tadi memanggil kembali.


"Ah, menganggu saja!" kesal Fazila lalu memblokir nomor telepon.


"Rasain kamu Heni! Pacarmu akan marah karena kamu telah berani memblokir nomornya." Fazila terkekeh karena berhasil mengerjai santri yang sok rajin itu.


Fazila melirik di sekitar kamar yang tampak sepi dan gelap. Rasanya dia sedikit takut untuk berada di kamar itu sendirian.


"Nah ketemu!" seru gadis itu dengan antusias lalu segera menghapus foto tersebut.


"Satu gambar yang bisa menjadi fitnah sudah menghilang dari peredaran," gumam Fazila masih dengan bibir yang dipenuhi senyuman. Dalam hati sangat bahagia karena Heni sudah tidak bisa melaporkan tentang kesemuan pandangannya tadi.


Setelah menghapus fotonya dengan Izzam. Bukannya langsung pergi keluar, Fazila malah melihat foto-foto yang tersimpan di dalam galeri ponsel tersebut.


"Gila! Banyak benar foto yang dia ambil. Apa tidak takut dicek sama ustadz-ustadzah ya?" Fazila hanya bisa menggaruk kepala menyadari keberanian Heni. Bahkan diantara foto bersama teman-temannya itu ada beberapa foto yang menampilkan kemesraan antara Heni dan pria yang Fazila tebak adalah kekasih gadis itu.


"Seharusnya aku tidak perlu takut Heni melaporkan, toh jika dia berani memberikan ponsel ini kepada ustaz atau ustadzah apalagi Bu Nyai maka bukan cuma aku dan Izzam yang akan kena teguran, tapi Heni juga karena fotonya tidak akan lepas dari pengamatan Bu Nyai atau ustadzah. Bukankah santri dilarang pacaran?"

__ADS_1


"Hmm, dasar aneh! Dan kamu juga tak kalah aneh Fazila! Setelah menghapus foto tersebut kenapa masih diam di sini saja?" Gadis itu protes pada dirinya sendiri.


"Sudah ah keluar saja sebelum sama penghuni kamar ini kembali."


Fazila beranjak ke arah pintu lalu tangannya terulur menyentuh handle pintu.


"Ya Tuhan pintunya dikunci dari luar!" Fazila tampak panik sambil terus berusaha memutar handle pintu agar bisa terbuka.


"Bagaimana ini?" Tak berhasil juga membuat dia jadi semakin gusar.


"Tadi sepertinya pas keluar Heni tidak sempat mengunci pintu deh. Jangan-jangan perkataan kedua teman sekamar Heni tadi benar bahwa di kamar ini ada hantu." Fazila jadi bergidik sendiri dengan prasangkanya.


"Oh Tuhan bantu aku! Aku tidak ingin mati ketakutan di dalam tempat yang sepi gelap seperti ini."


Heni yang memang tidak pergi dari pintu sedari tadi, cekikan mendengar suara Fazila yang terdengar bergetar karena rasa takutnya.


"Rasain, suruh siapa Heni dilawan!"


"Tolong siapapun di luar tolong bantu aku untuk keluar dari tempat ini!" teriak Fazila sambil terus mengguncang handle pintu.


"Mau kemana kamu? Kau tidak bisa kabur dariku!" Suatu Heni dibuat terdengar begitu horor layaknya suara-suara hantu pada film horor ataupun misteri.


"Aduh bagaimana ini?" Keringat dingin mengucur dari seluruh tubuh Fazila.


"Mama tolong aku! Chila bisa gila jika harus seperti ini terus," rengek Fazila semakin membuat Heni senang minta ampun.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2