
Fazila bergeming tak sedikitpun ada tanda pergerakan dari gadis itu. Gadis itu menatap lurus ke depan dengan tatapan hampa.
"Chila! Hey sudah sampai!" Nyai Fatimah melambaikan tangan di depan wajah Fazila membuat gadis itu langsung tersadar.
"Ah iya, ada apa Nyai?" tanyanya dengan sikap salah tingkah.
"Apa yang kamu pikirkan? Mengapa melamun sedari tadi?"
"Oh itu ... oh, tidak. Saya ... tidak apa-apa. Saya hanya ... hanya kagum saja dengan dekorasinya," sahut Fazila belepotan. Tak tahu harus menjawab apa.
"Oh ini memang bagus, Vendornya terkenal sebagai salah satu pemilik dekorasi terbaik di daerah sini," jelas Nyai Fatimah dengan senyuman yang merekah di bibir dan Fazila hanya mengangguk lemah.
"Cepatlah turun kita hampir terlambat, ijab qabul sudah terucap!" perintah Nyai Fatimah.
Mau tidak mau Fazila harus menurut, tak ada alasan untuk menolak perintah Nyai Fatimah. Mau berakting sakit dia takut sakit beneran.
Fazila menghela nafas panjang sebelum akhirnya berdiri dari duduknya.
"Bismilah," ucapnya lalu turun dari mobil.
"Jangan lupa bawa kadonya!"
Meskipun dengan gemuruh di dada, dengan tangan yang gemetar dan tungkai yang seakan berat dibawa melangkah, Fazila terus saja mengikuti langkah Nyai Fatimah masuk ke dalam tempat acara.
Otaknya memberi perintah agar ia mendekati dokter Davin dan melihat pria itu dengan puas sebelum akhirnya benar-benar melepaskan nama pria itu di hatinya. Namun, di dalam sudut hati yang paling dalam Fazila menyadari dirinya tidak siap jika harus melihat dokter Davin bersanding dengan perempuan lain.
Melihat Nyai Fatimah datang, beberapa pihak keluarga menyambutnya dengan baik. Beberapa orang menyalami tangan Nyai dan juga Fazila. Mereka dipersilahkan duduk di dalam rumah mempelai wanita.
Ketika berjalan ke rumah Danisa, pandangan Fazila terus ke bawah. Dengan menunduk Fazila berharap tidak ada yang melihat ekspresi wajahnya kini yang terlihat bersedih. Sangat kontras dengan ekspresi kebanyakan orang-orang di sana yang berada dalam suasana haru dan bahagia.
"Maaf kedatangan kami terlambat, ada kendala sedikit tadi," ujar Nyai Fatimah pada pihak keluarga.
"Tidak apa-apa Nyai, Nyai bisa hadir saja sudah menjadi kebanggaan tersendiri bagi keluarga kami. Yang terpenting Kyai Miftah datang tepat waktu," ucap keluarga mempelai begitu ramah.
Pembicaraan mereka harus terjeda oleh beberapa orang yang menghidangkan kue-kue basah dan beberapa toples kue kering beserta minuman untuk Nyai Fatimah dan Fazila.
__ADS_1
"Silahkan dinikmati dulu hidangannya, saya permisi sebentar," ucap keluarga sebelum akhirnya pergi meninggalkan mereka berdua.
"Chila, itu dicicipi!" perintah Nyai Fatimah melihat Fazila seperti orang yang tidak berselera. Nyai Fatimah tahu Fazila baru sembuh dari sakit dan itu memang berpengaruh dengan selera makannya. Namun, beliau tidak ingin tuan rumah menganggap mereka tidak menghargai jamuan yang diberikan oleh tuan rumah.
Fazila pun meraih sepotong brownies kacang di atas piring lalu mengunyahnya dengan tidak berselera. Kue brownies yang biasanya manis itu terasa pahit di lidah. Entah karena terlalu banyak baking soda, kurang gula karena ingin menonjolkan rasa cokelat, atau bahkan karena terlalu lama di panggang, ataukah karena kata pahit sudah mendoktrin otak Fazila.
Entahlah gadis itu tak paham. Ia melirik ke luar melalui kaca jendela tatkala terdengar suara riuh di sana.
Nampak sepasang pengantin menyalami beberapa keluarga sebelum akhirnya digiring ke pelaminan.
Ingin rasanya Fazila menangis melihat pria yang dicintainya itu berjalan ke arah pelaminan sambil merangkul pinggang istrinya.
Gadis itu hanya beristigfar beberapa kali dalam hati saat masih saja mengagumi tubuh pria itu yang berjalan dengan tegap dengan rahang yang begitu tegas dilihat dari samping. Fazila membayangkan pasti saat ini wajah dokter Davin terlihat beberapa kali lebih tampan.
"Ah hentikan Chila, dia suami orang!" Mengingatkan diri sendiri sambil mengusap wajah dengan kedua tangan lalu memejamkan mata.
Suara orang-orang yang berada di depannya membuat Fazila membuka tangan yang menutup mata.
"Maaf Nyai dan adik, silahkan pindah ke sana dulu untuk menikmati sajian kami!" ujar seseorang dengan suara begitu lembut dan ramah. Jari jempolnya menunjuk meja prasmanan.
"Ayo Chila!"
Fazila pun mengangguk dan mengikuti langkah Nyai Fatimah ke sudut ruangan. Meskipun tidak berselera, terpaksa dia mengambil nasi dan lauk-pauk karena tidak ingin mendapatkan protes dari Nyai Fatimah.
Saat menikmati hidangan Fazila tidak melepaskan pandangan dari kedua mempelai meskipun jarak pandang yang jauh dan susah melihat dengan jelas karena posisinya menyamping dari tempat Fazila.
"Oh seperti itu wajah istrinya padahal sudah pakai make up."
Entah kenapa Fazila begitu sombong dengan merasa wanita itu tidak lebih cantik darinya saat berhasil mencuri pandang pada wanita tersebut. Sayangnya dia tidak bisa melihat wajah dokter Davin. Wajah pria yang membuat dirinya akhir-akhir ini seakan mau gila.
"Tapi ... walau bagaimanapun keadaan dia ... dia hebat bisa mendapatkan dokter Davin. Dia wanita pilihannya." Tatapan Fazila kembali sendu.
"Chila kalau makan jangan tolah-toleh!" tegur Nyai Fazila membuat nasi yang ingin ia telan tercekat di tenggorokan dan kesusahan untuk ditelan.
"Tuh, kan!" Nyai Fatimah meraih gelas lalu menuangkan air putih, segera ia memberikan pada Fazila. Kadang Fazila berpikir bagaimana mungkin Nyai Fatimah begitu baik padanya sampai begitu telaten padahal ia terkenal sebagai pengasuh pondok pesantren yang begitu galak di mata para santriwati.
__ADS_1
Ataukah Nyai Fatimah begitu karena orang tuanya adalah salah satu donatur terbesar pesantren? Selalu saja opini Fazila tergiring ke arah sana. Ia kembali mengucapkan istighfar karena telah meragukan kebaikan seseorang.
"Terima kasih," ucap Fazila setelah menegur air mineral.
"Sama-sama," sahut Nyai Fatimah.
Tak lama kemudian mereka berdua selesai makan. Tepat saat itu Nyai Fatimah dipanggil ke pelaminan karena mempelai ingin bertemu sekaligus ingin mengabadikan momen dengan berfoto bersama beliau.
"Ayo Chila ikut!" ajak Nyai Fatimah dan Fazila menggeleng. Dia tidak punya kekuatan untuk bertemu dokter Davin sekarang.
"Kenapa tidak? Saya ingin mengenalkan dirimu pada santri saya. Danisa adalah alumni di pondok pesantren kita dan merupakan lulusan terbaik. Dia hebat sekarang sudah menjadi dokter muda yang berprestasi pula. Saya harap kamu bisa banyak belajar dari dia juga sukses seperti dia."
Fazila benci dengan pujian itu, nyalinya ciut untuk menghampiri mereka. Tenyata dirinya kalah jauh dengan Danisa. Namun, dia tidak akan pernah belajar dari dia seperti kata Nyai Fatimah. Ia tak suka, jika pun ada yang harus dipelajari dari wanita itu adalah bagaimana caranya mendapatkan hati dokter Davin dalam jangka waktu yang begitu cepat.
"Ayo Chila tidak enak dengan keluarga mereka!"
Ingin rasanya Fazila mengatakan 'Sana Nyai yang pergi, mereka tidak butuh Chila. Yang dipanggil hanya Nyai saja!'
Namun, kata-kata itu hanya terakit dalam angan-angan. Selebihnya Fazila tidak punya keberanian dan mendadak lidahnya menjadi kelu.
"Ayo jangan membuang banyak waktu! Waktu adalah uang, waktu adalah ibadah, terlebih meluangkan waktu untuk membuat orang lain senang adalah ibadah yang tak dapat disepelekan."
"Baik," sahut Fazila dengan suara lirih hampir tak terdengar.
Nyai Fatimah tersenyum lalu melangkah lebih dulu. Fazila menyusul di belakangnya dengan langkah pelan dan masih dengan wajah terus menunduk.
"Ayo Chila!"
"Ah iya, Nyai." Fazila kesandung akibat berjalan begitu terburu-buru. Ia mendongak, pada saat itu tatapannya tak sengaja bertemu dengan mata mempelai pria.
Tubuh Fazila bergetar, otak-ototnya serasa ada yang menarik dengan cepat. Ia tampak syok dan tak berdaya mempertahankan keseimbangan tubuh. Kakinya kembali melemas, tubuhnya luruh dengan mata yang terpejam. Fazila kehilangan kesadaran.
"Oi dia pingsan!" teriak orang-orang lalu berebutan berlari ke arah Fazila.
Bersambung.
__ADS_1