DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR

DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR
Bab 103.Tiba di Pesantren


__ADS_3

Pukul 06.20 menit rombongan Zidane tiba di pesantren. Beberapa santri heboh berlari ke arah pagar karena penasaran siapa yang datang kali ini.


"Tamu Pak Kyai ataukah santri baru?" tanya seorang santriwati.


"Mana ada santri masuk sekarang, belum pindahan kelas soalnya. Mungkin hanya tamu," sahut temannya.


"Siapa tahu pindahan dari sekolah lain?"


"Hmm, bisa saja sih, yasudah deh daripada ngomongin yang nggak jelas mending kita belajar lagi biar nanti bisa jawab semua soal ujian dan dapat nilai 100."


"Yasudah yuk balik-balik!" Beberapa remaja itu berlari ke area sekolah.


"Eh sepertinya aku tahu siapa pemilik mobil itu," ujar Andin sambil menuding ke arah mobil yang berhenti paling depan.


"Iya ya aku kayak juga ingat gitu, mobil siapa ya?" tanya Anggita sambil memijit pelipisnya.


"Alah tahu-tahu, tapi mikirnya lama amat, daripada mikir keras kenapa nggak samperin aja?" ujar Qiana lalu berlari ke arah pagar.


"Pak dokter!" seru mereka serempak tatkala dokter Davin membuka pintu mobil dan turun.


"Tuh kan benar aku tahu sama pemilik mobilnya," ujar Andin.


"Iya deh," jawab keduanya seraya terus saja berlari.


Dokter Davin melambaikan tangan ke arah ketiga gadis yang jaraknya semakin dekat itu. Ketiganya pun balas melambaikan tangan dan mulai berjalan santai.


"Duh cakep nya tuh orang, andai bukan pria yang di cintai Chila," ujar Andin.


Segera Qiana meraup wajah Andin dan melayangkan protes.


"Kamu tuh kalau lihat cowok cakep matanya mengeluarkan sinar warna-warni kayak pelangi, nggak bisa lihat cowok cakep dikit."


"Ih biarin Qia, itu artinya aku cewek normal. Eh tapi ngapain si dokter Davin ke sini? Kan Chila belum balik?"


Daripada mendengar perkataan Andin keduanya lebih fokus menatap ke arah dokter Davin dan kedua mobil yang terparkir d7 belakang mobil pria itu.


Dokter Davin mengeluarkan koper milik Fazila dari dalam mobil. Bersamaan dengan itu Fazila turun dari pintu sebelah kiri kemudi.


"Chila!" seru ketiganya serempak lalu kembali berlari hingga jarak mereka semakin dekat.


Pak satpam tampak membuka pintu pagar tatkala dokter Davin meminta izin untuk diperkenankan bertamu


"Chila! Aaa!" teriak ketiganya antusias lalu memeluk tubuh Fazila serentak ala-ala Teletubbies dan sambil jingkrak-jingkrak.


"Hai Assalamualaikum! Apa kabar?" sapa Fazila, sambil mengurai pelukan ketiga sahabatnya. Namun, ketiga tidak ingin pelukannya terlepas.


"Wa'alaikumasalam, kami baik-baik saja," sahut Qiana.

__ADS_1


"Kamu sendiri?" lanjutnya.


"Kenapa lama baliknya? Kata Nyai kamu sudah sehat dari tempo hari, mengapa baru kembali?" tambah Andin.


"Dan kenapa datangnya malah sama dokter Davin?" Anggita turut mengajukan pertanyaan.


"Siapa nih yang ingin aku jawab duluan pertanyaannya!" seru Fazila bingung harus menjawab pertanyaan darimana.


"Aku!" jawab ketiganya serempak sambil mengacungkan jari telunjuk ke atas.


"Kau kira aku guru yang lagi ingin main tebak-tebakan," ujar Fazila dan dokter Davin hanya menggeleng melihat tingkah beberapa gadis yang berdiri di sampingnya itu.


"Kau sudah menikah ya dengan dokter Davin makanya balik ke sini sama dia?" tanya Andi sambil menunjuk dokter Davin yang menatap pada mereka.


Fazila hanya tersenyum menanggapi pertanyaan sahabatnya itu.


"Kau benar Din, coba lihat cincin di tangan mereka samaan, kan?" Anggita menimpali.


"Ekhem!" Dokter Davin pura-pura terbatuk.


"Eh maaf menyimpulkan tanpa menunggu jawaban," ujar Anggita cengengesan menatap wajah dokter Davin dan pria itu hanya terlihat mengangguk.


"Abisnya Chila lelet amat sih mau jawab juga," lanjutnya masih dengan cengirannya.


"Hah lepas dulu! Bagaimana aku bisa bicara panjang lebar jika kalian menempel seperti lintah. Chila sesak nafas tahu," ucap Fazila dengan nafas ngos-ngosan.


"Aih kita disamakan dengan lintah," ujar Andin sambil melepaskan pelukan diikuti oleh yang lainnya.


"Baik Oma, ngomong-ngomong Oma bawa kue begitu mau lamaran? Mau melamar saya untuk Bang Tris ya Oma?" kelakar Andin sambil mengedipkan mata ke arah Tristan yang berdiri di samping Laras.


"Mau melamar kucing yang ada di pesantren ini," ujar Tristan lalu terkekeh.


"Terus berkedip genit seperti itu Andin biar Pak Kyai lihat dan congkel tuh mata," ujar Anggita lalu tertawa renyah.


"Ini memang untuk kalian, bagi-bagi ya sama teman-teman kalian yang kamarnya berdekatan," ujar Laras dengan tangan terulur ke depan. Qiana dan Anggita langsung mengambil kue dari tangan Laras.


"Terima kasih Oma, ada yang ulang tahun, kah?"


"Nggak, ini kue lamaran dari dokter Davin untuk Chila. Jadi sebagai sahabatnya kamu semua harus mencicipinya juga," jelas Laras dan ketiganya tampak kaget.


"Beneran Chila?" tanya mereka hampir bersamaan.


"Iya, jadi ini cincin tunangan bukan cincin kawin," jelas Fazila dibenarkan oleh dokter Davin dengan anggukkannya.


"Assalamualaikum!" Di tengah-tengah obrolan mereka Nyai Fatimah berjalan mendekat.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab semua orang.

__ADS_1


"Eh Chila dan keluarga, mari masuk!" ujar Nyai Fatimah yang menyambut langsung kedatangan Laras dan rombongan.


"Terima kasih Nyai," sahut Laras dan semua orang yang datang itu bersalaman bergantian.


"Chila sudah siap belajar lagi 'kah? Bagaimana keadaanmu?"


"Baik Nyai, insyaallah sudah bisa beraktivitas seperti dulu lagi."


"Alhamdulillah."


"Danisa apa kabar, belum isi kah perutnya?"


"Belum Nyai, doakan saja."


"Tapi memang nggak ikut program penunda kehamilan, kan?"


"Tidak."


"Oh, insyaallah lekas dikaruniai buah hati."


"Aamiin."


"Mari-mari ikut saya semua!" Nyai Fatimah mendahului semua orang.


"Nak Andin, Tante bisa minta tolong kalian semua nggak?"


"Iya Tante."


"Tolong bawakan oleh-oleh yang ada di mobil kami untuk Nyai!" pinta Isyana.


"Baik Tante."


"Tapi taruh dulu kue punya kalian takut dilihat santri yang lain. Nggak enak karena nggak cukup untuk semuanya," ujar Laras.


"Baik Oma," ucap Anggita dan Qiana hampir bersamaan.


Keduanya pun berlari menuju kamarnya kembali sedangkan Andin mengikuti langkah Isyana ke mobilnya.


"Yang ini bawa semua ya. Ini kunci mobil kami. Kalau sudah selesai tolong kunci mobilnya dan berikan pada Tante lagi atau bisa melalui Chila karena jam masuk sekolah sudah mepet sepertinya, tapi nanti biar Tante ngono sama Nyai barangkali ada toleransi."


"Iya, Tante."


Isyana pun mengejar keluarganya ke tempat Nyai Fatimah sedangkan Andin tampak memanggil beberapa santriwati yang lewat dan meminta tolong sebelum akhirnya Anggita dan Qiana sampai kembali ke sisinya.


"Oh jadi Chila dan dokter Davin sudah bertunangan? Kenapa tidak mengundang Nyai sama Pak Kyai Chila?" gurau Nyai Fatimah.


"Nanti setelah menikah saja Pak Kyai, pesta pertunangan kami hanya sederhana saja kemarin," ujar dokter Davin membantu menjawab sebab sedari tadi Fazila yang ditanya hanya senyum-senyum malu.

__ADS_1


"Jadi Chila sudah tunangan?" batin Izzam tatkala mendengar pembicaraan mereka. Kebetulan remaja itu sedang menghidangkan teh untuk semua tamu Kyai Miftah dan Nyai Fatimah pagi ini.


Bersambung.


__ADS_2