
Di luar hujan tak henti-hentinya mengguyur wilayah di kawasan pondok pesantren hingga membuat suhu udara benar-benar ekstrim.
Tubuh Fazila yang memang dalam keadaan tidak fit semakin menggigil dengan genggaman tangan terlihat gemetar menahan hawa dingin dan panas suhu tubuh secara bersamaan. Giginya bergemeletuk hebat hingga menimbulkan suara. Hal itu membuat teman-temannya panik dan segera merapat.
"Chila kau harus beristirahat," ujar Anggita menghampiri tempat duduk Fazila dan membantu gadis itu berdiri.
"Jangan memaksa untuk bersekolah kalau kesehatanmu terganggu. Ayo aku antar ke kamar," ujar Andin ikut menopang tubuh Fazila dan membawa ke luar kelas.
"Qiana kau beritahukan pada ustadz tentang hal ini!" perintah Andin sambil berlalu membawa tubuh Fazila sedangkan Anggita langsung siaga menyiapkan payung. Mereka bertiga kembali ke kamar dan membantu merebahkan tubuh Fazila di atas kasur.
Selang tidak begitu lama ustadzah Ana datang dengan tergopoh-gopoh, bajunya sedikit basah akibat air hujan meskipun membawa payung. Dia langsung memeriksa tubuh Fazila sebelum memberitahukan pada Nyai Fatimah.
"Sepertinya hanya demam biasa," ujar ustadzah Ana dengan tangan menyentuh dahi Fazila.
"Andin tolong ambil kompresan! Saya akan mengambil obat penurun panas." Setelah mengatakan hal itu ustadzah Ana bangkit dari duduknya dan pergi keluar dari kamar mereka.
Andin menyusul di belakang dan masuk dapur buat mengambil air hangat untuk mengompres tubuh Fazila. Setelah dapat dia berlari lagi ke dalam kamar, tak perduli kerudungnya yang basah akibat percikan air hujan.
"Chila, jaketnya dibuka dulu ya!" pinta Anggita dan Fazila hanya mengangguk, tangannya susah payah melepaskan jaket yang melekat di tubuhnya. Andin langsung siaga membantu. Tanpa dikomando mereka berdua bekerja sama langsung mengompres tubuh Fazila.
Beberapa saat ustadzah Ana datang dengan segelas air hangat dan obat di tangan.
"Apa dia sudah makan?" tanya ustadzah Ana sebelum mengulurkan obat pada Fazila.
"Belum ustadzah, tadi pagi dia hanya makan satu sendok saja karena tidak berselera," jelas Andin dengan jujur.
"Kalian ada biskuit atau roti? Kalau ada berikan dulu! Perutnya tidak boleh kosong kalau mau minum obat ini!"
"Baik." Anggita langsung bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah lemari milik Fazila. Dia mengambil satu potong roti dan menyuapkan ke mulut gadis itu. Setelah itu barulah ustadzah Ana memberikan obat.
"Minum obat ini dulu ya Chila, nanti kalau tidak ada perkembangan baru kita periksa ke dokter. Bukan apa-apa di luar sedang hujan lebat."
"Baik ustadzah, terima kasih," lirih Fazila.
"Sama-sama. Oh ya Andin, Anggita, jangan lupa ya ini obatnya dikasih 3 kali dalam sehari dan pastikan diberikan dalam keadaan perut yang tidak kosong untuk mencegah kemungkinan yang tidak diinginkan.
Jangan lupa dikompres terus! Saya harus kembali ke kelas, dan kalian jaganya bergantian ya biar tidak bolong semua dalam mengikuti pelajaran. Tahu sendiri kan sebentar lagi ujian akan tiba." Ustadzah Ana mengingatkan sebelum akhirnya keluar dari kamar mereka.
"Baik ustadzah."
Setelah ustadzah Ana keluar barulah keduanya berembuk tentang siapa yang akan kembali ke kelas duluan. Keputusannya adalah Andin yang tetap berada di kamar dan menjaga Fazila sedangkan Anggita kembali ke kelas untuk melanjutkan mengikuti pelajaran.
"Din, lebih baik kamu kembali juga ke kelas, aku tidak apa-apa kalau harus sendiri," ucap Fazila sebab merasa tidak enak jika merepotkan sahabatnya.
"Tidak apa-apa Chila, aku di sini saja nemenin kamu," tolak Andin karena takut terjadi apa-apa jika Fazila hanya ditinggal sendirian dalam kamar. Selain itu dia malas jika harus belajar dalam cuaca seperti ini. Mending jaga Fazila sambil ikut tiduran.
"Ckk, nanti kamu ketinggalan pelajaran," decak Fazila.
__ADS_1
"Nggak apa-apa Chila aku bisa mengejarnya," ucap Andin dengan ekspresi begitu tenang padahal diantara keempatnya dialah yang paling payah dalam menyerap pelajaran. Tak ingin banyak bicara, Fazila pasrah saja, membujuk Andin kembali ke sekolah adalah hal mustahil di saat anak itu punya alasan untuk mangkir.
Fazila tampak menarik nafas panjang sebelum akhirnya memutuskan untuk memejamkan mata.
Tak berselang lama Nyai Fatimah datang dan membesuk Fazila. Dia sangat khawatir mengingat Fazila adalah putri dari salah satu donatur tetap di pesantrennya.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Nyai Fatimah pada Andin setelah mengucapkan salam dan dijawab oleh Andin.
"Sudah mendingan, sepertinya suhu tubuh Fazila tidak terlalu panas seperti tadi," jelas Andin dengan ekspresi kaku.
"Alhamdulillah kalau begitu. Kau boleh kembali ke kelas biar saya yang menjaganya!" perintah Nyai membuat Andin menurut dan hanya bisa protes dalam hati.
"Nyai Fatimah menyentuh tubuh Fazila yang mulai berkeringat dan membantu menyeka keringatnya. Fazila yang tertidur akhirnya membuka mata merasai pergerakan di tubuhnya.
"Nyai," ucapnya dengan ekspresi terperanjat.
"Kau sudah berkeringat, insyaallah akan lebih cepat sembuh," ucap Nyai Fatimah dan Fazila hanya menjawab dengan anggukan.
"Sayang sekali kau sakit padahal besok saya punya keinginan untuk mengajakmu menghadiri sebuah acara di luar," lanjut Nyai membuat Fazila langsung teringat dengan ucapan Izzam tadi. Hatinya meringis mengingat hal itu.
"Istirahatlah dan kalau ada sesuatu bisa panggil saya!" perintah Nyai Fatimah dan sekali lagi Fazila hanya bisa mengangguk.
"Kau sudah bisa ditinggal sendiri, kan?"
"Bisa Nyai."
"Kalau begitu saya permisi dulu, nanti saya akan menyuruh ustadzah untuk mengontrol keadaanmu."
Nyai Fatimah tersenyum.
"Kalau begitu saya permisi, assalamualaikum warahmatullahi!" serunya.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," sahut Fazila.
***
Ba'dha asyar keadaan Fazila sudah lebih baik dari sebelumnya meskipun belum pulih benar. Ia segera menyingkirkan selimut yang menutupi tubuh dan menyeka keringat di dahi dengan handuk kecil. Di kamar ia hanya sendirian karena ketiga temannya masih mengikuti kajian setelah shalat ashar yang biasa diadakan Nyai Fatimah.
"Sekarang saatnya," ujar Fazila lalu bangkit dari berbaring. Dia berjalan keluar kamar lalu melihat kanan kiri. Dirasa aman, tak ada orang yang melihatnya, dia berjalan pelan sambil mengendap-endap sampai pintu pagar asrama putri. Beruntung pak satpam sedang tidak ada. Fazila tebak, kalau tidak sedang shalat ashar berarti pak satpam pasti ada di toilet menunaikan hajat.
"Dikunci," gumam Fazila sambil terus mengguncang gembok yang melekat di pintu pagar. Matanya melirik ke sana kemari untuk mencari anak kunci. Nihil, tak ada di sana, barangkali pak satpam membawa benda kecil itu kemanapun pergi.
Tak ada cara lain, Fazila menjinjing rok panjangnya lalu menaiki pagar dan melompat keluar sebelum ketahuan jika ia hendak pergi.
"Hei siapa itu?!" seru Pak satpam sambil berlari ke arah pagar. Namun, kelihaian Fazila membuat pak satpam tidak menemukan dirinya.
"Hah aman!" seru Fazila saat pak satpam berbalik sambil mengusap perutnya dengan meringis. Sepertinya pria itu sedang mencret.
__ADS_1
"Ah aku tidak perduli yang penting aku bisa lolos dari pengintaian," ujar Fazila terus melangkah. Ia bertanya pada orang-orang dimana posisi masjid Al Falah yang Izzam maksud.
Warga sekitar menjelaskan dan Fazia memilih menaiki ojek untuk mempersingkat waktu.
"Sepertinya ini," ujar Fazila menatap kagum dekorasi pernikahan di hadapannya. Sederhana tapi nampak berkelas. Hatinya mencelos mengingat siapa pengantin pria yang akan bersanding dengan pengantin wanita di sana.
"Cari siapa Dek?" tanya seseorang yang sedang asyik menata bunga-bunga. Seorang pria dengan gaya seperti perempuan.
Fazila tersenyum canggung, tidak tahu harus menjawab apa.
"Oh, mau lihat-lihat aja ya? Boleh," ujar pria gemulai sambil tersenyum ramah.
"Terima kasih," ujar Fazila sambil menatap pelaminan berwarna putih dengan lampion-lampion bergantungan di kanan kiri berwarna senada dengan pelaminan itu sendiri.
"Nanti kalau menikah boleh mengundang saya juga ya Dek. Saya yang punya dekorasi sekaligus MUA nya," ujar pria itu masih terus mengulas senyuman.
"Insyaallah doakan saya mendapatkan pria yang saya cintai, ya Mas, ah Mbak," ujar Fazila bingung.
"Eh kamu cari siapa?" tanya seseorang di belakang Fazila. Fazila mengernyitkan dahi sebelum menoleh.
"Dari suaranya kok nggak asing, kayaknya aku kenal," gumam Fazila dan langsung menoleh.
Matanya terbelalak melihat wanita yang kini berdiri di hadapannya. Wanita yang sudah lama tidak pernah ia temui lagi begitu pun dengan wanita itu kaget ternyata yang disapanya adalah Fazila. Gadis ingusan yang menyebalkan.
"Kau suster jelek itu, kan?!" Segera Fazila menutup mulut melihat wajah suster Tantri yang tidak bersahabat. Pria gemulai itu malah ketawa mendengar Fazila menyebutkan suster Tantri dengan sebutan suster jelek.
"Waw kau masih hidup rupanya!" seru suster Tantri. Matanya menyorotkan kebencian. Kesal karena selama ini tidak bisa membuat dokter Davin melupakan Fazila meskipun gadis ini sempat menghilang. Sepertinya gadis itu tidak bisa mengalihkan perasaan dokter Davin pada wanita lain termasuk dirinya.
"Kalau dunia ini milikmu baru aku sudah musnah," ucap Fazila enteng.
"Mau apa ke sini? Mau cari dokter Davin?!" tanya suster Tantri dengan tatapan mata yang menghujam.
Fazila terdiam dengan detak jantung yang berdegup kencang yang seakan mengalahkan kerasnya suara suster Tantri.
"Dia tidak mau menemui dirimu lagi. Kau sudah membuatnya patah hati. Tahu, kan yang namanya patah seperti apa? Sesuatu yang jika dipaksakan untuk disambung kembali akan menyisakan bekas, bengkok atau bahkan tak bisa utuh lagi. Biarkan Dokter Davin bahagia dengan yang lainnya!"
Perkataan suster Tantri membuat otot-otot Fazila serasa lemas. Namun, sekuat mungkin ia bertahan untuk tetap berdiri kokoh di sana. Kalau tidak dirinya hanya akan menjadi bawah tertawaan suster Tantri yang entah mengapa tidak pernah menyukai dirinya.
"Aku ke sini hanya ingin mengucapkan selamat," ujar Fazila dan Suster Tantri tertawa mencemooh.
"Selamat apa?"
"Selamat menikah, selamat menempuh hidup baru. Semoga bahagia dan maafkan aku," ujar Fazila dengan bibir bergetar lalu berbalik dan berlari meninggalkan tempat tersebut.
Suster Tantri mengerutkan kening lalu tertawa terbahak-bahak.
"Dasar gadis bodoh," umpatnya lalu tersenyum menyeringai.
__ADS_1
"Jika aku tidak bisa mendapatkan dokter Davin maka kamu yang hanya gadis bau kencur juga tidak boleh mendapatkan dia."
Bersambung.