DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR

DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR
Bab 132. Masih Malu-malu


__ADS_3

"Mas baju kita!" seru Fazila kala menyadari mereka masuk ke kamar mandi tanpa membawa pakaian apapun.


"Mas Davin yang ambilkan ya!" pinta Fazila dan dokter Davin hanya mengangguk lemah.


Dalam hati sempat berpikir masa iya dirinya harus keluar dari kamar mandi dengan polosan. Meskipun tidak ada orang lain di dalam kamar mereka, tetap saja dokter Davin risih karena tidak biasa. Namun, mau bagaimana lagi, tak mungkin juga ia menyuruh sang istri yang keluar.


Baru saja hendak membuka pintu kamar mandi, matanya menangkap dua handuk yang tergantung di hanger. Entah pihak villa yang menyediakan atau mungkin suruhan Zidane, yang jelas, itu sangat membuat dirinya senang.


Gegas pria itu meraih handuk tersebut lalu memberikan satu pada Fazila dan melilitkan handuk yang satunya pada tubuh sendiri.


"Kita langsung shalat ya, Mas," ucap Fazila setelah memakai handuk dan dokter Davin hanya mengangguk lalu mengikuti jejak Fazila mengambil wudhu.


Keduanya melangkah keluar kamar mandi kemudian memakai pakaian masing-masing sebelum akhirnya menunaikan shalat isya' berjamaah.


"Kita makan di luar yuk! Katanya ingin makan di taman," ajak dokter Davin saat mengingat Fazila tertarik saat sopir menceritakan tempat makan romantis di tempat itu.


Fazila menggeleng. "Nggak dulu deh Mas, aku capek banget," ucapanya lalu membuka mukena dan menarik seprai yang masih ada darahnya itu dan menggantinya dengan seprai lain yang bersih.


Setelah rapi Fazila langsung kembali merebahkan tubuh di atas ranjang.


"Kalau begitu saya pesan saja," ujar dokter Davin lalu tampak menelpon seseorang. Setelahnya pria itu ikut berbaring di samping sang istri.


"Punya kipas nggak?" tanya Fazila dan dokter Davin mengerutkan kening.

__ADS_1


"Buat apa? Kan, sudah ada penyejuk udara."


"Tolong ambil kipas tangan di dalam koper!" mohon Fazila dan dokter Davin tanpa banyak tanya langsung memenuhi keinginan Fazila. Ia bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju koper yang tergeletak begitu saja di atas lantai. Membuka dan meraih barang yang diminta oleh sang istri.


"Ini!" Dokter Davin mengulurkan kipas tangan kemudian berbaring kembali. Pria itu membuka ponsel dan berselancar di dunia maya sambil menunggu pesanan makan datang.


"Menghadap sana!" perintah Fazila sambil mendorong tubuh dokter Davin agar membelakangi dirinya.


"Kenapa sih?" tanya sang suami heran. Namun, tetap saja mengikuti keinginan sang istri. Dokter Davin langsung memiringkan tubuhnya ke samping dengan arah yang berlawanan dengan Fazila. Pria itu kembali fokus pada ponselnya.


Fazila sendiri setelah melihat dokter Davin tidak menghadap dirinya lagi langsung meringis dan sedikit menyingkap baju tidurnya. Setelah itu dia langsung mengipasi bagian intinya yang terasa panas dan perih.


"Kenapa begini sih," gumamnya membuat dokter Davin langsung melirik sang istri kemudian berbalik.


"Jangan lihat!" cegah Fazila.


"Kenapa nggak boleh lihat? Apa masih sakit?"


"Malu," sahut Fazila dengan wajah yang memerah.


"Iya, masih sakit."


"Coba aku lihat!"

__ADS_1


Sontak Fazila langsung terbelalak dan menutup rapat yang dikipasi tadi walaupun rasanya semakin sakit. Wanita itu semakin menahan ringis.


"Jangan!"


"Sayang, aku takut kamu kenapa-kenapa," ucap dokter Davin begitu khawatir.


"Lagipula kenapa harus malu, aku sudah melihat semuanya, kan?" lanjutnya.


Fazila yang semakin malu langsung menutup wajah dengan kedua tangannya dan hal itu dimanfaatkan oleh dokter Davin untuk mengecek keadaan Fazila.


"Mas!" seru Fazila sambil memukul-mukul bahu sang suami agar menghentikan aksinya. Namun, dokter Davin tak menghiraukan.


"Biar saya obati," ujar dokter Davin lalu kembali menuju koper untuk mengambil sebuah salep yang kebetulan ia bawa.


"Mas tidak perlu!" teriak Fazila kala dokter Davin benar-benar ingin mengoleskan obat di bagian intimnya.


"Sudah diam, nanti kalau lecetnya tidak diobati dan bahaya bagaimana?" Dokter Davin menakut-nakuti Fazila agar diam, dan benar saja wanita itu pasrah dengan apa yang dilakukan sang suami.


"Ini baru satu kali sudah begini, bagaimana kalau aku minta jatah berkali-kali setiap malam?" goda dokter Davin membuat Fazila sontak terbelalak kembali.


"Ampun Mas, jangan!" mohonnya dan dokter Davin malah terkekeh melihat raut ketakutan di wajah sang istri.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2