DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR

DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR
Bab 76. Sebuah Nasehat


__ADS_3

"Tuh lihat bibirnya yang manyun Ma, salah sendiri kenapa dibangunin nggak bangun-bangun," ujar Tristan sambil melangkah ke arah Isyana dan Fazila.


"Kayaknya nggak ada yang bangunin Chila deh, apa Abang sengaja nggak membiarkan orang-orang bangunin Chila?"


"Eh, malah nyalahin orang lagi," keluh Tristan lalu pergi meninggalkan Fazila yang terlihat kesal.


"Benar kata abang kamu, bahkan dokter Davin sendiri sempat bangunin kamu, tapi kamunya yang terlalu menghayati tidurmu," ucap Isyana lalu meninggalkan Fazila yang berdiri mematung.


"Menghayati tidur, emang Chila menikmati peran jadi putri tidur," kesal Fazila.


"Chila, ayo makan, minum obat dan Vitamin!" seru Isyana seraya berjalan menuju ruang makan. Fazila mengangguk lemah lalu mengikuti langkah Isyana dengan pelan sekali seolah tidak ada tenaga walaupun hanya sekedar berjalan.


Ia duduk di kursi ruang makan dengan malas dan memandang makanan yang diambilkan Isyana dengan tidak berselera.


"Chila ayo makan!" Isyana menyodorkan piring yang sudah diisi makanan.


Sekali lagi Fazila menganggukkan kepala lalu menyendok nasi dengan tidak bersemangat. Bukannya makan Fazila malah hanya mengaduk-aduk makanan dengan sendok.


"Kau kenapa lagi sih, bukannya keadaanmu sudah mulai membaik ya? Kok kamu malah kelihatan semakin lemah sekarang."


"Tak apa, Chila baik-baik saja," ucapnya dengan mata yang mulai berkaca.


Isyana menghela nafas panjang.


"Kalau tak apa kenapa begini? Kata Bang Tris dari kemarin nafsu makan mu sudah kembali, kenapa malah kembali tidak mau makan?" Isyana sampai bingung melihat tingkah putrinya.


"Chila nggak lapar," sahutnya sambil menaruh sendok di atas piring.


Isyana mendesah kasar.


"Apa ini ada hubungannya dengan kepergian dokter Davin yang tidak pamit padamu?"


Fazila tidak menjawab.


"Tadi pagi pas dia mau pergi dia minta Mama supaya bangunin kamu sebab dia tidak bisa menunggu lebih lama lagi karena ada pasien yang harus dia operasi. Mama bangunin kamu, tapi kamu nggak bangun-bangun, akhirnya terpaksa Mama minta Nak Davin buat bangunin kamu langsung dan dia juga menyerah tatkala tidak berhasil bangunin kamu juga. Tadi pagi dia nitip salam sama kamu sekaligus menyampaikan permohonan maafnya," jelas Isyana panjang lebar.


"Nggak usah dijelasin Ma, dia nggak bakal percaya," ujar Tristan lalu duduk di samping Isyana. Fazila memalingkan muka karena tahu kedatangan Tristan pasti akan mengerjai dirinya.

__ADS_1


"Sudah Ah, Chila balik kamar aja," ucapnya lalu bangkit dari duduknya. Namun, Tristan pun ikut bangkit dan menangkap tangan Fazila.


"Dokter Davin tadi berpesan suruh menjaga makan kamu dan jangan sampai lupa minum obat serta vitamin, kalau nggak acara pertunangan dibatalkan," ujar Tristan berbohong agar Fazila tidak lagi ngambek.


Fazila nampak terbelalak.


"Pasti bohongin Chila," ucapnya kemudian, tidak percaya.


"Abangmu tidak berbohong, dia mengatakan apa adanya." Isyana mendukung Tristan dan Fazila langsung terdiam.


"Chila, Mama cuma mau ngasih tahu kamu bahwa Nak Davin itu seorang dokter yang mendedikasikan hidupnya untuk kepentingan ... kesehatan masyarakat pada umumnya dan pada pasien pada khususnya," ucap Isyana memulai pembicaraan serius.


"Dia harus siap kapan saja saat diperlukan, bahkan dalam keadaan sakit sekalipun seorang dokter masih harus bekerja kecuali sakitnya sudah tidak bisa ditahan lagi atau parah misalnya. Baru mereka bisa absen. Waktu bukan hanya uang bagi mereka, melainkan sesuatu yang berharga untuk nyawa para pasiennya. Kamu tahu? Satu detik saja seorang dokter terlambat menangani pasien maka nyawa seseorang bisa melayang." Isyana menjeda ucapannya sejenak untuk menghirup oksigen di udara.


Fazila hanya menunduk mendapatkan ceramah dari sang mama.


"Kalau kamu hanya ditinggal begini saja sudah ngambek, Mama pikir kamu tidak pantas menjadi pendamping hidup Nak Davin."


Fazila menelan ludah mendengar pernyataan mamanya.


"Jadi Mama minta kamu harus berpikir lebih dewasa Nak, coba mengerti posisi Nak Davin. Mama hanya takut Nak Davin malah tidak suka dan bosan padamu kalau sikapmu seperti ini. Namun, kalau kamu belum siap untuk bisa memahami calonmu lebih baik pertunangan kalian dibatalkan saja. Bukankah pertunangan itu jalan menuju pernikahan? Kalau kamu tidak siap menjadi istri seorang dokter ya, mundur saja dan biarkan Nak Davin mencari pendamping hidup lain. Itu lebih baik."


"Kalau kamu mau tetap sama dia, ikuti pesan Mama, dan sekarang makan biar tidak sakit lagi sehingga menambah pasien untuk Nak Davin."


"Ma jangan terlalu keras," bisik Tristan di telinga Isyana. Tak tega melihat raut wajah sang adik yang terlihat sendu.


"Biarkan saja Tris kalau tidak begini adik kamu tidak akan mengerti," ujar Isyana lalu bangkit dari duduknya tatkala melihat Chexil menuruni tangga dan kerepotan dengan putranya yang menangis.


"Sini sama Oma," ucap Isyana sambil meraih baby Nazel dalam gendongan menantunya.


"Nak Chexil belum makan, kan?"


"Belum Ma."


"Yasudah sana makan sekalian bujuk dan temani adik kamu. Dari tadi dia tidak mau makan," ucap Isyana sambil membawa cucunya keluar rumah.


Chexil melangkah ke arah Fazila lalu mengusap punggung adik iparnya.

__ADS_1


"Kenapa lagi?" tanya Chexil dengan suara yang terdengar lembut di telinga Fazila.


Fazila hanya menggeleng.


"Yasudah ayo makan, kebetulan kakak juga belum makan, Nazel dari sehabis subuh nempel terus dan tidak mau lepas dari menyusu."


"Iya, Kak."


"Nah sudah ada Chexil, Kalau begitu Abang keluar dulu ya, pengen ngirup udara segar di taman belakang," ujar Tristan lalu bangkit dari duduknya.


Fazila dan Chexil menjawab dengan anggukan lalu keduanya fokus menyantap makanan yang terhidang di atas meja. Meskipun sebenarnya Fazila masih tidak berselera makan, tetapi ia memaksakan diri mengingat perkataan mamanya tadi yang mengatakan jika Chila sakit maka dokter Davin akan kerepotan lagi.


"Sudah minum obat?" tanya Chexil setelah mereka berdua selesai makan.


"Belum."


"Kalau begitu Kakak ambilkan saja ya, di kotak obat biasa, kan?" tanyanya.


"Biar Chila ambil sendiri Kak, Chils tidak mau merepotkan." Fazila pergi berdiri dan hendak melangkah namun segera ditahan oleh Chexil.


"Sudah tidak apa-apa biar Kakak yang ambil saja," ucapnya sambil berlalu dari hadapan Fazila.


"Nanti kita jalan-jalan di sekitar rumah biar kamu tidak sumpek di dalam terus," ucap Chexil sambil menyebarkan obat dan vitamin di tangan.


"Terima kasih Kak," ucap Fazila sambil mengambil obat yang disodorkan oleh Chexil juga gelas berisi air putih di hadapannya. Setelahnya gadis itu meneguk obat tersebut sampai air di dalam gelas tandas.


Chexil tersenyum melihat Fazila menurut padanya.


Bersamaan dengan itu ponsel Chexil bergetar.


"Tuh ada yang nelpon Kak, mungkin Bang Nathan ada yang ketinggalan," ujar Fazila dan Chexil segera mengecek ponselnya.


"Dokter Davin," gumam Chexil.


"Ngapain dia nelpon Kakak?"


"Nggak tahu juga, sebentar aku angkat dulu!"

__ADS_1


Fazila hanya diam sambil menatap Chexil dengan tatapan yang susah diartikan.


Bersambung.


__ADS_2