
"Kalau begitu ustadzah pamit ya untuk menemani santri yang lainnya. Kedatangan ustadzah ke sini hanya untuk mengantar teman-temanmu. Kamu tidak apa-apa kan, Chila?"
"Saya baik-baik saja Ustadzah, Ustadzah tenang saja," ucap Fazila sambil tersenyum ramah.
"Oh ya bisa bantu ustadzah untuk mengurusi ketiga temanmu ini?"
"Insyallah bisa ustadzah."
"Baik kalau begitu bantu mereka untuk minum obat terutama Andin yang wajahnya pucat karena tepaksa harus mendapatkan suntikan karena dia tidak biasa disuntik," ucap ustadzah Ana sambil menatap ke arah Andin yang kini malah terlihat tersenyum.
"Tadi hanya syok saja ustadzah makanya wajah saya pucat," jelas Andin.
"Ya ustadzah paham. Kalian bertiga nurut saja ya sama Chila jangan sampai menyusahkan dia."
"Iya ustadzah," jawab ketiganya serempak.
Ustadzah Ana pun meninggalkan kamar mereka.
"Chila kamu ada hubungan apa sih sama dokter yang laki-laki tadi?"
"Hmm. Angita kepo," ucap Qiana lalu terkekeh.
"Tapi aku juga sama sih penasaran, secara dia kan ganteng banget gitu. Kenapa Fazila malah nggak mau bertemu?"
"Nggak ada apa-apa, hanya masa lalu. Lupakan saja!" pungkas Fazila.
"Hmm, iya deh kalau kamu memang nggak mau cerita. Kamu juga belum terlalu lama kan mengenal kami. Mungkin kamu belum bisa percaya."
"Bukan begitu hanya saja ini bukanlah waktu yang tepat. Insyallah kalau sudah siap nanti aku cerita."
"Beneran? Janji ya!"
__ADS_1
"Iya, sekarang kalian minum obat dulu. Dari Andin dulu ya! Bentar aku minta air hangat ke dapur dulu biar lebih enak."
"Oke Chila."
"Fazila pun mengangguk dan pergi ke arah dapur pesantren.
"Assalamualaikum!" serunya.
"Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh. Ada apa Chila?" Ternyata di sana ada Nyai Fatimah yang sedang berbicara dengan pengelola dapur pesantren.
"Mau minta air hangat Nyai untuk minum obat teman-teman saya."
"Itu ada termos kecil yang sudah diisi air panas Chila, kau bisa langsung membawanya!"
"Iya Chila, Mak Pur benar bawa saja itu ke kamar kalian!"
"Iya Nyai terima kasih. Terima kasih juga ya Mak Pur."
Chila meraih termos berbentuk botol itu lalu pamit pergi.
"Assalamualaikum!"
"Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh."
"Kau bawa termos siapa itu, jangan-jangan nanti disangka mencuri lagi kalau kedapatan oleh si Heni."
"Tenanglah aku sudah mendapatkan izin langsung dari Nyai Fatimah," ucap Fazila lalu menuangkan air panas ke dalam 3 gelas dan hanya diisi sepertiganya saja. Tiga perempat dari gelas itu Chila tambahkan dengan air mineral.
"Oh begitu toh. Syukur alhamdulillaah kalau begitu," ucap Andin.
"Nih minum obat kalian masing-masing." Fazila menyodorkan gelas secara bergantian pada teman-temannya.
__ADS_1
"Tidak perlu aku bantu membuka bungkus obatnya juga, kan?" goda Fazila.
"Nggak usah Chila kami masih kuat kalau hanya sekedar membuka bungkus obat," ujar Qiana.
Setelah memastikan ketiganya minum obat, Fazila menganjurkan mereka agar beristirahat. Setelah ketiganya berbaring Fazila.
mengambil sebuah buku dan menghafalkan.
"Ih kenapa susah banget sih? Mana besok harus sudah hafal lagi," keluhnya kemudian langsung menutup buku.
"Kenapa Chila?" tanya Qiana yang memperhatikan Fazila seorang diri sedangkan kedua Andin dan Anggita begitu cepat tidur. Seperti obat yang mereka minum menyebabkan kantuk sehingga membuat mereka cepat terlelap. Qiana sendiri tampak menguap beberapa kali. Namun, berusaha menahan kantuk yang menyerangnya.
"Nggak apa-apa," jawabnya pada Qiana sebab melihat sahabatnya itu juga mengantuk.
"Baikal kalau begitu aku tidur aja ya, dari tadi ditahan tetapi rasanya sudah tidak mampu padahal saya ingin menemanimu Chila."
"Sudah tidak perlu Qiana, kau tidurlah!"
Qiana mengangguk kemudian memejamkan mata.
Fazila menghembuskan nafas berat lalu membuka bukunya kembali. Dengan begitu tekun dia berusaha menghafal lagi.
"Aduh kenapa rasanya sangat sulit ya menghafal pelajaran yang berbahasa Arab?" Fazila memijit keningnya. Kepalanya benar-benar terasa ingin meledak.
"Tidak Chila kau pasti bisa!" Fazila menyemangati dirinya sendiri. Namun, saat sudah lelah tetapi belum berhasil menghafal juga dia menjadi kesal pada dirinya sendiri.
"Dasar kau Chila, otakmu cetek banget!" geramnya sambil menjambak rambutnya sendiri.
Dia tidak tahu harus bagaimana lagi agar bisa menghafal. Rasanya saat ini Fazila ingin merengek saja, tapi pada siapa? Siapa yang akan mendengar rengekannya?
"Mama tolong Chila," ucapnya dengan mata yang berkaca-kaca sambil membayangkan wajah mamanya. Ingin rasanya Fazila pulang ke rumah saja.
__ADS_1
Bersambung.