
"Apa kabar kamu, Chila? Dengan langkah pelan Dokter Davin melangkah mendekati Fazila.
"Ba–baik," sahut Fazila dengan bibir bergetar dan wajah tertunduk lemas.
"Benarkah? Kata Bang Tris kamu sakit."
"Kalau sudah tahu kenapa masih bertanya?" Fazila geram, namun masih setia menunduk. Tak ingin melihat wajah pria itu lagi karena akan semakin sulit melupakan.
Dokter Davin terkekeh. "Hanya ingin memastikan saja. Oh ya, sudah hampir dua bulan ya kita tidak bertemu dan perubahan tubuhmu berubah drastis. Dulu kau tak sekurus sekarang. Apa yang menjadi beban pikiranmu?" Dokter Davin bertanya penuh selidik.
"Tidak ada," sahut Fazila.
"Bohong! Pasti ada, lah. Coba jangan simpan sendiri! Berbagi dengan orang lain agar kamu bisa lebih lega, meskipun sekalipun tidak bisa membantu paling tidak bisa meringankan beban di dada. Apalagi kau tidak hanya tinggal sendiri. Banyak anggota keluarga yang bisa mendengar keluh kesahmu. Kalau begini terus bukan hanya kesehatan tubuhmu yang terganggu tapi mentalmu juga," nasehat dokter Davin panjang lebar.
Ingin Fazila berteriak menuding, dan mengatakan ini semua gara-gara kamu, tetapi itu pasti sangat memalukan mengingat kesalahan ada pada dirinya sendiri. Dokter Davin berhak menentukan masa depannya sendiri, bukan? Termasuk menentukan siapa wanita yang akan menjadi pasangannya.
"Apa pedulimu Dokter?!"
Tristan hanya geleng-geleng kepala mendengar pertanyaan Fazila pada dokter Davin. Pria itu tidak mau ikut campur dengan pembicaraan keduanya. Tristan duduk di atas ranjang Fazila dan menjadi pendengar setia. Sekali-kali matanya melirik ke arah luar dan berdoa dalam hati agar Isyana lembur bekerja hari ini.
"Tentu saja aku perduli. Aku tidak ingin kau seperti orang yang kurang gizi Chila. Aku ingin kau sehat-sehat selalu."
"Biarin saja, aku nyaman dengan tubuhku yang seperti ini," ucap Fazila sedikit munafik dan dokter Davin menghela nafas panjang.
"Mau apa ke sini? Kalau hanya untuk memberikan ceramah seperti yang lainnya lebih baik pulang saja!"
"Kau mengusirku Chila?" tanya dokter Davin tak percaya.
__ADS_1
"Ya, kau harus pergi. Kau tidak boleh berlama-lama di sini!"
"Kenapa? Takut dilihat mamamu atau abangmu si Nathan? Aku tidak perduli Chila. Walaupun mereka mengeroyokku sekalipun, aku akan tetap berada di sini sampai kau bisa tersenyum seperti dulu lagi."
"Kau hanya bisa membuatku menangis, please Dokter, pergilah!"
Dokter Davin menggelengkan kepala mendengar permintaan Fazila. Jauh-jauh datang ke sana malah diusir. Fazila tidak tahu saja bagaimana ia menerjang rasa lelah yang mendera untuk sampai ke rumahnya.
"Apa kau membenciku, Chila? Kenapa kamu tidak mau melihatku?"
"Sepertinya aku harus pergi sebentar," ucap Tristan yang tak nyaman berada dalam perbincangan keduanya. Dia ingin memberikan ruang bagi keduanya agar bebas mengeluarkan uneg-uneg masing-masing tanpa canggung padanya.
"Abang jangan pergi! Kenapa Abang bawa dia kemari?" Fazila menggaet tangan Tristan dan tak mengizinkan pergi.
"Kita duduk di sana dulu." Tristan membawa Fazila agar duduk di tepi ranjang.
"Sabarlah dan bicara baik-baik!Aku membawa dia kemari agar kau bebas mengutarakan suara isi hatimu padanya. Aku tahu kau ingin bicara berdua dengan dokter Davin, dan jangan sia-siakan kesempatan ini. Aku akan keluar sebentar, tidak masalah, aku pastikan dia tidak akan macam-macam padamu," jelas Tristan dan sebelum Fazila mengutarakan keberatannya pria itu melenggang pergi.
"Aku sangat merindukanmu Chila, tapi selama ini aku sangat sibuk sekali meskipun hanya sekedar memantau dirimu dari luar pesantren," ucap dokter dengan ekspresi wajah yang begitu serius.
Fazila yang melirik dokter Davin menggigit bibir bawahnya yang bergetar. Perasaan yang ia tahan menggebu-gebu kembali. Ingin rasanya Fazila mengutuk Tristan karena telah lancang membawa dokter Davin ke rumahnya dan membangkitkan rasa yang susah payah ia tekan agar hancur lebur seiring bergulirnya waktu.
"Apa iya dia sepeduli itu padaku hingga selalu mengawasi dari luar pagar pesantren?" batin Fazila. Dia tidak munafik, rasa bahagia menelusup ke dalam dada, terasa indah seperti ada ribuan kupu-kupu yang beterbangan di dalam kalbu.
Namun, pantaskah ia berbahagia atas perasaan dokter Davin padanya sementara jika kalimat yang dilontarkan dokter Davin tadi akan menyakiti wanita lain?
"Aku juga rindu kamu dokter, tapi aku sadar diri, rindu ini tak pantas lagi bersemi di hatiku. Rindu kita sudah menjadi rindu yang terlarang," ucap Fazila dalam hati. Gadis itu meraup oksigen di udara. Rasa sesak kembali mendera.
__ADS_1
"Chila kau tahu–?"
"Bagaimana keadaan istrimu Dokter?" Fazila tak ingin berpura-pura tidak tahu dengan pernikahan dokter Davin. Bagaimana pun dokter Davin pasti menyadari bahwa dirinya sempat pingsan di hari pernikahannya dengan Danisa? Kenapa pria itu seolah amnesia? Apa dia tidak paham jika Fazila jadi sakit-sakitan setelah peristiwa itu?
"Istri?" Dokter Davin menautkan kedua alisnya. Bingung bagaimana menjawab pertanyaan Fazila.
Fazila melirik cincin emas di jari manis dokter Davin. Ingin rasanya ia menarik dan melemparnya secara sembarangan.
Bersamaan dengan itu ponsel dokter Davin berbunyi. Segera pria itu memeriksanya. Ternyata dari Danisa.
"Danisa? Ada apa dia? Bentar ya Chila, aku angkat telepon dulu," ujar dokter Davin lalu keluar dari kamar Fazila.
"Danisa? Mengapa hatiku sakit hanya mendengar namanya saja?Ah Chila, kenapa hatimu dangkal sekali," keluh Fazila pada diri sendiri.
Air matanya berdesakan tanpa bisa ditahan, jiwanya berkecamuk, hanya dokter Davin yang mampu membuatnya merasa bahagia dan sedih secara bersamaan. Gadis itu merebahkan tubuhnya lalu meringkuk di atas ranjang dan menarik selimut hingga menutupi kepala.
"Kau menangis Chila? Hei ada apa? Apa ada kata-kataku yang menyakiti hatimu?" Dokter Davin bingung melihat punggung Fazila yang bergetar di balik selimut. Meskipun tidak bersuara pria itu paham Fazila saat ini sedang menangis.
"Pulanglah! Kembali pada istrimu! Aku tidak mau diberi gelar sebagai pelakor!" ketus Fazila sambil mengusap air matanya dari balik selimut.
"Astaga! Apa yang kau bicarakan?" Dokter Davin menggaruk kepalanya bingung.
"Katakan apa maksudmu datang kemari dan mengucapkan kata rindu padaku setelah kau menikahi Danisa?!" oceh Fazila semakin membuat dokter Davin bingung.
"Kamu mau merayuku agar mau dijadikan istri kedua? Ogah, aku tidak sudi! Aku tidak mau!" seru Fazila dengan suara yang terdengar menggebu-gebu.
"Chila kau salah paham!" seru dokter Davin sambil menarik selimut dari tubuh Fazila.
__ADS_1
"Maksudnya?"
Bersambung.